Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 48


__ADS_3

"Siang anak-anakku." Ucap suamiku.


"Siang yah." Ucap mereka bersama seraya lari mendekati sang ayah dan takzim.


"Sudah makan siang belum ?" Tanyanya.


"Sudah yah, tadi ditraktir om Kevin. Sekarang om Kevin ke kantor ayah. Ucap putriku.


"Hmm gitu, terus sudah sholat dan mengaji belum ni ?" Tanyanya.


"Sudah." Ucap mereka semua. Lalu izin mau tidur siang.


Mendengar hal itu, mas Aldo pun mengizinkan. Sepeninggal mereka, mas Aldo lalu ke dapur. Melihat isi kulkas, namun rupanya sudah penuh dengan bermacam-macam snack dan sayuran juga daging. Siapa yang membeli ini ? Tanyanya lirih.


"Aku masih." Ucapku yang kini sudah berada di belakang tubuhnya.


"Ay. Kamu sudah bangun ?" Tanyanya.


"Sudah." Ucapku seraya tersenyum.


"Makasih ya mas, mau menikahi aku, menerima anakku dan aku. Dan disaat aku sakitpun, kamu tidak memintaku pulang." Ucapku jujur.


"Iya Ta, makasih juga sudah mau menerima pinanganku dan juga putraku. Dan yang pasti kamu mau mau nerima aku yang sudah tak lagi muda ini." Ucapnya.


"Sama-sama mas. Kamulah pelengkap hidupku mas." Ucapku seraya menatapnya.


"Kamu juga ay, pelengkap hidupku." Ucapnya lalu memelukku.


Setelah saling mengucapkan demikian, aku lalu mulai masak buat nanti hari ini dan nanti malam. Setelah selesai dengan bumbu, kini tinggal merebus telur dan daging. Dan membuat sop.


"Masak apa ay ?" Tanyanya.


"Masak sop sama balado." Ucapku.


"Mas tolong cicipi dulu, takutnya nanti ada yang kurang." Ucapku.


"Ya." Ucapnya seraya mencicipi masakanku.


"Gimana mas ?" Tanyaku.


"Pas." Ucapnya lagi.


"Alhamdulillah." Ucapku.


Selesai masak,kami pun langsung meletakkan makanan kami ke meja makan dan mengambilkan nasi untuk mas Aldo.


Baru mau makan, tiba-tiba beliau di pintu gerbang berbunyi.


Ting tong.


"Sudah mas biar aku saja." Ucapku.


"Tunggu, aku ikut." Ucapnya.


Sesampai di pintu gerbang, mas Aldo langsung menggenggam tanganku. Sementara aku hanya mengernyitkan keningku.


"Kenapa mas ?" Tanyaku.


"Dia adik emak." Ucapnya.


"Bukain kenapa." Ucapnya ketus.


Aku menghembuskan nafas panjang. Dan membuka pintu dengan cepat, lalu takzim dan segera aku membantu membawa kopernya masuk.


"Agung, bulek hari ini nginep di sini selama bulek mau." Ucapnya.


"Dan kamu, selama aku ada di sini-." Ucapnya terhenti.

__ADS_1


"Maaf bulek bukannya lancang, namun saya disini ikut serta andil karena saya istrinya." Ucapku lembut.


"Istri, baru jadi istri saja sudah sok berkuasa." Ucapnya.


"Memangnya kenapa ?" Tanya Ardi tiba-tiba.


"Eh keponakan mbah sudah bangun." Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


"Mbah, kalau mbah kesini hanya untuk menyuruh ibuku jadi pelampiasan amarahmu, lebih baik mbah enggak usah kesini." Ucap Ardi.


"Jangan dikira Ardi tak tahu rencana mbah." Ucapnya.


"Ayah, bisa lihat ini." Ucapnya seraya menyerahkan gawai.


...Setelah melihat itu, barulah suamiku menghubungi pakleknya. Setelah tahu, mas Aldo langsung menghubungi Boni. Untuk datang kerumah kami. Sementara bulek daritadi nampak terdiam, karena niat jahatnya diketahui cucu keponakannya. Sedangkan aku lebih memilih diam dan berada di teras. Tak berselang lama Boni datang, melihat ada yang datang, aku lalu membuka pintu dan mempersilahkan Boni masuk....


"Nona, ada apa ?" Tanyanya.


"Tidak ada." Ucapku seraya tersenyum ramah.


"Bos dimana non ?" Tanyanya.


"Ada di dalam, masuklah." Ucapku.


...Sesampai di rumah, Boni terkejut melihat seseorang di sana. Yang tertunduk dan mengacak-acak rambutnya seraya minta maaf. Namun tidak di jawab oleh suamiku....


"Bawa bulek ke terminal Bon." Ucapnya.


"Baik bos." Jawab Boni.


"Tunggu, sebaiknya ke hotel dulu saja mas." Ucapku menengahi.


"Diam kamu wanita jahat." Ucapnya seraya melot*t ke arahku.


Mendengar hal itu aku tidak menjawab, namun aku memberi penjelasan kepada suamiku.


"Cu*ih sok baik, dasar muna**k." Ucapnya.


"Ardi, kembalilah ke kamarmu dulu sayang." Ucapku lembut.


"Tapi bu." Ucapnya.


"Biar ALLAH yang menunjukkan kebenarannya." Ucapku seraya memeluknya.


"Biar bagaimanapun, beliau itu nenek kamu tak baik mengucapkan begitu." Ucapku seraya meminta Ardi minta maaf kepada dan kembali ke kamar.


"Nek, maafin aku." Ucapnya.


"Iya sayang." Ucapnya.


Sementara mas Aldo sudah di teras, dan Boni masih menjaga kami. Sepeninggal Ardi, bulek lalu mendekati aku.


"He perempuan licik, jangan kamu mengira, aku bisa kau kalahkan. Aku akan membuat Agung berpaling darimu." Ucapnya penuh penekanan.


"Jangan kotori hatimu, hanya untuk balas dendam." Balasku seraya takzim.


"Bon, hati-hati nyetirnya. Pilihlah kamar yang terbaik untuk beliau." Ucapku lirih.


"Siap nona." Ucapnya.


Sementara mas Aldo, langsung berlalu ketika bulek ingin pamit. Aku pun terdiam dan saling pandang dengan Boni.


"Wah bisa lembur malam ini, kalau bos marah." Ucapnya seraya menggaruk kepalanya.


Mendengar itu aku hanya tersenyum seraya berkata.


"Sabar mase." Ucapku seraya menutup pintu gerbang.

__ADS_1


Sepeninggal mereka, aku lalu menemui suamiku, dan menyuruhnya untuk makan lagi.


"Aku sudah tidak nafsu ay." Ucapnya.


"Ya sudah aku suapin." Ucapku.


"Aku sudah kenyang." Ucapnya ketus.


"Ya sudah aku makan sendiri saja." Ucapku seraya berlalu.


Tepat jam 3 sore, aku ikut bermain dengan anak-anakku, kami pun tertawa bersama disana. Tepat jam 4 sore, kami menyudahi permainan dan bergegas mandi.


Selesai mandi, aku sama sekali tidak ingin bertanya kepadanya. Aku lalu ibadah dan mengaji. Walau tak ingin bicara, setelah selesai ibadah aku tetap takzim kepadanya.


Selesai takzim aku lalu menyiram bunga, dekat pintu kamar. Hmm harum banget ternyata bunganya. Ucapku seraya tersenyum dan mencium aroma bunga itu.


Tanpa ku tahu, mas Aldo menatapku dengan tersenyum. Walau aku bentak, kamu tetap mau takzim Ta. Itulah kenapa aku memilihmu. Namun mengingat ucapan bulek, aku takut kamu akan ninggalin aku begitupun sebaliknya. TUHAN mampukan aku untuk menghadapi ini semua. Ucapnya lirih.


Selesai menyiram tanaman, barulah aku berhias, dan menyiapkan bajunya. Lalu aku melangkah keluar, namun langkahku terhenti. Saat tanganku di genggamnya.


"Mau kemana ?" Tanyanya.


"Ke kamar anak-anak." Ucapku jujur.


"Temenin aku mandi." Ucapnya.


"Ya sudah, ayo." Ucapku seraya melangkah.


Sesampai di sana, aku membantunya untuk melepas kancing bajunya. Setelah semua terlepas, aku lalu hendak melangkah meletakkan baju kotornya di ember, namun langsung di cegah oleh mas Aldo.


"Aku langsung mengguyur badannya dengan air dan lalu memandikannya. Mas lihat atas." Ucapku lembut. Diapun menurut.


Selesai memandikannya, aku langsung melepas bajuku dan menggantinya dengan yang kering. Selesai itu aku lalu keluar,dan aku terkejut melihat mas Aldo masih belum memakai bajunya.


"Hubby, kok belum pakai baju ?" Tanyaku lembut.


"Malas." Ucapnya seraya cemberut.


"Ya sudah, sini aku pakaikan." Ucapku.


10 menit berlalu, akhirnya kami selesai dan aku pun langsung membersihkan tempat tidur dan menyapunya.


Setelah selesai, aku keluar. Dan terlihat anak-anak sedang belajar di sana. Aku lalu mengambilkan minuman hangat untuk mas Aldo.


"Diminum dulu mas." Ucapku.


"Makasih." Ucapnya.


"Sama-sama.Mau makan ?" Tanyaku?


"Bentar lagi." Ucapnya lalu merebahkan kepalanya di pundakku.


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Aku capek dengan rumah tangga kita." Ucapnya.


"Sabar." Ucapku.


Dia terdiam dan berfikir lagi. Ta, kalau rencana bulekku-."Ucapnya terhenti, karena aku langsung beranjak berdiri. Rasa sakit di dada kembali menyayat hati. Namun sebisa mungkin aku tahan, aku lalu izin keluar sebentar.


Dia terdiam dan sedetik kemudian dia memelukku.


"Maaf. " Ucapnya.


"Aku tahu, pada akhirnya kamu juga tidak akan kuat, namun yang pasti aku sudah siap bila kita harus-." Ucapku terhenti.


"Mati." Ucapnya. Hanya kuasa ALLAH yang dapat memisahkan Ta." Ucapnya keras.

__ADS_1


__ADS_2