
"Kamu kemana sih mas." Ucapku lirih.
"Aku disini ay." Ucapnya seraya menghampiri aku.
..."Kamu dari mana mas ?" Tanyaku....
Mas Aldo tidak menjawab, namun dia memberiku kotak kecil.
" Ini kado untukmu sayang." Ucapnya seraya men*iumku.
Ada apa dengannya, kenapa aku di beri kaya gini ? Tanyaku dalam hati.
Melihatku terdiam, mas Aldo lalu menjelaskan. Bahwa ini kado untukku, karena masih mau menerima dirinya. Di usia dia yang tak lagi muda. Mendengar itu, aku terharu ingin rasanya menahan tangisanku. Namun bulir air mataku sudah keluar tanpa ku komando.
"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang. Ucapnya.
"Aku enggak cantik. Kulitku saja enggak seputih dan semulus kamu." Ucapku.
"Shht bersyukur sayang jangan kufur." Ucapnya seraya menghapus air mataku.
...Setelah tangisanku mereda, aku lalu bertanya kepadanya....
"Mas kamu belum jawab pertanyaanku." Ucapku.
"Oh kirain udah lupa hahahaha." Ucapnya seraya tertawa.
"Ish mulai lagi deh." Ucapku cemberut.
"Itu mulut enggak perlu di monyong-monyongin. Kamu itu istriku bukan istri ikan koki." Ucapnya.
^^^*Mendengar itu aku pun melempar kadonya di depan dia, dan beranjak pergi. Sementara mas Aldo terdiam sejenak, karena melihat expresiku begitu.^^^
...Dia pun menghembuskan nafasnya pelan seraya istiqfar*. Mungkin aku sudah keterlaluan becandanya. Ucapnya. lalu menyusulku....
*Sementara aku pindah ke kamar khusus pembantu, yang untuk saat ini masih kosong. Karena sejak Asih pergi, mas Aldo memutuskan sementara waktu tidak memakai jasa pembabtu. Karena masih takut dengan salah pilih pembantu.
Aku memandangi langit kamar seraya berkata dalam hati*. Hamba lelah TUHAN. Tanpa terasa bulir-bulir air mataku jatuh. Dan aku tertidur di sana, dengan tanpa selimut.
Sementara mas Aldo nampak berhenti, melihatku tertidur di kamar belakang. Dia lalu menghampiri aku dan membopongku pindah ke kamar.
"Sakit TUHAN." Ucapku mengigau.
__ADS_1
Maaf ay, aku salah. Ucapnya.
Sesampai di kamar mas Aldo menurunkan tubuhku. Lalu tidur di sampingku.
Maaf ay, aku janji aku enggak akan ulangi lagi ditambah lagi juga kondisimu yang sedang hamil. Ucapnya lirih.
Tepat jam 12 malam aku terbangun, perutku terasa lapar. Mungkin karena sedari tadi siang tidak makan. Aku lalu menatap ke arah samping, nampak mas Aldo memunggungi aku.
Kapan aku pindah di sini ?" Tanyaku dalam hati.
...*Tak ingin mengganggu tidurnya, aku lalu pesan lewat online. Bersyukur di kehamilanku yang ke 4, calon debayku tidak rewel....
Aku lalu menunggu di luar, mungkin karena malam minggu rumah sebelah masih ramai. Hingga suara tawa mereka terdengar nyaring.
Tak berselang lama pesananku datang, Aku pun langsung menghampirinya dan tak lupa juga memberinya uang tip.
Selesai itu, aku langsung beranjak masuk. Namun langkahku terhenti saat ada orang yang memanggilku*.
"Tunggu." Ucapnya.
*Aku masih melanjutkan jalanku, takut kalau-kalau terjadi sesuatu. Karena mas Aldo selalu berpesan, jangan kamu tanggapi bila kamu tidak kenal. Aku hanya menurutinya.
Tanpa ku tahu, dia naik di pagar rumah kami. Aku yang hampir sampai di kamar, langsung ditarik oleh pria itu*.
^^^*Aku pun mencoba melawan, namun kalah tenaga. Tak putus asa, aku menekan alarm darurat tepat di jam tangannya mas Aldo.^^^
Mendengar itu, mas Aldo terbangun dan mengernyitkan keningnya. Sementara aku sudah di bawa menjauh dari sana*.
"Ayo buka pintunya dan kamu ikut aku." Ucapnya.
"Enggak." Ucapku keras.
Sedangkan mas Aldo yang mendengar teriakanku dari luar langsung menyusulku. Namun dengan langkah hati-hati.
Bia*ab, dia berani nyakitin istriku. ucapnya dalam hati. Tak ingin gegabah mas Aldo mencari kayu untuk memukulnya. Setelah mendapatkan, dia langsung memukul tepat di kepala pria itu dengan keras.
"Au, pekiknya". Membuat tetangga sekitar terbangun dan keluar.
"Kenapa pak ?" Tanya salah satu warga.
"Ini pak, ada yang melompat pagar rumah kami. Lalu dia menyiksa istri saya." Ucapnya penuh emosi.
__ADS_1
"Sabar pak, biar ini di urus pihak berwajib." Ucap mereka.
^^^..."Gimana saya bisa sabar, istri saya di tambah dan di seret paksa olehnya. Ucap suamiku. ...^^^
^^^"Ya pak, kami tahu. sekarang tenanglah." Ucap pak ustad.^^^
...Setelah tenang, mas Aldo pun bermusyawarah dengan keluarga pria tersebut. Mas Aldo memaafkan dan membiarkan dia pulang, namun jika kembali di ulangi lagi sudah tak ada kata maaf lagi....
^^^Selesai dengan damai, mas Aldo langsung menemui ku. ^^^
"Ay tenanglah." Ucapnya menenangkan.
Aku hanya meneteskan air mataku, masih terasa sakit cengkeraman di tangannya. Apalagi perutnya terasa nyeri, akibat ditarik paksa. Semoga kamu baik-baik saja nak di dalam perut ibu. Ucapku dalam hati.
Melihat tanganku lebam, mas Aldo langsung mengambil kotak p3k. Lalu mengoleskan luka lebamku. Setelah selesai, dia menaikkan bajuku ke atas, dia lalu memberi krim yang aman untuk bayi. Karena Rasti selalu mengatakan, jangan memberi apapun di perut ibu hamil kecuali minyak kayu putih. Dan bila memakai cream, harus sesuai petunjuk dokter.
"Mas perutku sakit." Ucapku lirih dan serak akibat nangis.
Mendengar keluhanku gegas mas Aldo telfon Rasti. Mas Aldo menceritakan kronologi dengan jujur, mendengar penjelasan suamiku Rasti menyarankan untuk membawaku kerumahnya. Mas Aldo mengiyakan, selesai telfon, mas Aldo meminta Kevin kerumah kami.
Tak selang lama Kevin tiba, dan membantu mas Aldo. Setelah itu, barulah Kevin menutup pintu.
Sesampai di rumah Rasti, aku pun langsung di periksa. Lalu di usg, saat di usg raut wajah Rasti nampak sedih. Melihat demikian Aldo bertanya
"Gimana Ras ?" Tanyanya.
"Maaf Gung, ini harus langsung di kuret." Ucapnya menahan tangis.
Bagai petir di siang bolong, mendengar kabar itu kami terisak menangis. Mas Aldo berubah tegar,dia memelukku dan mengcup keningku. Lalu menguatkan aku.
Begitu juga dengan Rasti. Selesai berbicara,aku langsung di kuret dan tak lama kuret pun berjalan dengan lancar.
Pagi harinya anak-anak di antar sekolah oleh Kevin. Selesai mengantar Kevin langsung kembali pulang untuk siap-siap kerja.
Sementara Boni yang mendapat kabar duka dari bosnya, dia langsung menuju tempatku dirawat dan mengucapkan bela sungkawa kepada kami*.
"Bos turut berduka cita atas meninggalnya debay." Ucapnya tulus.
"Iya makasih Bon,sementara kantor kamu dulu ya yang menghandle." Ucapnya.
"Iya bos." Ucapnya singkat.
__ADS_1
Tak lama kedua kakak iparku dan adik iparku datang.