
Selamat Membaca
....
5 tahun kemudian...
Maira dan Khoiruddin sudah diberi karunia 2 anak yang lucu. Gafar Aridudin kini sudah memasuki bangku sekolah, dan saat ia berusia 3 tahun Maira melahirkan lagi. Seorang putri yang manis dan lucu menambah suasana hangat dan ramai di keluarga mereka berdua.
Jarum jam menunjuk angka 10.00, saatnya Maira menjemput putranya dari taman kanak - kanak. Terlihat Gafar sedang menunggu Maira dengan bermain di taman yang ada di sekolahnya.
"Gafar!" Panggil Maira. Gafar yang merasa dipanggil menoleh ke sumber suara. Senyumnya mengembang dikala wajah ibunya terlihat di matanya. Ia segera berlari dengan merentangkan tangannya dan berlari ke arah ibunya.
Maira menyambut hangat pelukan putranya. Ia memeluk putranya erat. Setelah acara berpelukan selesai, Maira mengajak putranya pulang ke rumah.
...
Di rumah terlihat Syafitri sedang bermain bersama Eyang Surya. Ia tertawa keras tatkala eyangnya berhasil menangkapnya. Saat Maira dan Gafar masuk terdengar suara sambutan dari suara gadis kecil.
"Kakak!" Teriakan Syafitri
__ADS_1
"Adikkk!" Teriak Gafar tak mau kalah
Mereka akhirnya berpelukan. Dan Syafitri tertawa keras karena dihujani ciuman oleh kakaknya. "Sudah... sudah, kakak ayo ganti baju dulu habis itu makan!" Ucap Maira membuat kedua bocah itu terdiam.Gafar segera melaksanakan perkataan ibunya dan setelah itu baru ia akan bermain bersama adiknya.
...
Sebuah berita buruk datang secara tiba - tiba dan membuat luka bagi orang yang mengalaminya. Siang tadi, Pak Surya mendapat telepon dari Anisa bahwa suaminya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Kini jenazahnya sedang diotopsi di rumah sakit.
Setelah mendengar kabar itu. Asma Pak Surya kambuh. Dengan segera Maira menuntuk bapaknya untuk duduk dan memberikannya air. Setelah dirasa membaik, Maira segera memberi kabar suaminya bahwa adik iparnya telah meninggal dunia.
"Innalillahi wa inna'ilaihi rajiun." Ucap Khoiruddin di seberang telepon. "Ya... ya... aku akan pulang sekarang juga." Ucap Khoiruddin lagi
"Tentu, assalamualaikum." Ucap Khoiruddin
"Wa'alaikumsalam." Ucap Maira dan telepon pun putus.
Sekitar 20 menit. Mobil Khoiruddin kini telah terparkir di halaman rumah. Dengan segera ia masuk ke dalam sana dan menemukan Maira yang sedang menenangkan bapaknya dan kedua anaknya yang terdiam, lantaran bingung dengan apa yang terjadi.
Khoiruddin kemudian memeluk mereka berdua dan menggendongnya. "Pak. Khoir turut berduka cita atas musibah ini." Ucap Khoiruddin di hadapan Pak Surya
__ADS_1
"Iya nak. hikss." Ucap Pak Surya
"Sudah pak sudah. Ayo kita bersiap - siap ke sana. Anisa juga pasti sangat sedih dan terpukul." Ucap Maira namun tidak digubris oleh Pak Surya. "Ayo pak. Anisa di sana juga butuh sandaran. Bapaklah yang biasanya menjadi sandaran, sudah ya pak." Ucap Maira dan Pak Surya pun menganggukan kepalanya dan segera bangkit dari duduknya.
...
Khoiruddin, Maira beserta anak - anaknya, dan juga Pak Surya. Kini tengah berada di dalam mobil yang akan menuju ke rumah duka, yaitu rumah Omar.
Perjalanan melelahkan itu membutuhkan waktu sekitar hampir 45 menit. Dan akhirnya sampailah mereka ke tempat tujuan, di mana telah banyak papan bunga yang bertuliskan 'turut berduka cita' menghiasi hampir sepanjang halaman.
Di teras juga sudah berkumpul keluarga dari Omar. Ibunya Omar ada di dalam sedang menenangkan Anisa yang masih terisak. Sedangkan ayahnya Omar berada di luar untuk menyalami orang - orang yang telah datang ke rumahnya.
Maira dan juga lainnya segera mengahampiri Anisa, namun sebelum itu. Ia mengucapkan duka terlebih dahulu kepada ayahnya Omar saat berada di luar. Matanya berair tatkala melihat adiknya yang penampilannya sangat kacau itu.
Sudah berkali - kali Maira mencoba menghibur Anisa, namun yang ada Anisa semakin menangis hingga suara tangisannya sangat keras, membuat siapapun yang mendengarnya pasti merasa iba.
"Nyonya! Jenazah tuan muda telah tiba." Ucap seorang laki - laki muda
"TIDAK!"
__ADS_1
Bersambung...