
Selamat Membaca
...
Karena sibuk bercanda dengan Zahra. Mereka bahkan tidak mengetahui bahwa Gafar dan Syifa melewati mereka.
Tahu - tahu mereka sudah ada di depannya dengan membawa piring dengan nasi dan lauknya. Di tata oleh mereka berdua di atas meja dengan rapi. Tak lupa Syifa menawarkan makanan itu pada abinya.
"Dimakan abi!" Tawar Syifa
"Loh! Kapan kalian sampai?" Tanya Khoiruddin
"Baru saja abi." Jawab Syifa
Saat ini Syifa sudah masuk SMP kelas 1 dan Gafar sudah Masuk kelas 1 di bangku SMA. Sedang Zahra hadir 10 tahun yang lalu.
"Kakak. Zahra dibelikan es krim sama abi." Ucap Zahra sambil memamerkan es krimnya.
Sedangkan Syifa hanya membalas dengan tersenyum.
"Punyamu ada dibawa umi tadi. Paling disimpan di kulkas." Ucap Khoiruddin
"Iya abi." Jawab Syifa
Jarak yang dahulu rekat antara putri dan ayah itu renggang dikarenakan sebuah kejadian.
...
Flashback On
Setelah 1 tahun pindahnya Maira dari rumah Khoiruddin. Khoiruddin sudah mulai lelah untuk membujuk istrinya itu. Akhirnya ia memilih untuk membiarkannya saja.
Dan juga ia lebih sibuk karena pekerjaannya sudah bertambah banyak. Karena Khoiruddin membuka tempat pembelajaran al -quran bagi segala usia di dekat rumahnya. Karena kesibukan itu, Khoiruddin semakin jarang berkunjung ke rumah Maira. Dan terjadilah jarak antara dirinya dan anak - anaknya.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan Khoiruddin jarang berkunjung. Setiap kali ia berkunjung ke rumah Maira. Pastilah pertengkaran yang akan terjadi. Bahkan entah dengan kesadaran ataupun tanpa sengaja. Khoiruddin memukul Maira lalu meninggalkannya begitu saja. Hal itu sedikit banyak membuat trauma pada Gafar juga Syifa.
hingga beberapa bulan kemudian. Maira mulai lelah dengan hiruk pikuk rumah tangganya.
Pada suatu malam. Ketika Khoiruddin memilih untuk pulang ke rumahnya. Ia ingin membicarakan hal itu dengan suaminya.
"Mas! Mai mau bicara." Ucap Maira
"Ya. Bicara saja!" Jawab Khoiruddin
"Mas! Mas lebih baik kita pisah saja! Aku ikhlasin kamu sama Anisa. Aku nggak pa pa kok." Ucap Maira
Khoiruddin meletakkan kembali cangkir yang sudah sempat ia minum. Terdengar helaan napas berat dari Khoiruddin. Dan tanpa menjawab apapun. Ia beranjak berdiri dan pergi dari sana. Namun Maira menahan tangannya.
"Mas! Mas ceraiin aku mas hikss... aku ikhlas kamu sama Anisa hikss... Nggak pa pa kamu sama dia aja. Udah sana bahagiain aja adikku mas. Pleasee... ceraiin aku mas hikss..." Ratap Maira sambil menahan tangan Khoiruddin
Sedangkan Khoiruddin. Ia menyalakan motor dan melepas pegangan Maira dengan mendorongnya hingga jatuh.
Tanpa rasa iba ia segera menjalankan motornya entah ke mana. Jujur ada rasa sesak di dadanya bak dihantam benda yang keras.
...
Hingga akhirnya ia dikabarkan hamil lagi. Membuatnya menghentikan permintaannya itu. Kehamilan Maira kali ini mendapat perhatian yang lebih dari Khoiruddin. Ia selaku memastikan Maira dalam keadaan yang baik - baik saja.
Hingga 9 bulan kemudian. Anak itu lahir, Khoiruddin memberikan nama Zahra untuknya. Kehadiran Zahra di dalam hidup Maira sedikit mengurangi tindakan kasar yang dilakukan Khoiruddin kepadanya. Dan tentu saja hubungan keduanya begitu dekat.
...
Sama seperti Khoiruddin. Anisa juga turut senang dengan kehadiran Zahra. Hingga bulan berganti bulan dan tahun pun berganti. Usia Zahra sudah genap 5 tahun.
Zahra kecil sering menginap di rumah abinya karena kedekatannya. Akan tetapi tidak dengab Anisa. Anak itu selalu saja berhasil membuat Anisa frustasi. Seperti saat ini.
Pyar...
__ADS_1
Tanpa sengaja Zahra menjatuhkan guci yang terbuat dari kaca hingga pecah. Menangislah Zahra karena terkejut. Awalnya Anisa tidak marah karena ia menganggap Zahra masih kecil. Namun lama kelamaan ia mengerti bahwa si kecil itu sangat suka mengerjainya dan juga mengejeknya.
"Wleehhh... tante kok suka sih sama abi. Padahal abi itu punya Zahra. Pasti karena tante jelek ya. Jadinya nggak ada yang mau sama tante. Hiii kasihan!" Ucap Zahra
"Apa kamu bilang? Tante jelek." Bentak Anisa tidak terima
"Tante jelek! Tante jelek! Tante jelek!" Zahra bukannya takut ia justru semakin menjadi.
Akhirnya terjadilah tragedi kejar - kejaran. Dan jikalau Zahra tertangkap. Ia akan menangis dengan kencang sehingga abinya akan turun.
"Anak abi kenapa nangis?" Tanya Khoiruddin
"heee... dicubit tante heeee..." Jawab Zahra
"Aku nggak nyubit mas." Ucap Anisa membela diri
"Heee... tante tadi nyubit. Lihat ini abi sakit hee..." Ucap Zahra dengan menunjukan area yang dicubit tadi.
"Lohhh... sampe merah begini. Jangan gitu dong Nis! Dia ini anak aku. Lagipula ngapain sih dia? Sampai ssgitunya kamu sama Zahra." Ucap Khoiruddin memarahi Anisa
"Ya abisnya dia ngejek aku terus loh mas. Kan kesel juga." Ucap Anisa
"Tapi dia anak kecil loh! Ya harus ngalah lah!" Ucap Khoiruddin. "Sudah ya... anak abi nggak boleh nangis. Ayo abi belikan es krim. mau?" Bujuk Khoiruddin
"Mau." Jawab Zahra
"Nangisnya udah kalo gitu." Ucap Khoiruddin
Zahra menghapus air matanya dengan kedua tangannya. Dan tersenyum lebar membuatnya terlihat imut.
Flashback Off
"Oohhh jadi gitu ceritanya." Ucap gadis itu
__ADS_1
Bersambung...