Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 36


__ADS_3

"Ya ALLAH ay, badanmu dingin banget." Ucapnya.


"Iya mas,makanya aku deketin kamu." Ucapku seraya menahan dingin.


Setengah jam sudah berlalu,suhu badanku telah normal lagi. Aku bisa tertidur setelah mas Aldo peluk. Syukurlah sudah tidak sedingin tadi. Ucapnya lirih.


Pagi harinya selesai mandi,solat dan sarapan, kami bergegas ke pengadilan. Sesampai di sana, mas Aldo mengajakku untuk turun.


"Ay ayo turun." Ucapnya.


"Enggak mas, aku nunggu di sini saja." Ucapku lembut.


"Ya sudah, aku nunggu di sini juga." Ucapnya.


"Nanti di cariin ?" Tanyaku.


"Dia bisa memberi kabar di hpku." Ucapnya.


Mendengar itu, aku hanya diam.


"Mas,apa setiap teman yang minta bantuan kepadamu, kamu kasih nomer hape kamu? " Tanyaku lirih.


"Ya enggak ay, kalau semua nanti yang ada aku keganggu." Ucapnya.


Hening, setelah pembicaraan tadi ruangan terasa hening. Aku menyandarkan tubuhku di kursi mobil, sementara mas Aldo nampak tertidur di sana.


Tak berselang lama, nampak ada perempuan yang memperhatikan mobil mas Aldo lalu menghampiri ke sini.


Tok...tok..tok..


"Gung,aku sudah datang. Ngapain kamu di mobil ?" Tanyanya.


Aku lalu membuka jendela mobil seraya tersenyum tulus.


"Maaf anda siapa ?" Tanyaku ramah.


"Minggir, gue mantannya Agung." Ucapnya.


Aku hanya tersenyum tipis dan menutup kaca jendela mobil lagi.


"Maaf mbak, aku tutup dulu dan aku bangunin dulu mas Aldo." Ucapku ramah.


"Dia tidur ?" Tanyanya.


Namun enggan aku jawab. Aku lalu pindah ke belakang, membangunkan mas Aldo.


"Hubby di luar sudah ada mantanmu." Ucapku.


Mas Aldo nampak mengerjabkan mata,seraya mengusap wajahnya pelan. Lalu tersenyum kepadaku.


"Sudah di tunggu tu." Ucapku.


"Ayo." Ajaknya.

__ADS_1


Aku pun menurut. Dan kami keluar bersama.


"Hai Gung,aku dapat nomer terakhir enggak apa-apa ?" Tanyanya.


Mas Aldo enggan menjawab,namun dia malah menunggu di meja tunggu sembari menunggu panggilan gilirannya.


"Mas temanmu bertanya tuh." Ucapku.


"Biarin saja ay." Ucapnya


"Ish enggak boleh gitu mas." Ucapku.


"Gung." Panggilnya.


Sementara yang di panggil nampak cuek dan tiduran di pah*ku.


"Mas aku lapar." Ucapku.


"Ya sudah yuk, cari makan dulu." Ucapnya.


"Tapi Gung, aku bentar lagi-." Ucapnya terhenti karena mas Aldo langsung menjawab.


"Istriku sedang hamil, dan kami mau cari makan dulu." Ucapnya.


"Ck, ngapain dianter segala sih. Kan bisa cari sendiri." Ucapnya.


Mendengar hal itu, aku memilih pergi lebih dulu. Karena tak ingin jadi tontonan orang,dan tidak juga mode laperku hilang karena sikap teman mas Aldo. Bukan karena takut, tapi enggak mau membuat mas Aldo makin pusing. Walau sebenarnya aku berhak segalanya karena dia adalah suamiku.


Namun tanganku berhasil di genggam mas Aldo. Dia lalu menarik tanganku, dan memelukku.


Mendengar itu, aku langsung meterai pelukannya. Dan menjawab.


"Ini bukan salahmu mas, membantu orang boleh saja. Tapi jangan juga dengan perempuan, hargai aku mas sebagai pasanganmu." Ucapku penuh penekanan.


"Iya ay maaf." Ucapnya.


"Ya sudah aku cari makan dulu ya. Lagi pengen bakso dan es kelapa." Ucapku.


"Aku ikut. Tunggu di mobil ya." Ucapnya.


Aku lalu berlalu,sementara banyak yang orang yang menghujat. Namun aku tetap melangkah, tanpa memperdulikan caci makinya.


"Bel, maaf cari orang lain saja. Aku sudah enggak bisa,karena kamu menghina istriku." Ucapnya.


"Gung, lebih cantik aku,kenapa kamu memilih dia ?" Tanyanya.


Namun mas Aldo langsung melangkah pergi. Sialan, sudah sampai di sini malah di tinggal pergi. Tapi aku masih punya nomernya, kapanpun aku butuh akan ku hubungi. Ucapnya dalam hati.


Tak berselang lama kami pun sudah sampai di warung bakso langganan mas Aldo.


"Pak bakso 2 sama es kelapa 2 juga ya." Ucapnya.


"Rebes." Ucap bapak itu.

__ADS_1


Sambil menunggu, mas Aldo melihatku tak bersemangat. Dia lalu menghembuskan nafasnya pelan lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Spontan aku langsung menatapnya, dan tangan kiriku mengelus rambutnya pelan.


Tanpa sadar pesanan kami sudah datang, hanya mas Aldo yang mengucapkan terima kasih. Sementara aku hanya diam, lalu memberinya tambahan kecap, saus dan sambal.


15 menit, kami sudah selesai makan. Dan setelah selesai makan, aku lalu masuk mobil lebih dulu. Bahkan genggaman tangan mas Aldo, langsung ku tepis begitu saja. Membuat ia dan yang melihat mengernyitkan keningnya.


Warung yang tadinya nampak sepi, kini rame karena ada yang langsung menertawakan mas Aldo.


"Haha, sudah tahu buat onar, masih saja di jadikan istri. Kalau aku sudah ogah,mending di buang di sungai." Ucapnya lantang.


Mendengar hal itu, mas Aldo langsung mendekatinya lalu menyiram air di wajahnya.


"Maksudnya apa ini ?" Tanyanya keras.


"Itu akibat mulut kamu hina perempuan aku." Ucap suamiku yang langsung berlalu.


Sesampai di mobil, mas Aldo langsung menyalakan mobil dan membawanya dengan cepat.


Melihat dia membawa mobil dengan kecepatan tinggi, aku lalu memejamkan mata dan berdoa. Entah kemana mas Aldo membawaku, tak berselang lama mobil pun berhenti.


Dia turun dan membuka pintu, lalu melepas sabuk pengamanku dan membopongku. Aku terdiam tanpa bersuara, dan hanya menurut. Dia lalu menyuruhku menutup pintu mobil. Aku masih menurut.


Dia lalu membuka pintu mobil belakang, dan mendudukkan aku di sana. Selesai itu, dia langsung memelukku dan membuka hijabku.


Aku hanya diam,dan menundukkan muka. Karena aku tahu, aku salah dengannya atas kejadian tadi.


Selesai melepas hijab,mas Aldo menatapku.


"Aku salah karena tidak memberi tahukanmu tentang teman yang meminta tolong itu perempuan, aku juga salah karena aku mau membantu mantanku. Dan aku juga salah, karena aku membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Aku minta maaf." Ucapnya.


"Aku sudah maafin kamu." Ucapku datar.


Melihatku demikian,mas Aldo langsung menc*um perutku.


"Makasih ay." Ucapnya.


"Hmm." Ucapku.


"Kita pulang saja, kasihan anak-anak. " Ucapku.


Mendengar hal itu mas Aldo langsung menarik tubuhku, dan men*ium b*birku pelan. Hingga pertukaran keringat terjadi.


Mobil yang sempit, tidak menghalangi mas Aldo meminta haknya. Hingga sekitar jam 11 siang, kami baru selesai.


"Makasih sayang." Ucapnya.


"Iya." Ucapku seraya memakai baju dan jilbabku.


Berbeda dengan mas Aldo,dia masih p*los dan tanpa ditutupi apapun. Setelah selesai aku lalu memunguti baju mas Aldo dan memakaikannya.


Melihatku demikian, mas Aldo tersenyum. Kamu memang tidak secantik mereka, dan tak sebaik orang pada umumnya. Namun doaku selalu untukmu.


Bahkan banyak orang menilaiku bodoh, namun lagi-lagi setiap sholat doaku selalu menyebut namamu. Semoga sampai jannah, kita selalu bersama. Aamiin." Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Selesai memakaikan dia baju, aku lalu merapikan rambutnya dan membersihkan keringatnya dengan tisu basah.


__ADS_2