
Selamat Membaca
...
"Anisa!" Panggil suster
Anisa dan Khoiruddin segera masuk ke dalam ruangan dokter.
"Silakan berbaring! Mohon maaf ibu, bisa dibuka sedikit bajunya untuk memudahkan kami memeriksa." Ucap dokter itu
Anisa menuruti perkataan dokter itu. Asisten dari dokter itu, memberikan gel yang terasa dingin ketika menyentuh kulit Anisa.
Tak laka kemudian sang dokter mengarahkan benda yang digenggamnya ke perut Anisa. Terlihat isi dari perut Anisa di layar yang berada di hadapan mereka kini.
"Maaf, apa sebelumnya ibu sudah pernah periksa?" Tanya dokter itu
"Memangnya kenapa dok? Istri saya sedang hamil kan?" Tanya Khoiruddin
Dokter tersebut tersenyum mendengar pertanyaan Khoiruddin. Sedangkan, Anisa ia menganggukan kepalanya guna menjawab pertanyaan sang dokter.
Setelah selesai memeriksa. Asisten kembali membersihkan sisa gel yang ada di perut Anisa dan melipat kembali selimutnya.
"Mari, silakan duduk!" Ucap dokter itu dengan ramah
"Sebelumnya saya mohon maaf harus menyampaikan berita ini. Ibu Anisa, saya rasa memiliki masalah pada rahimnya, yaitu gangguan ovulasi. Gangguan ini bisa disebabkan oleh beberapa kondisi. Namun sepertinya yang dialami oleh ibu Anisa ,yaitu Sindrom ovarium polikistik (polycystic ovarian syndrome/PCOS), yakni kondisi yang membuat indung telur kesulitan memproduksi sel telur. Dan kemungkinan untuk hamil, itu kecil. Namun untuk mengatasi masalah tersebut. Anda bisa berobat atau melakukan terapi secara rutin." Ucap dokter itu.
Anisa menundukan kepalanya dan meremas jari - jemarinya. Ia tak menyangka, akan mendatangi lagi tempat seperti ini.
Khoiruddin begitu syok mendengar berita ini. Akhirnya ia mengetahui sebab kenapa istrinya tak jua hamil. Dan mungkin inilah yang menyebabkan Anisa dibenci oleh keluarga mantan suaminya dulu.
Khoiruddin segera menguasai keadaan. Ia menggenggam erat jari Anisa. Sebagai bentuk penyemangat dari dirinya. Anisa kembali tersenyum ketika diperlakukan seperti itu oleh Khoiruddin.
Obrolan berlanjut mengenai solusi yang terbaik.? Setelah selesai. Khoiruddin maupun Anisa, mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruangan itu.
...
__ADS_1
Sepanjang perjalanan. Khoiruddin tak penah melepaskan genggaman tangannya. Bahkan sampai tiba di rumah.
Pemandangan itu dilihat oleh Maira. Entah kenapa Maira merasa sakit hati. Padahal sudah selama ini. Harusnya ia sudah terbiasa. Apalagi saat ini, ia mungkin akan menerima kabar baik.
"Assalamualaikum." Ucap mereka berdua
"Wa'alaikum salam. Jadi, bagaimana?" Tanya Maira
Wajah Anisa kembali muram dan langsung masuk ke dalam begitu saja. Maira yang tak mengerti kembali menatap Khoiruddin dengan ekspresi penuh tanya.
"Aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang kita masuk dulu ke dalam." Ucap Khoiruddin
"Baik." Jawab Maira
Mereka berdua masuk ke dalam. Terlihat Anisa berlari masuk ke dalam kamarnya.
Brakkk...
Terdengar pula suara kunci yang diputar. Maira semakin tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Terdengar helaan napas berat dari Khoiruddin. Semakin membuat Maira bertanya - tanya.
"Ada apa ini mas?" Tanya Maira yang sudah tidak sabaran
"Kamu tadi mengabariku jika Nisa muntah - muntah. Lalu kamu juga yang memberi saran untuk pergi ke dokter kandungan karena menurutmu Anisa tengah hamil." Ucap Khoiruddin lalu menjedanya dengan napas yang panjang.
Sedangkan Maira dengan sabar menyimak perkataan Khoiruddin.
"Kata dokter, Anisa tidak mengandung. Melainkan ia terkena sebuah penyakit yang menyebabkan ia sulit untuk hamil. Oleh sebab itu ia menangis. Mungkin inilah penyebab keluarga mantan suaminya dulu membencinya." Lanjut Khoiruddin
"Innalillahi..." ucap Maira sambil meneteskan air mata
Ia sungguh tak percaya, jika adiknya mengalami hal sebesar ini. Dan ia menjalaninya seorang diri. Apa karena ini, ia menginginkan suaminya. Itu semua masih tanda tanya bagi Maira.
Namun dibalik semua kabar buruk itu. Terselip rasa bahagia, walaupun kecil. Karena berarti hanya dirinyalah yang bisa memberikan keturunan untuk suaminya. Sehingga anak - anaknya tidak perlu berbagi ayah dari ibu yang berbeda.
__ADS_1
"Terus apa kata dokter? Apa tidak bisa disembuhkan?" Tanya Maira
"Sebenarnya bisa. Hanya saja, Anisa yang tidak mau. Ia bercerita, dulu ia sudah melakukan terapi. Namun, ia sering sakit setelah diterapi. Akhirnya ia memilih untuk berhenti dan enggan untuk meneruskannya." Jawab Khoiruddin
"Aku sungguh tidak mengerti." Ucap Maira
Pyar...
Suara keributan dari lantai atas. Terdengar oleh Khoiruddin dan Maira. Mereka langsung bergegas naik ke atas. Namun sayang, pintunya terkunci.
"Nis! Nisa buka pintunya!" Ucap Khoiruddin
Brakk... brakk... brakkk...
"Nis! Nisa!" Teriak Khoiruddin lagi
"Aarrgghhhh... pergi! Pergi dari sini!" Teriak Anisa
Maira juga Khoiruddin semakin khawatir. Khoiruddin memilih untuk mendobrak pintu kayu itu. Namun, karena pintu itu terbuat dari kayu jati. Usaha Khoiruddin sia - sia.
"Apa tidak ada kunci cadangan? Setahuku dulu selalu ada 2 kunci di setiap pintu." Ucap Maira
Barulah Khoiruddin teringat. Ia berlari menuju laci yang ada di sampingnya. Digeledahnya seluruh laci tersebut.
"Ketemu." Ucap Khoiruddin
Klakk...
Pintu terbuka...
"Nisaaa..."
Bersambung...
Mohon maaf jika ceritanya jelek🙏 dan terima kasih sudah mau mampir membaca🌱
__ADS_1