Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Akhir cerita


__ADS_3

Selamat Membaca


....


"Tidak ada. Umi tidak bermaksud melakukan itu. Maafkan umi." Ucap Maira


Siapa yang salah, siapa juga yang meminta maaf. Dasar manusia! Hufftt...


"Maaf... maafkan abi. Abi bodoh! Abi bodoh! Abi bodoh! Aku juga adalah orang yang jahat. Ku mohon maafkan aku... hiks" ucap Khoiruddin


"Sssttt... sudah, umi maafkan. Bisa umi minta tolong pada abi kali ini?" Tanya Maira


Khoiruddin bangun dengan cepat dan menghapus air matanya. Ia ingin menunjukkan pada Maira. Bahwa ia kuat dan bisa diandalkan.


"Xixixi..." Maira tertawa melihat kelakuan suaminya


"Apapun itu akan abi lakukan. Katakanlah!" Ucap Khoiruddin


"Umi minta tolong jagain sebentar Anisa. Umi mau jemput Zahra di rumah mbak Amar." Ucap Maira


"Apa! Yang benar saja... aku sudah tidak sudi lagi melihat wajahnya itu. Begini saja, aku yang menjemput Zahra dan juga sekalian aku belikan makanan untuk kalian. Kalian mau makan apa?" Tawar Khoiruddin


"Jangan bicara seperti itu abi. Dia juga kan istrimu." Ucap Maira

__ADS_1


"MANTAN!! Ingat itu..." ucap Khoiruddin


Maira terdiam melihat reaksi dari Khoiruddin. Dia tidak pernah menyangka akan sebenci ini suaminya kepada adiknya.


"Ya sudah aku pergi dulu. Assalamualaikum." Ucap Khoiruddin dan beranjak pergi


Maira masih mematung di tempat. Ia masih berpikir segitu besarkah kesalahan adiknya? Hingga suara teriakan adiknya yang membuat ia segera menghampiri kasur.


Terlihat Anisa seperti ingin bangun dan memanggil - manggil seseorang. Tentu Maira tahu adiknya ingin apa. Namun Maira sendiri tidak bisa melakuka apa - apa selain memanggil perawat.


Karena tak tenang jua, dokter memberikan obat tidur dalam infus Anisa. Dan benar saja selang beberapa detik, Anisa tertidur. Ruangan kembali tenang dan Maira memilih untuk beristirahat sejenak.


...


3 hari kemudian. Kondisi kehidupan Maira dan Khoiruddin kembali berjalan manis layaknya saat pacaran dahulu.


Sebelum kembali ke rumah Anisa. Maira membayar orang untuk membersihkan ruang bawah karena tidak mungkin baginya akan naik turun tangga. Mengingat kondisi adiknya yang kini hanya bisa terbaring lemah.


Anisa terkena stroke yang sudah parah. Ia sudah tidak bisa menggerakkan tangan maupun kakinya. Bahkan otot lidahnya pun kaku. Kakaknyalah yang membuat ia memiliki motivasi sedikit bersemangat untuk sembuh.


Begitupun Maira yang penuh ketelatenan dan kesabaran untuk merawat adiknya. Berbeda dengan Khoiruddin, ia tampak sangat membenci Anisa. Karena baginya kesalahn yang diperbuat Anisa sangatlah fatal.


Entah kebaikan apa yang pernah ia perbuat. Sehingga bisa mendapat istri sebaik dan sesabar Maira. Namun, ia bertekad di dalam hati. Bahwa ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa depan. Fokusnya kini hanya kepada istri dan anak - anaknya.

__ADS_1


Banyak orang yang mengatakan bahwa dirinya egois. Namun bukan masalah besar baginya. Karena istrinya tak pernah merasa keberatan dikala ia meminta untuk kesempatan kedua. Karena itulah ia kini berubah dengan sangat jauh.


...


Anisa kini tengah disuapi oleh Maira. Sudah beberapa kali Maira dengan sabar mengelap mulutnya yang sedikit kotor. Karena kini, ia sudah sangat sulit untuk menerima sembarang makanan.


Beberapa kali ia meneteskan air mata. Namun lagi lagi, Maira mengelapnya dengan lembut. Hatinya kini bergejolak hebat. Rasa penyesalan memenuhi lubuk hatinya.


...'kakak andai kau bisa mendengar suara hatiku. Aku sungguh meminta maaf padamu karena perbuatanku yang lalu. Kau benar - benar membuktikan padaku bahwa cinta sejati itu memang benar adanya walau bukan lewat pasangan kita. Kaulah bukti cinta sejatiku. Seandainya saja aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah masuk ke dunia hitam itu dan kau yang menjadi korbannya. Ku mohon Tuhan... Maafkan aku dan bahagiakan keluarga kakakku.' rintihan suara Anisa dalam diamnya....


...


POV Maira


Aku tak mengerti entah berapa kali aku menyeka air matamu. Aku tak tahu kesedihan apa yang kini ada di benak hatimu. Namun perlu kau tahu, bahwa kakakmu akan selalu ada di sisimu.


Sudah 9 bulan ini aku merawat adikku yang sakit. Juga aku memutuskan untuk memaafkan suamiku dan menerimanya kembali sebagai sosok figur ayah dan suami untuk anak - anakku dan juga diriku.


Banyak orang mengatakan aku bodoh. Ya aku memang bodoh! Lalu apa masalahnya? Entahlah, aku hanya mengikuti kata hatiku. Dan benar saja, Mas Khoir kini berubah seperti saat kita dulu masih sepasang kekasih. Aku juga masih mencintainya. Akan berkali - kali lipat patah hatiku nanti ketika dengungan talaq menerpa telingaku.


Aku masih ingat, di mana kata talaq itu diperuntukkan untuk adikku. Jujur aku pun ikut bergetar mendengarnya. Dari situlah aku mengerti bahwa, jiwaku sudah sangat terikat padanya. Dan untuk apapun yang ada di masa lalu. Jujur itu menyakitkan.


Namun kembali lagi. Ketika ia memanggilku, tubuhku merasa bergetar hebat ditambah lagi detakan jantung yang terasa begitu keras. Oleh karena itu keputusanku sudah bulat. Aku menerima permintaan maafnya dan memulai lembaran hidup baru bersamanya.

__ADS_1


End...


Terima kasih sudah menemani sampai akhir cerita. Niat author mau lanjut season 2 yang menceritakan tentang kisah cinta salah satu anak Khoiruddin dan Maira. Tapi nggak tahu kapan hehehe...


__ADS_2