
Selamat Membaca
...
3 bulan sudah terlewati. Dan pasangan pengantin baru itu juga sudah pindah rumah. Lebih tepatnya Maira yang ikut Khoiruddin di rumah yang sudah dibeli oleh Khoiruddin untuk ditempati setelah menikah nanti. Dan rumahnya itu tidak jauh dari rumah bapaknya Maira. Rumah baru Maira hanya berjarak 3 rumah dari rumahnya yang dulu.
Hari sudah siang. Maira tengah sibuk memasak di dapur. Hingga tiba - tiba ia merasa mual dan langsung memuntahkan isi perutnya di tempat pencucian piring.
"Hoek... hoek..."
Dan itu berlangsung cukup lama, hingga membuatnya merasa lemas. Karena dirasa tidak sanggup menyelesaikan masakannya. Maira kemudian mengambil gawainya dan menelepon adiknya untuk meminta bantuan.
Tidak menunggu waktu yang lama. Anisa telah sampai di rumah Maira.
"Assalamualaikum... mbak!" Teriaknya saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Maira dengan nada lemas.
Anisa terkejut saat melihat kondisi mbakyu - nya itu. Terlihat kantung matanya yang menghitam, juga wajahnya yang pucat.
'Sangat mengerikan' batin Anisa
"Loh mbak... Mbak kenapa?" Tanya Anisa
"Mbak tadi habis muntah." Jawab Maira
"Muntah... mbak sakit? Kenapa nggak telpon mas Khoir aja mbak. Aku telponin ya?" Ucap Anisa
"Nggak usah Sa. Mbak nggak papa kok, dibuat tiduran bentar nanti juga mendingan." Ucap Maira
"Bener nih nggak ditelponin?" Tanya Anisa
Maira hanya mengangguk saja menjawab pertanyaa dari adiknya.
"Ya udah." Ucap Anisa acuh
"Dek... mbak bisa minta tolong nggak?" Tanya Maira
"Minta tolong apa?" Ucap Anisa
"Mbak minta tolong. Kamu lanjutin masakan mbak ya. Nanti keburu mas Khoir pulang." Ucap Maira
__ADS_1
Anisa seketika membulatkan matanya dan tersenyum senang. Dia sibuk berhayal, hingga lupa kalau saat ini kakaknya memperhatikan dia.
"Dek... gimana? Mau kan? Kepala mbak masih pusing." Ucap Maira
"Eh... ehhh... ehh... maaf mbak hehehe. Iya kok Anisa mau. Ya udah kalo gitu mbak tiduran aja. Biar mas Khoir Anisa yang urus." Ucap Anisa
Maira langsung mencari posisi yang enak untuk tidur. Namun Anisa yang sadar akan ucapannya segera meralat kata - kata tersebut sebelum kakaknya mulai sadar.
"Eh maksudnya ngurusin soal masakan hehehe." Ucap Anisa
"Hem iya mbak percaya sama kamu." Ucap Maira
Setelah memastikan Maira tidur. Anisa baru bergegas menuju dapur dan melanjutkan masakan dari kakaknya yang belum selesai. Ia juga menambah masakan agar Khoiruddin bahagia.
Skip...
Anisa telah selesai masak dan juga makanan sudah tertata rapi di atas meja. Tidak lama terdengar suara deru mobil. "Itu pasti mas Khoir." Gumam Anisa
Dengan cepat Anisa merapikan dirinya dan berjalan menuju pintu depan untuk menyambut kakak iparnya itu.
"Assalamualaikum... mas pulang." Ucap Khoiruddin
Anisa? tentu kesal bukan main. Ia sudah berkhayal akan mencium punggung tangan kakak iparnya itu seolah - olah ia adalah istrinya. Namun itu semua hanyalah khayalan, nyatanya Khoiruddin langsung meninggalkannya begitu saja sebelum kejadian itu terulang.
Namun Anisa masih belum menyerah. Ia meraih tas dan jaket dari kakak iparnya. Lalu menaruhnya di kamar kakaknya yang sedang tidur. Awalnya Khoiruddin menolak namun karena pintarnya Anisa berkata hingga akhirnya dia memilih untuk mengalah.
Saat ini Khoiruddin sedang makan di ruang makan. Dimana Anisa juga yang menyiapkan makanannya layaknya istrinya. Sebenarnya Khoiruddin merasa risih dengan perlakuan dari adik iparnya itu. Namun karena dia juga sudah sangat lapar akhirnya ia membiarkannya saja.
Makan telah selesai. Khoiruddin langsung beranjak pergi dari sana tanpa mengucap sepatah katapun. Entah itu terimakasih ataupun ucapan makanannya enak. Hal itu sebenarnya membuat Anisa sedikit kecewa, namun ia tepis lagi. Ia langsung membersihkan meja makan itu dan menutupi makanan yang masih ada.
Sedangkan di kamar. Khoiruddin langsung mengecek keadaan istrinya. Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Maira untuk mengecek suhunya. Namun suhunya normal tidak panas. Karena merasa terusik, Maira bangun dari tidurnya dan melihat suaminya telah pulang.
"Eh mas sudah pulang. Maaf Maira ketiduran, soalnya tadi Mai tiba - tiba muntah dan setelah itu pusing. Jadi Mai tidur sebentar supaya pusingnya hilang." Ucap Maira menjelaskan.
"Terus sekarang masih pusing?" Tanya Khoiruddin
"Hem iya sedikit." Ucap Maira
"Kita periksa ke dokter aja gimana?" Tawar Khoiruddin
"Nggak usah mas. Palingan cuma pusing biasa aja." Ucap Maira
__ADS_1
"Ya sudah kalo tidak mau. Sudah makan?" Ucap Khoiruddin
Maira hanya menggelengkan kepalanya tanda belum makan. Khoiruddin pun langsung menggendong Maira dan mendudukannya di kursi untuk makan.
Disana Maira malah merasa semakin mual. Namun Khoiruddin tetap memaksanya untuk makan. Hingga akhirnya justru Maira langsung mengalami muntah - muntah sebelum akhirnya ia pingsan.
Khoiruddin yang kalang kabut. Langsung menggendong istrinya dan pergi ke klinik terdekat untuk memeriksakan keadaan istrinya.
...
Di klinik...
"Jadi, istri saya kenapa dok?" Tanya Khoiruddin kepada dokter yang telah memeriksa istrinya.
"Boleh saya tau. Gejala apa yang dialami oleh istri bapak?" Tanya dokter
"Beberapa minggu yang lalu, makannya sangat lahap. Namun akhir - akhir ini makannya jadi sedikit dan sering mual, juga sering bilang kepalanya pusing." Ucap Khoiruddin
"ohh.." Ucap dokter tersebut
"Jadi, istri saya sakit apa dok? Sakitnya tidak parah kan?" Tanya Khoiruddin.
Pertanyaan dari Khoiruddin justru membuat dokter itu tertawa. Namun Khoiruddin hanya mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti.
"Ehmm.. jadi gini pak. Praduga saya saat ini istri bapak sedang hamil. Untuk lebih lengkapnya silakan bapak nanti periksa di poli kandungan." Ucap Dokter
"Istri saya hamil dok?" Ucap Khoiruddin
"Ini praduga saya. Nanti silakan dicek di poli kandungan ya pak untuk kejelasannya akan dijelaskan disana." Ucap dokter
"Baik dok. Terima kasih." Ucap Khoiruddin
Setelah itu Maira terbangun dari pingsannya. Ia melihat suaminya yang menggenggam tangannya dengan erat. Khoiruddin yang menyadari istrinya bangun. Menyambutnya dengan senyuman hangatnya.
" Sayang... Giamana ada yang sakit?" Tanya Khoiruddin
Maira hanya menggelengkan kepalanya.
"Untuk malam ini kita menginap di klinik besok pagi kita pulang. Aku sudah mengabari bapak tadi hem." Ucap Khoiruddin
Bersambung...
__ADS_1