
"Pak Ridwan sejenak terdiam. Dan sedetik kemudian,beliau bertanya. Dimana dia ?"
"Dia hari ini berada di kantor pak." Ucap mas Aldo.
Mendengar jawaban dari mas Aldo,pak Ridwan pun menghembuskan nafasnya perlahan. "Bawa dia kesini !" Titah pak Ridwan. Mas Aldo langsung telfon Boni,untuk mengantar Asih pulang. Dan dijawab iya oleh Boni."
"Istrimu dimana ?" Tanya pak Ridwan lagi.
"Istirahat pak,dia sedang hamil dan tadi pas saya pulang,dia pingsan karena kecapean." Ucapnya seraya menunduk.
"Sabar Gung." Ucap Pak Ridwan kepada mas Aldo.
"Insyaa ALLAH pak." Ucapnya pilu.
Melihat demikian pak Ridwan menepuk bahu mas Aldo. Seraya tersenyum. Mas Aldo pun juga membalas dengan tersenyum kepada gurunya.
Sedangkan aku kini beranjak dari tempat tidur,dan langsung ke kamar mandi. Lalu mandi dan berwudhu. Aku lalu menggelar sajadahku,lalu mengucapkan syukur dan mengadu kepada ALLAH. Selesai itu aku lalu mengaji.
Sementara di ruang tamu,kini Asih berhadapan dengan pak Ridwan langsung. Pak Ridwan sejenak terdiam, menatap Asih yang memakai pakaian sexsy dan kurang bahan.
Sedangkan mas Aldo kini berada di teras depan bersama Boni. Mas Aldo nampak memeriksa dokumen-dokumen penting. Dia nampak serius,serta teliti saat akan menandatangani dokumen itu.
Selesai mengaji,aku merias diri dan melangkah keluar kamar,namun tidak lewat pintu luar yang menghubungkan ke ruangan dalam rumah. Melainkan lewat pintu yang langsung menuju teras rumah.
Ya sejak aku dikunci dari luar,mas Aldo membuat pintu lagi,namun tanpa di ketahui oleh Asih. Mas Aldo meminta tukang,mengerjakannya pas tengah malam. Namun tidak ikut tertulis di sini ya gays.
Sesampai di teras,aku yang belum sadar,ada mas Aldo dan Boni nampak asik memandang anak-anak sekitar kompleks. Senyumku mengembang kala ada anak yang tersenyum kepadaku.
Mas Aldo yang sudah selesai dengan dokumennya,mulai memperhatikan aku. Sedangkan Boni,sudah pamit dengan membawa dokumen.
Mas Aldo beranjak dari duduknya. Dan langsung menghampiri aku. "Sudah bangun Ta ?" Tanya mas Aldo. Aku yang ditanya pun,spontan menoleh ke arahnya dan tersenyum.
"Sudah mas." Ucapku seraya bergelayut manja di lengan tangannya. Mas Aldo langsung men**** kepalaku.
"Mau makan ?" Tanya mas Aldo. Aku hanya menganggukkan kepala seraya pindah ke pangkuannya. "Aku mau makan kamu mas." Bisikku tepat di telingany.
Mendengar hal itu, mas Aldo langsung menatapku dengan sendu dan memintaku untuk bersabar dulu. Aku pura-pura cemberut,melihat itu mas Aldo langsung membopongku masuk ke dalam.
"Melihat ada tamu,aku langsung minta mas Aldo untuk menurunkan aku. Mas Aldo pun menurut,seraya tersenyum lebar. Sedangkan pak Ridwan hanya menggelengkan kepala. Serta menatap Asih,yang nampak menahan amarah."
"Mas kok enggak bilang ada tamu ? Tanyaku pelan,namun masih bisa di dengar oleh pak Ridwan. "Iya sayang maaf mas lupa." Ucapnya seraya mengajakku untuk duduk.
Saat melewati Asih,kakinya nampak menghalangi langkahku. Dan aku pun terjatuh disana,beruntung mas Aldo menangkapku dengan cepat.
"Sayang kamu tidak apa-apa kan ? Tanya mas Aldo seraya menatap seluruh tubuhku. Aku meringis menahan sakit,karna kakiku terasa sakit.
Pak Ridwan pun langsung beranjak menghampiriku dan berjongkok. Sedangkan mas Aldo mengambilkan aku minum seraya menatap Asih dengan tajam.
Asih yang di tatap pun,nampak tersenyum puas sudah berhasil mencelakai aku. Tanpa Asih tahu,pak Ridwan menatap Asih juga seraya berucap Istighfar dalam hati.
Dan aku kini masih menahan sakit,mas Aldo memintaku untuk minum dulu. Pak Ridwan masih di posisi sama,dan menatap kami.
"Tahan sebentar ya nak." Ucapnya padaku." Aku hanya menganggukkan kepala. Sedangkan mas Aldo menggenggam tanganku serta men****nya."
"Bismillah." Ucapnya. Dan aku pun teriak. Lalu sedetik kemudian,kakiku sembuh.
"Makasih pak." Ucapku seraya tersenyum tulus.
"Sama-sama". Ucap pak Ridwan seraya beranjak dan kembali duduk di kursi.
Sedangkan mas Aldo nampak terdiam. Aku lalu menyentuh tangannya pelan seraya bertanya lembut. "Kenapa mas suami ?"
__ADS_1
Spontan mas Aldo menatapku dan langsung menjawab. "Tidak apa-apa sweety." Ucapnya seraya tersenyum.
Pak Ridwan nampak tersenyum bahagia dan berucap dalam hati. "Jadi dia yang Agung suka pada pandangan pertama,dan dulu pernah gagal dalam melamarnya ? Pantas saja dia bucin, perempuan ini lembut tutur katanya dan begitu setia. Semoga hingga ke jannah kalian tetap bersama. Aamiin."
"Oh iya pak,bapak sekarang tinggal dimana ? Tanyaku ramah. Aku tinggal di seberang jalan sana,kebetulan tadi melihat anak didikku dulu lewat. Ya aku ikutin,enggak tahunya sudah punya rumah sendiri dan seorang istri." Ucap Pak Ridwan panjang lebar.
Mendengar obrolan kami, Asih tanpa izin pun langsung beranjak pergi. Kami semua menatapnya dengan heran. Akhirnya pak Ridwan memanggil.
"Asih tunggu !" Titah pak Ridwan. Asih langsung menatap dengan cemberut. Sedangkan mas Aldo hanya menggelengkan kepala lalu mengelus perutku yang masih rata."
Asih pun kembali lagi, sesampai di ruang tamu,dia langsung duduk. Sedangkan aku izin pamit kepada mereka semua.
Mereka berdua mengizinkan,dan mas Aldo juga izin sebentar mengantarkan aku ke kamar.
Sedangkan di sini, Asih nampak terlihat jelas menatap kami berjalan menjauh pergi.
Tiba-tiba suara batuk pak Ridwan membuyarkan pandangannya, dan langsung menoleh ke pak Ridwan.
Pak Ridwan langsung to the poin ke Asih. Bahwa pak Ridwan mau membawa Asih ke pondoknya,untuk menyembuhkan Asih.
Namun Asih langsung menolaknya, tapi pak Ridwan langsung menanyakan ke Asih. "Yakin kamu menolak ?" Tanya pak Ridwan lagi.
Asih hanya menganggukkan kepala. Namun sedetik kemudian,dia menatap seseorang yang telah mengucapkan salam.
"Waallaikumsalam". Jawab pak Ridwan dan Asih.
"Pak,bapak masih lama enggak ?" Tanya laki-laki muda itu kepada pak Ridwan.
Melihat perubahan wajah Asih,pak Ridwan nampak tersenyum. "Sebentar." Ucapnya dengan lirih.
"Mohon maaf pak,ini saya di tunggu klien ada meeting." Ucapnya lembut.
"Baiklah." Ucap Pak Ridwan setelah melihat Agung datang.
"Ini Gung,anakku mengajak pulang." Ucap Pak Ridwan.
Mas Aldo lalu menatap anak pak Ridwan. "Lho kamu Dion kan ?" Tanya mas Aldo dan lalu memeluknya.
"Astagfirullah Ival,enggak nyangka gue ketemu elo disini." Ucapnya seraya mengeratkan pelukan. Sedangkan Asih hanya bengong.
Namun berbeda dengan pak Ridwan,pak Ridwan menatap mereka dengan tersenyum bahagia.
Ya karena Dion dan mas Aldo,teman sekolah di smp dulu. Itulah kenapa pak Ridwan tidak nampak terkejut.
"Wah sudah sukses lo ya." Ucap mas Aldo.
"Alhamdulillah Val, elo sendiri juga sukses Al." Ucapnya.
"Aamiin ya ALLAH." Ucap mas Aldo.
"Lo di rumah sendiri Al ?" Tanya Dion.
"Enggak,gue sama anak-anak dan istri gue sama pembantu gue." Ucapnya.
"Dimana istri lo ?" Tanya Dion.
"Dia sedang istirahat,maklum baru hamil." Ucap mas Aldo.
"Wah hebat dong kamu." Ucapnya seraya tersenyum.
"Maksudnya ?" Tanya mas Aldo.
__ADS_1
"Ya hebat,sudah gol lagi." Ucapnya dengan penuh canda konyolnya.
Saat akan menjawab,tiba-tiba Asih langsung memotong pembicaraan mereka. "Ok pak, saya mau di bawa bapak." Ucap Asih penuh semangat.
Mas Aldo yang mendengar itu,hanya menganggukkan kepala dan mengucapkan terima kasih kepada pak Ridwan.
Pak Ridwan pun hanya menganggukkan kepala seraya memberi saran. "Jangan salah lagi,kasian istri dan anak-anak kamu".
"Iya pak." Ucapnya seraya menunduk.
Dan tak lupa juga mereka berpamitan, tak terkecuali Asih. Dan mas Aldo pun hanya menganggukkan kepala.
Setelah mereka sudah pergi,mas Aldo langsung menutup pintu gerbang,dan masuk ke dalam. Menyusul aku,yang telah tertidur. Setelah meminum vitamin.
Mas Aldo menatap jam dinding,dan langsung beranjak ke kamar mandi. Selesai mandi,dia lalu sholat dan mengaji. Setelah itu,mas Aldo keluar dan memasak nasi goreng.
Sesudah itu,mas Aldo langsung menatanya di meja makan. Dan kembali lagi ke kamar, membangunkan aku,karena sudah menjelang mahgrib.
Aku pun langsung terbangun,dan duduk sejenak. Lalu beranjak ke luar. Ku lihat sudah sepi, dan hanya ada aku serta mas Aldo di sini.
"Sayang sini makan dulu." Ucapnya.
"Aku hanya menganggukkan kepala dan duduk di sana. Mas, Asih kemana? Tanyaku pelan. Dia sudah ikut pak Ridwan sayang." Ucapnya.
Aku mengernyitkan keningku,belum faham dengan maksud mas Aldo. Sedangkan mas Aldo memintaku untuk makan dulu. Aku pun menurut.
Setelah selesai makan,kami bersama-sama membersihkan meja dan mencuci piring. Setelah selesai,barulah mas Aldo menjelaskan semuanya dengan jujur.
Mendengar itu,aku pun ikut senang. "Dan mendoakan Asih,agar bisa betah dan berubah ke arah yang lebih baik. Aamiin". Ucapku dalam hati.
Selesai ngobrol,aku pun meminta izin mas Aldo menjemput anak-anak ke rumah kakak ipar. Namun mas Aldo mencegahnya.
"Tadi Ardi bilang mau nginap di rumah budhenya. " Ucapnya seraya memelukku dari belakang.
Aku pun langsung melepas tangan mas Aldo dengan kasar,menyadari itu mas Aldo lalu bertanya. " Kenapa Ta ?"
Aku pun tidak langsung menjawab, namun langsung mengunci pintu,mematikan lampu dan masuk kamar.
Namun baru ingin melangkah ke kamar,tiba-tiba mas Aldo membopongku. Spontan aku langsung memegang lehernya takut terjatuh.
Kami pun langsung masuk ke kamar, mas Aldo menurunkan aku secara pelan,namun pandangannya tak pernah lepas dari wajahku
Aku tertunduk malu,seraya menahan senyum. Namun mas Aldo mengartikan lain,bahwa aku marah kepadanya.
"Ta,maaf tadi aku mau menjelaskan kepada kamu,namun ucapnya terhenti karena aku melepas kancing bajunya. Dia menatapku, sedangkan aku masih asik dengan membuka kancing bajunya. Namun,tadi langsung ada tamu." Ucapnya jujur.
Mendengar penjelasan mas Aldo,hatiku terasa bahagia. Karena dia sudah berkata jujur dan terbuka denganku.
Selesai melepas kancingnya,tanganku menyentuhnya. Dia nampak membaringkan badannya seraya memejamkan m***.
Tak berselang lama, aku melepasnya dan beranjak ke kamar mandi. Nampak jelas mas Aldo menahan ha****nya,namun saat sudah membuncah. Aku malah lari ke kamar mandi.
Melihat itu,mas Aldo menggelengkan kepala. Dan menutup kembali kancing bajunya.
Dia lalu tertidur,karena besok masih banyak kerjaan yang menumpuk. Sedangkan aku,menatap masa Aldo dengan tersenyum tipis.
Dan lalu mendekatkan tempat tidur. Aku menatap lagi mas Aldo,nampaknya dia kelelahan. Aku yang belum bisa tidur,langsung beranjak lagi ke luar. Melihat bunga yang di samping kamar,udara malam yang dingin tak ku hiraukan.
Hingga tepat jam 9 malam,aku kembali masuk ke kamar dan menguncinya. Ku lihat lagi wajah mas Aldo,dia sudah pindah posisi menghadap ke arah aku.
Aku lalu kembali ke atas ranjang dengan pelan. Dan mendekati ke arahnya. Ku sunggingkan senyumku saat menatapnya,dan men**** b****nya. Dan aku pun turun lagi,minum susu dan vitamin untuk anakku.
__ADS_1
Selesai itu,aku memeluknya dan tertidur di sana.