Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 45


__ADS_3

"Kenapa ay ?" Tanya suamiku.


"Meriah ya mas." Ucapku mengalihkan pertanyaannya.


"Kamu pengen ?" Tanyanya.


"Enggak." Ucapku dengan cepat.


"Jujur aja." Ucapnya.


"Aku sudah jujur, buat apa pesta mewah kalau ujungnya cerai ? Enggak ada gunanya. Lebih baik sederhana, namun menua bersama." Ucapku seraya tersenyum.


Mas Aldo hanya tersenyum. TUHAN, terima kasih hajat hamba engkau kabulkan. Ucapnya dalam hati.


Tanpa kami tahu, dari arah belakang ada Fina yang juga di undang oleh Dion. Saat tengah berjalan, tiba-tiba Fina mendorong tubuhku dengan sangat keras. Beruntung mas Aldo dan tamu di depannya sigap menolongku.


"Mbak enggak apa-apa ?" Tanya pria muda tersebut.


Aku hanya menggelengkan kepala, sementara mas Aldo langsung mengucapkan terima kasih dan berlalu.


Sementara Fina, melihat kami berlalu merasa marah. Namun dia tak ingin gagal lagi, mendapatkan mas Aldo.


Kembali pada kami, yang masih fokus mencari tempat duduk.


"Ay duduk di sana saja." Ucapnya.


"Ya." Ucapku.


"Sesampai di bangku, suamiku bertanya. Apa masih sakit ?" Tanyanya.


"Sedikit nyeri by." Ucapku jujur.


Mas Aldo langsung mengelus lembut dan berkata lirih.


"Segera sembuh ya punggung, kasian ayangku." Ucapnya.


Mendengar itu aku tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. Dan menaruh tanganku di keningnya.


"Oh pantas." Ucapku.


Mas Aldo nampak heran, dan bertanya.


^^^"Pantes kenapa ?" Tanyanya.^^^


"Kening hubby panas, jadi ngomongnya ngaco." Ucapku seraya tertawa kecil.


"Awas ya, habis ini ku makan kamu." Ucapnya.


^^^...Mendengar hal itu bulu kudukku langsung berdiri. Dan mulai membayangkan itu, tubuhku yang merinding membuat suamiku makin nakal denganku. ...^^^


"Tak perlu di bayangkan, nanti kamu ketag*han." Ucapnya lirih.


......Aku menatapnya penuh rasa bersalah, 2 bulan sudah kami tak melakukan itu. Jadi wajar mas Aldo sudah ingin. ......


"Maaf mas, aku sudah." Ucapku terhenti.


"Shtt, ini bukan salah kamu ay, ini takdir kita." Ucapnya.


"Makasih mas, kamu tidak pernah ngeluh sekalipun aku bikin kamu kesel." Ucapku.


Cup.


"Sudah tugasku ay." Ucapnya seraya menc**m keningku.

__ADS_1


Setelah lama ngobrol, kamu pun menyaksikan iiab qobul Dion. Nampak keras dia mengikrarkan ijab qobulnya dengan sekali nafas. Selesai ijab,datanglah mempelai perempuan.


"Masyaallah cantik banget." Ucapku dengan mata berkaca-kaca.


Melihatku demikian, mas Aldo lalu memelukku dan berbisik.


"Bagi aku lebih cantik kamu ay." Ucapnya.


"Makasih hubby." Ucapku seraya tersenyum ke arahnya.


"Sama-sama." Ucapnya.


Selesai ijab,para tamu di persilakan makan. Kami pun langsung mengambil makanan yang ada di sana. Tak ingin terjadi insiden seperti tadi, mas Aldo memelukku dari belakang. Sementara di depan kami ada Rasti dan di samping kami, ada Nabila.


...Ya tanpa kami tahu, Nabila dan Rasti tahu insiden tadi. Itulah mengapa, mereka bantu kami. Setelah selesai barulah kami kembali duduk di bangku yang kosong,karena yang tadi sudah ada yang memakai....


Selesai makan,mas Aldo menatapku dengan tersenyum. Begitupun dengan Rasti dan Nabila, merasa ada yang aneh aku beranikan untuk bertanya.


"Kenapa, ada apa dengan wajahku ?" Tanyaku.


"Enggak ada apa-apa,kami seneng melihatmu sudah sehat." Ucap mereka bersama.


"Alhamdulillah. Ini juga berkat kalian dan doa kalian." Ucapku.


"Aamiin. Ingat jangan makan mi instan lagi." Ucap Rasti dan Nabila.


"Insyaa ALLAH." Ucapku.


Sementara mas Aldo langsung menatapku dengan tajam.


"Hehe, iya hubby." Ucapku seraya mengangkat kedua tanganku di atas.


Melihatku demikian mereka berdua tertawa senang, namun tidak dengan mas Aldo. Melihat mas Aldo demikian, Rasti dan Nabila langsung kabur. Dan di sini tinggalah kami.


"Hubby maaf ya." Ucapku namun tidak di jawab mas Aldo. Tak mau putus asa, aku berusaha lagi, sampai bisa.


Melihatku begitu, mas Aldo nampak gemas dan tersenyum.


"Iya ay." Sudah ku maafkan." Ucapnya seraya men***m bibir ku.


Dan mengajakku berdiri, untuk menyalami pengantin. Sementara Fina, sedang menikmati senjata makan tuannya tadi. Karena ketahuan koki yang selesai ke toilet, mau menaburkan serbuk berbahaya di piring.


Koki tersebut langsung menyeretnya keluar, dan menyerahkan kepada pihak keamanan. Namun saat akan melangkah, koki itu menahan pihak keamanan meminta Fina di dudukkan di kursi. Dan diikat.


"Jaga dia." Ucapnya dengan berlari mau mengambil makanan yang sudah terkena serbuk tadi.


"Ya." Jawab sang penjaga keamanan pesta.


Tak butuh waktu lama, Koki itu sampai dan langsung menyuapi Fina dengan di bantu pihak keamanan. Setelah berhasil masuk, koki itu langsung menutup mulut Fina dengan lakban.


"Aku ingin tahu, reaksi serbuk ini." Ucap koki itu.


"Iya sama aku juga ingin tahu." Ucap pihak keamanan pesta.


Sementara Fina nampak berdecak kesal, karena usahanya mempermalukan aku sia-sia.


Dan kini malah dirinyalah yang jadi malu. Sedetik kemudian, wajahnya memerah dan keringatnya bercucuran. Tak hanya itu saja, kakinya mulai tidak bisa bergerak. Dan tak lama kemudian, dia pingsan.


Hmm, jadi itu reaksinya.Ucapnya lalu meninggalkan ruangan dan langsung membungkus sisa makanan tadi. Untuk di serahkan kepada pihak keluarga pengantin.


Tak lama ibunya Dion datang ke arah koki, dia mau tanya apa masih ada untuk sampai besok ? Namun dijawab tidak. Saat akan kembali, koki itu memanggil dan menceritakan kejadian yang terjadi.


"Makasih pak, anda bekerja sangat bagus." Ucapnya.

__ADS_1


"Sama-sama ibu." Ucap sang koki.


Sementara sang penjaga masih menunggu Fina yang belum sadar. Entah pura-pura belum sadar atau sudah sadar, bagi penjaga itu hanya di tugaskan untuk menjaganya.


Beliau juga enggan merubah posisi Fina, karena kakinya terasa kaku akibat reaksi serbuk tadi.


Kembali ke pesta, kini giliran kami yang berfoto. Sebab, sedari tadi sudah banyak yang ramai berfoto. Kami pun akhirnya memilih belakangan.


Tiba waktunya giliran kami, nampak keluarga besar Dion tersenyum kepada mas Aldo. Yang berjalan di belakang aku, seraya memeluk pinggangku. Sementara aku tertunduk malu dan takut.


Malu karena masalaluku banyak yang tahu, dan takut tidak di terima. Sesampai di hadapan pengantin, kami pun bersalaman. Dan sesampai di depan ibunya Dion, aku menundukkan muka. Namun,tanganku langsung di genggam ibunya Dion.


..."Jangan takut, semua orang masih berhak memiliki kesempatan." Ucapnya seraya memelukku. ...


Melihat hal itu,mereka tersenyum dan terharu. Kami pun melerai pelukan dan aku mendekati ke ayahnya Dion.


"Sudah nak, jangan nangis lagi. Simpan air matamu untuk meminta ampunan pada ALLAH." Ucapnya seraya memelukku juga.


"Makasih pak." Ucapku.


"Gung, jaga dia dan bimbing dia." Saran ibu Dion.


"Iya tan." Ucapnya.


Selesai berfoto, kami pun pamit. Tapi sebelum pulang, mas Aldo membawaku ke tempat faforitnya. Di taman yang ada sungainya yang jernih.


Sesampai di sana, aku lalu keluar dan melihat pemandangan yang indah.


...^^^"Kaya negri dongeng, ternyata versi nyata juga ada to. Kirain hanya ada versi dongeng." Ucapku seraya bersyukur akan keindahan alam ini. ^^^...


"Memang ada ay, makanya aku ajak kamu kesini." Ucapnya seraya memelukku dari belakang lagi.


Aku pun memejamkan mata,seraya menikmati udara segar yang belum terkontaminasi dengan asap udara.


Mas Aldo nampak tersenyum seraya memandang air sungai yang jernih.


**TUHAN izinkan kami menua bersama, dan meninggal secara bersamaan. Aamiin. Ucapnya dalam hati.


Hamba bahagia, hidup dengannya ya ALLAH. Semoga perhatian dan kesetiaan titipanmu bukan sekedar hanya sesaat, namun hingga sampai kami engkau panggil. Aamiin. Doaku dalam hati**.


"By, aku ngantuk." Ucapku membuyarkan lamunan kami.


"Ya sudah yuk." Ucapnya lalu menggendong aku.


"By, turunin." Ucapku.


"Biarkan begini ay, hari ini aku ingin mengajakmu bermalam di sini." Ucapnya.


"By, anak-anak gimana ?" Tanyaku.


"Justru ini dari ide mereka. Dan pas aku tanya, tentang yang menjaga mereka enggak ada ? Mereka malah jawab, ada ALLAH dan om Kevin." Ucapnya jujur.


"Tapi kasian Kevin mas." Ucapku.


"Ya sudah kita pulang saja." Ucapnya sedikit kecewa.


^^^...Mendengar jawabannya, aku langsung pindah tempat dan duduk di pangkuannya. Lalu menaruh tanganku di lehernya. ...^^^


Mas Aldo terdiam, dan menyalakan mobilnya. Aku memejamkan mata, karena aku tahu suamiku kecewa.


"Maafin aku by." Ucapku seraya menangis.


Mendengar aku terisak, dia lalu memelukku dan berkata.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Jangan nangis lagi ya." Ucapnya seraya mengelap pipi dan hidungku yang basah.


"Ya." Ucapku.


__ADS_2