
"Tanpa ku tahu,mas Aldo sudah terbangun,namun ia enggan membuka m***nya. Dia lalu memelukku. Mas." Ucapku lirih.
"Hemm." Jawabnya. Aku langsung menatapnya seraya meminta maaf. "Maaf sudah membangunkanmu." Ucapku seraya mengendus bau tubuhnya yang selalu wangi.
"Iya sayang." Ucapnya. Hening sesaat karena kami mencoba memejamkan m***,namun belum juga bisa. Aku lalu melerai pelukanku, dan beranjak keluar sejenak.
Mas Aldo tidak melarangnya. Dia hanya menatapku lalu terlelap kembali. Entah kenapa hari ini aku sama sekali tidak bisa tertidur. Hingga dini hari,aku masih berada di luar.
Aku terdiam dan menatap langit,berharap bisa melihat kekasih ALLAH muncul di sana. Namun sayangnya belum bisa,hingga tanpa aku sadari mas Aldo menyusulku.
"Tidak baik,malam-malam berada di luar. Angin malam tidak bagus untuk kesehatan." Ucapnya. Aku terdiam membisu dan masih menatap langit malam yang gelap.
"Ya ALLAH,salahkah hamba berharap bertemu kepada kekasihmu selain kepadamu ?" Tanyaku dalam hati. Mas Aldo lalu mendekati aku dan membopongku, mengajak masuk. Terlihat aku menangis,mas Aldo pun menurunkan aku.
"Maaf Ta,aku tadi terlelap dan tidak menemani kamu." Ucapnya seraya mengelap air m***ku dengan jarinya.
Spontan aku kaget,mendengar penuturannya. Lalu aku menggelengkan kepala. "Mas suami, kamu salah paham." Ucapku paraw. Dia mengernyitkan keningnya.
"Aku lalu menjelaskan semuanya dengan jujur. Mendengar itu,mas Aldo langsung memelukku seraya memberi nasehat. "Perbanyak sholawat dan doa,karena tidak ada yang tidak mungkin. Kalau ALLAH sudah berkehendak." Ucapnya seraya tersenyum.
Lalu mengajakku untuk tidur. Aku hanya menurut. Dan tak berselang lama,kami sudah berada di dunia mimpi.
Paginya,aku terbangun,lalu mandi dan menyiapkan keperluan mas Aldo dan menyediakan sarapan untuknya. Karena anak-anak masih menginap di rumah kakak ipar, jadi aku hanya menyiapkan makanan untuk kami berdua.
Tepat jam 7 pagi,aku lalu membangunkan mas Aldo. "Bangun mas,udah pagi." Ucapku lirih. Mas Aldo masih terjaga,hingga aku pun membangunkannya dengan membisiki dia.
Nampak mas Aldo menggeliat,seraya menatapku dengan lekat. "Masya ALLAH cantiknya." Ucap mas Aldo. Aku pun tersipu malu dengan pujiannya.
"Bangun mas suami,sudah waktunya kerja." Ucapku lembut.
Mas Aldo pun hanya menganggukkan kepala,seraya melangkah ke kamar mandi. 10 menit mas Aldo sudah selesai mandi,aku lalu membantu memasangkan dasi dan juga menyisir rambutnya.
Setelah selesai,kami lalu keluar bersama,untuk sarapan. Tak berselang lama, kami selesai makan,aku lalu membersihkan sisa makan. Setelah selesai semua, aku lalu menghampiri mas Aldo yang sedang duduk di teras.
"Mas. Ucapku lembut. Spontan mas Aldo menolehku lalu tersenyum. Dia lalu mengajakku duduk di teras,seraya mengelus perutku yang masih kecil.
"Sayang,tadi anak-anak telfon,mereka izin sama aku katanya mereka ingin masuk pondok." Ucap mas Aldo.
Deg...
Fikiranku mulai tak tenang,namun langsung di tepis oleh mas Aldo. "Tapi aku minta sama mereka,izin dulu sama kamu. Mereka juga bilang, kenapa dari kemarin nomer hp kamu tidak aktif ?" Ucapnya.
"Iya mas maaf,nomer hpku sudah tidak bisa di gunakan,karena di blokir." Ucapku jujur. Ya sudah nanti aku belikan." Ucapnya lagi. Aku hanya mengangguk pelan.
"Ya sudah,sekarang kunci semua rumah,dan kamu ikut aku sekarang. Ucapnya. Kemana ?" Tanyaku tiba-tiba. Ke kantor nemeni aku kerja." Ucapnya.
"Tapi anak-anak ? Tanyaku. Mereka pulang sore." Ucap mas Aldo lalu membantuku mengunci semua pintu. Setelah selesai, kami pun keluar bersama. Dan tak lupa juga,mas Aldo mengunci gerbang.
Tak berselang lama, Boni pun datang dengan membunyikan klakson mobil. Senyum merekah terbit di wajah mas Aldo,aku yang masih belum faham hanya mengernyitkan kening.
Namun sedetik kemudian,mas Aldo menuntunku ke mobil tadi. "Lho mas tunggu dulu,ini kan bukan mobil kamu mas ? Tanyaku lembut.
"Mas Aldo tersenyum,lalu tak berselang lama kaca mobil itu,diturunkan oleh Boni seraya menyapa mas Aldo. "Pagi bos." Ucapnya. Spontan aku menatapnya,dan nampak terdiam.
Menyadari aku terdiam,mas Aldo lalu membopongku masuk ke dalam mobil. Spontan aku menepuk bahunya dengan keras, namun aku langsung minta maaf dan mengelusnya.
Setelah kami masuk, Boni pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mas Aldo nampak mengelus dada perlahan,bekas yang kutepuk dengan keras. Karena aku terkejut.
Melihatnya mengelus pelan,aku langsung mengelusnya dan minta maaf lagi. "Maaf mas tadi aku reflek." Ucapku lirih. Mas Aldo tersenyum seraya merangkul bahuku.
"Tidak apa-apa sayang." Ucapnya. Aku lalu mencoba membuka kancing bajunya, namun tanganku langsung digenggam mas Aldo.
Sementara, Boni yang tanpa sengaja melihat keuwuhan bosnya,hanya bisa bersyukur dan tersenyum. Bersyukur,karena doa sang bos 14 tahun lalu terwujud,bisa bersatu lagi dengan cinta pada pandangan pertamanya.
"Semoga kalian berdua langgeng hingga jannah. Aamiin ya ALLAH." Ucap Boni dalam hati.
Tanpa terasa kami sudah sampai di kantor milik mas Aldo. Aku masih terdiam,sedangkan mereka sudah turun. Melihatku belum turun,mas Aldo lalu membuka pintu untukku.
"Sayang,ayo kita sudah sampai. Apa mau aku bopong lagi ?" Tanyanya. Spontan aku langsung menoleh dan menjawab.
"E-E-Enggak usah mas. Ya sudah ayo turun." Ucapnya seraya menggenggam tanganku.
Merasakan tanganku dingin,mas Aldo lalu memelukku dan menghangatkan tanganku. Lalu dia membisiki aku,dengan lembut. "Tidak perlu takut,ada aku disini." Ucapnya menenangkan hati.
Aku lalu mengikutinya seraya menggandeng lengannya. Dia tersenyum ke arahku,namun saat masuk aura dinginnya mas Aldo nampak jelas.
Ku kira hanya ada di cerita novel saja,ternyata di dunia nyata juga ada. Mas Aldo yang dirumah nampak murah senyum,ramah dan penyayang berbanding terbalik dengan dunia kantornya.
Banyak karyawan menyapanya,namun dia hanya menganggukkan kepala dan berlalu. Sesampai litf aku mulai menempelkan kepalaku di lengannya.
Merasa takut aku pingsan,mas Aldo meng**** kepalaku seraya menggenggam tanganku.
Pintu lif pun terbuka,kami keluar bersama dan diikuti Boni. Sesampainya di dalam ruangan mas Aldo,aku lalu merebahkan tubuhku ke sofa.
Melihat aku langsung merebahkan di sofa,mas Aldo sejenak menatap Boni. Boni pun izin keluar sebentar,dan diangguki mas Aldo.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang ?" Tanya mas Aldo yang kini melepas jas kantornya. Untuk menyelimutiku. Tak ingin membuat dia khawatir,aku lalu merubah posisi dan berkata.
"Aku tidak apa-apa mas,lebih baik mas kerja dulu." Ucapku lembut.
"Tapi wajahmu pucat." Ucap mas Aldo.
"Aku baik kok mas,sebaiknya mas suami kerja dulu. Aku enggak mau,kamu menunda kerjaanmu." Ucapku seraya berdiri dan menuntunnya ke meja kerjanya.
"Ya sudah tapi kalau ada apa-apa bilang ya." Ucapnya seraya menatapku penuh khawatir. "Asiap pak suami." Ucapku seraya memberi hormat. Melihatku begitu,mas Aldo,nampak tertawa renyah dan kembali kerja lagi.
Sedangkan aku kembali lagi di sofa,dan mengelus perutku. "Jangan rewel ya sayang, kasihan papa." Ucapku dalam hati. Dan Alhamdulillah manjur. Aku mulai enakan lagi.
Tanpa ku tahu,Boni sudah masuk di ruangan mas Aldo dengan mengajak seorang laki-laki.
Aku nampak asik dengan buku alquran yang ku bawa,sembari membacanya dengan baik. Ya semenjak menikah,mas Aldo selalu memintaku rajin membaca alquran. Dan aku pun menurutinya.
Alhamdulillah,jadi kebiasaanku sekarang,jika tidak membaca serasa kurang ibadahnya. Aku juga tak henti-hentinya bersyukur kepada ALLAH,sudah mengirimkan suami yang terbaik versi ALLAH.
Selesai membaca,aku lalu memasukkannya ke dalam tas. Lalu beranjak,minta izin ingin keluar sebentar. Namun ku lihat dia sedang berbagi ilmu dengan orang yang belum ku kenal.
Aku pun melangkah,izin ke toilet. Baru melangkah satu langkah,mas Aldo langsung menatap ke arahku dan tersenyum. Aku pun membalas senyumnya.
Seraya mengatupkan 2 tanganku,minta izin ke toilet. Mas Aldo pun berpamitan pada temannya,dan mendekati aku. "Kenapa sayang ?" Tanya mas Aldo lirih.
"A-A-Aku izin ke kamar mandi mas." Ucapku terbata-bata. "Disini ada kok ay". Ucap suamiku seraya menunjukkan kamar mandi. Sesampai di kamar mandi,aku menghela nafas panjang. Dan mencuci tanganku.
"Kenapa Val ? Tanya Dion. Nganter istriku ke kamar mandi" Ucap mas Aldo. Dion pun nampak mengernyitkan keningnya. Dan menatap mas Aldo,meminta kejelasan.
Melihat itu,mas Aldo tersenyum lebar. Dan menjelaskan dengan jujur. Tak berselang lama,aku keluar kamar mandi. Aku mengedarkan ruangan pribadi mas Aldo.
"Kok bisa sama ya,hidupku kaya di novel. Semoga berakhir bahagia. Aamiin ya ALLAH." Ucapku dalam hati.
Aku pun bergegas keluar,dan ku lihat mas Aldo masih diskusi dengan temannya. Tak ingin mengganggu,aku pun mengambil tasku dan memilih istirahat di ruang pribadinya.
Boni yang menatapku,nampak tersenyum dan menggelengkan kepala. Mas Aldo dan Dion yang tak sebgaja melihat Boni pun bertanya.
"Kamu kenapa ?" Tanya mereka bersamaan. Spontan Boni menoleh dan menjelaskan seraya tersenyum.
"Itu bos,istri anda lucu,lugu,cantik dan unik. Kalau di dunia ini masih ada seperti istri bos, saya akan nikahin." Ucapnya.
Mendengar itu mas Aldo, menatap Boni dengan marah seraya menepuk tangannya. "Jangan ngawur kamu. Sampai matipun tak akan ku biarkan istriku dimiliki olehmu." Ucapnya.
"Kan tadi saya bilang kalau ada bos,bukan ingin merebut istri bos." Jawabnya seraya mengelus tangannya yang di tepuk oleh mas Aldo.
Mendengar pertengkaran mereka,mas Aldo yang ingin menjawab pun ditengahi oleh Dion. "Sudah-sudah kalian ini kaya tom and jerry" Ucap Dion.
Tok...tok...tok...
"Masuk." Ucap mas Aldo keras.
Tanpa di duga mantan istri mas Aldo datang, dengan membawa makan siangnya. Nampak Boni ingin keluar,namun ditahan oleh mas Aldo dan Dion.
"Hai Do." Ucap Fina.
"Mau apa kamu kesini." Ucap mas Aldo datar. Sedangkan Dion masih duduk dengan tenang bersama Boni.
"Aku mau bicara penting sama kamu, ini soal Ardi." Ucapnya sembari mendekati mas Aldo.
"Bicara di sini saja." Ucapnya ketus.
"Kedengaran mereka,tidak enak." Ucap Fina.
Sementara,aku disini merasa jenuh. Akhirnya memutuskan keluar. Namun baru ingin menutup,ku dapati mantan mas Aldo ada disini.
Ku hembuskan nafasku dengan pelan,lalu melangkah ke depan menghampiri mas suamiku. "Mas." Ucapku seraya menarik tangan mas Aldo tiba-tiba,Karena hampir di sentuh oleh Fina.
Spontan mereka semua terkejut,karena aku keluar kamar,tanpa bersuara. Mas Aldo lalu berdiri dan memelukku. "Kenapa sayang ?" Tanya mas Aldo. Belum sempat aku menjawab, Fina mendekati mas Aldo.
"Makan dulu yuk Do." Ajaknya seraya menyentuh tangan mas Aldo. Namun langsung mas Aldo tepis. "Jaga sikap kamu Fin,aku disini sudah memiliki istri dan kalau kamu mau menemui Ardi. Temui dia." Ucap mas Aldo lantang.
"Aldo teriak Fina keras,hingga Boni pun langsung menekan tombol kedap suara. Sedangkan Dion nampak menggelengkan kepala. Atas tingkah Fina yang selalu menghalalkan berbagai macam cara,agar bisa kembali kepada Ival sahabatnya dulu. Aku hamil anak kamu." Ucapnya.
Mendengar itu,aku langsung minta tolong Boni. "Bon,panggil pak satpam." Ucapku seraya memeluk tubuh mas Aldo. Entah kenapa,mendengar ucapan Fina aku sama sekali tidak percaya.
Tak berselang lama,pak satpam sudah tiba. "Bawa dia pak !" Titah Boni. "Jangan kurang ajar kamu Bon". Ucapnya seraya meminta pak satpam keluar. Sedangkan aku sudah dibawa ke kamar, oleh mas Aldo.
"Sayang,kamu percayakan sama aku ?" Tanya mas Aldo.
Aku masih nampak terdiam membisu. Dan pamit untuk pulang, namun ditahan olehnya. "Enggak Ta,aku enggak izinin kamu pulang." Ucapnya seraya memelukku.
Aku pun tersenyum ke arahnya, dan memegang dagunya dengan kedua tanganku. Dan lalu men**** pipinya, "kasian Icha sendiri di rumah." Ucapku lembut.
"Anak-anak pulangnya masih nanti sore sayang." Ucap mas Aldo. "Iya tapi aku ingin memasak untuk kalian." Ucapku yang kini menempelkan keningku ke keningnya.
"Tidak usah sayang,kamu mulai sekarang temani aku disini saja". Ucap mas Aldo memohon. Aku pun akhirnya hanya bisa menurutinya.
__ADS_1
"Yuk keluar." Ucapnya. Aku hanya menurut. Sesampai di luar,ruangan nampak sepi. Kami pun melangkah keluar bersama. Dan turun dengan lif lagi.
Sesampai di ruang bawah,kami pun duduk di kantin kantor. Kami hanya duduk,tidak memesan apa-apa. Entah kenapa,perut kami masih kenyang.
Mas Aldo memandangiku dengan sendu. "Maafin aku sayang,sudah membuatmu terluka." Ucapnya dalam hati. Sedangkan aku kini hanya menatap cincin yang berada di jari manisku dengan intens.
"Semoga hamba bisa melewati badai ini,ya ALLAH. Aamiin." Ucapku dalam hati.
Mas Aldo pun lalu mengajakku ke luar,namun aku menolak dengan halus. Dan akhirnya mas Aldo hanya menurut.
Kami pun kembali lagi ke ruangan paling atas, sesampai di sana, kami sholat dan tak lupa mengaji bersama. Selesai mengaji,mas Aldo memesankan aku makanan dan minuman.
Tak lupa juga membelikan untuk Dion dan Boni. Tak perlu nunggu waktu lama, pesanan kami datang. Dan kami pun memakannya dengan pelan. Tak lupa juga mas Aldo membuatkan susu untukku dan membuka vitamin untuk kami.
Sementara di ruangan Boni,nampak Boni dan Dion sedang sibuk dengan pekerjaannya. Dan mengumpulkan berkas-berkas yang perlu di tanda tangani oleh bosnya.
Begitupun dengan Dion,dia mengulang lagi berkasnya agar bisa kerja sama dengan sahabat kecilnya.
Setelah selesai,barulah mereka beranjak dari ruangan dan menuju ke ruangan mas Aldo.
Tok...tok...tok...
Namun tidak ada jawaban dari mas Aldo. Boni pun akhirnya menanyakan kepada sekretaris bosnya.
"Dimana bos Agung ?"
"Ada di dalam,masuk saja tapi pelan-pelan saja. Istrinya baru tidur." Ucap sekretarisnya seraya membuang bungkus makanan di tempat sampah.
"Ok makasih." Ucapnya. Dan hanya di jawab dengan anggukan kepala.
Sesampai di dalam,mereka berdua menunggu mas Aldo keluar. Tak berselang lama, mas Aldo sudah keluar dari kamar. Tanpa mas Aldo tahu,ada bekas lipstik di kemeja putihnya dan bekas merah di lehernya.
"Aje gile,enak ya yang sudah nikah. Kitanya pusing kerja,eh bosnya begituan." Ucap Dion. Mendengar itu mas Aldo pun mengernyitkan keningnya. Dan tanpa menanggapi ucapan Dion.
"Kalian makanlah dulu, itu di meja masih ada makanan." Ucap mas Aldo. Yang kini mulai sibuk di layar laptopnya. Mereka pun langsung beranjak. Dan mulai makan.
Sedangkan mas Aldo,setelah selesai di layar laptopnya, dia lalu berpindah ke berkas yang di bawa Boni dan Dion.
Selesai makan, mereka berdua kembali membaca dengan seksama. Meneliti semuanya. Sedangkan mas Aldo,sudah selesai mengerjakan semuanya. Hingga tanpa terasa waktu pun berlalu begitu cepat.
Mereka pun beranjak pulang,namun mas Aldo masih di kantor. Dia menungguku selesai mandi,setelah selesai barulah dia yang mandi.
Selesai mandi,aku nampak meneguk air liurku dengan susah.Terlihat tubuh mas Aldo yang sixpax dan kulitnya kuning langsat, membuatku berdecak kagum. Padahal usianya kini sudah masuk kepala 4.
Warna kulitnya masih tetap sama. Melihatku demikian mas Aldo pun mendekatiku. "Kenapa Ta ?" Tanya mas Aldo.
Mendengar suaranya,spontan aku menatapnya. "Tidak ada mas". Ucapku lalu melipat baju kotornya. Untuk di bawa pulang.
"Yakin ?" Tanyanya lagi.
"Iya mas." Ucapku seraya menghindari tatapannya.
Selesai memakai pakaian dan berkemas,kami pun keluar dari kantor. Dan menuju ke parkiran. Sesampai di sana, mas Aldo membuka kunci mobil dan kami pun masuk bersama.
Tak berselang lama,mobil mas Aldo sudah sampai di rumah. Kami pun lalu keluar dengan langkah pelan. Terlihat anak-anak sudah pulang,mereka tersenyum senang melihat kedatangan kami. Begitupun dengan kami.
Tepat jam makan malam,kami makan bersama. Kini hal yang ku rindukan sudah terobati. Makan bersama anak-anak dan suami. Namun ada yang masih mengganjal dalam hatiku,akankah Ardi tetap bersama kami. Melihat mantan mas Aldo selalu meminta Ardi dan tadi di kantor,dia mengaku hamil hasil dari hubungan dengan mas Aldo.
Sungguh rasa khawatirku muncul,nanun aku lalu menepisnya. Terlihat mas Aldo mengkhawatirkan aku. Dan menebak bahwa aku masih khawatir,tentang Ardi dan Fina.
Mas Aldo lalu meraih tanganku,dan menggenggamnya. Spontan kami semua menatapnya dan anak-anak pun izin ke kamar. Kami pun mengangguk kepala bersama.
Setelah melihat anak-anak masuk kamar, mas Aldo pun berkata. "Jangan siksa pikiranmu dengan pikiran negatif, yang belum tentu terjadi. Ingat ALLAH itu sesuai dengan prasangka hambanya." Ucap mas Aldo. Lalu membantuku membersihkan meja.
Mendengar nasehatnya,aku lalu mengucapkan istiqfar. Dan selesai makan, kami pun masuk ke kamar.
Kami sholat witir bersama dan mengaji. Setelah itu,barulah kami merebahkan tubuh kami bersama.
Tepat jam 12 malam, kami semua bahkan seluruh warga di buat terkejut mendengar suara ban mobil meletus. Kami pun ingin keluar,naamun mas Aldo melarang.
"Sudah sebaiknya kita kembali tidur." Ucapnya. Kami pun akhirnya menurut dan lalu tidur kembali. Setelah melihatku terlelap, mas Aldo tersenyum lebar. "Makasih Ta,kamu memang bidadari surgaku." Ucapnya lirih.
Sedangkan di kamar,hp Ardi bergetar tanpa henti. Namun Ardi membiarkannya, Berbeda dengan Icha, dia nampak mendengar suara ketukan. Mendengar itu,Icha langsung keluar kamar. Dan menuju ke kamar kami,beruntung mas Aldo ada di ruang makan.
"Sayang, kamu belum tidur ? Tanya mas Aldo.
"Icha takut pa." Ucapnya seraya menangis.
Tanpa bertanya lagi,mas Aldo langsung menggendong Icha dan membawa Icha ke kamar Ardi. Ardi pun di bangunkan mas Aldo. Kini kami berempat tidur bersama di kamar utama.
Melihat mereka sudah terlelap,mas Aldo lalu mengecek kamar anak-anak. Benar saja,mas Aldo mendengar suara dan cekikikan orang. "Pantas Icha takut." Ucapnya dalam hati. Lalu mas Al pindah ke kamar Ardi.
Kamar Ardi tidak ada apa-apa,hanya terdengar hp Ardi berbunyi. Mas Aldo langsung melihatnya,tertulis 49 pesan belum terbaca dan 10 panggilan tak terjawab.
Mas Aldo pun langsung meletakkannya dan menonaktifkan hp Ardi.
__ADS_1
Selesai melihat kamar anak-anak,mas Aldo kembali lagi ke kamar. Terlihat kami bertiga sudah terlelap. Membuat mas Aldo ikut serta tidur di sana.
Saat tangan kekarnya memeluk pinggangku, aku lalu merubah posisi ke arahnya,dia pun nampak tersenyum bahagia. "Tahu saja kalau aku disini." Ucapnya dalam hati. Sraya men****ku.