Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 40


__ADS_3

"Assalamualaikum." Sapa mereka.


"Waalaikumsalam." Jawab kami bersama.


"Ta, sabar ya. Mungkin ALLAH belum mengizinkan kalian berdua memiliki anak dulu. Pasti ada kebaikan untuk kalian." Ucapnya seraya memelukku.


Mendengar hal itu, aku tersenyum tipis. Dan membalas pelukannya. Sementara mas Aldo menatapku sendu.


Kak Randra dan Kevin mendekati mas Aldo, mereka lalu berpelukan saling menguatkan. Setelah itu mereka melerai pelukan masing-masing,lalu mereka berdua mendekati aku dan memberiku support. Karena masih ada anak-anak yang harus aku rawat.


Aku pun hanya menganggukan kepala. Hingga datanglah Rasti bersama susternya. Rasti langsung mengecek kondisiku. Dan Alhamdulillah semuanya baik, namun dia juga berpesan sementara waktu jangan diajak bepergian dulu.


"Alhamdulillah, kondisimu sudah stabil Ta." Ucapnya seraya tersenyum.


"Alhamdulillah." Ucap kami bersama.


"Tapi sementara waktu, jangan ikut pergi dulu ya. Karena kemarin saat aku kuret, ada banyak darah menempel di dinding rahim. Maaf apa kamu pernah keguguran ?" Tanyanya lembut.


"Pernah." Ucapku seraya menunduk. Melihat itu mas Aldo menggenggam tanganku, aku langsung menatapnya dan tersenyum tipis.


"Untuk sementara, jangan dibuahi dulu ya. Karena kemarin aku sekalian membersihkannya,untuk 1 tahun jangan hamil dulu. Ucapnya.


"Iya." Ucap mas Aldo.


"Hari ini kamu boleh pulang, dan ini ku beri vitamin. Jangan sedih. Sekarang dalam rahim kamu aman, insyaa ALLAH." Ucapnya.


"Makasih" Ucapku.


"Sama-sama." Ucapnya seraya melepas jarum infusku.


"Aku izin ngobrol dulu sama suami kamu ya." Ucapnya.


"Iya." Ucapku.


Sesaat setelah mereka keluar, Kevin menatapku dengan sendu. Kenapa aku merasa ada yang ganjil ? Tanya Kevin dalam hati.


...Tanpa sengaja mbak Devi menatap Kevin tajam. Ish, ini bocah mesti ku carikan kenalan yang mirip seperti Dita. Ucapnya seraya membantuku memasukkan barang. ...


"Kenapa mbak ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa." Ucapnya.


Sementara kak Randra sedari tadi terdiam, menatap Kevin.


"Sudah siap ay." Ucap suamiku.


Spontan kami semua menatap ke arahnya.


"Sudah mas." Ucapku lembut.


*Kami semua pun akhirnya pulang, dalam perjalanan aku merasa ada yang di tutupi oleh mas Aldo.Namun entah apa, karena dirinya sedari tadi hanya diam.


^^^Saat lampu lintas menyala merah, mas Aldo menghentikan mobilnya. Aku lalu menggenggam tangannya, dia langsung menatapku seraya tersenyum. Aku pun membalas senyumnya*. ^^^


"Kenapa ?" Tanyaku.


"Enggak apa-apa ay." Ucapnya. Dengan mata berkaca-kaca.


"Katakanlah." Ucapku.


"Nanti saja ya." Ucapnya.


Aku hanya mengangguk pelan. Ya ALLAH, kuatkan hamba. Jujur hamba bingung ya ALLAH. Ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Tak berselang lama kami sampai rumah. Sesampai di rumah, anak-anak belum pulang. Aku lalu masuk kamar, dan disusul oleh mas Aldo.


"Ay jangan pergi lagi, 14 tahun lamanya aku menunggumu. Kini setelah bersama, akan berpisah. Bawa aku juga ay." Ucapnya.


Deg...


Mas Aldo kenapa jadi seperti begini. Ucapku dalam hati.


"Iya mas kita selalu bersama." Ucapku.


"Makasih ya ay." Ucapnya.


"Sama-sama." Ucapku.


*Setelah berbicara itu, mas Aldo melerai pelukan kami. Dan izin ke ruang kerja dulu. Aku pun mengizinkan.


Setelah mas Aldo pergi, gawaiku berbunyi. Ada pesan masuk di sana, namun urung aku baca. Karena terdengar suara Icha sudah pulang sekolah.


Aku lalu menemuinya dan menaruh gawaiku di saku celanaku*.


"Sayang." Panggilku.


"Ibu." Ucapnya dengan teriak gembira.


"Ibu. Icha kangen tahu." Ucapnya penuh manja.


"Iya sayang. Ibu juga rindu." Ucapku seraya tersenyum.


"Ibu, adek udah lahir ya ?" Tanyanya polos.


Mendengar hal itu, Kevin langsung menggendong putriku. Dan membawanya ke kamar.


"Ish om ini, aku pengen lihat adikku om." Ucapnya.


"Jadi ibuku keguguran lagi om ?"Tanyanya.


"Iya. Udah jangan bahas itu." Ucapnya.


"Ya kan aku enggak tau om." Ucapnya.


"Ya jangan dibahas lagi ya." Ucapnya.


"Enggak om." Ucapnya.


"Shht. Om keluar dulu, aku mau ganti baju. Ucapnya.


"Ganti saja, om enggak bakal ngapa-ngapain kamu." Ucap Kevin.


"Ish om ini aku malu, aku anak cewek om. Kalau cewek dan cowok disatukan dalam 1 kamar, bisa buaya om." Ucapnya seraya bergidik ngeri.


"Enggak apa-apa say,kamu ini masih bocil. Kecuali kalau sudah seusia om. Baru bahaya." Ucap Kevin.


"Ayah, ibu, si om nakal." Ucapnya.


"Waduh bocil malah ngadu. Okelah om keluar." Ucapnya.


"Gitu kek daritadi usil bae." Ucap anakku.


"Hais. Bocil." Ucapnya seraya berlalu.


Sementara mas Aldo yang ada di meja kerjanya,nampak tersenyum lebar melihat kekocakan anak sambungnya dan adiknya. Sedangkan aku langsung istirahat di kamar.


Saat tengah tertidur, tiba-tiba gawaiku berbunyi lagi pas tepat mas Aldo masuk kamar.

__ADS_1


Dia mengernyitkan keningnya saat membuka pesan di gawaiku. Bede*ah dan bia*ap kalian. Ucapnya dalam hati.


Setelah itu dia membawa gawaiku keluar, Kevin yang sedang duduk terkejut melihat sang kakak.


"Kak kenapa?" Tanyanya.


"Kau baca saja." Ucapnya.


*Kevin pun langsung membuka gawaiku dan membaca pesan disana.


("Hai perempuan kotor dan nakal. Aku tahu saat kamu baca ini,kamu sudah di vonis kegugurankan. Itulah akibat dari pelakor. Karma itu." Tulisnya.)


Selesai membaca Kevin langsung membuka pesannya lagi.


("Cuih rasain itu akibatnya tidak memperbolehkan aku bersama Agung. Sudah tahu dia masih mau denganku, pake alasan lapar." Tulis pesan ke 2.)


Lalu Kevin membuka pesan ke 3.


("Haha itulah tulah atau Karma untukmu. Selalu nyakitin banyak orang." Tulisnya.)


Dan terakhir Kevin membaca lagi.


("Rasakan itu,itulah akibatnya mau mendepakku di kantor." Tulisnya.)


Sementara mas Aldo langsung keluar, mengirimkan pesan untuk Boni. Meminta melacak nomer mereka dan memberikan efek jera untuk mereka.


Selesai mengirim pesan,mas Aldo lalu masuk. Sesampai di ruang tamu, mas Aldo langsung duduk di sebelah Kevin*.


"Vin, bisakah kita bicara di mobil." Ucapnya.


"Bisa kak." Ucapnya.


Namun sebelum pergi, suamiku menghubungi kak Devi lebih dulu. Untuk menemani kami di rumah. Kak Devi langsung mengiyakan. Tak berselang lama, kak Devi datang. Sementara mereka berdua langsung pergi.


"Vin, mulai sekarang kantor kakak,kamu yang menghandle." Ucapnya tiba-tiba.


"Maksudnya apa kak ?" Tanyanya.


"Sementara kamu menghandle kantor kakak,nanti kalau Ardi dan Icha sudah dewasa dan bisa menghandle kantor, serahkan pada mereka." Ucapnya.


"Terus kamu mau kemana ?" Tanyanya.


"Aku mau menemani istriku di sisa umurnya." Ucapnya.


"Kak, jangan becanda." Ucapnya.


"Apa aku kelihatan becanda ? Tanya suamiku balik.


"Maaf kak,bukan gitu maksudku. Memang kakak ipar kenapa kak ?" Tanyanya.


"Dita kena kanker stadium akhir." Ucapnya.


*Deg..


Ternyata yang ditakutkan Kevin terjadi. Ya awal berjumpa dengan Dita,Kevin memperhatikan kondisi tubuh Dita tidak begitu baik. Namun karena takut salah prediksi,Kevin mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Kenapa dia bisa tahu,padahal Kevin bukan dokter. Ya karena almarhumah tunangannya memiliki sakit sama. Itulah mengapa Kevin mengatakan suka pada Dita dan keseluruhan yang dimiliki Dita, dimiliki juga oleh tunangannya*.


"Sakit rasanya,seperti sia-sia usahaku selama ini." Ucapnya seraya menangis.


Melihat itu Kevin lalu memeluk sang kakak. Menenangkan hati sang kakak.


"Dulu saat sehat tidak direstui,sekarang setelah ku miliki malah mau pergi." Ucapnya seraya terisak dan berteriak.

__ADS_1


__ADS_2