Ketegaran Istri Pertama

Ketegaran Istri Pertama
Tokoh Baru


__ADS_3

Selamat Membaca


...


"Ooohhh... ini rumah Abi Khoir." Ucap Gadis yang baru saja turun dari mobil


"Nah ini rumah Abi. Yuk masuk!" Ajak Khoiruddin


Mereka pun masuk ke dalam dengan tas ransel di bawa oleh Khoiruddin.


"Assalamualaikum." Salam mereka ketika memasuki rumah


"Wa'alaikum salam." Jawab Anisa dari dapur


Khoiruddin menyuruh gadis yang ia bawa tadi untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


"Terima masih Abi." Ucap gadis itu.


Dari arah dapur. Anisa tergopoh - gopoh ke depan. Langkahnya mendadak terhenti dengan muka masamnya.


"Kenapa mas bawa dia ke sini?" Tanya Anisa


"Nanti aku jasin. Sekarang buatkan minuman dan bawakan cemilan untuknya makan!" Perintah Khoiruddin


"Aiisshh..." Protes Anisa


"Sudah cepat!" Bentak Khoiruddin


Dengan muka masam, Anisa kembali ke dapur. Ia mmebuatkan minuman dan menata beberapa camilan di atas nampan.


"Untuk apa gadis itu ke sini? Tapi! Mukanya tadi lebam - lebam." Gumam Anisa

__ADS_1


Nggiinggg.... (Suara teko berbunyi menandakan air mendidih)


Suara itu mengagetkan Anisa. Segera Anisa mematikan kompornya dan menuangkan air tadi ke dalam cangkir. Setelah itu, ia bawa semua yang ada di nampan tadi ke depan.


...


"Nah! Ini makanlah! Jangan malu." Ucap Khoiruddin


Walau dengan ragu. Gadis itu mengambil sedikit makanan yang ada di meja. Ia juga sering mencuri - curi pandang ke Anisa.


Sedang Anisa yang tahu itu. Membalasnya dengan melototkan matanya. Tanda ia tak suka pada gadis itu.


"Mas! Kenapa dia? Pipinya juga biru lebam. Seperti habis dicium tawon saja." Tanya Anisa


"Kau ini... sshhh... ck... dasar tidak sabaran!" Dumel Khoiruddin dengan nada lirih namun terdengar bagi kedua orang yang ada di sana.


Merasa tak enak hati karena ucapan Anisa. Khoiruddin akhirnya menyuruh gadis itu untuk segera istirahat di kamar tamu. Ia juga mengantar gadis itu ke kamar tamu yang ada di rumahnya.


"Hmm... terima kasih Abi." Ucap gadis itu


Pintu tertutup. Dan Khoiruddin kembali menuju ruang tamu untuk menemui Anisa.


"Apa kau tidak bisa sabaran? Kenapa kau bertanya seperti itu? di depannya lagi. Apa kau tidak mengerti perasaannya?" Ucap Khoiruddin kesal


"Aku hanya bertanya saja. Memangnya itu salah? Jadi, kenapa kau bawa dia ke sini?" Tanya Anisa


"Sini, Duduklah!" Ucap Khoiruddin


Anisa duduk di hadapan Khoiruddin dan memposisikan diri seperti orang yang siap untuk mendengar.


"Kau tahu kan, dia itu anak muridku yang menikah dini. Dia juga mengalami KDRT. Kau lihat pipinya yang kebam tadi. Tadi dia habis ditampar sama suaminya." Jelas Khoiruddin

__ADS_1


"Kalau suaminya tukang mukul. Kenapa ia tidak pulang saja? Kenapa malah kau bawa ke sini?" Tanya Anisa


"Nah... itu dia masalahnya. Aku tadi sudah membawanya pulang ke rumah krang tuanya. Kau tahu apa yang mereka katakan tadi?" Ucap Khoiruddin


Anisa menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Mereka bilang. Kalau anaknya sudah menikah. Jadi itu bukan urusannya lagi. Mereka sudah menyerahkan secara penuh anaknya itu ke pihak laki - laki. Jadi, mereka sudah tidak peduli lagi, mau anaknya bahagia atau menderita. Jadi ku bawa ia ke sini. Karena aku kasihan padanya." jawab Khoiruddin


"Hah!" Ucap Anisa


"Iya dia akan tinggal di sini. Jadi, berbuat baiklah padanya." Ucap Khoiruddin


"Apa!" Teriak Anisa


...


Malam harinya, Khoiruddin, Anisa dan gadis itu makan malam dalam satu meja. Khoiruddin terus - terusan menawarkan semua makanan yang ada di atas meja kepada gadis itu. Sedangkan Anisa, ia makan dengan wajah yang masam. Hal itu membuat si gadis merasa sungkan.


"Ehmm... Abi. Sebaiknya saya besok pulang saja. Saya takut, kalau di sini lama - lama. Mereka nanti mencari saya." Ucap gadis itu


"Lohh... kenapa? Kau tinggal saja di sini ya! Abi angkat jadi anak abi. Abi tanggung semua biaya hidup juga sekolahmu. Daripada kamu ikut mereka. Kamu nanti dipukul lagi." Ucap Khoiruddin


Sontak saja, Anisa membelalakkan matanya mendengar ucapan Khoiruddin. Jujur ia tidak suka dengan gadis itu. Boro - boro gadis itu. Keponakannya yang terakhir saja ia tidak menyukainya.


"Nggak abi. Saya pulang aja." Ucap gadis itu


"Huufftt... baiklah. Besok Abi antar hem..." Ucap Khoiruddin


Gadis itu hanya menganggukan kepalanya. Dan Anisa bernapas lega mendengarnya.


"Untunglah tidak ada drama." Gumam Anisa

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2