Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 41


__ADS_3

"Tenang kak." Ucapnya seraya menangis.


Dan disini, kak Devi nampak syok setelah menelfon Kevin. Dan langsung nyambung, namun bukan ucapan salam akan tetapi, suara teriakan sang adik ipar menjerit dan menangis.


Beruntung kak Devi tidak menggunakan loudspeakernya. Jadi aku dan Icha tidak mendengar. Beruntung juga aku masih tidur. Jadi tidak tahu.


Kak Devi menutup mulutnya dengan tangan,tubuhnya gemetar dan terduduk lesu di lantai dapur. TUHAN cobaan apa lagi ini,kenapa iparku selalu yang kau uji terus ? Tanyanya dalam hati.


*Air mata kak Devi langsung mengalir deras, dia lalu mematikan sambungan telfon. Dan bergegasmengirim pesan ke suaminya dan Dewi.


Sementara aku yang baru bangun, nampak terdiam dan mencari gawaiku*. Perasaan tadi ku taruh di sini,kok sekarang enggak ada ? Tanyaku dalam hati.


*Tanpa berfikir dan mencari lagi,aku memilih ke kamar mandi. Mengambil air wudhu dan langsung sholat dan mengaji.


Selesai itu,aku keluar kamar mencari mas Aldo. Namun sayang seluruh ruangan nihil. Hingga aku menatap ke dapur,ada kak Devi di sana*.


"Kakak sudah lama ?" Tanyaku.


"Sudah Ta. Kamu sudah bangun ?" Ucap dan Tanyanya.


"Sudah kak baru saja." Ucapku tanpa melihat raut wajah kak Dita. Karena aku juga tengok kanan kiri,berharap ada mas Aldo.


Namun ternyata tidak ada, aku lalu meminjam hpnya kakak ipar untuk menghubungi mas Aldo.


*Setelah puas berteriak,mas Aldo tertidur di mobil. Saat Kevin ingin ikut terpejam,tiba-tiba gawai mas Aldo berdering.


Kevin pun langsung mengangkat*.


("Assalamualaikum kak." Ucapnya.)


("Waalaikumsalam." Ucapku.)


("Kak,kok pakai gawainya kak Devi ?" Tanyanya. )


("Ya soalnya gawaiku tidak ada." Ucapku jujur.)


("Oh maaf kak dibawa kak Agung." Ucapnya jujur.)


("Oh ya sudah enggak apa-apa. Sekarang dia dimana Vin?" Tanyaku. )


("Sedang sibuk kak." Ucapnya dusta.)


(" Oh ya sudah. Assalamualaikum." Ucapku.)


("Waalaikumsalam." Ucapnya.)


"Dari siapa ?" Tanyanya.


"Dari istrimu." Ucap Kevin.


"Kita pulang saja." Ucapnya.


"Baiklah." Ucapnya lalu memutar mobil.


"Kau tahu Vin,perempuan licik itu datang kesini." Ucap mas Aldo.


"Tahu kak." Ucapnya Seraya melirik seluruh arah.

__ADS_1


"Hmm kau tahu Felix ?" Tanya suamiku.


"Tahu kak,dia yang sedang dekat dengan Fina." Ucapnya.


"Rupanya kamu sudah tahu juga ya." Ucapnya.


"Hmm ya kak, bahkan guru Ardi yang menaruh hati ke kamu, aku juga sudah tahu." Ucapnya.


"Ck, doaku hanya untuk istriku. Dan hati ini sepenuhnya milik ALLAH." Ucapnya.


"Segitunya ya kak." Ucap Kevin.


"Iya Vin, hanya dia yang aku jadikan pelabuhan terakhirku." Ucapnya.


*Sesampai di rumah, mas Aldo membuka pintu gerbang. Sementara aku sedang mengobrol dengan mbak Devi di teras belakang.


Kami tidak tahu, mas Aldo sudah sampai rumah. Bersama dengan Kevin. Jikalau bukan Kevin yang menyusul kami di teras belakang*.


^^^"Lho Vin, kakak kamu mana ?" Tanya kakak ipar.^^^


"Mandi." Ucapnya.


"Mbak, Vin aku izin menyusul mas Aldo dulu ya." Ucapku.


"Ya." Ucapnya. Sementara Kevin membunyikan wajahnya,dia menangis tertahan.


"Vin, ayo kita pulang." Ucapnya seraya berlalu.


*Kembali lagi denganku, aku langsung menyiapkan baju untuk mas Aldo. Setelah selesai aku menunggunya di tempat tidur.


Ceklek.


Aku hanya terdiam dan membalas sebentar. Mas Aldo lalu menghentikan sejenak, dan menatap wajahku.


"Ay." Panggilnya.


"Hmm." Ucapku.


Mas Aldo lalu memberikan secarik kertas untukku. Aku mengernyitkan kening, namun tetap aku terima dan aku baca.


Syok, mengetahui keadaan kesehatanku sekarang. Aku menghembuskan nafas panjang dan istiqfar. Aku lalu tersenyum di depan mas Aldo.


"Semua yang bernyawa, pasti akan tiada mas. Aku enggak mau menangis lagi,ini adalah bentuk sayangnya ALLAH padaku." Ucapku.


"Ay ka-kamu, kenapa malah bersyukur ?" Apa kamu tega ninggalin aku sendirian ?" Tanyanya.


"Shht.. Aku bersyukur karena ALLAH mau mengurangi dosaku di akhirat kelak, makanya ALLAH memberi aku sakit ini." Ucapku menahan sesak di dada.


Mendengar ucapanku mas Aldo langsung memelukku erat, dia berfikir setelah aku tahu faktanya. Aku akan menangis dan terpuruk, namun faktanya tidak.


Ya Tuhan, dia begitu indah untukku. Terima kasih telah KAU hadirkan dia dalam hidup hamba. Ucapnya dalam hati.


"Sudah yuk keluar duduk di teras, menyiram bunga." Ucapku.


"Tapi." Ucapnya terhenti.


..."Aku tahu kamu khawatir, tapi jangan terlalu berlebihan. Bahaya kalau anak-anak kita sampai tahu." Ucapku. ...

__ADS_1


"Ya sudah. Ayo." Ucapnya.


*Selesai menyiram bunga, kami pun langsung masuk ke dalam. Karena hari sudah mulai malam.


Azan maghrib pun berkumandang, kami semua sholat berjamaah di rumah. Selesai itu, aku menyiapkan makan untuk makan malam.


Tapi belum sempat memulai, belum pintu terdengar, cepat-cepat mas Aldo buka*.


"Assalamualaikum pak." Sapa mereka semua.


"Waalaikumsalam." ada apa ya pak,buk,mas dan mbak ?" Tanya suamiku.


*Yang merasa heran, banyak yang bertamu untuk menengok aku. Rupanya kabar kalau aku sakit parah sudah menyebar. Mas Aldo langsung mempersilakan untuk masuk dan duduk.


Sementara aku, yang masih asik di dapur tidak mengetahui sama sekali mereka mau repot-repot datang.


Beruntung tadi beli teh pucuk 3 pack kardus, dan makanan ringan. Buat cemilan kedua anak kami.


Mas Aldo langsung pamit sebentar, memanggil aku. Aku pun langsung datang, dan nampak heran karena rumah banyak orang.


Tak lupa aku menyapa mereka satu persatu. Dan minta maaf bila baru tahu dan bila selama tinggal di perumahan ini, ada yang tersakiti baik lisan ataupun perbuatan.


Dan Alhamdulillah mereka memaafkan semua. Mas Aldo juga mengucapkan banyak terima kasih karena warga di sini masih mau bertandang ke rumah kami untuk direpotkan.


"Mas dan mbak, namanya juga hidup bertetangga. Harus gini, guyup rukun sama yang lain." Ucap para Rt setempat*.


"Makasih pak Rt, padahal kemi jarang hidup sosial." Ucapnya jujur.


"Ya kita semua memaklumi mas, seperti apa istri anda dan penjagaan anda. Jadi kami pun merasa wajar. Ditambah lagi, kami sering di suruh untuk membenci kalian, tapi tidak kami lakukan." Ucap mereka serentak.


"Makasih untuk semua dan perhatiannya, cuma ALLAH yang bisa membalas kebaikan kalian semua." Ucap suamiku dengan tersenyum lebar.


Tak terasa malam sudah lewat, mereka pun pamit pulang. Sementara kami di sini duduk di sofa bersama anak-anak. Kami melihat tv, sedangkan mas Aldo kembali ke meja kerjanya.


*Malam semakin larut, anak-anak dan aku kompak tidur di depan tv. Hingga tepat jam 10 malam, mas Aldo baru keluar dari meja kerjanya. Dia memandangi kami, yang nampak pulas tidur di depan tv.


Gegas mas Aldo mematikan tv, dan memindahkan kami bertiga ke tempat tidur masing-masing. Terakhir aku di bopong olehnya.


Sesampai di kamar, Mas Aldo memelukku dengan erat*.


Makasih ay sudah melengkapi hidupku. Ucapnya dan kini ikut terlelap bersamaku.


Paginya, kami bangun seperti biasa, dan aku pun melakukan aktifitas kembali. Namun tetap dalam pantauan mas Aldo.


"Ay,"Panggilnya


"Ya mas suamiku." Ucapku genit seraya memeluk tubuhnya dari belakang.


Melihatku demikian mas Aldo tersenyum lebar, seraya berbisik.


"Aku rindu." Ucapnya.


"Ish sabar, masa nifasku belum selesai mas." Ucapku.


"Lama banget." Ucapnya.


"Bukannya mas suamiku ini pernah nikah dan punya anak ?" Tanyaku.

__ADS_1


"Ya. Tapi setelah Ardi lahir,aku sudah tak menyentuhnya. Karena dia sudah berani seli**kuh." Ucapnya.


"Masa ?" Tanyaku seraya men colek dagunya.


__ADS_2