Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Digrebek Warga


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Sudah dua minggu ini Pak Surya terbaring di rumah sakit. Namun kondisinya semakin parah. Maira ssmakin kewalahan karena harus bolak - balik antara rumah dan rumah sakit.


Di mana ia juga harus mengurus kedua anaknya juga bapaknya. Khoiruddin juga turut membantu Maira selepas ia bekerja. Di lain sisi, Anisa juga lebih sering memasak untuk bekal Maira juga untuk anak - anaknya.


"Terima kasih Nis." Ucap Maira


"Sama - sama mbak." Jawab Anisa


"Ya udah. Kalo gitu mbak berangkat dulu. Titip rumah ya." Ucap Maira


"iya mbak. Titip salam untuk bapak." Ucap Anisa


"Iya. Jangan lupa doakan bapak agar cepat sembuh." Ucap Maira


"Pasti mbak. Dan Anisa minta maaf atas kejadian lalu." Ucap Anisa sambil menggenggam jari - jari Maira.


"Iya. Sudahlah kejadian itu lupakan saja. Mbak paham mengapa kamu seperti itu." Ucap Maira. Anisa menanggapi Maira dengan anggukan. "Ya sudah mbak berangkat. Assalamualaikum." Ucap Maira


"Wa'alaikumsalam." Jawab Anisa


...


"Assalamualaikum pak." Ucap salam Maira saat masuk ke ruangan Pak Surya


"Wa'alaikumsalam." Jawab Pak Surya dengan nada lemas.


Maira meletakkan barang bawaannya di atas meja sebelah Pak Surya. Maira tersenyum ketika melihat bapaknya sudah mau untuk makan. Namun disisi lain, matanya berkaca - kaca karena menahan tangisnya melihat keadaan bapaknya yang semakin kurus.

__ADS_1


"Pak. Maira bawakan bubur, sesuai sama yang bapak minta kemarin. ayo akk." Ucap Maira sambil menyuapkan bubur ke mulut Pak Surya. "Hmmm... enakkan pak?" Tanya Maira basa basi. Pak Surya hanya diam karena fokus untuk mengunyah, padahal itu bubur yang seharusnya langsung bisa ditelan.


Sudah 5 suapan sendok masuk ke mulut Pak Surya. "Ehmm... pak ngomong - ngomong ini yang buat Anisa. Enak kan?" Ucap Maira


Pak Surya langsung menyemburkan bubur itu, membuat wajahnya dan sedikit bajunya kotor karena sembutan itu. "Astagfirullah Pak!" Ucap Maira karena terkejut.


Dengan cekatan Maira mengambil selembar kain dan segera membersihkan kotoran itu dari wajah bapaknya. "Bapak kenapa sih? kok pake disemburkan segala? Jadi kotorkan." Ucap Maira


Pak Surya hanya diam saja. "Hufftt..." Maira membuang napas besar. "Sampai kapan pak? Kemarin bapak sendiri yang bilang sama Maira kalau Anisa itu masih butuh perhatian. Oleh karena itu Mai harus memaafkannya. Tapi sekarang? Sekarang malah bapak yang belum bisa memafkannya." Ucap Maira


Pak Surya menangis mendengar ucapan Maira. Maira kemudian memeluk bapaknya erat dan sesekali mengusap punggungnya. Bapak dan anak itu kini sedang berbagi emosi satu sama lain.


...


Hari sudah malam. Dan langit telah berganti warna menjadi hitam. Suara deru mesin memasuki halaman rumah Maira.


Keluarlah sosok pria dari dalam mobil itu, yang tidak lain adalah Khoiruddin. Gafar dan syifa berlari ke arahnya dengan senyuman di wajah mereka. Tidak ketinggalan kedua anak itu juga merentangkan tangannya dan berlari agar bisa lebih dulu menjangkau abinya.


Anisa muncul dari arah dapur. "Ehh.. mas sudah pulang." Ucap Anisa


"Iya baru saja." Ucap Khoiruddin sambil menurunkan kedua anaknya


"Nisa tadi sudah masak banyak. Yuk makan!" Ucap Anisa


"Iya tapi aku mau mandi dulu." Ucap Khoiruddin


"Iya sudah kalau begitu. Yuk Gafar, Syifa kita makan dulu." Ajak Anisa


...


Selesai makan malam. Anisa membereskan piring - piring kotor itu dan menghangatkan lauk yang masih tersisa cukup banyak untuk esok.

__ADS_1


Sedangkan Khoiruddin segera menemani anak - anaknya untuk belajar. Setelah semua selesai dan anak - anak sudah tidur. Khoiruddin dan Anisa kini duduk di ruang keluarga untuk melihat hiburan di televisi.


Hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Hingga suara gedoran pintu membuat mereka bangkit dari sana.


Anisa dan Khoiruddin kebingungan dikala melihat banyak warga berkumpul di depan rumahnya. "Ada apa ini pak RT?" Tanya Khoiruddin pada Pak RT


"Jadi gini nak Khoir. Ada warga yang melapor pada saya, bahwa kalian berdua maaf. Kalian berdua melakukan zinah di rumah ini." Ucap Pak RT


"Siapa yang mengatakan itu pak? Dan atas dasar apa?" Tanya Khoiruddin


"Atas dasar apa. Jelas - jelas kalian berzina. Lihtlah ini sudah jam 12 ke atas dan kalian berada di rumah hanya berdua saja." Ucap salah seorang warga


"Maaf pak. Tapi kami tidak berdua saja. Ada anak - anak di dalam." Ucap Khoiruddin


"Anak - anak apa mengerti tentang itu. Dan lihatlah pakaian Anisa saja seperti itu ketat bagaimana mungkinn kamu tidak melakukan apa - apa kepada Anisa!" Ucap salah seirang warga lainnya


"Tapi pak saya tidak melakukan apa yang bapak - bapak dan ibu - ibu tuduhkan." Ucap Khoiruddin


"Tapi saya lihat sendiri kalau mas Khoir tadi sore berpelukan di belakang sama Anisa." Ucap Ibu - ibu


"Tapi itu-" Ucapan Khoiruddin terpotong


"Halah... sudahlah maling juga nggak mungkin ngaku kalau mereka maling. Kita arak saja mereka dan usir mereka dari sini!" Ucap seorang pria


"benar. Arak saja!" Ucap warga lainnya.


"Tenang pak. Harap tenang, kita harus menyelesaikan segala sesuatunya dengan kepala dingin." Ucap Pak Rt menenangkan warganya


"Begini saja. Kita bahas ini di dalam. Ibu tadi yang mengatakan melihat nak Khoir berpelukan masuk ke dalam dan saksi lainnya juga. Sisanya di sini saja." Ucap Pak RT dan disetujui oleh lainnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2