Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Astagfirullah


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Usia kehamilan Maira sudah memasuki 3 bulan. Ia juga masih sering mengalami mual, namun tidak sesering saat bulan pertama kehamilan.


Namun tetap saja, tenaganya tidak sebesar dulu saat ia masih belum hamil. Suaminya juga selalu menyuruh dia agar istirahat saja. Hal itu membuat Maira merasa bosan. Karena dia juga sudah mengundurkan diri dari tempat ia bekerja dan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga saja, hal itu membuat ia merasa bahagia tersendiri dalam dirinya.


Ia juga sering memanggil adiknya untuk membantu beberapa pekerjaan dalam rumahnya yang belum selesai. Anisa? Tentu saja ia merasa bahagia. Karena baginya saat ini ia merasa lebih dekat dengan kakak iparnya itu.


Hari mulai gelap. Suara azan magrib telah terdengar diikuti derasnya hujan, membuat suasana menjadi dingin. Dari arah luar terdengar suara deru mesin. Siapa lagi kalau bukan Khoiruddin suami dari Maira.


Dengan senyuman hangat, Maira menyambut kedatangan suaminya. Ia melakukan aktivitas yang biasa dilakukan oleh para istri. Sedangkan Khoiruddin langsung bergegas untuk mandi.


Skip...

__ADS_1


Setelah salat isya'. Mereka kini sedang menikmati makan malam dengan nikmat. Setelah selesai, Maira juga Anisa bekerja sama membereskan piring - piring kotor itu.


Karena hujan belum jua reda. Maira menawarkan adiknya untuk menginap di rumahnya saja. Karena menurutnya hujan masih lama untuk berhenti.


"Kamu nginep disini aja loh dek. Lihat hujannya masih lebat. Nanti biar mbak yang telpon bapak." Ucap Maira


"Ehmm... gimana ya mbak? Aku cuma nggak enak sama mas-" ucap Anisa terpotong


"Lebih baik kamu nginep aja. Bener kata mbakmu nanti kamu sakit. Kasihan bapak nanti kalo kamu sakit." Ucap Khoiruddin dengan nada datar


"Tuh... mas Khoir juga nggak keberatan. Nginep aja yah?" Ucap Maira


Skip...


Hari sudah malam. Maira dan Khoiruddin sudah terlelap dalam mimpi di dalam kamar mereka. Namun ada sepasang mata yang masih enggan untuk menutup matanya. Walaupun sebenarnya ia sudah ngantuk berat.

__ADS_1


Karena tidak jua tertidur. Anisa keluar dari kamarnya dengan menggunakan piyamanya. Karena di pikirnya tidak ada orang yang akan melihatnya berpakaian seperti itu. Ia menuju ke dapur. Sesampainya di dapur, ia membuka pintu kulkas dan mengambil susu untuk diminumnya. Karena susu dipercaya akan mudah mendatangkan rasa kantuk.


Saat ia berbalik. Ia terkejut karena kakak iparnya berada tepat di belakangnya. Begitupun dengan Khoiruddin. Ia juga terkejut melihat tampilan dari adik iparnya. Sesaat ia menikmati bentukan tubuh adik iparnya. Namun setelah ia teringat istrinya, ia segera mengalihkan pandangannya dan beristigfar.


"Astagfirullah." Ucap Khoiruddin


Namun Anisa malah bersikap sebaliknya. Setelah terkejut, ia justru semakin menampilkan lekuk tubuhnya yang indah. Namun saat melihat tatapan tajam dari kakak iparnya ia merasa sedikit takut. Namun ia berusaha untuk terlihat tidak takut.


Anisa mencoba untuk membantu Khoiruddin dengan menanyakan ia sedang membutuhkan apa. Dan Khoiruddin menjawab ia haus dan turun untuk mengambil air minum karena yang di teko telah habis.


Anisa dengan cepat mengambil teko tersebut dari tangan Khoiruddin. Dan mengisi air ke dalam teko. Setelah penuh, ia memberikannya kepada Khoiruddin dengan tangan yang sengaja mengelus lengan Khoiruddin.


"Terimakasih." Ucap Khoiruddin


"Sama - sama dan selamat malam." Ucap Anisa dengan nada manjanya

__ADS_1


Sedangkan Khoiruddin segera pergi meninggalkan Anisa di dapur sendirian. Sedang Anisa menunggu kepergian Khoiruddin dengan senyuman. Namun tidak lama setelah bayangan Khoiruddin hilang. Ia segera kembali ke kamarnya untuk tidur, karena ia sudah merasa mengantuk.


Bersambung...


__ADS_2