Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Kematian Pak Surya


__ADS_3

Selamat Mmebaca


...


"Kenapa? Kenapa mas? hikss..." Gumam Maira


"Umi... umi tenapa nangis. Umi jangan nangis umi huaaa... maafin Syifa umi... hua..." Tangis Syifa dipelukan uminya


Anisa yang mendengar Syifa menangis kencang segera menuju sumber suara. Ia berhenti sejenak tatkala melihat kakak dan keponakannya menangis sambil berpelukan.


"Ada apa mbak?" Tanya Anisa


Maira mengangkat wajahnya untuk melihat wajah dari orang yang memanggil namanya. Dan..


Plakk...


Anisa memegangi pipinya yang terasa panas. Matanya kini juga berkaca - kaca di dalam hatinya ia bertanya - tanya. Apa yang membuat kakaknya berbuat seperti ini. Anisa melihat wajah Maira dengan penuh tanya.


Maira yang mengerti akan hal itu bertambah geram hatinya. "Kenapa? Terkejut?" Ucap Maira


"Ada apa mbak? Kenapa mbak menamparku?" Tanya Anisa


"Dasar tidak tau diuntung. Aku ini salah apa sama kamu. Semenjak kamu kecil, mbak yang selalu mengalah. Mbak bahkan rela untuk berhenti sekolah hanya karena supaya kamu bisa melanjutkan sekolah. Dan mbak banting tulang cari uang. Supaya apa? Supaya apa yang kamu inginkan itu bisa kamu dapatkan. Tapi apa balasanmu? hikss..." Ucap Maira


"Memangnya aku melakukan kesalahan apa mbak?" Tanya Anisa masih tidak mengerti. Memang benar apa yang dikatakan Maira bahwa ialah yang berjuang mati - matian untuknya. Tapi menamparnya, ia rasa ia tidka melakukan sebuah kesalahan.


"Masih tanya kenapa kau. Sungguh kau adik yang tega. Kau melakukan apa hingga suamiku sudi menikah denganmu?" Ucap Maira dengan anda bergetar. "Katakan! katakan padaku apa yang kau lakukan?" Paksa Maira


"Bagaimana mbak bisa tahu?" Gumam Anisa


"Kenapa? Kau pasti bertanya - tanya kenapa mbak bisa tahu. Syifa yang mengatakannya. Seandainya Syifa tidak mengucapkannya, mungkin kalian akan menyembunyikan semua ini dan entah sampai kapan." Ucap Maira


"Sekarang. Enyahlah dari rumah ini. Aku tidak sudi menampung dirimu lagi!" Ucap Maira


"Tapi mbak-" Ucap Anisa

__ADS_1


"Pergi! Pergi dari sini!" Usir Maira


Dengan terpaksa Anisa keluar dari sana. Ia pulang ke rumah di mana itu merupakan rumah masa kecilnya meninggalkan Maira yang masih menangis meratapi nasibnya.


Syifa sedari ibunya memarahi Anisa ia sudah menangis ketakutan. Ia memegang erat baju ibunya dan menangis dengan lantang. Setelah Maira mengusir Anisa barulah Maira menenangkan Syifa. Setelah beberes, Maira segera menjemput Gafar dari sekolahnya dan mengajak kedua anaknya bersamanya di rumah sakit.


Sedangkan Anisa, setelah pengusiran itu. Ia mencoba menghubungi Khoiruddin. Bahwa kakaknya telah mengetahui kabar pernikahan mereka. Namun nihil, panggilannya tidak jua diangkat. Hingga panggilan yang 23 barulah diterima oleh Khoiruddin.


"Halo Assalamualaikum." Ucap Khoiruddin


"Wa'alaikum salam. Mas... mas ini gawat." Ucap Anisa


"Gawat kenapa?" Tanya Khoiruddin


"Gawat mas. mbak Maira mas... Mbak Maira." Ucap Anisa terbata - bata karena masih syok akan kemarahan kakaknya.


"Maira kenapa? Sekarang tenang dulu. Tarik napas keluarkan, tarik napas keluarkan." Ucap Khoiruddin dan Anisa mempratikkan apa yang diucapkan oleh Khoiruddin.


"Nah. Sekarang jelaskan pelan - pelan. Kenapa dengan Maira?" Ucap Khoiruddin


Degg...


"Hah... bagaimana bisa?" Tanya Khoiruddin


Anisa pun menjelaskan secara rinci bagaimana dan apa saja yang diucapkan oleh Maira kepadanya. "Sekarang aku berada di rumah bapak mas. Mas terus ini bagaimana?" Ucap Anisa


"Kamu tenang dulu ya. Aku akan segera pulang." Ucap Khoiruddin


"I..i.. iya mas" Ucap Anisa


Setelah mengucap salam. Sambungan pun terputus.


....


Berbeda di lain sisi. Kini Maira dan kedua anaknya telah sampai di rumah sakit. Maira menyuruh Gafar untuk mengganti baju dulu dengan baju yang telah ia bawa dari rumah tadi. Setelah itu, Maira beroesan kepad akedua anaknya agar tidak keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Gafar dan Syifa jangan keluar dari sini ya. Temani kakek. Umi mau beli makanan dulu." Ucap Maira


"Iya Umi." Jawab keduanya


Setelah mendapat makanan Maira kembali ke ruangan ayahnya berada. Dengan telaten Maira menyuapi Gafar dan Syifa secara bergantian.


Pak Surya begitu terkejut melihat kehadiran kedua cucunya. Ia pun bertanya kepada Maira. Dan dijawab oleh Maira. "Ya karena di rumah tidak ada orang. Mas Khoiru juga kerja. Terus kalau aku titipin ke Anisa kan nggak enak juga aku." Jawab Maira


"Ngapain ada rasa nggak enak. Toh mereka juga keponakannya." Ucap Pak Surya


"Ya nggak papa sih pak. Mai juga kangen sama mereka." Ucap Maira tanpa setetes air mata lolos keluar dari matanya dengan cepat ia menghapusnya. Namun terlambat Pak Surya melihat itu.


"Nggak ada masalah kan nduk?" Tanya Pak Surya


"Nggak pak nggak ada." Jawab Maira


"Beneran. kalau nggak ada masalah. Kok nangis?" Tanya Pak Surya


"Bener pak nggak ada masalah. hikss..." Ucap Maira namun sialnya air matanya enggan untuk berhenti.


"tatek. Umi nangis talena tadi abis belantem cama tante. talena tante cama abi amin nikah - nikahan." Ucap Syifa


"Syifa!" Bentak Maira dan Syifa pun menangis karena bentakan itu.


Sedangkan Pak Surya, ia langsung drop. Maira segera memanggio dokter. Dengan perasaan was - was menunggu kabar. Maira juga menggendong Syifa supaya tenang dan berhenti menangis.


layar rekam detak jantung. Perlahan - lahan berubah menjadi garis lurus. Dan dokter menyatakan bahwa Pak Surya telah meninggal. Suara tangis terdengar dari Maira dan juga anak - anaknya.


Setelah dibawa ke kamar mayat. Maira segera menghubungi Khoiruddin dan memberi kabar bahwa bapaknya telah meninggal dunia.


"Innallillahi wa innailaihi rojiun. Tenang ya aku segera ke sana. Ini juga sudah di jalan." Ucap Khoiruddin


"Iya mas." Ucap Maira


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2