Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 30


__ADS_3

"Dan juga bukan karena kamu baik atau tidak,tapi hati kecilku ingin membantumu kembali menjadi lebih baik lagi." Ucap mas Aldo.


Aku pun menatap m***nya,mencari apakah ada kebohongan disana,namun nihil.


"Aku juga bukan orang baik,namun aku belajar menjadi baik. Jadi plis jangan pernah mengatakan itu lagi." Ucapnya seraya menangis.


Melihat air m***nya menetes di pipi, aku langsung mengusapnya dengan jemariku seraya men****nya.


Dia pun lalu bangkit,dan langsung membopongku. Lalu mengantarkanku ke kamar,sesampainya di sana aku masih terdiam.


Sedangkan mas Aldo,langsung beranjak untuk mandi. Saat sendiri,teringat ucapan tetangga mas Aldo lagi. Membuat rasa takutku menjadi.


Hingga aku tak sadar,mas Aldo sudah selesai mandi. Dan tanpa sadar juga, pipiku telah basah dengan air m***. Spontan mas Aldo yang masih basah, langsung menatapku di cermin.


Dia pun langsung mengingat kejadian tadi,tak ingin aku dan calon anaknya kenapa-kenapa. Mas Aldo langsung mendekati aku.


Reflek aku terkejut,dan langsung tersenyum kepadanya.


"Mas, sudah selesai ?" Tanyaku.


Dia tidak menjawab,namun dia langsung mengusap air m***ku dan memelukku.


"Ay, kamu kenapa ?" Tanyanya.


"A-aku enggak apa-apa mas." Ucapku dusta.


"Jangan bohong Ay." Ucapnya lagi.


Aku lalu menggenggam tangannya, seraya tersenyum.


"Mas,saat ajalku tiba nanti,tolong doain aku ya mas." Ucapku tulus.


Mendengar itu,mas Aldo lalu berbalik bertanya.


"Apa kamu masih kepikiran ay ?" Tanya mas Aldo


Aku pun menjawab jujur,aku enggak mau berdusta lagi. Dan ini pernikahan ke tigaku,aku selalu berharap semoga sampai ajal menjemput. Aamiin." Ucapku dalam hati.


Mengetahui itu,mas Aldo meng**** keningku.


"Sayang, jangan mikir macem-macem. Soal kematian kita, hanya ALLAH yang tahu. Jangan berasumsi dulu." Ucapnya.


Aku pun langsung bersiap,begitupun dengan mas Aldo.


Selesai semua,kami pun bersiap berangkat.


Tak berselang kami sudah sampai tujuan,aku nampak terdiam.

__ADS_1


Terlihat jelas di sana,wajah orang yang tadi mendoakanku. Lagi-lagi aku menangis mengingat itu semua.


Mas Aldo yang melihatku demikian, langsung menggenggam tanganku seraya berbisik.


"Kamu pasti bisa sayang." Ucapnya.


Mendengar itu, aku langsung beranjak keluar dan disusul mas Aldo.


Saat sedang menutup pintu,tubuhku disenggol seseorang dengan kencang, hingga lututku terasa perih. Beruntung mas Aldo bergerak cepat,dengan menyelamatkan perutku dari benturan.


"Ish ngapain kamu kesini, bikin onar saja." Ucapnya dengan.


"Memangnya kenapa kalau dia kemari ?" Tanya mas Aldo.


"Ada, karena nanti akan terjadi masalah. Dan kamu Gung, udah tahu perempuan ini tidak benar, malah kau jadikan dia istri." Ucapnya.


"Terus apa anda paling benar ?"


Bukan mas Aldo yang menjawab,namun Ardi dan Kevin yang menjawab.


"Aku tidak bilang kalau aku orang yang bener,tapi mana ada perempuan yang berkelakuan dan mengulang salah yang sama seperti itu." Ucapnya.


"Ehem, iya aku akui hanya aku yang begitu. Ucapku. Dan anda memang benar,tidak ada makhluk ciptaan TUHAN di dunia yang selalu mengulangi salah yang sama kecuali aku." Ucapku lagi.


Mendengar itu, mas Aldo menggenggam tanganku.


"Baik, aku akan pergi, namun tidak sekarang tapi setelah selesai mengirim doa untuk almarhumah." Ucapku.


Mendengar jawabanku,ibu itu langsung menarik tanganku. Namun langsung di tepis mas Aldo dan Ardi, sedangkan Kevin langsung memanggil pak Rt.


"Mbak, aku diam bukan karena aku tidak mau bela istriku, namun aku masih menghargai orang yang lebih tua. Tetapi kalau kamu melarang istriku dan menyakitinya, jangan salahkan aku berbuat lebih kejam dari apa yang mbak perbuat kepada istriku." Ucap mas Aldo penuh penekanan.


"Huh,pakai pelet apa kamu,sampai-sampai dia berani berkata begitu ? Tanyanya.


Aku hanya tersenyum getir. Benar kata pepatah,jangan menjelaskan apapun kepada orang yang membencimu. Karena mereka tidak akan percaya itu, dan jangan pula menjelaskan apapun kepada orang yang menyukaimu, karena mereka tidak butuh itu.


"Percuma saya jujur,karena itu semua anda anggap bualan." Ucapku seraya melangkah pergi.


Ardi yang menyaksikan itu tersenyum padaku. Pantas ayah begitu membutuhkanmu bu, karena di balik akhlak burukmu, tersimpan mutiara yang menenangkan hati ayah. Dan dibalik ucapan kasarmu,caci maki orang tiap bertemu kamu,tersimpan air m*** ketulusan yang kamu berikan kepada kami. Ucapnya dalam hati.


Sedangkan Kevin yang menemui dan meminta pak tolong pak Rt, tak membuahkan hasi,karena pak Rt pun menolak.


Kembali ke mas Aldo,Ardi dan aku, kini berjalan perlahan. Sesampainya di rumah, kami mengucapkan salam. Namun hanya segelintir orang yang menjawab salam kami.


"Ta, sini Ta." Panggil kak Devi.


Aku lalu menyusul,namun saat sudah dekat,langkahku di hentikan mas Aldo.

__ADS_1


"Ikut aku saja." Ucapnya lirih. Aku hanya menganggukkan kepala. Sedangkan kak Devi nampak kecewa, karena tahu,tempat yang buat aku sudah di tempati ibu julid tadi.


Sedangkan Dewi yang melihat ibunya cemberut,nampak mengelus lengan sang ibu.


"Sabar mi." Ucapnya lirih.


"Iya. Icha mana Wi ?" Tanyanya.


Dewi langsung membisiki sang mami, nampak jelas kak Devi marah. Lalu bergegas menghampiri putriku.


"Icha,ikut budhe yuk." Ajaknya.


Icha hanya menurut,lalu diajak jalan dengan budenya.


Sedangkan di sini,aku dan mas Aldo serta Ardi, memilih duduk di luar.


"Maafin aku ya mas,nak." Ucapku pada suamiku dan anak sambungku.


"Ibu tidak salah bu, yang salah itu Ardi. Tidak bisa menolong ibu." Ucapnya.


Mendengar itu aku lalu menggenggam tangannya.


Sedangkan mas Aldo, langsung merebahkan kepalanya di pahaku. Seraya men**** perutku yang kini sudah masuk 4 bulan.


Aku lalu mengelus rambutnya dengan pelan. Sedangkan Ardi langsung masuk ke dalam karena bacaan yasiin sudah terdengar.


"Ay, mas minta maaf ya sama kamu, harusnya kita tidak perlu lagi kesini." Ucapnya.


Aku langsung menutup b****nya dengan tanganku.


"Dosa besar mas,kalau kamu tidak serta mendoakan almarhumah." Ucapku.


"Mungkin tahun depan,aku dan Icha tidak usah ikut mas." Ucapku.


Mas Aldo lalu beranjak dan berdiri, lalu membopongku dan pergi dari sana.


"Mas kita mau kemana ?" Tanyaku.


"Di mobil sayang,aku kedinginan." Ucapnya.


Sesampai di mobil,aku hanya duduk sedangkan mas Aldo merebahkan kepalanya di pahaku.


Tanganku lalu mengelus rambutnya pelan,seraya menatap ke depan. Menyesali perbuatan masalalu pun sudah percuma,kini aku hanya menunggu waktu. Ya menunggu waktu pengadilanku.


Meratapi pun sudah tiada guna lagi. Sempat ingin pergi dari rumah,membawa anakku, namun di malam jumat sayup-sayup telingaku mendengar bisikan disuruh membiarkan saja. Apa omongan orang dan keluhan keluargaku.


Beruntung bulan Desember tahun lalu, aku bertemu anaknya mas Aldo. Dan dipertemukan lagi dengan mas Aldo. Tepat bulan Mei kami melangsungkan pernikahan.

__ADS_1


Saat tengah asik melamun,tangan mas Aldo memegang pipiku pelan. Spontan aku menatapnya dan tersenyum kepadanya.


__ADS_2