
Selamat Membaca
...
Brakk... brakk... brakkk....
Gafar mengetuk pintu rumah Khoiruddin dengan keras.
"Buka bi! Buka!" Teriaknya
Brakk... brakkk...
Gafar masih terus mengetuk pintu dengan keras. Selama pintu itu tertutup. Tak lama kemudian, dari arah dalam seseorang menyahuti dan membukanya. Siapa lagi kalo bukan Khoiruddin.
"Ada apa nak? Umimu baik - baik saja kan?" Tanya Khoiruddin
huufftt... huffttt... huffttt...
Terlihat Gafar bernapas kasar dengan wajah penuh amarah yang terlihat ditahan olehnya. Khoiruddin masih tidak mengerti kenapa putranya melihatnya seperti itu. Dan Gafar juga masih dalam mode diamnya.
"Ada apa nak-" Khoiruddin mengulang pertanyannya
"Diam! Ini semua gara - gara abi! Kenapa bi? Kenapa?" Ucap Gafar
"Gara - gara abi? Apa yang abi lakukan? Kau ini kenapa datang - datang lalu marah tidak jelas hah?" Tanya Khoiruddin
"Abi tidak tahu? Gara - gara abi menikah lagi sama dia!" Ucap Gafar sambil menunjuk Anisa yang berada di belakang Khoiruddin. "Abi melupakan kami. Abi juga tidak pernah bersikap lembut pada umi. Dan juga... ya... kabar pernikahan kalian ini. Membuat kami selalu terbully dari kecil. Lihatlah Syifa bi! Dia menangis saat ini. Karena apa? Karena kabar pernikahan kalian yang tak sepantasnya terjadi." Ucap Gafar panjang lebar
"Syifa menangis kenapa?" Tanya Khoiruddin
"Heh... aku benci abi! Aku malu menjadi anak abi! Aku malu!" Ucap Gafar, lalu pergi dari sana.
Ya! Tujuannya datang ke sana adalah untuk melampiaskan kemarahannya. Namun tak disangka, Zahra mengikutinya dari belakang.
"Abi!" Panggil Zahra
__ADS_1
"Zahra, ngapain kamu ke sini? Ayo pulang!" Ucap Gafar dengan menarik paksa tangan Zahra.
Zahra merasa kesakitan, hingga membuatnya berteriak kencang. "Aahhh... aahhh... sakit kak. Hikss..." Keluh Zahra
Namun Gafar tak memperdulikannya. Ia terus menarik paksa Zahra yang bahkan dianya masih berusaha untuk mempertahankan dirinya di tempat.
"Ayo pulang Zahra! Umi pasti nyariin." Ucap Gafar
"Aaahhh... umi gak bakalan nyariin. Hiksss... aku tadi udah bilang umi. Zahra mau main sama abi dulu." Ucap Zahra kekeh
Khoiruddin yang tidak tega melihat putri kecilnya menahan sakit. Ia mencoba untuk membantu Zahra.
"Nak, sudah lepaskan! Kasihan adikmu. Lihatlah! Dia kesakitan." Ucap Khoiruddin
Gafar masih terus menutup kupingnya. Sontak saja keributan mereka terdengar hingga beberapa orang keluar dari rumahnya untuk melihat pertengkaran mereka.
Maira yang diberi tahu oleh salah seorang tetangganya. Segera berlari menuju rumah suaminya.
"Gafar! Sudah lepaskan! Kau apakan adikmu ini?" Bentak Maira
Dipeluknya si Zahra oleh Maira. Hingga tangisnya berhenti.
"Mas! Lebih baik kita masuk saja. Malu dilihat orang." Ucap Maira
"Tentu, masuk saja." Ucap Khoiruddin mengizinkan
Mereka pun masuk ke dalam rumah Khoiruddin. Dan orang - orang yang kepo tadi pun hilang satu persatu.
...
Di ruang tamu. Maira mendudukan dirinya, dengan Zahra yang masih berada dalam gendongannya.
"Sepi sekali rumah ini. Ke mana Anisa?" Tanya Maira
"Mungkin dia sudah tidur. Dia sakit soalnya, wajahnya penuh bintik merah. Seperti terkena alergi." Jelas Khoiruddin
__ADS_1
"Aahahahaha.... Aahahahaha..." Tawa Zahra ketika melihat sosok Anisa yang baru saja turun.
Sontak semua orang menoleh ke arah di mana Zahra menertawakan sesuatu. Terlihat wajah yang merah pada Anisa. Bahkan tak hentinya ia menggaruk wajahnya.
"Ahahahaha..." Zahra masih terus tertawa
"Husstt... tidak boleh menertawakan orang seperti itu Zahra!" Ucap Maira
"Hiii... abisnya. Wajah tante jelek. Merah - merah bentol - bentol. Xixixi..." Ucap Zahra yang semakin mengejek Anisa
"Ehehem... maafkan Zahra ya Nis. Maklum dia masih kecil." Ucap Maira
Anisa hanya memutar bola mata malas. Enggan merespon ucapan kakaknya.
"Untuk apa umi meminta maaf? Dia pantas mendapatkannya! Orang yang suka merebut kebahagiaan orang lain, sepatutnya memang mendapat hukuman. Lagipula hanya wajahnya yang rusak. Entah esok hari?" Ucap Gafar
"Husstt..." Ucap Maira pada Gafar dengan melototkan matanya
"Siapa yang merebut kebahagiaan orang? Kamu jangan asal nuduh ya!" Ucap Anisa tak terima
"Oohh ya? Bagaimana dengan keadaan saat ini. Kau merebut abiku dariku dan juga umi. Lalu kau masih berani mengatakan bahwa kau tidak merebut? Ckk..." Ucap Gafar
"Aku tidak merebut! Abimu sendiri yang meminta padaku." Ucap Anisa
Gafar menatap tak suka pada Anisa.
"Kenapa? Tak terima? Kau bisa tanyakan sendiri pada abimu!" Ucap Anisa lagi
"Sudah! Sudah! Ini salah abi! Bukan salah siapa - siapa. Abi minta maaf Gafar." Ucap Khoiruddin
"Semudah itu kau meminta maaf." Gumam Gafar
Bersambung...
Selamat hari raya idul fitri [emot ketupat] teman - teman, bagi yang merayakannya🎊. Author minta maaf lahir dan batin🙏. Karena hal yang paling indah🌱 adalah ketika dunia saling bermaaf - an🌼. Dan bagi teman yang mudik🚗. Semoga tiba di tujuan dengan selamat. Aamiin🤲
__ADS_1