Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Pelaku Penumbalan


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Beberapa minggu kemudian. Anisa kini menjadi sulit untuk berbicara. Bahkan ia tidak bisa mengendalikan gerak tangan dan wajahnya. Dokter memvonisnya terkena stroke ringan.


Khoiruddin mendorong kursi roda menuju halaman depan. Ia memposisikan di mana Anisa bisa terkena cahaya matahari yang tidak terlalu terik.


Tampak dari kejauhan. Maira membawa rantang yang berisikan makanan.


"Assalamualaikum mas. Mai bawain ini. Bentar ya, Maira siapin." Ucap Maira sambil mencium tangan suaminya


"Wa'alaikum salam." Jawab Khoiruddin


Perlakuan Maira kepada Khoiruddin membuat Anisa marah. Terlihat dari wajahnya yang berubah menjadi merah.


Khoiruddin yang tidak mengerti jika Anisa marah. Ia langsung membawanya masuk ke dalam. Karena disangkanya kulit Anisa terbakar.


"Kok kulit kamu jadi merah. Apa terlalu panas? Yaudah kalo gitu. Kita masuk aja yuk. Mai juga udah nyiapin makanan buat kamu." Ucap Khoiruddin


Masuklah mereka ke dalam rumah itu. Saat Maira datang, Anisa memaksa kakinya untuk berdiri. Walau tertatih - tatih. Ia berhasil duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Dengan hati - hati dan penuh kasih. Maira menyuapi adiknya. Sedangkan Khoiruddin membersihkan makanan yang menempel di sekitar mulut Anisa dengan tisu.


Maira dan Khoiruddin kini tampak seperti sedang mengasuh anak kecil. Walau begitu rasa sayang yang ada diantara mereka tak hilang.


...


Sore harinya...


Khoiruddin memiliki jadwal untuk mengajar di TPA yang ia dirikan. Sesudah salat magrib, ia mampir di kantin untuk mengisi perutnya yang kosong.

__ADS_1


"Mbak soto satu sama kopi satu." Ucap Khoiruddin


"Siap abi." Jawab penjaga kantin itu


Khoiruddin memilih duduk di meja yang muridnya tempati dan sedang makan saat ini.


"Sendiri aja. Ke mana yang lainnya?" Tanya Khoiruddin


"Yang lainnya masih pesen." Jawabnya singkat dengan mulut yang masih penuh dengan makanan


"Itu makannya dihabiskan dulu. Baru jawab atuh." Ucap Khoiruddin


Gadis itu hanya mengangguk kecil saja. Tak ada percakapan apapun antara mereka. Khoiruddin hanya memperhatikan gadis itu sampai makanannya habis.


Glekk... glek... glekk...


"Aaahhh... alhamdulillah." Ucapnya setelah meneguk airnya hingga habis.


"Kok abi pesen kopi? Nanti nggak bisa tidur loh..." ucap Siti


"Kata siapa? Abi minum kopi malam - malam. Ya tetap bisa tidur." Jawab Khoiruddin


Gadis itu hanya memberi respon dengan mulut berbentuk o saja tanpa ada suara.


Setelah Khoiruddin menghabiskan setengah dari makanannya. Siti mulai berbincang ke arah topik yang aneh.


"Abi! Abi percaya nggak sih sama namanya sihir?" Tanya Siti


"Sihir? Ehmm... percaya, tapi itu dibedakan menjadi dua. Jika mengarah ke positif dikatakan ilmu putih. Sedangkan yang negatif dikatakan ilmu hitam." Jawab Khoiruddin


"Oooo... kenapa bisa percaya abi. Apa abi punya ilmu seperti itu?" Tanya Siti

__ADS_1


"Abi? Abi mah nggak punya. Ada - ada saja kau ini." Jawab Khoiruddin


"Oooo... kalo nggak abi pasti istri atau anak abi. Ya kan?" Ucap Siti


Khoiruddin langsung menghentikan makannya. Dan segera meminum kopinya. Setdlah itu, ia menatap tajam ke arah Siti. Namun yang ditatap biasa saja. Karena ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Tidak mungkin keluarga abi melakukan hal - hal yang aneh seperti itu." Ucap Khoiruddin


"Abi... Siti mau cerita. Tapi abi janji ya jangan marah sama Siti." Ucap Siti sambil mengarahkan jari kelingkingnya pada Khoiruddin


"Yaa... abi janji." Jawab Khoiruddin sambil menyatukan kelingking mereka


"Beberapa minggu lalu. Siti tuh selalu diteror sama sesosok jin. Dia selalu bilang sama Siti. Kalo Siti tuh dijadiin tumbal. Untungnya ada suamiku yang nolongin. Kalo nggak sudah almarhum aku." Ucap Siti


"Ehemm... terus bagaimana? Apa masih diganggu?" Tanya Khoiruddin


"Ehmm... enggak sih. Tapi asalkan abi tahu. Orang yang menumbalkan abi tuh adalah istri Abi." Ucap Siti


Khoiruddin langsung membelalakan matanya. Napasnya menjadi sesak, hingga ia memegangi dadanya itu.


"Eh.. eh.. eh... abi nggak pa pa?" Tanya Siti


Khoiruddin menggelengkan kepalanya.


"Kok kamu bisa tahu?" Tanya Khoiruddin


"Sosok itu yang bilang. Dia bilang bahwa-" ucapan Siti terpotong. Karena Khoiruddin langsung meninggalkan tempat itu.


Di sepanjang perjalanan. Khoiruddin meneteskan air matanya.


'Tidak mungkin Maira melakukan ini. Tunggu saja, aku akan membongkar semuanya.' Batin Khoiruddin

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2