Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 28


__ADS_3

"Sayang kamu sembunyilah disini, aku akan tahan mereka." Ucapnya.


Aku masih terdiam,dan berfikir sejenak. Enggak di novel enggak di dunia nyata,kenapa selalu main bunuh ? Ucapku dalam hati.


Melihatku tanpa respon,mas Aldo mengusap wajahnya dengan kasar.


"Sayang,plis kali ini saja". Ucapnya.


Aku lalu melangkah bersembunyi sesuai yang diinginkan mas Aldo.


Baru akan dihampiri mas Aldo,aku menutup pintu dengan kasar. Sambil menangis.


Ya aku takut,aku takut menjanda lagi. Dan aku juga takut,membebani orang tuaku lagi. Apalagi saat ini aku sedang hamil.


Mas Aldo langsung keluar dan membalas tembakan mereka. Hingga tepat 1 jam lebih aku ditinggalkan mas Aldo,aku lalu membuka pintu almari perlahan.


Baru menghirup udara sedikit,tiba-tiba ada yang datang. Aku langsung menutup kembali seraya berdoa.


Saat tengah berdoa,pintu almari terbuka. Aku pun hanya bisa pasrah dan memejamkan m***.


"Mbak Dita." Panggilnya.


Mendengar suara itu,aku langsung membuka m***. Ya adik iparku datang,dia adik bungsu mas Aldo yang sudah kerja juga di luar kota.


Namanya Muhammad Kevin Pratama. Dia kerja di kantor juga, awalnya dia ikut mas Aldo. Namun karena masih muda,dan ingin mencari pengalaman akhirnya dia memutuskan untuk keluar kota.


"Kevin,kamu kapan pulang ?" Tanyaku.


Dia membantuku keluar,namun aku menolaknya secara halus.


"Maaf,aku bisa sendiri." Ucapku. Bukan karena sombong ya,namun menjaga kepercayaan suami saat suami tidak ada di dekat kita.


Walaupun ipar,tetap harus jaga jarak. Ingat ucapan Nabi, Iparmu mautmu. Melihat penolakanku, Kevin tersenyum seraya berkata dalam hati, masya ALLAH pantas saja kak Agung begitu memperjuangkannya. Ternyata karena ini. Ucapnya.


"Vin,kamu belum jawab pertanyaan ku." Ucapku membuyarkan lamunannya.


"Keluar dulu kak, nanti aku jawab." Ucapnya.


Aku hanya menurut. Dan setelah sampai di sofa,aku langsung duduk.


Disusul dengan Kevin, dan Kevin pun mulai menjelaskan.


"Aku pulang sudah lama kak,namun aku nginep di rumah almarhumah emak. Aku pulang karena aku rindu kalian." Ucapnya.


Mendengar itu,aku tersenyum. Dan ruangan pun sunyi kembali.


Tak berselang lama mas Aldo,Boni dan anak-anak datang dengan langkah tergesa-gesa.


"Sayang kamu tidak apa-apa kan ?" Tanya mas Aldo.


"Aku tidak apa-apa mas." Ucapku menangis.


"He are you ok ?" Tanyanya.


"Aku baik mas,aku takut kamu kenapa-kenapa dan aku juga minta maaf karena tadi aku marah sama kamu." Ucapku paraw.


"Ya sayang aku sudah maafin kamu." Ucapnya seraya mengusap bulir-bulir air m***ku.


Melihat itu mereka semua tersenyum,sedangkan anak-anak masih terlelap.


Sedangkan Boni,nampak kelelahan. Dia dari lantai atas menggendong Ardi sambil berlari. Kevin yang melihat itu,langsung memberinya minum.


"Makasih Vin". Ucapnya.


"Sama-sama kak". Ucapnya.


Melihatku sudah tenang,mas Aldo nampak bernafas lega. Terasa hening di ruangan ini,tidak Ada yang memulai bicara.


Boni lalu berdiri dan mengunci ruangan mas Aldo.


"Satpam di luar memberi kabar,kalau di luar ada Feni bos." Ucapnya.


Mendengar nama Fina disebut, aku langsung memegang lengan mas Aldo. Seraya menggelengkan kepala.


"Mas jauhi dia aku mohon." Ucapku.


"Iya sayang." Ucapnya.


Kevin pun nampak mengernyitkan keningnya. Boni yang melihat perubahan wajah Kevin langsung memberikan gawainya.


Nampak Kevin menggelengkan kepala dan berucap istighfar dalam hati.


Bukannya dia sendiri yang minta pisah sama kakakku, kenapa sekarang setelah kakakku menikah dia malah ingin rujuk ? Tanya Kevin dalam hati.


Saat akan bertanya,tiba-tiba pintu di luar di ketuk dengan keras.


"Aldo kembalikan Ardi." Ucapnya lantang.


Deg...


Aku menggenggam lengan mas Aldo dengan kencang. Mas Aldo menatapku seraya mengelus tanganku.


"Tenang sayang." Ucapnya.


"Mas,aku mohon jauhi dia dan kalau dia meminta Ardi, bicarakan dari hati ke hati. Aku takut, psikologi Ardi terganggu karena pertengkaran kalian. Tapi aku juga mohon bawa saudaramu agar nanti dia tidak memfitnah kamu." Ucapku lembut.


"Pasti sayang." Ucapnya.


"Aku ke dalam dulu mas." Ucapku.


"Iya,nanti aku susul." Ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepala dan pamit kepada mereka semua.


"Bon, buka pintunya." Ucap suamiku.


Sedangkan Kevin langsung pindah mendekati kakaknya. Tak berselang lama Fina masuk dengan m*** sembab.


"Al dimana Ardi ?" Tanyanya keras.


"Duduk dulu kak,dan kalau bicara pelankan suaranya." Ucap Kevin.


Fina pun langsung beralih menatap Kevin.


"Kevin,kamu sudah pulang ?" Tanyanya dengan mendayu. Sedangkan Boni nampak menggelengkan kepala. Berbeda dengan mas Aldo, dia nampak dingin dan datar.


"Sudah kak." Jawab Kevin singkat. Seraya merekam obrolan mereka.


Selesai basa-basi dengan Kevin, dia mendekati Aldo. Namun mas Aldo langsung menarik Kevin untuk pindah posisi.


"Al aku mau bicara sama kamu." Ucapnya lantang.


"Mau bicara,bicara saja tidak perlu keras-keras. Mengganggu tidurku saja." Ucapku.


Mereka yang mendengar pun nampak menatapku seraya tersenyum.


"Ciuh,pelakor datang." Ucapnya.


Mendengar itu,mas Aldo ingin memberinya pelajaran. Namun aku tahan.


Aku tersenyum manis kepadanya,dan tanpa expresi marah.

__ADS_1


Aku lalu mendekatkan kedua tanganku dan mengucapkan beribu-ribu rasa terima kasih kepadanya.


"Terima kasih,sudah memberikan lelaki terbaikmu untukku." Ucapku tulus.


Mendengar itu,mas Aldo tersenyum lebar. Begitu juga dengan Kevin dan Boni.


Sedangkan Fina nampak marah. "Harusnya kamu tidak hadir dalam rumah tanggaku." Ucapnya.


"Maaf aku tidak bisa lari dari takdir. Ucapku lembut.


"Cuih sok baik." Ucapnya.


"Bukan sok baik,tapi berusaha menjadi baik." Ucapku.


Nampak jelas wajah Fina menahan kekesalan,aku lalu mempersilahkan dia duduk dan memberinya minum.


"Ardi sudah tidur,tadi sempat aku bangunkan,namun dia berkata besok saja. Karena besok dia harus sekolah." Ucapku panjang lebar.


"Aku tidak bertanya sama kamu." Ucapnya.


"Aku juga tidak bilang sama kamu, namun aku menyampaikan ke mas suamiku. Ucapku.


Karena biar bagaimanapun kamu adalah ibunya Ardi, dan kamu juga punya hak penuh kepadanya. Dosa besar,kalau aku yang hanya ibu tiri melarang Ardi bertemu dengan ibunya." Ucapku lagi.


Masya ALLAH,dewasa dan bijak kamu ay. Terima kasih TUHAN, KAU hadirkan dia dalam hidupku. Ucap suamiku dalam hati.


"Al aku ingin bicara sama kamu, tapi tidak di sini." Ucapnya.


"Kalau tidak di sini,mending tidak usah bicara." Ucap Ardi dengan m*** masih menahan kantuk.


"Hai nak,mama rin-. Ucapnya terhenti karena Ardi menggelengkan kepala.


Lalu mendekati Boni, duduk di sebelahnya. Seraya mengotak-atik gawainya. Lalu mengaktifkan videonya.


Dan nampak jelas di sana Fina sedang melakukan hubungan dengan lawannya.


"Astagfirullah." Ucapku seraya menutup mulut dan mengelus perutku. Jauhkan hamba dari perbuatan demikian ya ROB. Ucapku dalam hati.


Sedangkan mas Aldo,Kevin dan Boni sudah tidak terkejut dengan itu.


"Makasih ma,sudah membuat Ardi membenci ayah. Karena ucapan mama,kalau papa tidak mencintai mama dan mama hanya di jadikan budak. Ucap Ardi.


Padahal faktanya,papalah yang mama jadikan budak." Ucap Ardi. Lalu beranjak pergi dengan menahan air m***.


Melihat itu,aku lalu menyusulnya, namun lenganku di tarik Fina.


"Kau racuni apa anakku,hingga dia berbuat begitu padaku." Ucapnya.


"Aku lalu mengibaskan tangannya dengan kasar, bukan aku yang meracuni. Tapi dia lihat sendiri. Dan itu sebelum bertemu aku." Ucapku jujur.


Aku lalu melangkah,namun lagi-lagi rambutku yang panjang ditariknya. Melihat itu mas Aldo membantuku.


Namun belum sampai membantu, tangan Fina sudah berhasil aku pegang dengan kencang.


"Aw sakit." Teriaknya.


"Jangan mengganggu singa yang lagi tidur,jika tidak ingin dimakannya. Ini peringatan awal dan terakhir untukmu. Kalau masih nekat, jangan harap kamu bisa hi***." Ucapku lalu berlalu.


Mereka bertiga nampak melongo, mendengar penuturanku. Namun sekarang yang ku pedulikan Ardi, aku takut psikisnya terganggu.


Sesampainya di kamar,ku lihat Ardi berdiri di cermin.


"Sayang." Ucapku pelan.


Ardi pun menoleh ke arahku dia lalu memelukku.


"Makasih bu." Ucapnya tulus.


Tepat jam 10 malam,aku terbangun. Kulihat bukan Ardi lagi yang memelukku,namun mas Aldo yang memelukku.


Aku lalu berpindah posisi. Lho Icha sama Ardi mana ? Terus ini rumah siapa ?" Tanyaku dalam hati. Karena kini,mas Aldo sudah terlelap. Aku pun menatap bekas lukanya.


Belum diganti,mas Aldo kenapa tadi tidak membangunkan aku dulu untuk mengganti perbannya ? Tanya ku dalam hati.


Aku lalu beranjak dengan pelan,karena nampak terlihat di nakas ada kotak p3k.


Aku lalu melepas plesternya dengan pelan. Hingga membuat mas Aldo beralih tempat. Setelah terlepas, aku lalu membersihkan terlebih dulu dengan alkohol.


Bismillah jangan bangun ya mas. Ucapku lirih. Alhamdulillah selesai sudah. Ucapku lagi,lalu membuang kain kaza yang lama ke tong sampah. Dan mengembalikan kotak p3k ke nakas.


Setelah itu aku mengompres bahunya mas Aldo.


"Sayang,sudah bangun ?" Tanyanya.


"Maaf mas mengganggu tidurmu." Ucapku yang tidak membalas pertanyaannya.


Dia lalu memintaku pindah ke sampingnya,aku pun lalu pindah dan memeluknya.


"Mas ini rumah siapa ?" Tanyaku.


"Ini rumah Kevin sayang." Ucapnya.


"Kok kesini mas ?" Tanyaku lagi.


"Ya, karena besok memperingati 2 tahunnya emak sayang." Ucapnya.


Aku pun nampak tersenyum.


"Jadi karena itu,Kevin pulang mas ?" Tanyaku lembut.


Mas Aldo langsung menganggukkan kepala.


"Ya sudah kita tidur saja mas,takutnya besok kesiangan." Ucapku.


"Iya ay." Ucapnya lagi.


Saat ingin memejamkan m***, sayup-sayup terdengar suara kak Devi men*****.


"Pelan-pelan Kodir." Ucapnya.


"Iya komkom." Ucap suaminya mbak Devi.


Mendengar hal itu aku merasa aneh. Sedangkan mas Aldo nampak terpejam.


Aku pun ikut terpejam juga. Namun baru ingin terpejam, tangan mas Aldo menyentuhku.


Aku lalu memegang tangannya dengan halus. Sedangkan di kamar sebelah masih terdengar suara mbak Devi dan suaminya olahraga.


Membuat mas Aldo tidak bisa tidur.


"Kenapa mas ?" Tanyaku.


"Shht." Ucapnya.


Lalu memelukku. Aku pun membalas pelukannya. Seraya terpejam.


Paginya kami pun terbangun,lalu mandi dan solat malam. Selesai itu, kami keluar bersama menuju ke dapur.


"Mas,hari ini sarapan apa ?" Tanyaku.


"Bebas ay." Ucapnya seraya memelukku.

__ADS_1


Aku pun membuka kulkas,namun zonk. Hanya ada air putih. Katanya ada acara,kok enggak belanja ? Tanyaku lirih.


Namun masih mampu di dengar mas Aldo.


"Karena kita akan pulang ke kampung sayang." Ucapnya.


"Pulang ke kampung halaman kita mas ?" Tanyaku antusias.


"Iya." Ucapnya.


Aku lalu memeluknya.


"Makasih mas,pas banget aku rindu kampung halaman." Ucapku.


"Iya ay." Ucapnya.


Anak-anak sudah bangun,mereka langsung ke masjid. Sedangkan yang lain, hanya sholat di rumah.


Berbeda dengan kak Devi,dia kini pindah keyakinan sama yang dianut suaminya. Kami pun tidak ada yang berani bertanya,karena itu sudah kepercayaan masing-masing.


Ingin menegur,namun aku ini siapa. Aku cuma orang lain. Nanti yang ada malah jadi musuhan. Belum lagi Mas Aldo pernah memberiku pesan, jangan suka mencampuri urusan orang. Apalagi ipar. Membuatku memilih diam.


Karena aku sendiri sudah banyak dosa. Pikirku.


Tepat selesai sholat dan anak-anak pulang dari masjid, kami pun berangkat. Ardi menemani Kevin,sedangkan Icha ikut serta sama kak Devi.


Ya anak kak Devi baru 1, dan juga cewek. Dia sudah besar, sudah SMK. Namun sangat sayang sama Icha. Itulah mengapa Icha tambah lengket dengan Mayang.


Sebelum melanjutkan perjalanan, kami pun berdoa dan setelah selesai barulah kami naik mobil masing-masing.


Sebelum naik, kak Devi pun bertanya padaku.


"Ta,nanti kalau tidak kuat bilang ya." Ucapnya.


"Iya kak." Ucapku.


"Gung, nyetirnya pelan-pelan. Ingat istrimu baru hamil." Ucap kak Randra(Kakak kandung mas Aldo.)


"Iya." Jawabnya.


Tanpa terasa sudah sampai di pertengahan jalan,kami pun berhenti lagi. Mencari makan siang.


Mas Aldo menatapku, kasian kamu ay, sedari tadi muntah-muntah. Ucapnya dalam hati.


Mas Aldo lalu membuang bekas muntahanku ke bak sampah. Dan membopongku.


Mereka yang melihat pun bertanya.


"Astagfirullah". Ucap mereka semua.


Anak-anakku langsung mendekati aku. Dan membangunkan aku.


"Ibu kenapa yah ?" Tanya mereka.


"Tidak apa-apa sayang." Ucapnya.


Sedangkan kak Devi,langsung memberiku minyak dan membangunkan aku.


"Ta minum dulu." Ucapnya.


Aku pun nampak masih bingung, namun aku lalu menuruti ucapannya.


Kami pun makan bersama di restoran. Sebelum makan,mas Aldo mengelus dan mencium perutku.


Syukurlah Gung,kamu mendapatkan cinta pertamamu. Maafkan kakakmu ini yang dulu menentang keras kamu menjalin hubungan dengannya. Ucapnya dalam hati.


Selesai makan,kami pun melanjutkan perjalanan. Tak lupa kak Devi mencium perutku juga.


Spontan aku terkejut.


"Jangan takut,aku hanya mendoakan calon keponakanku."


Ucapnya tulus.


"Maaf kak,bukan takut tapi terkejut." Ucapku.


"Oh." Ucapnya yang sudah masuk dalam mobil.


Aku pun mulai masuk juga,mas Aldo menatapku dan menggenggam tanganku.


"Sebentar lagi kita sampai." Ucapnya.


"Iya mas." Ucapku lembut.


"Mas boleh tanya enggak ?" Tanyaku.


"Boleh sayang." Ucapnya.


"Sejak kapan nama kakak ipar diganti komkom dan Kodir ?" Tanyaku lirih.


Mendengar hal itu mas Aldo tertawa renyah, namun aku berdecak kesal.


"Maaf sayang,habis pertanyaanmu lucu. Sebenarnya itu nama paraban aja ay,mereka jarang memanggil sayang seperti kita. Ucapnya.


Mereka lebih suka,memanggil kaya kemarin. Kakakku suka dengan lakon Kodir,makanya kak Devi memanggilnya Kodir." Ucapnya.


"Kalau komkom mas ?" Tanyaku.


"Komkom itu,diambil dari kata kompor. Kak Devi selalu lupa mematikan kompor,kalau lagi asik mengobrol. Makanya, kak Randra memanggilnya komkom. Untuk mengingatkan." Ucapnya.


Aku hanya menggelengkan kepala seraya berkata.


"Keluarga unik." Ucapku seraya tertawa.


Melihatku tertawa,mas Aldo pun ikut tertawa juga.


"Mas kalau Kevin ?" Tanyaku.


"Kevin itu,sebenarnya mau menikah sayang. Namun, tunangan malah di bunuh seseorang. Itulah kenapa dia sampai sekarang belum mau menjalin hubungan." Ucapnya.


"Kasian ya mas." Ucapku.


"Iya,makanya sama kak Randra suruh pulang." Ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepala. Dan saat mobil mas Aldo berhenti, aku lalu menarik tengkuknya dan melihat luka di pipinya.


Tak ingin membuang kesempatan emas,mas Aldo lalu men**** b****ku lama.


"Ish,cari kesempatan dalam kesempitan." Ucapku.


"Enggak apa-apa." Ucapnya.


"Manis sayang." Ucapnya lagi.


"Apanya cinta ?" Tanyaku menggoda.


"Milikmu. Boleh minta lagi ? Tanya mas Aldo.


"Ish, nanti saja. Ucapku.


"Asiap cantik." Ucapnya.

__ADS_1


Tak terasa sudah sampai di rumah mertua.


__ADS_2