
("Ya Gung, lebih pasti kamu bawa istrimu kesini saja. Mumpung ada temanku disini." Ucapnya.)
("Ok." Ucap suamiku.)
Sambungan telfon sudah terputus, dia lalu masuk ke ruangannya lagi. Lalu membawaku ke RS.
"Mau kemana mas ?" Tanyaku.
"Ikut saja." Ucapnya.
...Sesampai di RS, mas Aldo turun terlebih dahulu. Sementara aku terdiam dan menyipitkan mata, RS tempat Rasti, jadi ini mas Aldo ninggalin aku sendiri tadi ? Tanyaku dalam hati....
Lamunanku buyar ketika pintu mobil di dekatku terbuka. Spontan aku menolehnya, dia tersenyum tipis kepadaku.
"Ayo." Ajaknya.
"Kemana ?" Tanyaku.
"Masuk." Ucapnya.
"Enggak,aku takut." Ucapku.
"Ada aku." Ucapnya.
"Ayo." Ajaknya lagi.
Aku menatap RS, yang belum lama tempati, rasa sakit di tubuhku masih terasa, apa iya aku akan di rawat lagi ? Tanyaku dalam hati.
Melihatku terdiam, mas Aldo langsung gercep gendong aku. Reflek aku memukul bahunya keras, terlihat dia meringis menahan sakit.
"Maaf aku reflek." Ucapku.
"Iya istriku. Maafin aku juga." Ucapnya seraya berjalan menuju ruangan Rasti.
Dag dig dug ser jantungku, karena semakin mendekati ruangan Rasti. Tak hanya itu saja, bayangan rasa sakit di tangan masih terasa. Kini harus berulang lagi, semakin dekat jantungku makin berpacu cepat dan aku mengalihkannya dengan memejamkan mata. Seraya istighfar sesampai di ruangannya, aku masih memejamkan mata dan tanganku masih memeluk tengkuk suamiku erat.
Teman Rasti dan Rasti pun nampak heran, karena wajahku berkeringat dan tegang. Menyadari aku sedang menahan takut, tiba-tiba ada tangan yang mengusap keringatku pelan seraya berkata.
"Aku akan di sini, bersamamu ay." Ucapnya.
Aku lalu membuka mata, dan melepas tanganku yang masih di lehernya.
"Jangan takut, ada aku. Dan jika kamu merasa sakit, kamu boleh menggigit tanganku ini." Ucapnya menenangkan hatiku.
Dia lalu duduk di sampingku, sementara mereka yang melihat kami nampak tersenyum. Tak ingin berlama-lama, Rasti pun memperkenalkan sahabatnya kepada kami.
"Ehem, maaf ganggu acara romantikanya." Ucapnya seraya tertawa.
Spontan kami menoleh ke arahnya, aku langsung menundukkan muka, sementara mas Aldo cuek bebek.
"Gung, kenalin dia temanku kuliah dulu. Dia bernama Hari, dia dokter khusus kanker. Mulai sekarang kamu bisa langsung bertanya dengannya." Ucapnya.
__ADS_1
"Ya." Jawab suamiku.
"Ya sudah, aku tinggal dulu ya." Ucapnya seraya berlalu.
Kami bertiga hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Sepeninggal Rasti, dokter itu bertanya dan langsung di ceritakan semuanya oleh mas Aldo. Termasuk yang baru saja aku alami. Dokter itu hanya menganggukan kepala serta memeriksa aku.
Tak hanya itu saja, aku juga menjalani city scan dan rontgen ulang. Setelah selesai, sang dokter nampak tersenyum.
Namun untuk memastikan lagi, dokter itu pun memeriksa kakiku. Selesai di periksa, kami langsung pindah tempat.
"Selamat ya buat kalian." Ucapnya.
Kami yang mendengar itu,nampak bingung. "Selamat untuk apa ? Aneh". Ucap suamiku.
Aku lalu menggenggam tangannya. Dia menatapku dan membalas genggaman tanganku.
"Selamat, karena selama aku mengurus pasien yang mengidap sama seperti istrimu. Baru kali ini, ALLAH menunjukkan keajaiban untuk kita." Ucapnya.
"Maksudnya ?" Tanya suamiku.
Hari menghembuskan nafasnya pelan, lalu menjelaskan. "Kamu 2 minggu yang lalu di vonis kanker stadium akhir kan ?" Tanyanya.
"Iya." Ucapku.
"Hidup kamu hanya tinggal sebulan ?" Tanyanya lagi.
"Tadi sewaktu city scan dan rontgen, tidak aku temukan sel kanker ataupun sakit yang kamu derita selama ini." Ucapnya.
"Jangan ngarang cerita." Ucap suamiku marah.
"Baiklah, aku panggil Rasti jika kamu enggak percaya." Ucapnya seraya berlalu.
Sepeninggalnya Dokter Hari, aku lalu menasihatinya. Dan bukannya itu yang dia inginkan ? Pikirku.
"By, jangan gitulah, nanti tampannya hilang lho." Ucapku seraya mengangkat kedua alisku.
"Bukannya gitu ay, aku takut ini-. ucapnya terhenti karena aku potong.
"Aku tahu, cintaku." Ucapku seraya memeluknya.
...20 menit berlalu, Rasti dan dokter Hari sudah datang. Rasti lalu melihat semuanya. Namun karena bukan keahliannya, dia membawa Nabila. Saudara kembarnya, Nabila adalah adik dari Rasti. Dia melanjutkan pendidikan di Belanda, bersama Rion. Sepupu mereka, namun karena sudah lulus dia disuruh kembali ke Indonesia. ...
Beruntung bagi kami bisa mengenal dua dokter sekaligus.
"Aduh maaf ya, nunggu lama. Habisnya nunggu Bila dulu." Ucapnya.
"Iya enggak apa-apa." Ucapku seraya tersenyum.
Sementara mas Aldo nampak diam, karena kedatangan Nabila.
__ADS_1
Setelah di jelaskan secara detail, barulah mas Aldo paham dan meminta maaf kepada dokter Hari.
"Maaf tadi sempat marah sama kamu." Ucapnya.
"Iya no problem." Ucapnya.
...^^^Selesai memeriksa, kami langsung pulang. Mas Aldo nampak tersenyum lebar dan berkaca-kaca. **Trimakasih TUHAN, untuk keajaiban hari ini. Panjangkanlah umurnya, biarkan kami bersama hingga tua. Aamiin. Doa suamiku dalam hati. ^^^...
Sungguh indah dan besar kuasamu Ya ALLAH Ya Rohman ya Rohim. Ini yang ketiga kalinya ENGKAU memberiku mukjizat. Terima kasih ya ALLAH. Ucapku penuh syukur**.
Sesampai di rumah, mas Aldo langsung menggendong tubuhku dan langsung mengajak ibadah bersama. Rasa syukur yang tak putus-putus kami panjatkan. Selesai sholat dan mengaji. Dia izin ingin tidur, aku pun mempersilakannya.
Sementara aku mulai aktivitas lagi dan selesai aktivitas, aku lalu mandi. Tak lupa juga membangunkan mas Aldo.
Hari pun berganti,bulan pun juga berganti. Aku yang dulu tampak kurus, kini sudah berisi dan bahagia. Mas Aldo yang dulu sempat aku benci, dan aku miliki walau sesaat. Dan kini kembali kepadaku lagi. Dengan cinta yang tulus,dan janji yang bisa tepati, menyayangi putriku juga dan sabar saat aibku dibicarakan banyak orang.
"Ay, sudah siap belum ?" Tanyanya dari teras depan rumah.
"Sudah by." Ucapku seraya melangkah pelan.
Spontan suamiku menatapku,dia tersenyum dan mematung di sana. Sementara anak-anak enggak ada yang mau ikut, terpaksa titip ke Kevin.
"Cantik." Ucapnya lirih.
"Ayo by." Ucapku seraya masuk mobil.
...Namun di tahan oleh mas Aldo, Kevin masih beresin mobil." Ucapnya lalu memeluk pinggangku. Setengah jam berlalu, akhirnya Kevin selesai dan dia pun keluar dengan keringat bercucuran. ...
^^^"Sudah kak." Ucapnya seraya mengelap keringatnya. ^^^
"Ok makasih ya Vin." Ucap suamiku.
"Ya." Ucapnya seraya melirik ke arahku.
Mas Aldo yang tahu itu langsung memintaku masuk duluan, sadar akan salahnya Kevin lalu melangkah masuk. Namun dari luar mas Aldo bilang, nanti ada tamu perempuan kesini." Ucapnya lalu pamit pergi.
Kevin pun hanya mengiyakan. Dan tak lama setelah kami keluar, terdengar bel pintu berbunyi.
"Iya sabar." Ucapnya seraya memakai baju asal.
"Assalamualaikum." Sapa perempuan itu.
"Waalaikumsalam." Ucapnya.
"Maaf mas, tadi pak Aldo telfon saya, sementara mas Aldo yang menggantikan ketemu kliennya." Ucap perempuan berhijab itu.
"Hais, ya udah. Tunggu sebentar." Ucapnya berlalu, tanpa buka pintu terlebih dulu.
"Ih aneh. enggak kakaknya, enggak adiknya sama saja." Ucap perempuan itu.
Tak lama Kevin sudah keluar, dan langsung meninggalkan rumah kami. Tak lupa juga menghubungi orang kepercayaannya mengganti sementara menjaga dua anak kami.
__ADS_1
Sementara aku dan suamiku, sudah ada di acara pernikahan mereka.