
Pagi harinya, aku terbangun terlebih dulu. Dan beraktivitas lagi, selesai aktifitas, aku lalu mandi dan berhias. Setelah selesai semuanya, aku lalu melihat tv sejenak.
Tepat jam 6 pagi, aku langsung mematikan tv. Dan membangunkan suamiku.
"Mas, bangun." Ucapku.
"Hmm, bentar ay aku pusing banget." Ucapnya.
Mendengar itu aku lalu memeriksanya. Alhamdulillah tidak panas. Ucapku lirih.
"Ya sudah, aku keluar sebentar ya." Ucapku.
"Jangan, temani aku disini." Ucapnya.
"Baiklah." Ucapku.
"Ay, dingin." Ucapnya.
Mendengar itu aku lalu memberikan dia selimut dan memeluknya serta mengelus pelan punggungnya.
"Ay." Ucapnya.
"Hmm." Ucapku.
"Terima kasih." Ucapnya.
"Sama-sama mas." Ucapku.
"Temani aku disini." Ucapnya.
"Ok." Ucapku.
Setengah jam kemudian, terdengar dengkuran halus mas Aldo. Aku tersenyum dan beranjak perlahan, lalu menggosok seluruh tubuhnya dengan minyak. Setelah selesai, aku lalu keluar kamar dan melakukan aktifitas.
Tepat jam 8 pagi, aku sudah selesai. Tak berselang lama, ada tamu datang. Ya mereka Boni dan seorang perempuan.
"Dia siapa Bon ?" Tanya to the poin.
"Maaf, masuklah." Ucapku.
"Iya nona, sebelumnya saya minta maaf nona. Sudah mengganggu aktivitas nona muda." Ucapnya.
"Iya enggak apa-apa kok. Langsung saja." Ucapku.
"Begini nona, sebulan yang lalu bos meminta saya mencarikan asisten rumah tangga, dan alhamdulillah sekarang saya sudah mendapatkan. Sebelum saya bawa kesini, saya sudah konfirmasi kepada bos. Beliau setuju nona. Ucapnya.
Itulah kenapa, saya langsung bawa kesini." Ucapnya panjang lebar.
Mendengar hal itu, aku hanya terdiam seraya memperhatikan. Kenapa mas Aldo enggak izin aku dulu ? Tanyaku dalam hati.
"Gimana nona ?" Tanya Boni yang langsung membuyarkan lamunanku.
"Tunggu bentar ya Bon." Ucapku.
"Ya nona, tapi maaf nona jangan lama-lama. Saya mesti kembali lagi ke kantor." Ucapnya sopan.
"Enggak kok." Ucapku seraya tersenyum.
Sesampai di kamar, aku lihat mas Aldo sudah bangun dan tersenyum kepadaku. Aku hanya diam dan memintanya untuk keluar.
"Ada Boni dan art kamu tu." Ucapku seraya cemberut.
Dia tersenyum tipis dan berlalu. Ya ALLAH, benar-benar ngeselin. Ucapku yang sudah mode kesel. Gimana enggak kesel, ngomong enggak malah langsung datang. Dikasih tahu bukannya minta maaf, malah nylonong keluar. Ucapku lirih.
Sementara mas Aldo langsung menemui mereka.
"Bos." Ucapnya.
"Ya." Jawab suamiku.
"Nona muda marah ya bos ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Enggak, dia hanya kesel saja. Aku enggak konfirmasi dia dulu." Ucapnya seraya tersenyum.
"Oh.Ini bos art anda." Ucap Boni.
Mas Aldo hanya melirik dan menganggukan kepala.
"Bon, dia tidak seperti Asih kan ?" Tanyanya lirih.
"Insyaa ALLAH enggak bos. Soalnya sebelum kerja di sini, dia pernah kerja di tempat Dion." Ucapnya jujur.
Mendengar itu mas Aldo bernafas lega. Semoga saja tetap baik. Ucapnya dalam hati.
Suamiku langsung menjelaskan secara detail kerjaan art tersebut, tapi ada pengecualian. Tidak boleh masuk kamar anak-anak dan kamar pribadinya. Sang Art hanya mengangguk pelan.
"Untuk tidurnya, kamu bersebelahan dengan pak satpam." Ucapnya.
"Baik tuan." Ucapnya.
"Karena sudah bersih, kamu mulai kerjanya besok saja." Ucapnya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu." Ucapnya.
"Ya." Ucap mereka.
"Bos saya juga mau kembali." Ucapnya.
"Ya." Ucapnya.
Sepeninggal mereka berdua, suamiku langsung masuk kamar. Dimana dia ? Tanyanya.
Setelah kejadian tadi, aku memutuskan ke lantai dua, yang jarang di pakai. Ku rebahkan tubuhku di kasur, hingga aku terlelap di sana. Sementara mas Aldo mencariku kemana-mana, hingga akhirnya menemukan aku.
Sayang, kamu rupanya ada di sini ? Tanyanya. Aku mencarimu kemana-mana, tahunya ngumpet di sini. Ucapnya lirih. Dia lalu membopongku, dan memindahkan aku.
Cup.
Cantik. Ucapnya seraya menge**p keningku. Setelah memindahkan aku ke kamar kami, mas Aldo kembali kerja lagi. Seraya melirikku, lalu tersenyum lebar.
Tepat jam 12, aku menggeliat seraya mengerjabkan mata. Dimana aku, kok aku bisa tidur di sini, bukannya tadi aku di atas ? Tanyaku beruntun. Saat terbangun, reflek aku menatap meja ada laptop dan berkas-berkas penting.
"Maaf." Ucapnya seraya menatap aku.
Aku masih terdiam dan melangkah perlahan. Memang sih dia berbuat begini untuk aku, namun aku paling kesel bila tidak ngomong ke aku dulu. Gumamku.
......Melihatku tidak merespon, dan melangkah menjauh. Dia lalu memelukku lagi dari belakang. Dan hanya terdengar suara deru nafas kami. ......
"Maaf." Ucapnya.
"Kamu tahu kan, aku paling tidak suka-." Ucapku terhenti karena dia langsung bersujud di kakiku.
"Hukum aku apa saja, asal jangan pergi dan mendiamkan aku." Ucapnya.
"Aku lalu mensejajarkan posisiku sama dengannya. Jangan ulangi lagi." Ucapku seraya melerai tangannya yang menggenggam kakiku.
"Akan aku usahakan." Ucapnya.
"Aku siapin makanan dulu." Ucapku seraya beranjak berdiri.
"Ya." Ucapnya.
Sepeninggal aku, mas Aldo nampak masih duduk di lantai seraya berkata lirih. Maafin kebodohanku Ta.
Selesai menata, aku lalu mendekatinya.
"Mas, makan dulu." Ucapku lembut.
"Iya ay." Ucapnya.
Saat beranjak berdiri, kami lalu keluar dan makan. Tak berselang lama, mas Aldo sudah selesai dan langsung masuk kamar lagi.
Sedangkan aku langsung membersihkan ruangan. Setelah selesai aku lalu menonton tv. Satu jam kemudian, aku mengupas buah untuk kami. Setelah selesai, aku lalu masuk kamar.
__ADS_1
"Mas, makan buah dulu." Ucapku.
Dia tersenyum menatapku dan menganggukan kepala. Aku pun lalu menyuapinya dengan telaten. Setelah selesai, aku lalu ke dapur lagi. Dan kembali mandi sore. Sementara anak-anak seminggu ke depan mau nginep di rumah kak Devi. Awalnya aku melarang, namun karena itu keinginan Icha aku pun tidak bisa menolaknya. Tanpa terasa sudah dua tahun aku dan mas Aldo menjalani hidup rumah tangga.
Perjalanan yang bukan hanya sebentar, kami lalui bersama dan lika liku hidup sudah kami rasakan. Setelah kelulusan Ardi, baik Ardi dan Icha mereka minta masuk pesantren. Aku yang awalnya menolak pun diyakinkan dengan Icha. Akhirnya aku hanya bisa pasrah.
Aku kini tidak di rumah lagi, tapi diajak kerja oleh mas Aldo. Dan disini aku melakukan tugasku, seperti yang diajarkan oleh mas Aldo.
Aku juga dilatih tidak boleh bawa masalah pribadi saat di kantor, di kantor juga aku harus sama memanggil mas Aldo dengan sebutan pak, bukan seperti di rumah.
Aku di sini menjadi asisten mas Aldo, menggantikan sementara Boni, karena dia kini ada di kantor cabang bersama Kevin.
"Permisi pak." Ucapku.
"Ya." Ucapnya.
"Tolong koreksi lagi dan tanda tangani ini." Ucapku seraya menyerahkan berkasnya.
"Kamu ini bisa kerja enggak ?" Tanyanya.
"Sini kamu." Ucapnya.
Aku lalu mendekatinya dan mengoreksi kesalahanku. Aku lalu membungkukkan badanku,dan membaca ulang lagi. Belum terbaca semua, mas Aldo melirikku dan memintaku untuk lebih dekat.
Aku yang tak merasa curiga, hanya menurut. Dan hidungnya pun berhasil menyentuh pipiku, aku lalu berkata maaf. Padahal itu juga bukan kesalahan aku, namun aku memilih minta maaf dulu. Daripada jadi ramai pikirku.
"Maaf pak." Ucapku.
"Ya." Ucapnya seraya tersenyum tipis.
"Maaf pak, tadi bapak bilang ada yang salah ?" Tanyaku."
"Oh maaf, ini benar." Ucapnya.
"Hmm." Jawabku seraya melangkah mundur dan kembali ke tempat awal.
"Bagus." Ucapnya seraya menyerahkan dokumen itu.
Aku pun langsung pamit, mas Aldo mengiyakan.
Cantik,pintar dan dewasa. Ucapnya.
Sementara aku, langsung tetap kerja. Tiba waktunya jam makan siang tiba, aku lalu berwudhu dan sholat dulu. Selesai sholat, aku lalu ke ruangan mas Aldo.
Aku menyiapkan makan siang untuknya. Dan karena dia sambil kerja, aku pun menyuapinya terlebih dulu. Setelah selesai, barulah aku makan dan membersihkan mejanya.
Aku lalu mengupas buah untuknya, dan menyuapinya. Setelah selesai barulah aku kembali ke meja kerjaku. Mas Aldo nampak tersenyum melihatku demikian.
Tepat jam 2 siang, aku harus menemani mas Aldo bertemu klien. Aku hanya menurut dan tanpa banyak bertanya. Sesampai di mall, kami langsung bertemu sang klien. Aku lalu mencatatnya, dan memberikan kepada mas Aldo.
Alhamdulillah merekapun sepakat dengan kerjasama. Tak lupa kami saling jabat tangan, aku pun hanya membalas dengan mengatupkan kedua tanganku tepat di dadaku.
Sang klien terlihat tersenyum lebar. Dan berbisik di telinga mas Aldo.
"Brow, istrimu pandai menjaga diri." Ucapnya.
"Makasih bapak." Ucapnya seraya tertawa.
Aku hanya terdiam dan enggan menjawab,aku lebih fokus dengan kerjaan. Karena setelah ini, akan ada kerjaan di rumah. Pikirku.
Mas Aldo menatapku dengan intens, namun enggan untuk bertanya. Kenapa aku jadi takut lagi, untuk bertanya denganmu Ta. Kamu terlihat dingin dan jutek. Ucapnya seraya menyetir. Sesampai di kantor, aku langsung turun dan kembali kerja lagi.
Tak terasa jam kantor sudah selesai, aku lalu ke kamar pribadinya mas Aldo. Untuk mandi dan mengganti baju. Setelah selesai, barulah aku berhias dan memakai jilbabku.
Sementara mas Aldo menatapku dengan sendu.
"Kenapa ?" Tanyaku lembut seraya mendekatinya.
"Kamu terlihat dingin dan jutek sama aku." Ucapnya jujur.
"Kemarin pas bawel, kamu bentak, sekarang aku kaya gini kamu ngeluh. Terus aku mesti gimana ?" Tanyaku lembut seraya mengelus lembut lengannya.
__ADS_1
"Maaf ay." Ucapnya seraya memelukku.
"Hmm." Ucapku.