
"Selesai juga." Ucapku yang kini sedang menikmati pemandangan tanaman bunga di dekat kamar.
Sementara mas Aldo, ada di meja kerjanya dan membalas email yang masuk. Tepat jam 5 sore, aku ke depan ngobrol sama pak satpam. Dan itupun juga dalam pantauan mas Aldo juga.
Sedangkan di luar, banyak anak-anak yang membeli tahu bulat, aku lalu pamit sama pak satpam. Pak satpam pun hanya tersenyum. Aku lalu mengetuk pintu ruang kerja mas Aldo.
Tok..tok..tok.
Masuk.
"Mas, aku izin beli tahu ya." Ucapku.
"Ya." Ucapnya seraya menganggukan kepala.
Mendengar persetujuannya aku langsung lari, dan membeli 20 ribu.
"Ini pak." Ucapku seraya menyerahkan plastik berisi tahu pada pak satpam.
"Selesai membeli, aku ke ruang tv. Dan tepat jam 7 malam. Aku mematikan tv dan menyediakan makan malam.
Mas Aldo belum keluar juga ? Tanyaku dalam hati seraya menatap pintu kerjanya.
Sementara mas Aldo masih asik dengan kerjanya, hingga lupa waktu. Setelah selesai, dia melihatku dari gawainya. Cantik, bagi aku kamu segalanya. jangan bilang itu lagi ay. Karena aku rapuh tanpamu. Ucapnya.
15 menit berlalu, aku masih menatap pintu kerjanya. Hingga sedetik kemudian, knop pintu pun terbuka. Aku lalu berdiri dan menghampiri suamiku.
"Capek ya mas ?" Tanyaku.
"Iya." Ucapnya.
"Ya sudah makan dulu atau istirahat dulu." Ucapku.
"Makan dulu saja, baru istirahat." Ucapnya.
Aku lalu mengambilkan makan untuknya. Dia menatapku dengan mulut tersenyum.
"Kenapa ?" Tanyaku.
"Enggak apa-apa." Ucapnya.
Setelah itu kami lalu makan, selesai makan mas Aldo tidak langsung beranjak pergi. Namun masih duduk di kursinya.
Sementara aku, langsung merapikan meja makan dan mencuci piring. Setelah selesai, aku lalu pergi ke ruang tamu. Kok sampai sekarang anak-anak belum pulang ?" Tanyaku dalam hati.
Mas Aldo yang sudah tahu kecemasan aku, langsung mendekati aku. Dan memelukku dari belakang.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Tumben ya mas, anak-anak belum pulang." Ucapku penuh khawatir.
"Apa macet di jalan ya ?" Tanyaku.
__ADS_1
"Shht, mereka diminta Dewi menemani. Hari ini hari pernikahan orang tuanya, dirumah hanya sama Kevin. Makanya biar enggak terjadi salah paham, dia tadi telfon aku. Aku pun mengizinkan." Ucapnya.
Mendengar itu aku sedikit lega,karena kedua anakku aman. Cuma satu yang aku fikirkan, kenapa semakin lama mereka jarang telfon aku. Gumamku.
"Karena nomer hp kamu tidak aktif lagi ay." Ucapnya.
"Masa sih mas? " Tanyaku.
"Coba saja kamu telfon." Ucapnya seraya memberikan gawainya kepadaku.
"Ya ampun iya mas." Ucapku.
"Makanya lain kali beli pulsa." Ucapnya.
"Daripada beli pulsa mending beli makan." Ucapku seraya tertawa.
"Memang kurang uang bulanannya ?" Tanyanya.
"Alhamdulillah cukup." Ucapku.
"Syukurlah kalau cukup." Ucapnya.
"Dicukup- cukupin mas." Ucapku jujur.
"Iya ay." Ucapnya.
"Ay ke mol yuk." Ucapnya.
"Jalan-jalan." Ucapnya.
"Sudah malam mas, aku sudah capek." Ucapku seraya melerai pelukannya.
Sesampai di kamar, aku lalu membersihkan tempat tidur dan gosok gigi lalu wudhu. Sementara mas Aldo masih duduk di ruang tamu. Kenapa kamu selalu menolak jika aku jalan ? Tanyanya lirih.
Begitupun setiap aku kenalin ke klien dan rekan kerjaku. Apa kamu masih trauma ay ? Tanyanya lirih.
Selesai sholat dan mengaji, aku lalu keluar kamar. Melihat dia duduk di ruang tamu, aku langsung menghampirinya. Dan takzim kepadanya, reflek dia terkejut. Sholat dulu mas, baru istirahat." Ucapku seraya tersenyum.
"Iya." Ucapnya seraya berlalu.
Aku melihat keluar, di luar hujan deras dan pak satpam sudah masuk kamarnya. Namun tanpa sengaja terlihat pak satpam keluar lagi, aku lalu menghampirinya.
"Kenapa pak ?" Tanyaku.
"Nona, nona masuk saja. Saya enggak apa-apa. Cuma tadi lupa,mengambil jaket." Ucapnya jujur.
"Oh begitu." Ucapku seraya masuk.
"Dikunci aja non." Ucapnya.
"Iya pak." Ucapku.
__ADS_1
Aku melangkah ke dapur, ku lihat air panas masih penuh. Aku lalu mencari termos kecil, lalu memasukkan air panas itu ke termos kecil.
Setelah selesai, barulah aku keluar kembali. Namun langkahku terhenti karna tanganku ditarik mas Aldo.
"Buat siapa ?" Tanyanya.
"Buat pak satpam mas." Ucapku jujur.
"Kasian di luar dingin." Ucapku lagi.
Mendengar penjelasanku mas Aldo menganggukan kepala dan memintaku cepat ke kamar. Aku pun menurut.
Sesampai di kamar, aku lihat mas Aldo merentangkan tangannya. Aku lalu mendekati dan membalasnya.
"Makasih ay." Ucapnya.
"Sama-sama by." Ucapku.
"By, pak Bayu sekarang gimana ya ?" Tanyaku.
"Dia ada di kampung." Ucapnya.
"Kenapa enggak kamu ajak kerja by ?" Tanyaku lembut.
"Ay, dia sudah meninggal." Ucapnya.
"Innalillahi Wainnalillahi rojiun." Ucapku seraya menutup mulutku.
Melihatku demikian dia lalu menjelaskan.
Flasback ono.
..."Setelah seminggu bertemu kamu, kami mengalami kecelakaan hebat. Awalnya aku sudah pamit sama bosku, namun mantan istriku dulu menolak aku untuk berhenti kerja di sana. Akhirnya aku menurut. Aku masuk lagi. Dan alhamdulillah pak Niko menerima, namun seminggu lepas kamu pergi. Kami mengalami kecelakaan hebat. Saat motor kami, mau belok ada yang sengaja menabrak kami. Pak Bayu, langsung tewas di tempat. Sementara aku selamat,walau terpental 1 meter. ...
Sebelum meninggal, dia selalu bilang di usia kamu yang kurang lebih 41 tahun, kalian berdua akan bersatu." Ucapnya.
Semenjak itu, perusahaan pak Niko langsung drop dan seminggu kemudian aku sudah pindah kerja lain. Ucapnya.
Flasback Off.
Mendengar itu aku terisak, sementara mas Aldo langsung menenangkan aku.
Cup
Cup.
Cup
"Sudah ay." Ucapnya seraya mengec*p aku.
Setelah tenang, aku tampak tertidur pulas dalam dekapan suamiku. Maafin aku ay, aku baru cerita. Ucapnya lirih.
__ADS_1
Ay, asal kamu tahu, pak Bayu berkata kamu itu nyawaku dan hartaku. Sejauh apapun kamu ninggalin aku, akhirnya kita bersama lagi. Awalnya aku ragu, namun kini aku percaya. Ucapnya seraya menyelimuti tubuhku dan lalu ikut tidur.