Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 56


__ADS_3

"Besok Kevin mau melamar ceweknya ay." Ucapnya.


"Cewek ?" Tanyaku.


"Iya." Ucapnya.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Aneh aja, perasaan enggak pernah dikenalin ke kita tahu-tahu sudah melamar ?" Tanyaku.


"Ya gitulah Kevin." Ucapnya seraya menatapku dalam.


Aku terdiam sambil melihat jalanan yang ramai. Hingga sesampai di tempat, mas Aldo mematikan mesin motornya dan pindah ke belakang seraya membopongku.


"Mas." Ucapku.


"Hmm." Ucapnya.


"Kita ngapain pindah di belakang ?" Tanyaku.


"Aku butuh kamu di sini, kalau di depan kita enggak bisa kaya gini." Ucapnya seraya memelukku.


"Hubby, hatiku sakit." Ucapku dengan menangis.


"Menangislah ay, biar hatimu lega." Ucapnya seraya menidurkan tubuhku dan diikuti olehnya.


Cup


"Menangislah di sini dan di sajadah." Ucapnya seraya menc**mku. Tepat jam 9 aku tertidur, sementara mas Aldo menghubungi Boni untuk membawa Arum pergi.


Selesai menghubungi Boni, mas Aldo kembali masuk ke dalam mobil, namun saat melihat jok belakang aku sudah tidak ada di sana.


Dia lalu turun mencariku, ke setiap tempat. Hingga tanpa sengaja mas Aldo mendengar teriakanku.


"Awh", teriakku yang telah dimasukkan dengan paksa di bagasi mobil.


Sementara mas Aldo masih mencari arah suaraku. Dita kamu dimana sayang ? Tanyanya lirih. Ya ALLAH selamatkan istriku. Ucapnya.

__ADS_1


Sementara Kevin, yang masih di kantor langsung dapat telfon. Siapa sih jam segini ganggu saja. Ucapnya kesel.


Dia lalu melihat gawainya, kakak ipar ? Tanyanya. Dia langsung menerima sambungan telfon dariku.


"Halo kak." Ucapnya.


"Bawa dia kemari." Ucapnya dengan lantang.


Fina. Ucap Kevin, dengan cepat dia menelepon suamiku.


"Halo kak, kakak ipar dalam bahaya. Dia bersama Fina dan orang bayarannya. Kini mereka berada di hotel yang sudah lama tidak di pakai." Ucapnya.


"Baik." Ucap suamiku.


Mas Aldo,Boni, Kevin dan aparat polisi sedang dalam perjalanan. Selama di perjalanan, mas Aldo tak henti-hentinya berdoa, tunggu aku ay. Ucapnya.


Hingga tepat di lokasi, mas Aldo berjalan dengan hati-hati. Dia lalu menghajar orang bayaran Fina, dan kini dia menyaksikan sendiri. Istri tercintanya, hampir di eksekusi.


..."Biad*b kalian, Ucapnya seraya memukuli mereka semua tanpa ampun. Setelah itu, barulah mas Aldo mendekati aku dan menutupi tubuhku dengan pakaiannya. Lalu mengangkatku dan membawaku keluar dari sana. ...


Dengan cepat pihak berwajib menangkap mereka semua, namun dalang dari peristiwa ini berhasil lolos. Mas Aldo tidak memberi tanggapan, karena fokus mengurus aku.


^^^Mereka hanya bisa meminta maaf, dan Boni pun menyampaikan pesan dari kami, bahwa kami sudah memaafkannya. Setelah mengantar, Boni langsung menuju tkp dan bertemu dengan bosnya. ^^^


"Usut tuntas mereka." Ucap mas Aldo seraya membawaku pulang.


Seminggu pasca kejadian, Fina juga belum di temukan. Sementara aku sejak kejadian itu, sering histeris dan menangis. Hingga mas Aldo memanggil psikiater, namun belum juga ada perubahan.


Sementara kak Devi, selalu datang dan membuat cerita lucu, begitupun dengan Dewi. Dia selalu menjengukku, dan mengajakku makan di luar. Saat mas Aldo keluar kota. Sementara kak Randra, selalu ada untuk menjaga aku. Dan Kevin, dia memilih membatalkan lamarannya, mengingat perempuan yang akan dilamar, ternyata sudah menikah.


Sebulan berlalu, Kini mas Aldo sudah dalam perjalanan pulang. Dia pulang dengan Haris, relasi teman yang kebetulan ingin bertemu dengan aku.


Mas Aldo mengizinkan, karena dia sudah lama mengenal dan ternyata Haris, dulu pernah mengenyam pendidikan Psikologi. Itulah mengapa suamiku mempersilahkannya.


Setelah keluar dari bandara, mas Aldo melambaikan tangan ke arahku, aku pun langsung membalasnya.


"Ayang." Panggilnya.

__ADS_1


"Hubby." Ucapku seraya menundukkan muka.


Sementara Boni, langsung mengambil koper suamiku dan Haris.


Setelah selesai, kami lalu masuk bersama.


"Ay,kenapa tidak di lepas ?" Tanyanya lembut.


"I-iya by." Ucapku terbata.


"Tenanglah dia temanku, Haris kenalkan dia istriku. " Ucapnya.


Saat Haris mengulurkan tangannya, aku menjerit dan menatap mas Aldo.


"Mas di- dia yang mau ngrusak aku." Ucapku jujur.


"Shtt tenanglah ada aku." Ucapnya seraya berbisik.


Aku lalu memeluknya dengan erat. Namun tanpa kami duga, Haris mengumpat kesal. Sial, kenapa bisa dia ingat semua. Ucapnya dalam hati.


Aku harus main cantik. Biar tidak di ketahui Agung. Ya aku harus susun strategi. Kasihan Fina, jika harus menjanda. Ucapnya dalam hati.


Boni yang sedari tadi menyetir, sudah curiga. Bahkan saat awal pertama membawa psikiater ke rumah kami, dia juga mendengar langsung. Aku akan terguncang saat melihat pria yang sudah pernah berniat jahat denganku.


Mas Aldo nampak curiga, namun dia tetap waspada.


"Ay." Panggilnya.


"Ya." Ucapku tanpa menoleh.


"Sudah sampai sayang, kita turun yuk. Ajaknya.


Aku lalu menoleh, dan ternyata di sana tinggal kami berdua. Aku lalu menganggukan kepala, namun saat keluar lagi-lagi aku menatap Haris. Aku lalu bersembunyi di tubuh suamiku.


"Kenapa ?" Tanyanya.


"Mas, dia yang sudah merobek bajuku dan celanaku mas, namun tidak dengan hijabku. Aku hafal betul dengan warna kulit dan aroma minyak wanginya. Tak hanya itu, dia tempat kejadian, dia tidak memakai masker." Ucapku.

__ADS_1


"Shtt, ya sudah kita kembali saja ya." Ucapnya.


"Aku hanya menganggukkan kepala, Boni yang sedari tadi mendengar obrolan kami, langsung telfon seseorang dan meminta tolong kepadanya. Untuk mencari data, laki-laki itu.


__ADS_2