Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Syifa malu mi!


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Oohhh jadi gitu ceritanya... rumit juga ya!" Ucap gadis itu bernama Siti


"Gimana sekarang? Apa masih kasar suamimu itu?" Tanya Anya


"Udah nggak. Sekarang dia udah lembut sama aku." Jawab Siti


Tak jauh dari mereka. Sepasang adik kakak tengah duduk untuk makan bersama.


Anya menyenggol tangan Siti. "Ssttt... tuh liat anaknya di sana. Aku nggak bisa bayangin deh kalo aku jadi mereka. Hiii... pasti serem." Ucapnya sambil begidik ngeri.


"Husstt... kalo ngomong jangan keras - keras! Nanti mereka denger kan kaco." Bisik Siti pada Anya


"Ehehehe... maaf maaf." Ucap Anya


Setelah itu mereka berdua telah menghabiskan makanannya. Dan segera membayarnya, lalu kembali menuju ruang kelas mereka untuk pembelajaran berikutnya.


...


Guru tengah menjelaskan salah satu ayat dalam Al - Quran. Dan beberapa dari mereka ada yang menulis. Sedangkan yang lain hanya menyimak saja. Bahkan ada juga yang tidak mendengarkan sedari awal.


Tibalah saatnya bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai. Seperti biasa, kegiatan sesudah pembelajaran adalah mengaji bersama di masjid.

__ADS_1


Anya dan Siti duduk bersebelahan. Namun Anya melototkan matanya dikala mengetahui yang duduk di sampingnya ternyata adalah Syifa anak dari pemilik TPA (Taman Pendidikan Al - Quran).


Anya yang memang anaknya kepoan pun bertanya pada Syifa. " Kak! Maaf aku mau tanya. Abi Khoir kalo di rumah kayak gimana? Maksudnya tuh. Apa iya kayak yang dibilang orang - orang. Kalo Abi Khoir tuh suka mukul istrinya sama anaknya juga." Tanya Anya


Syifa yang diberi pertanyaan seperti itu tentu tak menyukainya. Ia menatap Anya dengan tatapan tak sukanya. Hal itu membuat Anya salah tingkah sendiri.


"Kamu tahu dari mana berita kayak gitu?" Tanya Syifa dengan nada dinginnya.


"Ehh.. eh... anu kak. Ya... kata orang - orang." Jawab Anya dengan gagap dan sedikit cengengesan.


"Gini ya dek. Apa yang diucapkan sama orang tuh belum tentu aslinya begitu. Kalo kamu tanya abi di rumah kasar apa nggak. Maka jawabannya adalah nggak." Jawab Syifa dan setelah itu ia menyibukkan dirinya dengan membaca Al - Quran mengikuti yang lain.


"Ehhh... iya maaf kak." Ucap Anya. Namun sayang, Syifa tjdak memperdulikan ucapannya. Akhirnya Anya memutuskan untuk membaca Quran seperti yang lainnya.


...


Tanpa ia sadari. Adiknya Zahra memasuki kamarnya untuk mengambil hape milik Syifa untuk dimainkan. Syifa lupa untuk mengunci kamarnya, jadilah Zahra bisa masuk dengan mudah.


Saat Zahra sudah menyentuh hape milik kakaknya itu. Ia taruh kembali ketika ia mendengar suara isakan. Zahra mendekat ke arah kasur dan memastikan lagi bahwa kakaknya memang sedang menangis.


"Kakak nangis?" Tanya Zahra dengan polosnya


Degg...


Jantung Syifa berdetak lebih cepat ketika mendengar suara adiknya. Ia mengusap air matanya agar tidak terlihat habis menangis.

__ADS_1


"Enggak kok. Siapa juga yang nangis?" Jawab Syifa


"Iya kakak nangis. Tadi aku dengar suara kakak. hii... hiiii... hikss.. hikss... hiii... gitu." Timpal Zahra dengan nada keras tak mau dikata kalau ia salah.


"Enggak kok! Sshhttt..." Sangkal Syifa


Sontak kegaduhan di kamar Syifa terdengar oleh Maira dan juga Gafar. Mereka berdua bergegas untuk mengecek apa yang sednag terjadi.


"Ada apa ini? Kok kalian bertengkar begitu?" Tanya Maira


"Kakak nangis mi." Jawab Zahra


"Ehhh... enggak kok mi. Zahra aja yang nuduh." Elak Syifa


"Kakak nangis, kenapa?" Tanya Maira lagi


"Enggak kok mi. Beneran aku nggak nangis! Zahra ini loh ada - ada aja." Jawab Syifa


"Kak! Jangan bohong please! Kalau kakak bohong. Umi merasa menjadi umi yang buruk untuk anak - anak umi. Ya? Kalau ada masalah cerita sama umi. Jangan dipendam sendiri!" Ucap Maira


Runtuh sudah pertahanan Syifa. Ia langsung memeluk uminya dan menangis di pelukannya.


"Hiksss... tadi ada yang bicarain abi sama umi. Kalau umi tuh suka dipukul sama abi. Syifa malu mi hikss... Syifa malu... Aib rumah ini sudah tersebar hikss... Syifa malu!" Ucap Syifa


Ucapan Syifa membuat Maira ikut menitikan air matanya. Gafar yang melihat dan mendengar ucapan adiknya pun ikut menitikan air matanya. Hanya Zahra saja yang diam melihat 3 orang dewasa itu sedang menangis.

__ADS_1


"Ini semua gara - gara abi!" Gumam Gafar. Setelah itu ia pergi dari sana untuk menemui abinya di rumah istri keduanya.


Bersambung...


__ADS_2