
"Dan semoga hingga ke jannah kita bisa bersama." Ucapnya dengan mata yang memerah.
Melihat demikian, aku memilih keluar dari kamar. Namun lagi-lagi mas Aldo mencegahnya, dia memelukku erat dan terdiam.
......Maafin aku Ta,aku bingung dan kesal ketika mengingat ancamannya. Ucapnya dalam hati. Sementara aku, membalas pelukannya dan mengelus pelan punggungnya. Ya ALLAH berikan kami sekeluarga, kekuatan, ketabahan, kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani hidup ini. Aamiin ya ALLAH Ya Rohman ya Rohim. Doaku dalam hati. ......
"Sabar mas, aku tahu kamu lelah tapi aku mohon jangan seperti tadi. Aku takut melihat expresimu." Ucapku lembut.
Mendengar pengakuan dariku, mas Aldo langsung melerai pelukan kami.
"Maaf ay, aku takut." Ucapnya.
Aku lalu mengajaknya untuk duduk dan menawari dia makan. Alhamdulillah suamiku akhirnya mau. Aku pun lalu izin keluar dan mengambilkan mas Aldo makan.
Melihat aku yang bawa nampan dan masuk ke kamar, anak-anak pun bertanya.
"Bu, ayah sakit ?" Tanya mereka.
"Iya sayang, jangan di ganggu dulu ya." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya buk." Semoga ayah lekas sembuh ya bu." Ucap mereka.
"Aamiin, ya sayang." Ucapku.
Melihat mereka pergi, barulah aku masuk. Aku enggak mau anak-anakku tahu pertengkaran kami tadi. Sesampai di kamar, aku lalu menyuapinya. Selesai makan, dan minum, aku lalu membawa nampan keluar dan mencucinya.
Lalu aku menemui anak-anak, namun ternyata mereka tidak ada di kamar. Aku mencari kemana-mana, namun tetap tidak ada. Aku lalu keluar dan bertanya kepada pak satpam, penjaga rumah kami.
"Permisi pak, lihat anak-anak enggak pak ?" Tanyaku dengan rasa khawatir.
"Iya nona, mereka diajak tuan Kevin jalan nona." Ucapnya jujur.
"Makasih pak." Ucapku.
__ADS_1
"Ya non, sama-sama." Ucapnya.
Setelah tahu keberadaan anak-anak, aku pun merasa tenang, sementara mas Aldo kini sedang membalas email di kantor.
^^^Melihat dirinya sedang fokus, aku lalu mengambil pakaian kotor dikamar mandi. Dan mencucinya, setelah sudah ku sikat baju kotor kami, aku lalu beranjak berdiri dan melangkah keluar. Sesampai di teras belakang, aku lalu menyalakan mesin cuci. Sambil menyikat baju anak-anak, tak terasa air dalam mesin cuci sudah terisi. Gegas aku beri detergen, dan mengumpulkan pakaian kotor kami.^^^
1 jam berlalu, kini tinggal menjemur. Saat menjemur baju, tiba-tiba terdengar seseorang memanggil namaku.
"Dita." Panggilnya keras.
Reflek aku menatapnya, melihat sekeliling rumah. Tidak ada siapapun. Ucapku lirih. Karena tidak aku dapati siapapun, aku lalu masuk.
Sementara yang memanggilku, menatap heran ke arahku. Masa iya, dia tidak melihatku ? Tanyanya dalam hati. Lah ya elah, pantes aja dia enggak liat aku, mukaku tertutup masker hitam gini. Sory ya Dit. Ucapnya lirih seraya berlalu.
Selesai mencuci, aku lalu menyiapkan buah untuk kami. Aku mengupas buah apel untuk mas Aldo. Tak lupa juga, memberi makan malam untuk pak satpam.
"Pak makan dulu, udah waktunya makan malam." Ucapku seraya memberikan piring kepadanya.
"Enggak apa-apa pak, anggap saja rezeki." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya non makasih." Ucapnya.
"Sama-sama pak." Ucapku.
Tanpa ku tahu, mas Aldo menyaksikan interaksi kami, dia tersenyum lebar melihatku yang suka berbagi. Setelah aku berlalu, mas Aldo lalu kembali masuk ke kamar.
..."Mas makan buah dulu." Ucapku seraya memberikan mangkok yang sudah berisi potongan buah kepadanya....
"Bentar sayang nanggung." Ucapnya seraya melirikku.
"Ya sudah sini, hadap sini." Ucapku seraya menatapnya.
Dia hanya menurut dan aku pun langsung menyuapinya. Setelah habis, barulah aku keluar, mencuci mangkok dan garpu tadi.
__ADS_1
Sedangkan mas Aldo tersenyum lebar, ternyata enak kerja di rumah." Ucapnya lirih. Selesai makan dan minum dan juga membersihkan dapur, dan terlihat Kevin sudah datang. Aku lalu menghampiri mereka, rupanya anak-anak sudah tidur. Aku pun bantu menggendong Icha, dan membawanya ke tempat tidur.
Setelah selesai barulah mengucapkan terima kasih kepada Kevin. Kevin hanya menganggukan kepala seraya berlalu. Setelah kepergian Kevin, barulah aku mengunci pintu rumah.
Dan mematikan semua lampu, lalu ke kamar.
"Mas kenapa ?" Tanyaku.
"Enggak apa-apa,makasih ya untuk perhatiannya." Ucapnya seraya menghampiri aku.
"Sama-sama mas." Ucapku.
"Ay." Panggilnya.
"Maukah kau menemaniku kerja ?" Tanyanya.
"Terus anak-anak ?" Tanyaku balik.
"Anak-anak kita pindahkan ke pesantren." Ucapnya.
Mendengar itu aku menghela nafas panjang, dan memberikan penjelasan kepadanya.
"Maaf mas, aku belum bisa menaruh Icha di pesantren." Ucapku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Aku takut dia jadi bahan bullyan." Ucapku jujur.
Mendengar itu, mas Aldo terdiam. Ada benarnya juga. "Ya sudah lain hari saja kita bicarakan ini." Ucapnya.
"Maaf ya mas." Ucapku.
"Iya sayang." Ucapnya.
__ADS_1