
Hening. Ya setelah kejadian tadi, kami memutuskan pulang. Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba mobil mas Aldo mogok. Mas Aldo berulang kali menyalakan mesinnya, tetapi tetap nihil. Dia lalu keluar, dan mengecek mesin mobilnya. Sementara aku masih di dalam mobil,seraya berfikir sejenak.
Tiba-tiba fikiran ku teringat nasehat ibu, kelak jika kamu sudah menikah turuti kata suamimu, tapi yang membawa kebaikan bersama. Saat dia marah sama kamu, cepat-cepatlah minta maaf kepadanya, agar rezeki kalian lancar. Dan jika memiliki masalah, selesaikan dengan kepala dingin. Ucap almarhumah ibuku.
"Gimana mas ? Tanyaku.
"Sebentar ya sayang, mesinnya terlalu panas." Ucapnya.
"Ya sudah, aku kembali lagi ya." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya tersenyum.
Sesampai di dalam mobil,gawaiku berbunyi. Lekas ku buka, nomer baru lagi ? Tanyaku dalam hati.
Aku tak ingin membuka, namun aku kirimkan nomer itu di gawai mas Aldo.
Mas Aldo yang nampak sibuk pun, nampak menghentikan sejenak. Dua tersenyum saat membuka pesan dari aku,namun senyumnya menghilang saat ku tulis pesan. "By kenal nomer ini enggak ?" Tanyaku.
Dia lalu menutup lagi mobilnya,dan masuk ke dalam. Dia terdiam setelah membuka pintu mobil, sementara aku meneteskan air mata tiba-tiba.
"Ay." Panggilnya.
Aku lalu menatapnya dengan deraian air mata.
"By, segitu-." Ucapku terhenti, karena di hentikan mas Aldo.
"Aku enggak seperti itu ay. Dan aku bisa jelasin tentang nomer hp itu." Ucapnya seraya memelukku.
Mendengar ucapannya aku mengernyitkan keningku, dan melerai pelukannya.
"Ay, tolong jangan pergi." Ucapnya memohon.
Di sini aku tambah bingung akan sikapnya ? Apa yang di fikiran suami hamba ya ALLAH ? Tanyaku dalam hati. Aku lalu menggenggam tangannya dan men*ium tangannya. Setelah sudah tenang aku melanjutkan bertanya kepadanya.
"By, nomer baru tadi apa benar milik Bela ?" Tanyaku lembut.
"Benar." Ucapnya.
"Tahu enggak by, apa yang Bela kirim di nomor hpku ?" Tanyaku.
"Enggak." Ucapnya lirih.
Aku lalu mengeluarkan gawaiku dari dalam tas, dan ku buka lalu kuserahkan kepada suamiku. Awalnya dia menolak, namun setelah melihat video dirinya sedang menunggu aku di RS dengan khusyuk minta kesembuhan untukku. Dia lalu tersenyum.
^^^"Bela mengirimkan ini kepadaku mas, dia juga minta maaf sama aku. Karena sudah pernah berniat menghancurkan rumah tangga kita, namun saat tahu aku sakit dia mengikuti kamu. Tapi sesampai di RS,dia mendapati kamu menangisi aku disaat sholat. Akhirnya dia sadar, dalam dirimu sudah tak ada lagi namanya. Dia langsung pulang dan kini,setelah mengikhlaskan kamu, dia sudah bertunangan." Ucapku panjang lebar.^^^
...Syukurlah, kalau dia sudah mau menikah." Ucapnya dengan menatapku bahagia. ...
__ADS_1
"Mas aku ngantuk." Ucapku.
"Sabar ya sayang, aku coba benerin mesinnya dulu." Ucapnya.
"Coba kamu nyalakan dulu mas." Ucapku.
"Ya, kalau belum bisa sabar ya." Ucapnya.
"Iya hubbyku." Ucapku.
"Bismillah." Ucap suamiku.
"Alhamdulillah." Ucap kami bersama.
Tak berselang lama, kami pun sampai di hotel terdekat.
"Ay, sementara di sini dulu ya. Takutnya nanti mogok lagi." Ucapnya.
"Iya by, enggak apa-apa. Aku sudah capek dan gerah." Ucapku.
"Ya sudah yuk." Ucapnya.
Kami pun langsung masuk, sesampai di resepsionis mas Aldo menggenggam tanganku.
"Tak perlu takut, ada suamimu yang menjagamu." Ucapnya lirih.
"Ish, sapa juga yang takut." Ucapku.
"Canda ay, jangan marah terus nanti cepat tua." Ucapnya seraya tertawa.
"Iya aku yang tua, hubby yang muda. Ish ogah." Ucapku pura-pura kesel.
"Cie marah." Ucapnya. Lalu bertanya kepada resepsionis.
"Mari pak, ada yang bisa kami bantu." Ucapnya seraya menatap suamiku dengan genit.
Melihat itu, aku lalu menarik tangan mas Aldo. Dan aku langsung menjawabnya.
"Apa di sini ada kamar kosong ya mbak ?" Tanyaku sopan.
"Ada." Ucapnya ketus.
Sementara mas Aldo melihat itu, langsung memelukku dan berkata.
"Istriku, yang sabar ya. Tak banyak orang yang bisa mengenal kita dengan baik." Ucapnya.
"Maaf mbak, ramahnya jangan suka pilih-pilih. Kalau mbak diperlukan seperti istri saya, apa anda terima ?" Tanyanya.
__ADS_1
Melihat demikian, para tamu yang datang juga banyak yang komplain. Setelah selesai mendapat dan membayar kamar, kami pun menuju kamar. Sesampai di kamar, aku lalu ke kamar mandi, membersihkan badan yang sudah lengket. Sementara mas Aldo tiduran di sofa.
15 menit berlalu, aku keluar dengan mengenakan handuk saja, karena enggak ada baju ganti.
"Mas mandi dulu, sudah sore lho." Ucapku.
"Iya." Ucapnya seraya berlalu.
Sambil menunggu mas Aldo selesai mandi, aku memesan makanan di aplikasi. Tak berselang lama, mas Aldo sudah keluar. Sesampai di tempat tidur, mas Aldo menatapku. Tidurlah ay, habis ini kita makan. Ucapnya lirih.
Saat mas Aldo hendak menyusulku, tiba-tiba terdengar pintu di ketuk.
Tok...tok...tok..
"Ya." Ucap suamiku.
"Misi, apa benar di kamar ini dengan ibu Anindita ?" Tanya kurir itu.
"Oh iya pak, benar." Ucapnya.
"Oh alhamdulillah kirain salah." Ucapnya seraya menyerahkan pesanan itu ke mas Aldo. Dan langsung membayarnya.
Setelah sang kurir pergi, mas Aldo lalu menutup pintu dan menghampiriku. Ay bangun dulu, makan dulu ya. Ucapnya.
Aku hanya terdiam,namun mas Aldo tetap berusaha membangunkan.
"Ay, bangunlah." Ucapnya.
"Masih ngantuk by." Ucapku.
"Makan dulu,habis makan baru boleh tidur." Ucapnya.
Aku hanya menurut, walau mata terasa sepat aku memaksakan untuk makan. Melihatku demikian mas Aldo langsung menggelengkan kepalanya.
Selesai makan, aku minum dan segera ambil wudhu. Setelah itu, kami sholat dan mengaji bersama. Selesai semuanya, kami ngobrol sebentar.
"By, anak-anak lagi apa ya ?" Tanyaku.
"Mereka sudah tidur, barusan aku Vc tidak di angkat. Dan kata Kevin, mereka sudah tidur." Ucapnya jujur.
"Hmm gitu." Ucapku.
"Iya." Ucapnya.
"Sudah malam ay, tidurlah." Ucapnya.
"Ya." Ucapku seraya mengec*p di lehernya.
__ADS_1
"Assalamualaikum selamat malam." Ucapku.
"Waalaikumsalam malam juga ay." Ucapnya.