
❤ Terimakasih sudah mampir membaca ❤
...................................................
“ehmm maksud saya pak bisakah saya menerima gaji saya di awal?”
“heh memangnya kamu siapa meminta hal seperti itu?”
“maaf pak kalo saya lancang. Tapi saya sangat membutuhkannya saat ini pak. Mohon pengertiannya.”
Pria itu terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
“ehm baiklah, tapi tidak saya kasih penuh Cuma setengah saja." Ucapnya. "Ini” Ucap manager sambil memberikan amplop yang berisi uang
“tapi pak, bisakah saya menerimanya penuh?”
“kamu ini sudah dikasih tidak bilang terimakasih malah minta lebih.”
“maaf pak, tapi saya sangat butuh sekali.”
“huft.. begini saja kamu mau atau tidak? kalo tidak mau ya sudah.”
“eh eh eh pak, maaf iya saya mau.”
“hem.” ucapnya sambil memberikan amplop bersisi uang
“baik pak terimakasih.” ucapnya dengan mengambil amplop yang diberikan
“hem.”
“permisi.” Ia pun keluar dari ruangan itu dan menggenggam erat amplop itu. Ia segera pulang ke kost-annya dengan berjalan kaki karena untuk menghemat uangnya.
Setelah ia tiba di kost-annya ia segera membersihkan badannya. Setelah itu ia memasak mi instan untuk ia makan. Setelah itu ia membersihkan bekas makannya.
Saat ini ia sudah bersiap untuk tidur, namun ia belum mengantuk akhirnya ia menghitung uang yang diberikan oleh atasannya tadi.
“satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. alhamdulillah ya allah terimkasih atas rejeki yang engkau berikan padaku hari ini.”
Setelah itu ia memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya, namun ia masih saja tidak bisa tidur karena masalah yang berputar dipikirannya tidak mau menghilang.
Karena tidak bisa tidur ia membuka ponselnya dan melihat - lihat media sosialnya. Saat membuka aplikasi hijau ia teringat akan pria yang memberikan nomor padanya. Ia pun mencoba menghubunginya.
Wanita: hai, selamat malam.
__ADS_1
Terkirim centang dua. Lama menunggu namun tidak juga dibaca, hingga membuat ia tertidur dengan posisi memeluk ponselnya.
....
Di rumah Khoiruddin…
“assalamualaikum warahmatullah… assalamualaikum warahmatullah..”
Ia mengangkat tangannya dan mulai berdoa dengan khusyuk. Setelah selesai ia segera merapikan alat salatnya dan meletakkannya pada tempatnya.
Saat ia akan tidur ia membuka ponselnya dan melihat ada notifikasi langsung membukanya. Matanya langsung membulat ketika mengetahui ada nomor yang tidak dikenalnya. Ia langsung membukanya dan isinya adalah…
Wanita : hai, selamat malam.
Tak ingin kecewa ia mencoba memastikan bahwa itu adalah nomor wanita yang di café itu atau bukan.
Khoiruddin : hai juga, siapa ya?. Terkirim centang satu.
“hem… mungkin dia masih tidur.” Dia pun segera berbaring di atas kasur dan memejamkan matanya. Selang beberapa menit Khoiruddin telap terlelap dalam mimpi.
...
Hari telah siang dan jarum jam menunjukkan sudah pukul 08.00 pagi
Khoiruddin sudah bersiap untuk pergi ke kampusnya.
“iya nak hati – hati di jalan jangan ngebut!” Ucap Pak Soleh memperingatkan.
“iya yah, assalamualaikum.”
“wa’alaikum salam.”
Khoiruddin berangkat dengan motornya. Saat tiba di kampus ia segera memarkirkan motornya di tempat parkir yang sudah disediakan. Ia segera masuk ke kelasnya.
Sedangkan di lain tempat...
Seorang wanita baru saja tiba di tempat kerjanya. Ia segera masuk dan mengganti bajunya dengan seragam yang di sediakan. Setelah itu ia segera membersihkan seluruh sudut café tersebut dengan semangat.
Pukul 09.00 café di buka seluruh pegawai café terlihat mondar – mandir dengan membawa nampan atau pun catatan untuk mengantar dan menerima pesanan pelanggan mereka. Begitu juga dengan wanita itu yang kini ia sedang mengantarkan pesanan di salah satu meja yang berisikan anak remaja kuliahan.
Skip…
Waktu jam makan siang pun telah tiba…. Café itu semakin ramai pengunjung saja. Namun suasana seperti itu yang membuat para pekerja di sana semangat karena dengan banyaknya pengunjung maka kemungkinan mereka akan mendapat bonus.
__ADS_1
Hari ini khoiruddin beserta kawan – kawannya berencana untuk membahas masalah kemarin yang belum terselesaikan. Khoiruddin mengajak mereka untuk membahasnya di café depan kampus mereka.
“bro. kita bahas ini dimana?” tanya Septiyan
“ehmm… gimana kalo di café depan tu?” Ucap khoiruddin memberi saran
“ehmm… boleh dekat juga.” Ucap Septiyan
Sesuai kesepakatan mereka, disini mereka sekarang di ruang VVIP karena Septiyan merasa topik kali ini harus sangat rahasia terkecuali dengan orang tertentu.
“jadi kita akan mendirikannya di daerah A. aku sudah membicarakan ini dengan ayahku kemarin dan ayahku sangat setuju. Bagaimana?” ucap Septiyan mengawali percakapan.
“hem.. kalo saran aku sih lebih baik di daerah B saja karena di sana sangat diincar banyak orang tua.” Ucap Lukman menimpali.
“aku nggak setuju bro.. maaf nih tapi di daerah situ kan udah banyak pondok pesantrennya. Jadi lebih baik kita bangun di tempat yang lain sekaligus untuk mengembangkan ilmu agama di daerah yang masih minim pengetahuannya.” Ucap Septiyan cepat.
“aku setuju dengan Septiyan. Namun..”
Percakapan mereka terhenti karena ada seseorang yang masuk untuk mengantarkan pesanan mereka.
“permisi. Pesanan anda sudah siap.” Ucap wanita itu.
Khoiruddin hanya diam saja dan menatap intens wanita itu, membuat Lukman dan Septiyan heran akan tingkah temannya itu. Karena yang mereka kenal adalah Khoiruddin adalah dia tidak suka melihat wajah seorang wanita selama yang baru saja terjadi.
“terimakasih.” Ucap Septiyan dan Lukman.
Wanita itupun segera meninggalkan ruangan itu dan melanjutkan pekerjaannya.
Khoiruddin masih menatap wanita itu hingga ia menghilang dari balik pintu yang tertutup.
jangan lupa
.
like 👍
.
dan
.
komen 🌼
__ADS_1
.
Terimakasih 😊