
Selamat Membaca
...
Sudah 3 bulan semenjak kejadian pembagian harta waris. Dan Anisa terpaksa untuk meninggalkan rumah yang telah ia tempati saat masih menjadi istri dari Omar.
Flashback On...
Sebelum melangkah dan masuk ke mobil, Anisa menoleh ke belakang. Ia melihat setiap jengkal dan terlihat kenangannya bersama almarhum suaminya di pikirannya.
"Nak. Ayo kita berangkat. Nanti keburu malam." Ucap Pak Surya
Anisa tersadar dari lamunannya, ia kemudian memalingkan wajahnya dari rumah itu dan melanjutkan langkah kakinya menuju mobil.
Perlahan pepohonan di luar kaca tampak mundur. Menandakan bahwa mobil telah bergerak maju. Hampir 1 jam, dikarenakan mereka beristirahat cukup lama tadi. Mereka baru tiba di rumah Pak Surya. Anisa langsung masuk ke kamarnya, sedangkan Maira dan keluarganya berpamitan pulang.
Flashback Off
Di sini Anisa tengah duduk yang di depannya terdapat gundukan tanah. Ia menaburkan bunga dan menyiram air. Terlihat tulisan Omar di batu tersebut. Ia mengusapnya perlahan. Tampak juga air mata yang menumpuk di matanya.
"Kau sangat mencintainya ya?" Ucap seseorang
__ADS_1
"Tentu. Dia juga sangat mencintaiku." Ucap Anisa
"Ya itu pasti. Dan asalkan kau tahu, tidak ada seorang suami yang mencintai istrinya. Rela melihat ia menangisi dirinya. Itu pasti akan sangat menyakiti hatinya." Ucap seseorang itu yang tidak lain Khoiruddin
"Kenapa? Tapi dia sendiri adalah penyebab aku terluka." Ucap Anisa
"Hufftt... bagaimana cara menjelaskan ini padamu?" Ucap Khoiruddin
"Menjelaskan apa?" Tanya Anisa
"ekhemm... di dunia ini banyak laki - laki yang kehilangan pasangannya sama sepertimu. Dan mereka juga menutupi kesedihannya dengan senyuman. Mereka juga harus tetap melanjutkan hidup untuk keluarga mereka." Ucap Khoiruddin
"Lalu? Apa hubungannya denganku. Mereka sudah pasti memilih untuk menikah lagi bukan?" Ucap Anisa
"Lalu. Siapa yang mau menikah denganku? Aku hanya perempuan mandul hikss.." Ucap Anisa
"ssttt.... jangan bicara seperti itu. Kau tidak mandul, memang belum dikaruniani saja. Dan pasti akan ada laki - laki yang menerimamu apa adanya." Ucap Khoiruddin
"Seandainya itu kamu." Ucap Anisa
"Apa yang kau ucapkan. Aku tidak mungkin menikahimu." Ucap Khoiruddin
__ADS_1
"Lihat kan. Kau saja tidak mau. Bagaimana dengan yang lain?" Ucap Anisa
"Tidak. Bukan itu maksud ucapanku. Maksudku aku tidak mungkin menikahimu. Karena kita saudara ipar. Kau adik dari istriku. Bahkan jikapun aku melakukan poligini, aku tidak bisa menjadikanmu istriku. Karena jelas hukumnya dalam agama kita, haram hukumnya untuk menikahi saudara dari istrinya. Kau tahu itukan." Jelas Khoiruddin
"Hikss... hiksss... kenapa? Kenapa ini terjadi padaku? Kenapa?" Tangis Anisa
"Sstt diam jangan menangis." Ucap Khoiruddin dengan memberikan dadanya sebagai tempat pencurahan untuk Anisa
Dan Anisa memeluk erat Khoirudddin dan menangis dalam dekapannya. Setelah air matanya kering dan ia juga sudah mengantuk. Dia mengajak Khoiruddin untuk kembali pulang.
...
Di rumah Pak Surya. Terlihat anak - anak Khoiruddin sedang bermain dengan eyangnya dan Maira yang sibuk menyuapi Sfiya. Mereka berdua keluar dari mobil itu bersamaan.
"Assalamualaikum." Ucap mereka bersamaan
"Wa'alaikum salam." Ucap Maira dan Pak Surya
Mereka menemani anak mereka bermain bersama eyangnya di rumahnya. Sore harinya baru Maira dan lainnya pamit untuk pulang.
...
__ADS_1
Keesokan harinya, pagi - pagi sekali. Anisa mengetuk pintu rumah Maira. Maira langsung terisak tatkala mendengar bahwa bapaknya sakit sudah sejak semalam. Ia langsung meminta Khoiruddin untuk membawanya ke rumah sakit. Dan Khoiruddin langsung mengantarnya.
Bersambung...