Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Maafkan Ayah


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Bagaimana?" Tanya Pak Soleh


Sedangkan, Khoiruddin hanya menggelengkan kepalanya.


"Ck... kok bisa sih Din? Dulu katanya serius! Ingat kamu tuh udah punya anak. Apalagi anak kamu ada yang perempuan! Mau... kamu! anakmu mengalami hal yang sama? Hah!" Ucap Pak Soleh


"Nggak Yah," Jawab Khoiruddin


"Oleh karena itu. Segera putuskan!" Ucap Pak Soleh, "Nih anak dibiarin makin menjadi." Dumel Pak Soleh


"Iya Yah." Jawab Khoiruddin


"Iya tuh kapan?" Tanya Pak Soleh


"Secepatnya Yah." Jawab Khoiruddin


"Haahhh... ck." Desah Pak Soleh


...


Siang berganti sore. Dan langit berubah menjadi gelap. Selesai salat magrib di masjid terdekat. Khoiruddin memutuskan untuk melihat istri keduanya.


"Mau ke mana kau?" Tanya Pak Soleh

__ADS_1


"Khoir mau melihat Anisa Yah. Kasihan dia daritadi pasti cemas, secara aku juga tidak memberinya kabar apapun." Ucap Khoiruddin yang tengah terburu - buru membereskan perlengkapan salatnya.


"Untuk apa kau ke sana? Buang - buang waktu saja!! Di sini ada anak - anakmu. Dan kau lebih cemas padanya? Dia sudah besar!! Anak - anakmu dan Maira lebih membutuhkanmu!" Ucap Pak Soleh


"Justru karena Mai ada anak - anak. Dia memiliki teman. Sedangkan Anisa, ia hanya punya aku Ayah. Jadi, mestilah aku khawatir." Ucap Khoiruddin


"Hey... Dengar kau-" Pak Soleh tidak melanjutkan ucapannya karena Khoiruddin langsung meninggalkannya setelah mengucapkan salam


"Assalamualaikum." Ucap Khoiruddin dan langsung pergi


Sedangkan Pak Soleh. Ia menggerutu kesal karena putranya kini jauh dari harapannya.


"Dasar anak k*rang *jar. Tidak punya sopan santun. Orang tua belum selesai bicara, sudah pergi saja." Gerutu Pak Soleh


Maira yang tiba di sana. Heran melihat tingkah ayah mertuanya. Bagaimana tidak? Ayah mertuanya itu memarahi entah siapa.


"Hah... ayah marah sama burung beo. Ditanya apa jawabnya apa! Huh..." gerutu Pak Soleh


Maira semakin bingung. Namun ia dapat menebak, bahwa ayah mertuanya itu sedang kesal. Sepertinya ia juga tahu, mertuanya itu marah pada siapa.


Maira menimpali, "Udah biasa atuh Yah. Mas Khoir kalo nginep di sini. Pasti sore gini ngeliat Anisa."


"Ck... untuk apa? Segitu pentingnya kah? Kemarin ditanya cinta apa tidak? Jawabnya tidak ayah... Khoir hanya cinta Mai dan anak - anak. Nyatanya!! Haisss..." Omel Pak Soleh


"Sudah Yah... sudah... lebih baik ayah duduk dan minum teh. Mai buatin dulu tehnya." Ucap Maira untuk menenangkan Pak Soleh


Setelah mendudukan Pak Soleh. Maira segera ke dapur untuk memasak air. Sementara di ruang tamu. Pak Soleh masih saja ngedumel tanpa hentinya.

__ADS_1


Air pun masak. Maira segera mematikan kompornya dan menuangkannya ke dalam cangkir. Setelah ditambah beberapa gula dan mengaduknya dengan rata. Ia membawa teh dengan beberapa camilan yang tertata di nampan.


"Ini yah! Teh sama roti." Ucap Maira sambil meletakan Cangkir dan beberapa camilan di atas meja dengan hati - hati.


"Wahhh... terima kasih nak." Ucap Pak Soleh


Tanpa pikir panjang. Pak Soleh segera menikmati suguhan dari menantunya itu.


"Berapa lama Khoir jika di sana?" Tanya Pak Soleh di sela - sela makannya.


"Nanti sekitar ba'da isya. Mas Khoir pulang kok yah." Jawab Maira


"Ehmmm..." Ucap Pak Soleh. "Anak itu membuatku malu saja! Aisshhh..." Gerutunya. "Maafkan kelakuannya ya nak! Ayah juga tidak tahu, kenapa dia bisa begini." Ucapnya lagi


"Eh..." Hanya kata itu yang terucap di mulut Maira.


Sejujurnya Maira sendiri bingung harus menjawab apa. Dikarenakan hatinya kini sudah biasa mendapat perlakuan seperti itu.


Tanpa diduga. Pak Soleh meraih tangan Maira. Ditatapnya serius kedua mata Maira.


"Nak, walau terlambat. Ayah berjanji akan mengembalikan keadaan yang semestinya. Ayah akan memperjuangkan hak - hak anakmu dan dirimu. Maaf jika baru sekarang ayah bertindak. Maafkan ayah nak hikss..." ucap Pak Soleh


"Maira maafkan Yah... hikss... sudah yah jangan nangis. Maira jadi ikutan nangis... huhu..." Ucap Maira


Mereka berdua masih menangis dan berpelukan. Hingga suara azan menghentikan tangisan mereka. Maira dan anak - anak, juga Pak Soleh salat berjamaah. Di mana imamnya adalah Gafar.


"Cucuku memang sudah besar." Ucapan bangga seorang kakek.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2