Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Aku Kotor!


__ADS_3

Selamat Membaca


....


Masih POV Khoiruddin~


"Hemm... kau adik yang baik." Ucap Khoiruddin


"Aku? Tidak juga." Ucap Anisa


"Ahh.. kau mencoba untuk merendah." Canda Khoiruddin


"hahaha... mana ada?" Sahut Anisa


Dirasa tidak ada percakapan lagi, Khoiruddin berjalan mendekati kasur. Di atas kasur itu, ia mendudukan bokongnya. Tangannya meraba sakunya untuk mencari ponselnya. Dibukalah aplikasi yang berisikan foto antara dirinya dan Maira saat menikah, saat bulan madu, dan saat mereka baru menjadi orang tua. Tanpa terasa sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.


Lama sekali Khoiruddin melihat - lihat foto itu. Tanpa dirasa tenggorokannya terasa kering. Dilihatnya di sampingnya ada laci dan di atasnya ada secangkir teh yang masih terlihat asap yang mengepul, menandakan teh itu masih panas atau hangat. Khoiruddin bertanya pada Anisa teh siapa itu.


"Minum saja kalau kamu mau. Aku juga belum mencobanya tadi." Jawabnya


Karena sudah mendapat izin. Khoiruddin langsung menyeruput teh itu. Entah karena ia memang sedang kehausan. Teh itu ia sisakan sedikit di cangkir. Ia meletakkan kembali ke tempat semula.


Kali ini ia merubah sedikit posisinya. Yang tadinya ia duduk, sekarang berganti menjadi selonjoran. Namun, tiba - tiba matanya menjadi buram ketika melihat foto - foto yang ia pandangi. Akhirnya ia berpaling dari ponselnya dan melihat ke sudut ruangan lain.


Namun, bukannya semakin jelas. Ini justru sebaliknya penglihatannya semakin buram. Khoiruddin juga sudah mengucek matanya beberapa kali berharap hal itu dapat membuat penglihatannya kembali normal. Tak jarang juga ia sampai memukul - mukul kepalanya sendiri.


Tiba - tiba saja kepala Khoiruddin terasa berat. Semua benda berputar - putar, hingga akhirnya hanya kegelapan yang ia ingat. Lalu saat mendengar suara istrinya, yaitu Maira menangis di samping pintu membuat ia terusik dan akhirnya terbangun.Ia sendiri juga terkejut mengetahui ia sudah tidur bersama Anisa.


POV Khoiruddin Off~


"Maaf! Maafkan aku! Ku mohon maafkan aku!" Ucap Khoiruddin masih terus memohon dengan posisi masih memeluk Maira.


Maira masih menangis dipelukan suaminya. Jujur saja pernyataan suaminya, entah kenapa malah membuat hatinya semakin hancur. Lalu tiba - tiba Maira teringat dengan kedua buah hatinya. Dengan cepat ia melepas pelukan suaminya.


Ia beranjak dan berdiri. "Bangunlah mas! Cepat mandi dan berpakaianlah yang elok! Jangan sampai anak - anakmu melihat keadaanmu yang seperti ini!" Ucap Maira dengan wajah berpaling dari Khoiruddin

__ADS_1


"hikss... baiklah." Jawab Khoiruddin dengan nada lemah


Setelah itu, Khoiruddin langsung bergegas ke kamar mandi. Sedangkan di luar, Maira menghampiri adiknya. Ia tahu bahwa Anisa hanya pura - pura tidur. Tanpa banyak kata, Maira langsung menarik kuat selimut yang menutupi tubuh Anisa.


Sontak hal itu membuat Anisa bergegas bangun. Ia sedikit takut saat melihat wajah marah Maira. Namun ia masih terus berusaha untuk menarik kembali selimut itu untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.


"Kenapa harus ditutupi? Malu?" Tanya Maira dengan nada sinisnya


Sedangkan Anisa, ia hanya diam saja dan masih berusaha untuk menutupi tubuhnya itu.


"Masih punya malu ternyata. Setelah kau melakukan hal menjijikan ini dengan suamiku. Kau masih punya malu? Sungguh heran!" Ucap Maira


"Mbak-"


"APA! Mau mengatakan apa? Aku sudah lelah Nis! hikss... Aku capek! Hikss..." Ucap Maira


"Mbak! Maksud mbak apa? Mbak nuduh Anisa kalau Anisa menggoda mas Khoir gitu?" Ucap Anisa kini dengan lantang. "Asal mbak tahu! Anisa gini juga karena paksaan dari mas Khoir. Anisa sudah berusaha menyadarkan mas Khoir tadi malam. Tapi apa? Mas Khoir tega ngelakuin itu mbak." Ucap Anisa


"Sudah cukup Anisa! Sudah... hikss.. hikss.." Teriak Maira dengan menutup telinganya dengan kedua tangannya.


"Kenapa mbak? Mbak ngebela mas Khoir yang jelas - jelas sudah berani melanggar perktaannya sendiri?" Ucap Anisa. "Apa mentang - mentang aku ini janda mbak? Mangkanya mas Khoir berani melakukan ini hikss.. Dan apa ini, setelah melakukan ini. Dia bercerita yang sangat bertolak belakang kepadamu. Dia... dia pecundang mbak! Dia pengecut!" Ucap Anisa


Hal itu membuat Maira terkejut. Karena ia tidak menyangka adiknya akan melakukan hal itu.


"Anisa! Anisa cukup! Hentikan! Kau menyakiti dirimu sendiri." Ucap Maira, namun tidak dihiraukan oleh Anisa. "Sudah hentikan! Mbak percaya! Mbak percaya sama kamu!" Ucap Maira dengan memeluk erat Anisa


Pelukan Maira membuat Anisa menjadi tenang. Kini Maira meminta agar Anisa segera membersihkan tubuhnya di kamar bawah. Maira juga membantu menutupi tubuh Anisa dengan selimut dan mengantarnya sampai kamar itu.


Maira kini dalam keadaan dilema. Entah siapa yang harus ia percaya. Namun, semua pikiran itu hilang tatkala putranya memanggilnya untuk bersiap - siap sekolah.


"Ya. Umi ke situ!" Jawab Maira


Walaupun dengan pikiran yang kacau. Maira tetap berusaha untuk terlihat baik - baik saja di depan anaknya. Sesudah Gafar sarapan, Maira bergegas untuk mengantarnya ke sekolah sendiri.


"Tumben Mi. Ndak diantar Abi?" Tanya Gafar

__ADS_1


"Umi lagi pengin aja sayang. Gafar maukan diantar umi?" Ucap Maira


"Mau umi." Jawab Gafar antusias


...


Sepulang dari mengantar Gafar. Maira mendengar sedikit keributan dari arah luar. Ketika masuk ke dalam, terlihat suaminya sepertinya habis memarahi Anisa. Terlihat juga Anisa yang menangis karena dibentak oleh Khoiruddin.


"Ada apa ini mas? Pagi - pagi sudah bertengkar! Malu didengar tetangga." Ucap Maira


Ia menghampiri adiknya dan memeluknya. "Ada apa ini? Dan kenapa Anisa menangis? Kau apakan adikku mas?" Tanya Maira


"Aku tidak melakukan apapun. Dia menuduhku berbuat macam - macam kepadanya tadi malam." Ucap Khoiruddin


"Itu benar mas! Aku tidak berbohong! Kenapa kau tidak mau mengakuinya?" Balas Anisa tak kalah sengitnya, namun dalam keadaan menangis


"Dengar mi! Aku sudah mengatakannya padamu tadi pagi. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Ini fitnah namanya!" Ucap Khoiruddin


"Lihatkan mbak! Dia tidka mau bertanggung jawab. Terus aku harus bagaimana? hikss.." Ucap Anisa


"Sudah... sudah... jujur aku nggak tahu harus ngebela yang mana! Tapi tidak ada salahnya aku mendengar dari ceritamu, berhubung tadi mas Khoir juga sudah bercerita tentang kejadian semalam." Ucap Maira


"Tapi-"


"Ku mohon mas! Biarkan aku mendengarnya. Supaya aku bisa menelaah siapa yang sudah berbohong." Ucap Maira


"Baiklah kalau itu maumu. Dan aku tegaskan aku tidak melakukan hal yang ia tuduhkan." Ucap Khoiruddin


"Sudah... Sekarang ceritakanlah!" Ucap Maira


"Jadi malam tadi..."


Bersambung...


Ada yang bisa nebak nggak nih? Kira - kira Anisa bakal bercerita apa ya?

__ADS_1


Note: Jika ada typo, author minta tolong untuk ditandai ya! Terima kasih.


Love! Love! Buat kalian❤😉


__ADS_2