
Selamat membaca
...
Pukul 3 pagi, Maira bangun dari tidurnya. Ia meregangkan ototnya yang kaku. Saat ia melihat ke arah sampingnya, Maira terkejut lantaran Khoiruddin tidak ada di sana.
Tak mau pikir pusing. Maira justru mengira bahwa suaminya sedang pergi ke bawah. Entah untuk minum atau untuk lainnya. Namun sebelum mengecek ke lantai bawah. Maira terlebih dahulu memeriksa kamar mandi. Mungkin saja suaminya berada di sana.
Pintu terbuka dengan mudah dan lampu juga tidak menyala. Maira masuk ke dalam untuk mencuci muka. Terlihat lantai yang kering. "Berarti ia ada di bawah. Kalau tidak ya... di kamar anak - anak." Gumamnya
Setelah mencuci muka. Maira keluar dari kamarnya dan kini ia menuju kamar kedua anaknya.
Ceklek...
Pintu terbuka, Maira tersenyum melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak? Gafar yang tidur dalam posisi kaki menjuntai ke bawah hampir melorot. Sedangkan Syifa ia hampir mengambil alih wilayah kasur.
Maira segera membenahi posisi mereka agar tidurnya lebih nyaman. Sesudah itu ia mengambil selimut yabg sudah terlempar atau jatuh ke lantai. Dan menyelimutkan kepada mereka berdua. Baru setelah itu Maira melanjutkan aktivitasnya, yaitu memasak.
...
Maira kini sedang sibuk di dapur. Ia menyiapkan sarapan untuk keluarganya seorang diri. Dan semua masakan itu siap tepat pada pukul setengah 6. Saat pukul setengah 5, Maira biasanya hanya tinggal menunggu nasi masak. Jadi ia tinggal untuk salat subuh.
Semua sudah tertata rapi. Berbagai hidangan mulai dari nasi, sayur, lauk tempe dan ikan goreng, juga sambal. Sudah tersaji di atas meja. Maira mulai membangunkan semua orang dimulai dari anaknya.
...
Gafar dan Syifa kini sudah siap. Gafar dengan pakaian seragamnya, dan Syifa dengan baju cantiknya. Mereka sarapan bersama.
"Mi! Abi mana? Kok nggak ikut sarapan?" Tanya Gafar
"Nggak tahu... Mungkin abi masih di masjid." Jawabnya
Gafar tidak bertanya lagi. Ia segera menghabiskan makanannya dan setelah itu ia berangkat ke sekolah di antar oleh uminya.
__ADS_1
...
Sepulang dari mengantar Gafar. Biasanya Maira akan pergi ke pasar sebelum pulang. Syifa tentu saja ikut uminya.
Setelah selesai belanja. Maira dan Syifa akan pulang dengan naik becak. Syifa yang notabenenya seorang anak kecil tentu merasa bahagia
...
Akhirnya sampailah mereka berdua di rumah. Maira membayar ongkos kepada tukang becak itu.
"Terima kasih." Ucapnya
"Sama - sama pak." Jawab Maira
Maira terheran karena mobil suaminya masih di sini. 'Apa hari ini ia libur' Pikirnya.
Syifa dan Maira membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya Maira saat melihat Anisa yang di atasnya adalah suaminya. Sungguh teganya Khoiruddin.
Entah bisikan dari mana. Maira langsung mendorong Khoiruddin hingga jatuh. Terdengar suara tangisan Syifa, namun tak ia hiraukan. Adegan berlanjut dengan Maira menjambak rambut Anisa hingga membuat Anisa meringis kesakitan.
"Enggak! Aku bisa jelasin. Ini cuma salah paham. Okey!" Ucap Khoiruddin
"Alasan kamu mas! Salah paham apa kalau sampai seperti itu. Bagaimana kalau dilihat tetangga? Apa kata mereka? Pasti dipikirannya juga sama kayak aku kan." Ucap Maira
"Bener umi... ini cuma salah paham. Tadi Anisa mau berdiri terus dia kepleset. Karena dia mau jatuh akhirnya pegangan baju aku. Ya karena aku nggak siap ya... akhirnya kita jatuh berdua. Dan setelah itu kamu masuk dan tiba - tiba marah - marah." Ucap Khoiruddin
Maira masih menatap tajam Anisa dengan napas yang tersengal - sengal.
"Umi... istigfar umi istigfar..." Ucap Khoiruddin
"Astagfirullahal'adzim... astagfirullahal'adzim..." Ucap Maira sambil terus berusaha menenangkan hatinya.
"Sudah tenang... sstt..." Ucap Khoiruddin sambil memeluk Maira.
__ADS_1
Setelah dirasa Maira lebih tenang. Barulah Khoiruddin mengambil Syifa yang masih menangis dengan keras. Ia menggendongnya lalu membawanya ke kamar Syifa agar anak itu bisa bermain sendiri. Di mana nanti para orang dewasa akan menyelesaikan permasalahan mereka.
"Syifa sayang... sini sama abi!" Panggil Khoiruddin
Syifa menurut, ia memeluk erat abinya. Diciuminya seluruh wajahnya hingga membuat sang empunya tertawa cekikikan.
"Kita ke kamar ya. Nanti Syifa main barbie... ya mau ya?" Ucap Khoiruddin
Syifa menggangguk mau. dibawanya Syifa digendongannya menuju kamarnya.
...
Di lantai bawah. Suasana sedang tegang. Terlihat dua bersaudara kakak - beradik sedang saling menatap dengan tatapan nyalangnya.
"Tidak usah basa - basi! Untuk apa kau kemari? Dan bagaimana kau bisa kemari?" Tanya Maira
"Cih... untuk apa? Tentu saja untuk memenuhi panggilan dari suamiku." Jawab Anisa
"Apa maksudmu?" Tanya Maira tak mengerti
"Maksudku... hehehehe... Mas Khoir semalam kedinginan. Jadi aku datang untuk menghangatkannya." Ucap Anisa
"Berhentilah bercanda! Dan katakan yang sebenarnya apa maumu!" Ucap Maira
"Aku? Hahaha... mauku adalah suamimu... sayang..." Ucap Anisa
Setelah berkata seperti itu, Anisa melangkah keluar. Namun ditarik kasar oleh Maira. Dan...
Plakkk...
Anisa menoleh ke arah Maira dengan cepat setelah ditampar. Lalu...
Plakk...
__ADS_1
Bersambung...
Terima kasih😁