Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 43


__ADS_3

"Aku pengen sama kamu hingga ke jannah." Ucapnya lagi.


Aku pun terdiam, TUHAN, terima kasih KAU hadirkan dia dalam hidup hamba, namun jika hamba tidak bisa menemaninya berilah dia semangat untuk menjalani hidup. Ucapku dalam hati.


Melihatku terdiam, dia lalu bertanya.


"Kenapa diam, apa kamu tidak ingin kita bersama sampai jannah ?" Tanyanya.


Mendengar ucapannya aku langsung menatapnya, dan berkata.


"Aku mau, tapi tidak sekarang, anak-anak butuh kamu mas. Bila aku tidak memiliki umur panjang, setidaknya ada kamu yang mendoakan aku dan menjaga anak-anak kita." Ucapku.


Suamiku terdiam,menatap netraku dan menggenggam tanganku. Lalu berkata.


"Aku tidak bisa. Maaf, cintaku padamu terlalu dalam. Aku harus menunggu selama 14 tahun baru bisa menjadikan kamu seorang istri. Kini setelah terjadi, ALLAH memisahkan lagi. Enggak aku enggak bisa, bawa aku bersamamu." Ucapnya penuh penekanan.


Deg...


Haruskah aku bahagia atau bersedih TUHAN ? Tanyaku dalam hati.


Hening, aku terdiam tanpa bisa menjawabnya. Begitupun dengan suamiku,dia terdiam sembari memelukku dan matanya mulai terpejam.


Tak berselang lama, terdengar suara dengkuran halus dari suamiku. Hingga membuat aku menggelengkan kepala dan tersenyum.


Hari pun telah berganti, kini aku sudah pulang dengan di bopong suamiku.


"Mas aku bisa jalan sendiri." Ucapku lirih.


"Shht harus nurut sama suami, tidak boleh membantah." Ucapnya.


Aku pun lebih memilih untuk mengalah, setibanya di ruang makan, aku lalu di suapi oleh mereka bertiga. Tubuhku yang makin hari makin kurus, rambutku yang sudah mulai botak karena efek kemo dan tubuhku yang semakin melemah. Tidak membuat mereka jijik dan meninggalkan aku, puji syukur selalu ku panjatkan kepada ALLAH SWT.


Karena aku masih di kelilingi keluarga yang sayang kepadaku.


Selesai sarapan, anak-anak pamit ke sekolah. Sementara mas Aldo membawaku keluar sejenak. Agar aku tidak bosan,dia membawaku ke kantornya.


Sesampai di kantor, aku menahannya dan berkata lembut.


"Apa kamu tidak malu, punya istri seperti aku ?" Tanyaku.


"Enggak. Aku enggak peduli apa kata orang,karena yang menjalani rumah tangga denganmu itu aku bukan mereka." Ucapnya lalu membopongku.


Sepanjang perjalanan, banyak yang salut dengan suamiku,namun ada juga yang julid. Sementara Felix menatap aku dengan tajam seraya tersenyum devil.


Rasakan itu karma buat kamu Gung, udah dapat istri enggak jelas kini dia penyakitan." Ucapnya lirih.


Namun masih bisa kami dengar, mas Aldo menghentikan langkahnya.


"Kamu keruanganku sekarang !" Titahnya penuh penekanan.


"Baik." Ucapnya.


Saat berada di lift,aku melihat mas Aldo menatap wajah Felix dengan tajam. Sementara Felix nampak tertunduk,merutuki mulutnya yang keceplosan omong tak pantas.


Tak ingin terjadi perdebatan, tanganku menarik tengkuk suamiku, dia lalu mengalihkan pandangannya pada diriku.


"Kenapa ay ?" Tanyanya lembut.


"Hehe capek mas suami." Ucapku seraya tertawa.


"Sabar bentar lagi sampai." Ucapnya.


Aku langsung menaruh kepalaku lagi di dadanya.


Sesampai di kantor, mas Aldo lalu menidurkan aku di sofa. Dan izin kepadaku,namun aku selalu memberinya nasehat.


"Jangan keras-keras, kasian dia nanti akan malu." Ucapku.


"Iya istriku." Ucapnya seraya berlalu.


Sepeninggalnya suamiku, aku lalu membaca alquran kembali. Baru satu lembar ku baca, hidungku sudah mimisan lagi. Cepat-cepat aku ambil sapu tanganku, beruntung mas Aldo tidak melihat ataupun hanya sekedar melirik.


Alhamdulillah dia tidak lihat. Ucapku dalam hati. Selesai membersihkan dar*h di hidungku, aku lalu meminum air putih dan vitamin.


Tak lupa juga menyimpan sapu tanganku di dalam tas, lalu istirahat sejenak.


TUHAN, jika ini hari terakhir hamba, kuatkan hati suamiku dan kedua anakku. Ucapku dalam hati.


Tanpa ku tahu setelah kepergian Felix di ruangan suamiku, suamiku melihatku lewat cctv yang sudah tersambung di gawai dan laptopnya.


Dia langsung memejamkan matanya dan menyebut asma ALLAH. Haruskah aku kehilangannya ?" Tanyanya lirih.


Selesai melihat rekaman, dia lalu ke kamar pribadinya dan mengaktifkan tombol kedap suara. Mas Aldo berteriak di sana, dengan penuh deraian air mata.


Sementara di sini aku yang bangun, nampak gelisah tak mendapati mas Aldo di mejanya. Kemana dia ? Tanyaku dalam hati. Aku lalu mencoba untuk berdiri, namun kakiku terasa lemas. Akhirnya aku memilih ngesot, bagai suster ngesot.


Entah kenapa feelingku mengatakan, suamiku ada di kamarnya. Sambil mengatur nafas, aku melafaskan doa. Sesampai di pintu kamar, rupanya kesabaranku masih di uji, ku coba buka pintu, namun tanganku tak sampai.


Tapi aku terus berusaha, namun masih juga belum bisa. Keringat deras bercucuran, bahkan ac yang dingin pun tak mampu membuat keringatku kering.


Saat akan sampai menggapai gagang pintu, tiba-tiba ada orang masuk. Spontan aku menolehnya, Fina Ucapku lirih.


"Hei perempuan bawa sial dan penyakitan, ngapain lo disini ?" Tanyanya.


Aku menghembuskan nafas panjang dan pelan seraya mengulangi lagi, membuka pintu. Alhamdulillah bisa, beruntung gerakanku lebih cepat dari Fina. Namun saat tengah akan masuk, kakiku di injak olehnya.


Awh teriakku kencang, mendengar teriakanku, mas Aldo langsung bangkit dari tempat tidur, sementara Kevin yang tak sengaja mampir, langsung menampar Fina dengan brutal.


Mas Aldo langsung mengangkat tubuhku dan membawaku masuk ke kamar, dia lalu mengganti bajuku dan mengobati luka kakiku yang sengaja diinjak Fina.


"Maafin aku ay." Ucapnya lembut.

__ADS_1


"Iya mas." Ucapku.


"Mas, aku lapar." Ucapku tiba-tiba.


Mendengar hal itu mas Aldo tersenyum, bentar ya aku pesenin makanan." Ucapnya.


Dia memesan makanan lewat online, sementara aku menggenggam lengannya suamiku. Selesai memesan, dia tersenyum dan mengelus pelan kepalaku.


"Sayang, besok sudah harus kemo lagi, bangunin aku ya." Ucapnya.


"Iya mas." Ucapku.


Tak berselang lama kurir pengantar makanan pun datang, dan sudah menunggu di lantai bawah.


"Tunggu di sini ya, aku mau ke lantai bawah dulu." Ucapnya seraya melerai genggaman tanganku.


"Jangan lama-lama ya by." Ucapku lirih.


"Iya istriku." Ucapnya.


Sementara di ruangannya masih ada 4 orang disana, namun mas Aldo nampak cuek dan menganggukan kepala ke arah Kevin.


Menyadari anggukan dari kakaknya, Kevin langsung berdiri dan membawa paksa Fina.


Fina pun hanya menurut, sementara dua temannya hanya mengekori Kevin.


Sesampai di lantai bawah, mas Aldo langsung membayar dan memberi uang tip untuk kurir. Kurir pun nampak senang, dan mendoakan yang terbaik untuk kami sekeluarga. Dan di aamiini mas Aldo. Setelah selesai, mas Aldo lalu naik ke atas lagi. Dan masuk kamar.


"Ini istriku pesanan buat kamu." Ucapnya seraya tersenyum.


"Makasih hubby." Ucapku tertawa renyah.


"Sama-sama." Ucapnya.


"Auw sakit." Ucapku seraya memegang p*haku.


"Sini ay, biar aku suapin." Ucapnya.


"Maaf by." Ucapku lagi.


"Shht, jangan gitu." Ucapnya.


Akhirnya kami makan bersama, mas Aldo bernafas lega melihat aku sudah nafsu makan lagi.


Selesai makan dan minum, kami sholat berjamaah bersama dan mengaji bersama. Selesai itu, mas Aldo izin keluar sebentar, namun aku mencegahnya dan ingin ikut saja.


"Aku kerja lagi ya." Ucapnya.


"Tunggu aku ikut. Aku bosen di kamar terus." Ucapku.


"Ya sudah ayo." Ucapnya seraya membopongku lagi.


Mas Aldo pun tertawa juga, sesampai di kursi kerjanya dia lalu menurunkan aku dengan hati-hati.


Namun saat berada di kursi, pa*aku lagi-lagi terasa sakit. Saking sakitnya aku tak bisa menahan tangis. Langsung mas Aldo mengangkatku lagi, dan membuka lukaku lagi.


"Mas sakit." Ucapku.


"Iya sayang, tunggu sebentar ya. Aku ambil obat dulu." Ucapnya.


"Jangan lama-lama." Ucapku lagi.


"Iya." Ucapnya.


Sesampai di kamar, dia lalu segera mengobati lukaku. Aku menangis menahan sakit, melihatku menangis mas Aldo langsung menenangkan aku.


Tak berselang lama, aku tertidur di sofa lagi. Melihatku tertidur, dia lalu membuka gamis yang ku pakai dan lalu memfotonya. Selesai ambil gambar, mas Aldo langsung mengirimkan ke Rasti.


Dan Alhamdulillah langsung di buka, melihat itu Rasti tidak membalas pesan. Dia lalu langsung ke kantor suamiku.


Selesai mengirim gambar, mas Aldo langsung meminta Kevin melepas sepatu Fina. Kevin pun hanya menurut, dan langsung menyerahkan sepatu itu kepada pihak berwajib.


Tak berselang lama Rasti sudah sampai dan langsung naik ke atas. Sesampai di ruangan mas Aldo, tanpa banyak tanya, dia langsung memeriksa lukaku.


Lalu memberiku suntikan lagi dan obat lagi.


"Gung, jaga dia. dia sudah lemah, jangan sampai kamu lengah." Ucapnya lalu berlalu.


Saat keluar ruangan, dia berpapasan dengan Boni.


"Hai Ras ?" Tanyanya.


"Hai juga." Ucapnya seraya menghapus air matanya.


"Kamu kenapa ?" Tanya Boni kepo.


"Enggak apa-apa." Ucapnya seraya berlalu.


Sepeninggal Rasti, mas Aldo langsung membawaku pulang, namun baru akan beranjak berdiri ada tamu yang datang.


"Assalamualaikum." Ucapnya.


"Waalaikumsalam." Ucap suamiku.


"Brow, gimana ?" Tanyanya langsung tu the poin.


"Alhamdulillah baik." Ucap suamiku pelan.


"Maaf pak, itu-. Ucap perempuan itu.


"Ya dia istriku." Ucapnya tegas.

__ADS_1


Ya tamu mas Aldo adalah Dion dan Asih. Dion yang sudah lost contak dengan suamiku, nampak bertanya-tanya.


"Maaf brow, istri kamu kenapa ?" Tanyanya.


"Sakit kanker otak stadium akhir." Ucap suamiku paraw.


"Innalillahi." Ucap mereka bersama.


Mas Aldo terisak lagi, namun saat aku terbangun buru-buru dia menghapus air matanya.


Sementara Dion memandang sahabatnya tampak ikut sedih. Begitupun Asih, karena niat mereka ke kantor mas Aldo ingin minta maaf dan mau datang ke acara pernikahan mereka.


Namun, melihat Agung begitu mereka mengurungkan niatnya memberikan undangan pernikahan.


"Ay, sudah bangun sayang ?" Tanyanya.


"Iya mas, maaf tadi aku ketiduran." Ucapku.


"Iya enggak apa-apa." Ucapnya.


"Mas ada tamu ?" Tanyaku lirih.


"Iya mbak, sudah tidur saja. Enggak apa-apa kok." Ucap Dion.


Melihatku kesusahan bangun, mas Aldo cepat-cepat membantuku. Namun aku menolaknya, aku ingin usaha juga. Mas Aldo mengiyakan.


"Bismillah." Ucapku lirih.


Deg.


...Ya ALLAH,kakiku terasa ringan. Ucapku dalam hati. Aku lalu mencoba berdiri, sementara mas Aldo menjagaku dari depan. ...


"Alhamdulillah Hirobbil Allaamiin mas kakiku bisa jalan." Ucapku senang.


"Yang benar sayang ?" Tanyanya.


"Iya." Ucapku seraya berlari, seperti anak kecil yang menang lomba.


Sementara mas Aldo bimbang, antara takut atau senang. Dia lalu mengirimkan gambarku lagi kepada Rasti.


...Sedangkan Dion dan Asih meneteskan air mata, namun dengan segera Dion menghapusnya begitu juga dengan Asih. ...


"Wah selamat ya non. Moga sehat lagi. Aamiin." Ucapnya tulus.


"Aamiin Sih, makasihya doanya." Ucapku tulus.


"Sama-sama non." Ucapnya.


"Sayang sudah, nanti kamu capek." Ucap suamiku.


"Hehe ya maaf." Ucapku seraya mengangkat dua jariku ke atas.


"Ya sudah sekarang ayo kita duduk." Ajaknya.


"Ayo. Eits, gendong." Ucapku dengan manja.


"Ya sudah yuk." Ucapnya.


Sementara Dion dan Asih tersenyum melihat kami.


"Oya ada perlu apa ni, kalian tiba-tiba datang kesini tanpa beri kami kabar." Ucap suamiku.


"Ehem,sebelumnya kedatangan saya kesini ingin minta maaf kepada pak Aldo dan istri bapak." Ucapnya.


Mendengar itu kami saling pandang dan sedetik kemudian kami tersenyum lebar.


"Kami sekeluarga sudah memaafkan kamu kok Sih." Ucapku tulus.


Dan diangguki oleh suamiku.


"Alhamdulillah makasih ya tuan dan nyonya." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku.


"Dan kamu Dion ?" Tanya suamiku.


"Aku mau memberikan undangan ini buat kalian, bulan depan aku akan menikah." Ucapnya.


Deg...


Raut wajah mas Aldo nampak berubah, sebulan ? Sementara istriku dah di vonis, tinggal 2 minggu lagi." Ucapnya dalam hati.


"Kok diam ?" Tanyanya tiba-tiba, membuat Dion penasaran.


Aku yang tahu, kegelisahan mas Aldo langsung minta maaf. Dan menjawab.


"Hehe, maaf ya kak, lagi banyak deadline jadi tidak fokus." Ucapku.


"Oh begitu ya mbak." Ucapnya seraya tertawa.


"Ya sudah kami pulang dulu ya Gung dan mbak." Ucap Dion.


"Ya hati-hati." Ucap kami.


Sepeninggal mereka,mas Aldo tersenyum menatapku. Dan langsung berlalu, karena tak ingin melihatku khawatir.


Dia langsung keluar dari ruangannya, dia langsung ke ruangan Boni. Menangis sejadi-jadinya, sementara Boni menenangkan sang bos.


Tiba-tiba gawai mas Aldo berdering.


("Halo Ras." Ucapnya.)

__ADS_1


__ADS_2