Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 37


__ADS_3

"Pulang yuk mas, kasian anak-anak di rumah sendiri." Ucapku.


"Bentar lagi ay, aku masih ingin di sini." Ucapnya.


Aku menghembuskan nafas panjang dan pelan, lalu menyandarkan kepalanya di kursi mobil. Sehina inikah aku, hingga di mana pun aku berada selalu menjadi bahan gunjingan. Dulu aku enggak mau menikah lagi, namun faktanya aku menikah dan memiliki anak.


Setelah memiliki anak,ditinggal juga. Hidupku jadi berantakan, anakku tak ke urus karena aku sibuk mencari kerja. Tapi masih juga belum ke dapatkan. Setahun aku menganggur, akhirnya aku pasrah kepada ALLAH. Hingga tepat bulan Desember aku bertemu dengan putranya mas Aldo.


Orang yang dulu sempat ku benci dan menjadi kekasihku walau sesaat, kini sudah menjadi pasangan hidupku. Hanya ALLAH dan dirinya saja yang masih menerimaku. Walau demikian aku tetap bersyukur, seburuk akhlakku dia masih nerima aku. Padahal dia bisa saja mencari yang lain, namun dia malah memilihku. Saat tengah melamun, tiba-tiba tangan kekarnya memelukku.


"Mikirin apa ay ?" Tanyanya.


"E-enggak mikirin apa-apa mas." Ucapku.


"Ayo kita pulang." Ucapku.


Dia memandangku lekat,tanpa berkedip.


"Sebentar ay. Aku masih pusing." Ucapnya.


"Kamu kenapa enggak mau ku ajak pulang sih mas ?" Tanyaku.


Mas Aldo mengucap kata istiqfar dan menghembuskan nafasnya pelan. Bukannya aku tidak mau pulang, namun aku enggak mau ketemu emak. Ucapnya dalam hati.


"Mas." Panggilku.


"Hmm." Ucapnya.


"Masih pusing ?" Tanyaku.


"Masih." Ucapnya lirih.


Aku langsung memegang keningnya. Syukurlah tidak panas. Ucapku dalam hati. Merasakan sentuhan tanganku, mas Aldo langsung meraih tanganku, sedangkan tangan kanannya memeluk pinggangku. Biarkan begini dulu sayang,aku sangat nyaman. Ucapnya dalam hati.


Waktu pun berlalu begitu cepat, hingga malam hari kami baru sampai rumah. Sebelum pulang mas Aldo kirim chat dengan anak-anak dan Kevin. Memberitahukan kami pulang malam, mereka pun membalas ya tidak apa-apa, karena di rumah juga lagi perang mulut antara Fina, emak dan keluarga mas Aldo. Hingga pak Rt ikut turun tangan mendamaikan mereka semua.


Beruntung waktu kejadian anak-anak tidak ada di rumah. Sedang berlibur ke pantai bersama Dewi dan Kevin.


Sesampai di rumah kami langsung membersihkan badan kami, tak lupa juga mengganti baju. Selesai itu, aku izin lihat anak-anak sebentar, namun di tahan oleh mas Aldo.


"Aku ikut." Ucapnya.


Sesampai di kamar Ardi, kami mendapati Ardi sedang belajar. Namun tak kami dapati Icha, dimana anakku ? Tanyaku dalam hati.


Tiba-tiba terdengar suara dari luar.


"Ehem. Tante cari Icha ya ?" Tanya Dewi.


Spontan aku langsung menghadap ke arahnya.


"Iya wi, dimana dia ?" Tanyaku lembut.


"Sepulangnya dari pantai dan makan, Icha langsung tidur tante." Ucapnya.


"Owh begitu." Ucapku.


"Iya tante." Ucapnya.


Sementara aku lalu masuk ke kamar Dewi,melihat Icha yang sudah tidur dengan pulas. Lalu menc*um keningnya.


Kembali di kamar Ardi, mas Aldo menemani putranya yang sedang belajar lewat online. Dan di sana juga nampak guru Ardi,tanpa mengenakan hijab memberikan pertanyaan sang murid.


Aku tersenyum melihat mereka, dan menghampiri mas Aldo. Aku lalu berbisik pada mas Aldo.


"Mas keluar yuk." Ucapku.


"Hmm." Ucapnya seraya menggenggam tanganku untuk keluar.


Tanpa aku tahu, guru Ardi menatapku dengan tajam. Sementara Ardi yang tahu tatapan gurunya,langsung menutup laptopnya.


Dia lagi fokus belajar,gurunya malah melihat orang tuanya. Bikin kesel.


Sesampai di kamar kami,mas Aldo masih sibuk dengan gawainya. Aku lalu ke kamar mandi dan merebahkan tubuhku di kasur.


"Ish senyum-senyum sendiri." Ucapku lirih.


Melihatku kesal mas Aldo tersenyum geli. Dan meletakkan gawainya di meja.


"Utu-utu ada yang cemburu nih." Ucapnya.


"Ish, siapa yang cemburu ?" Tanyaku.


"Istriku tercinta." Ucapnya.


"Enggak." Ucapku.


"Hmm. ya sudah kita tidur saja. Besok kita pulang." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


Paginya, kami semua berangkat pulang, karena urusan kerja sudah menumpuk banyak.


"Gung,Vin." Panggilnya.


"Iya kak." Ucap mereka.


"Kalian hati-hati di jalan ya." Ucapnya.


"Iya kak." Jawab mereka.

__ADS_1


Selesai bersiap dan berdoa, kami pun saling pamitan bersama. Dan berangkat pulang, sementara aku dan anak-anak sudah masuk lebih dulu. Karena mereka masih ngantuk. Tak berselang lama, mas Aldo masuk lalu menyalakan mobilnya.


2 jam berlalu, Kini kami sudah hampir sampai. Aku menggeliat, karena tertidur cukup lama. Mas Aldo tersenyum tipis melihatku, namun tak berselang lama dia menggelengkan kepala. Melihatku terpejam lagi. Tanpa dia tahu, aku sudah bangun hanya memejamkan mata saja.


Sementara anak-anak,sedang makan cemilan di sana.


"Sayang ayah mau juga dong." Ucapnya.


Mendengar hal itu, anak-anak langsung menyuapi ayahnya. Dan ayahmu pun menerima dengan senyum khasnya.


Sungguh indah pemandangan ini, terlihat rukun tanpa ada adu argumen. Inilah yang aku impikan selama ini, putriku mendapatkan kasih sayang yang tulus walau bulan dari ayah kandungnya. Dan aku mendapat pasangan yang tidak pernah meninggalkanku saat banyak hujatan. Alhamdulillah ya ALLAH. Ucapku dalam hati.


Tak terasa kami pun sudah sampai di rumah tepat jam 7 pagi.


"Ayah, biar Ardi saja yang buka." Ucapnya.


"Makasih sayang." Ucap suamiku.


"Sama-sama yah." Ucapnya.


Setelah masuk,mas Aldo langsung memasukkan barang-barang kami ke dalam. Dibantu anak-anak. Sementara aku mengunci kembali pintu gerbang.


Selesai itu aku mencuci tangan di dekat tanaman. Barulah aku masuk, mengantar anak-anak sekolah dan membuat bekal untuk mereka.


Tepat jam 7.30, aku izin mengantarkan anak-anak. Namun mas Aldo melarang."Sudah ada sopir ay yang nganterin mereka."


Aku hanya menganggukkan kepala. Lalu memanaskan makanan yang sempat kami beli di warung makan seberang tadi.


Selesai itu, aku lalu masuk kamar berwudhu di sana. Aku lalu sholat dan mengaji, aku panjatkan syukur kepadanya dan semoga selalu istiqomah. Aamiin.


Kini di rumah hanya tinggal aku sendiri, mas Aldo pergi bersama anak-anak dengan bersama sopir barunya.


Sesampai di sekolah, anak-anak sudah turun tak lupa takzim dan mengucapkan salam. Lalu masuk ke sekolah, walau terlambat tetap di bukakan. Karena baru pulang dari luar kota,dan sebelumnya mas Aldo sudah menghubungi dari pihak sekolah.


Selesai mengantar, mas Aldo langsung ke kantor. Dalam perjalanan gawai mas Aldo berdering,dia berdecak kesal karena yang telfon Bela.


Ck,ngapain lagi dia nelfon terus ? Tanyanya dalam hati. Mas Aldo langsung menolak panggilan itu, dia lalu telfon Boni menanyakan tentang jadwal bosnya itu.


("Halo Assalamualaikum bos." Ucapnya. )


("Waalaikumsalam Bon, hari ini jadwalku apa saja ?" Tanyanya.)


("Hari ini jadwal bos miteeng dengan Pak Robby bos jam 9, jam 12 miteeng dengan karyawan, jam 1 pertemuan dengan Dion dan jam 3 acara peresmian cabang kantor bos." Ucapnya.)


("Ok sebentar lagi aku sampai." Ucapnya.) Lalu memutuskan sambungan telfon.


Ck, kalau bukan bos sudah aku maki ini orang, tidak ada sopan satunnya. Gerutu Boni. Lalu memilih berlalu dan masuk ke ruangan mas Aldo.


Tak berselang lama mas Aldo sudah sampai di kantor,dia lalu meletakkan jasnya di kursi. Dan menandatangani dokumen, seraya meneliti semuanya.


Jam 9, mas Aldo dan Boni langsung ke ruang miteeng, namun rupanya kliennya minta pindah tempat. Akhirnya mereka pun menurut sesampai di kafe, mereka langsung masuk dan langsung membahas kontrak kerja.


Ku lihat dari jendela,nampak Dewi di sana. Dewi, ngapain dia ? Tanyaku lirih. Aku lalu keluar dan membuka pintu gerbang.


"Dewi." Panggilku.


"Tante tolong anterin Dewi ke kafe ya." Ucapnya memohon.


"Tapi aku-".Ucapnya terhenti.


"Plis ya tante." Ucapnya.


"Sebentar ya, tante izin dulu sama om kamu dulu." Ucapku.


Tidak diangkat, mungkin dia sibuk. Ucapku dalam hati. Aku lalu mengirim pesan ke nomernya dan mengganti baju terlebih dulu. Setelah selesai, barulah kami berangkat.


Tak berselang lama taxi yang mengantar kami, sudah sampai. Dewi menuntunku.


"Ayo tan." Ucapnya.


"Iya." Ucapku seraya mencoba terus menghubunginya, namun tetap sama nihil juga.


"Maaf ya tan, kalau Dewi memaksa tante." Ucapnya.


"Iya." Ucapku lirih.


Tanpa ku tahu, Boni melihatku di sana. Namun nunggu bosnya melihat dirinya dulu, karena si bos sedang sibuk.


"Tante enggak marah kan." Ucapnya.


"Enggak Wi, Tante takut om kamu marah. Karena pergi tanpa seizinnya." Ucapku lembut.


"Tenang saja tan,nanti biar aku yang jelaskan." Ucapnya.


Aku hanya menganggukan kepala. Kembali ke mas Aldo lagi, akhirnya setelah obrolan itu mereka sepakat kerjasama.


Sepeninggal kliennya, barulah Boni bicara. Mendengar itu mas Aldo langsung memperhatikan seluruh tempat. Netranya menatapku lekat, dia dengan siapa ? Ucapnya lirih.


Namun masih bisa di dengar oleh Boni.


"Sama keponakanmu bos." Ucapnya.


Tak lama mas Aldo merogoh saku celananya, mengambil gawainya. Dia tersenyum lebar membaca pesan yang ku tulis.


Hubby aku izin ke kafe sebentar ya. Tulisku.


"Kita hampiri mereka dulu." Ucapnya.


"Ok bos." Ucapnya.

__ADS_1


"Tante, tenang saja tak perlu gelisah." Ucapnya.


Aku hanya terdiam mendengar ucapannya. Entah mengapa, sejak menikah dengannya rasa takut selalu ada. Apalagi pergi tanpa seizinnya, takut dia sakit hati.


"Makan dulu tan." Ucapnya.


"Iya Wi." Ucapku seraya tersenyum.


Tanpa kami tahu, mas Aldo bersembunyi di belakang kursi aku.


"Tante, om Aldo enggak bakal tahu kok. Dia lagi kerja, dan mungkin pulang larut malam." Ucapnya.


"Dewi, dia memang enggak tahu, tapi ALLAH maha tahu. Dan dalam pernikahan kalau ada kebohongan baik sekecil apapun, siap-siap saja akan hancur. Dan aku tidak mau itu terjadi." Ucapku.


Mendengar hal itu Dewi tersenyum lebar. Enggak salah om memilihnya. Ucapnya dalam hati.


"Tapi kan tante enggak tahu, om Aldo setia atau enggak ?" Tanyanya.


"Wi, ingat kisah nabi enggak?" Tanyaku.


"Ingat tan,memangnya ada apa ?" Tanyanya.


"Nabi yang sudah di jamin masuk surga,berakhlak baik dan mulia diberi pasangan yang Astaqfirulloh, apalagi kita Wi yang hanya manusia biasa, banyak khilafnya Wi tapi itulah ujian menikah. Makanya setan membenci umat ALLAH menikah." Ucapku panjang lebar.


"Maksudnya gimana sih tan, kok aku enggak paham ya. Aku tanya apa, tante jawabnya apa." Ucapnya seraya nyengir kuda.


kuhembuskan nafasku pelan,lalu menjelaskan.


"Maksudnya begini Wi, kalau mas Aldo di belakang aku main perempuan, aku pasti tahu. Dan sebagai istri, aku akan menasihatinya. Jika dengan nasehat tidak bisa juga membuka hatinya. Cukup doa saja,kepada sang pemilik hati. Persis ajaran nabi Muhammad. Dan itulah kenapa aku tadi bahas tentang nabi,karena sebelum kita lahir nabi sudah merasakan pahit dan manis hidup rumah tangga. Ucapku.


Biar kelak umatnya mencontoh kesabaran mereka. Ada kalanya jodohmu tak seperti cerminanmu, namun ada kalanya juga jodohmu cerminanmu." Ucapku panjang lebar.


"Hmm begitu ya tan, tante kenapa enggak jadi ustadzah saja tan ?" Ucap dan Tanyanya.


Membuat orang yang dibelakangku tertawa lebar, ya siapa lagi kalau bukan Boni.


Spontan kami menoleh, aku langsung beranjak dan mengatupkan kedua tanganku.


"Maaf mas." Ucapku seraya menunduk.


Mas Aldo tersenyum lebar dan memelukku. "Iya sayang." Ucapnya.


"Makasih." Ucapku.


"Sama-sama." Ucapnya.


"Om maaf ya aku bawa tante tanpa izin dulu, habis aku lagi bed mood." Ucapnya.


"Memangnya mami papi kamu kemana ?" Tanyanya.


"Bikin ba*y." Ucapnya absurd.


"Ya terus kenapa kamu enggak sekolah ?" Tanyanya.


"Sudah telat om." Ucapnya lalu pamit pulang.


"Makasih ya tante, sudah menemaniku." Ucapnya.


"Iya sama-sama." Ucapku.


"Ay ikut ke kantor dulu." Ucapnya.


Aku hanya menganggukan kepala seraya berjalan pelan.


Sesampai di parkiran,kami langsung masuk mobil. Mas Aldo menatapku intens dan tersenyum lebar.


Ya sebelum pulang dari kafe, aku memasukkan cake itu kedalam tas.


"Kenapa bos ?" Tanya Boni, yang tanpa sadar melihat mas Aldo tersenyum lebar.


"Enggak apa-apa." Ucapnya lalu merebahkan kepalanya di bahuku. Sementara aku sedang asik mengunyah roti.


Setelah habis, aku lalu membersihkan tanganku dengan tisu. Lalu mengelus rambut mas Aldo pelan. TUHAN terimakasih hamba panjatkan, karena kini hamba bertemu dan bersatu kembali dengan teman hidup hamba. Ucapku dalam hati.


Tak berselang lama kami pun sampai di kantor. Boni memberitahukan aku, bahwa mas Aldo tertidur. Aku lalu membangunkannya dengan pelan.


"Mas bangun, kita sudah sampai di kantor." Ucapku.


"Mas." Panggilku.


Melihat itu aku meminta Boni untuk meninggalkan kami. Akhirnya Boni pun meninggalkan kami,kini hanya ada kami berdua. Aku lalu menahan bahunya mas Aldo, setelah itu, aku merubah posisiku dan menidurkan dia.


Aku berusaha lagi membangunkan dia, dengan sentuhan tanganku,tak lupa juga men*ium tangannya dan berbisik di telinganya. Namun masih belum berhasil juga, aku pun lalu membuka internet dan mencari cara membangunkan suami dengan baik.


Setelah dapat,aku langsung menekan tombol ok. Namun sungguh terkejutnya aku membaca ulasan itu. Masa iya harus berbuat senekat itu. Ucapku lirih. Akhirnya aku hanya mendiamkannya.


Setengah jam berlalu, dia akhirnya bangun,lalu menatapku yang sedang asik membaca.


"Serius banget, baca apa sih ?" Tanyanya lirih.


Mendengar suaranya aku lalu menatapnya dan memeluk dengan erat.


"Baca buku, hubby sudah ku bangunkan susah banget." Ucapku.


"Maaf ay, aku capek banget." Ucapnya.


"Ya sudah yuk kita turun." Ucapku.


"Iya." Ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2