Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Aku telah mencoba


__ADS_3

Selamat Membaca


...


Satu minggu sudah Pak Surya beristirahat di rumahnya. Mengenai kedekatan Anisa dan Khoiruddin, mereka malah semakin dekat. Dikarenakan Khoiruddin yang sering mengantar Anisa pergi ke makan suaminya. Dan seperti biasa, Anisa akan menangis agar dapat memeluk kakak iparnya itu.


...


Saat ini, Maira tengah menyuapi Pak Surya makan bubur. Dan Anisa baru datang dengan menggandeng tangan Khoiruddin. Mereka terlihat seperti pasangan yang serasi. Maira yang melihat pemandangan itu, tentu saja memiliki pikiran buruk. Namun segera ia tepis, karena kepercayaannya kepada dua orang di hadapannya itu sangat besar.


Maira segera meminta tangan Khoiruddin dan segera mencium punggung tangannya. Dan itu membuat secara spontan Khoiruddin melepas gandengannya dengan Anisa, membuat Anisa cemberut.


"Gimana perjalanannya? Apa mas perlu sesuatu?" Tanya Maira


"Lancar seperti biasa. Boleh, tolong buatkan aku segelas teh hangat ya." Ucap Khoiruddin


"Iya bentar ya mas." Ucap Maira


"Mmmm... mbak biar Nisa saja yang buatkan Mas Khoir teh. Mbak ngurus bapak aja ya?" Tawar Anisa


"Uhukk... uhukk... nggak usah. Biar mbakmu saja yang bikin. Lagian Khoiruddin itu suami Maira bukan suamimu. Biar dia saja yang ngurus. Kamu lebih baik cuci kaki dan tangan dulu. Habis dari mana - mana itu mbok ya segera basuh kaki dan tangan." Omel Pak Surya


"Ck... iya pak." Jawab Anisa dengan nada malas.

__ADS_1


"Sudah Mai. Kamu urusi dulu suamimu itu!" Ucap Pak Surya


"Iya pak." Ucap Maira dan ia segera ke arah dapur untuk membuat teh.


...


Teh telah siap. Maira membawanya dengan nampan dan memberikannya ke Khoiruddin. Di sruputnya teh itu oleh Khoiruddin. "Sshhh ahh.. Alhamdulillah." Ucapnya saat setelah air itu sedikit mengahangatkan tenggorokannya.


"Mas butuh apa lagi?" Tanya Maira


"Nggak ada. Mas nggak butuh apa - apa." Ucap Khoiruddin


Obrolan pun berlanjut di antara mereka berdua. Dari dalam kamar Anisa terdengar suara cekikikan tawa dari ruang tamu. Suara itu adalah milik Maira dan Khoiruddin. Ia menelungkupkan wajahnya ke bantal dan terisak pelan.


"Nis! Nisa!" Panggil Maira


Segera Anisa menghapus airmatanya dan segera beranjak menemui Maira. "Ya mbak. Ada apa?" Tanya Anisa


"Mbak mau pulang. Kamu nggak pa - pa ya mbak tinggal. Nanti kalau kamu kerepotan ngurus bapak. Panggil mbak ya. Sekarang kami mau pulang dulu, Gafar udah nangis dari tadi." Jelas Maira


"ehh iya mbak." Ucap Anisa


"Ya sudha kalau begitu. Mbak pulang dulu ya. Assalamualaikum." Ucap Maira

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." Jawab Anisa


Sebelum berpamitan kepada Anisa. Maira terlebih dahulu berpamitan ke bapaknya. Setelah kepergian Maira dan keluarganya, Anisa segera ke kamar Pak Surya dan melihat keadaannya.


"Bagaimana pak? Apa butuh sesuatu?" Tanya Anisa


"Nduk... bapak tahu kamu berat melupakannya. Tapi nak, ingat dia itu kakak iparmu. Dan tolong jangan luaki hati cucu - cucu bapak nak." Pinta Pak Surya


"Pak. Seandainya saja melupakan semudah membalik telapak tangan. Anisa juga bisa pak. Tapi pak posisi Anisa juga nggak mudah. Setiap hari bertemu, bahkan kami hampir sering menghabiskan waktu bersama. Apa bapak pikir Nisa nggak berusaha pak? Anisa juga udah berusaha. Tapi semakin Anisa melupakan. Semakin Anisa jatuh lebih dalam pak." Ucap Anisa


"Bapak tahu kamu bisa nak. Bapak yakin itu." Ucap Pak Surya


"Kenapa pak? Kenapa musti Anisa? Kenapa nggak Mai aja yang bapak suruh ngalah supaya berpisah dengan Mas Khoir dan nanti Anisa bisa menikah dengan Mas Khoir? Kenapa harus selalu Anisa yang bapak suruh untuk mengalah?" Ucap Anisa dengan nada yang lumayan tinggi


"Nak. Sadar nak dia mbakmu. Dan kamu jangan bicara keras - keras, nanti didengar tetangga." Ucap Pak Surya


"Kenapa memangnya kalau tetangga pada dengar. Sekalian aja Mbak Mai yang dengar langsung KALAU ANISA, ADIKNYA MEMILIKI PERASAAN LEBIH KEPADA SUAMINYA, bapak puas hah!" Ucap Anisa dengan lantang


"Jadi, kamu selama ini menyukai Mas Khoir?" Tanya Maira


"Mbak..."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2