
"Lho Vin,kamu mau kemana ?" Tanya mas Aldo.
"Aku mau pulang." Ucapnya paraw.
Mendengar suara adik-adiknya, kak Randra masuk. Lalu memeluk sang adik.
"Vin,kakak enggak mau saudara kandung kakak mencintai milik saudaranya." Ucapnya.
Yang sudah tahu,sebab Kevin ingin pergi.
"Iya kak,maaf aku sudah salah." Ucapnya.
Bagai petir menyambar di tengah malam, mendengar penuturan sang adik mas Aldo lalu memeluknya. Dan memaafkannya sang adik.
Sementara aku, selesai mengaji langsung tidur. Dengan masih menggunakan mukena seraya duduk dan dengan kepala menyender di tempat tidur.
kembali ke mereka bertiga. Mas Aldo mencegah Kevin pergi,dia tak mau warga makin menguliti kesalahanku. Sebaiknya bertahan dulu sampai 3 hari. Ucap suamiku dan disetujui mereka.
Kevin dan yang lain akhirnya memutuskan rehat.
Sesampai di kamar,mas Aldo terkejut melihatku tidur di bawah. Gegas mas Aldo melepas mukenaku dan merebahkan tubuhku ke kasur.
Dia lalu menyusulku tidur kembali, berharap esok pagi lebih baik daripada sekarang.
Tepat jam 2 malam, aku terbangun kembali karena terdengar suara orang menangis. Aku lalu turun dari tempat tidur dengan hati-hati. Dan mencari sumber suara itu, aku melangkah ke kamar anak-anak. Namun nihil,saat menutup pintu kamar,terdengar suara kakak iparku.
"Kenapa Ta ?" Tanyanya.
"Aku mendengar orang nangis mbak. Ku kira anak-anak ternyata bukan." Ucapku jujur.
"Iya aku juga mendengarnya." Ucapnya.
"Jangan-jangan Kevin. Ucap dia seraya menarik tanganku ke lantai atas.
"Mbak,aku takut mas Aldo salah paham." Ucapku.
"Ish kamu ini, aku juga takut makanya mengajak kamu. Ucapnya seraya tersenyum.
Beruntung kamu Gung,mendapatkannya. Ucapnya dalam hati.
Sesampai di kamar,nampak Kevin menangis dengan tertutup selimut tebal.
Kami pun masuk bersama. Namun saat ingin mendekati Kevin,aku memberikan jaketku ke mbak Devi.
"Mbak maaf, pakai ini dulu". ucapku seraya memberikan jaketku kepadanya.
"Oh so sweet banget sih adik ipar." Ucapnya lalu menutupi tubuhnya tang kelihatan itu dengan jaketku.
"Kevin." Panggilnya seraya masih menggenggam tanganku. Sementara aku,sudah berfikir macam-macam. Jantungku sudah dag dig dug ser, takut kalau mas Aldo akan terluka.
Mendengar itu Kevin langsung menatap kami.
"Ka-kakak ipar,kalian kenapa kesini ? Tanya Kevin.
Seraya menatapku sendu. Melihat itu, aku langsung menundukkan muka.
__ADS_1
"Ish kau ini, nangis malam-malam membuat kami khawatir." Ucap kakak ipar menggerutu kesal.
Sementara di bawah mas Aldo kembali terbangun dan mencariku. Kemana dia ? Apa iya dia melakukan itu ?" Tanyanya.
Namun langsung dia tepis, enggak aku enggak boleh berburuk sangka padanya. Dan dia langsung naik ke atas.
Kembali Kevin pun menjelaskan bahwa dia rindu tunangannya. Spontan mbak Devi langsung memeluknya. Sedangkan aku hanya tersenyum melihat keakrapan mereka. Tanpa ku tahu, Kevin mencuri pandang aku.
Mereka akhirnya melerai pelukan dan mbak Devi memberi nasehat.
"Ikhlasin Vin." Ucapnya.
"Carilah yang lain,dunia ini tak selebar daun kelor. Masih banyak perempuan yang lebih darinya." Ucap kakak ipar panjang lebar.
"Aku sudah menemukan kak,sayangnya dia sudah menikah." Ucapnya seraya melirikku.
"Ya cari lagi lah. Jangan cari penyakit." Ucapnya lalu beranjak berdiri.
"Kak temeni aku dulu." Ucap Kevin.
"Bisa dihajar aku sama kakakmu." Ucap mbak Devi langsung to the poin.
Membuat Kevin tertawa renyah.
"Sudah cepetan tidur." Ucapnya lalu pergi bersama aku.
Sepeninggal kami,Kevin nampak tersenyum. Melihatmu senyum saja,air m***ku langsung berhenti. Gumamnya.
Sesampai di luar, aku terkejut melihat mas Aldo duduk di sofa dekat pintu kamar Kevin.
Aku lalu menyusul dan menjelaskannya,sementara mbak Devi masih menatapku dengan seksama.
"Shht, aku ngantuk." Ucapnya seraya berlalu.
Tak mau berlarut-larut,aku lalu menyusulnya.
"Mas aku mohon." Ucapku.
Dia lalu memeluk tubuhku,dan tersenyum kepadaku.
"Aku memaafkanmu." Ucapnya.
Mendengar itu,aku lalu memeluknya dan mengucapkan terima kasih.
Dia hanya menganggukkan kepala.
Sementara kak Devi, senyum-senyum sendiri. Melihatku seperti tadi.
Kembali di kamar kami. Aku masih menggenggam tangan mas Aldo, yang tetap memakai cincin pernikahan kami.
"Ay, aku mau tanya boleh enggak ?" Tanyanya.
"Boleh mas."Ucapku.
"Ay,kalau seumpama adikku mencintaimu,apa yang akan kamu lakukan ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Aku akan menjauhinya." Ucapku jujur.
"Kalau dia merayumu ?" Tanyanya lagi.
"Aku akan melaporkan itu kepadamu. Kesetiaanku itu mahal mas, dan hanya orang-orang tertentu yang bisa menjaganya." Ucapku seraya mengelus pipinya.
Dia nampak tersenyum lega,mendengar ucapanku.
"Kenapa senyum-senyum ?" Tanyaku.
"Enggak apa-apa." Ucapnya.
Lalu men*ium b*bi*ku lama.
"Aku pengen ay." Ucapnya."
Kami pun langsung melakukan ritual hingga azan subuh. Selesai ritual, kami mandi dan sholat serta ngaji bersama.
Nampak anak-anak sudah selesai melakukan tugasnya. Dan kami pun kini makan bersama. Saat kedatangan Kevin, aku langsung menundukkan muka. Mas Aldo lalu menggenggam tanganku,dan tersenyum.
"Jangan takut,biasa aja." Ucapnya lirih.
"Aku takut kamu salah paham,karena kemarin malam aku memintamu-. Ucapku terhenti.
"Aku tahu,sudah ya jangan di bahas lagi. Bersikap biasa saja,agar anak-anak tidak curiga." Ucapnya.
Aku hanya mengangguk pelan. Sementara kak Randra,nampak tersenyum tipis. Benar kata Agung, dia berbeda. Meski masalalunya buruk, namun mampu menjaga diri. Pantas Kevin menaruh rasa padanya,karena mendiang tunangannya memiliki sifat sepertinya. Ucapnya dalam hati.
Dita maafin mbak,yang dulu pernah melarang kalian menikah,kini mbak tahu kenapa Agung bisa nekat begitu. Karena ketulusanmu dan rasa hormatmu kepadanya. Andai waktu bisa berputar. Ucap kak Devi dalam hati.
Sementara Kevin menatapku dengan tersenyum tipis. TUHAN, ampuni hamba, karena menaruh rasa kepadanya. Kepada wanita yang sudah menjadi kakak ipar hamba. Ucapnya dalam hati.
"Ini kapan kita makannya ? Ucap putri kakak ipar. Yang langsung membuyarkan lamunan mereka.
"Aataga naga, maaf sayang." Ucap kak Devi latah.
"Kevin ayo makan." Panggil mas Aldo.
Sedangkan demi menutupi agar mereka tidak curiga, aku menyiapkan makanan untuknya.
Kevin nampak tersenyum lebar.
"Ini Fin." Ucapku.
"Makasih kak." Ucapnya.
"Sama-sama." Ucapku lagi.
Tak berselang lama,kami pun selesai makan. Aku dan kak Devi saling bagi tugas. Aku yang menyimpan lauk di almari beserta mengelap meja, sedangkan kak Devi yang mencuci piring.
Sementara anak-anak bermain dengan riang gembira. Melihat itu, aku nampak tersenyum lega. Icha kembali ceria.
Setelah selesai aku lalu menyusul mas Aldo di lantai atas. Namun sebelum itu, aku izin dulu dengan kakak iparku.
"Mbak,aku susul mas Aldo dulu ya." Ucapku.
__ADS_1
"Ya Ta. Hati-hati." Ucapnya.
"Iya kak.