Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 42


__ADS_3

"Iya sayang." Ucapnya. Lalu berpindah menjadi saling berhadapan.


*Cup..


Mas Aldo meng*cup pipiku, aku nampak terdiam. Dan menatap wajahnya*.


"Sayang aku dapat telat." Ucapku.


Mendengar itu mas Aldo mengernyitkan keningnya, lalu menjawab.


"Maaf dulu aku kira, kamu sudah menikah." Ucapnya.


*Aku lalu memainkan jarinya dan mengajaknya ke tempat tidur.


"Aku* ngantuk mas." Ucapku.


..."Ya sudah. Kita tidur sekarang." Ucapnya. Setelah selesai ganti baju, kami merebahkan tubuh kami di ranjang....


Paginya aku terbangun dengan wajah nampak pucat, kenapa denganku ? Tanyaku dalam hati.


Tak ingin menunda sholat, aku lalu pergi ke kamar mandi dan berwudhu. Selesai wudhu aku lalu sholat, mengaji dan zikir. Setelah itu aku lalu keluar menyiapkan sarapan untuk suamiku dan kedua anak kami.


^^^Saat membuka pintu, ternyata sudah ada kedua anak kami di sana. Dengan senyumnya yang manis, mereka menyapaku dan memelukku tubuhku. ^^^


"Pagi ibuku sayang." Ucap mereka.


"Pagi juga sayang." Ucapku seraya tersenyum.


"Ibu kami izin jalan-jalan dulu ya." Ucap mereka.


"Iya sayang, hati-hati ya." Ucapku.


"Asiap bu." Jawab mereka semua.


Setelah kepergian mereka, aku lalu ke dapur untuk memasak. Namun belum sempat ku tutup pintu kamar, terdengar suara tangisan suamiku. Aku lalu mendekatinya dan membangunkannya pelan.


Dia terbangun dengan mata dan pipi yang sembab dan basah.


"Ay." Ucapnya seraya memelukku.


"Jangan ninggalin aku ay, aku enggak bisa hidup tanpa kamu." Ucapnya seraya menangis.


"Shht, doain aku ya mas." Ucapku singkat,karena jujur melihat dia seperti ini hatiku hancur. Sebegitu berartinya kamu mengistimewakan aku mas, hingga aku tak bisa berkata apa-apa. Selain hanya meminta doamu yang terbaik untukku. Ucapku dalam hati.


kami pun melerai pelukan,dan mas Aldo memintaku untuk menemaninya.


"Ay temani aku." Ucapnya.


"Tapi aku-."Ucapku terhenti karena mas Aldo menjedanya.


"Aku takut kamu pergi meninggalkan aku sendiri ay." Ucapnya.


Meski sakit,aku tidak ingin dia menangisi aku seperti ini. Aku lalu merubah diriku menjadi sedikit genit, agar dia melupakan sejenak tentang pikiran yang sudah mengganggu dirinya.


"Ish, hubby ini lebay. Tapi kenapa sih kamu tu awet tampan dan senyuman kamu menggoda aku." Ucapku seraya mengerlingkan mata dan mencubit pipinya.


"Aw, sakit sayang." Ucapnya.


"Eh mana yang sakit ?" Tanyaku seraya menge*up pipinya.


Dia menatapku dengan sendu, "yang sakit hatiku ay." Ucapnya.


Aku lalu membuka kancing bajunya dan menc*um letak hatinya.


"Cup, bismillah lekas sembuh ya hati." Ucapku.


Mendengar hal itu,mas Aldo tertawa renyah,dan berkata.


"Kenapa istriku jadi genit dan Bar-Bar begini ? Ucapnya seraya tersenyum memandangku.


"Hehe, tidak apa-apa. Habisnya suamiku awet muda, padahal umurku yang lebih muda di bandingkan kamu. Aku jadi pengen awet muda. Ucapku seraya mengangkat kedua alisku.


"Masa sih aku awet muda ?" Tanyanya tak percaya.


"Iya, persis 14 tahun yang lalu, wajahnya, kulitnya, senyumnya dan tatapannya bikin aku klepek-klepek." Ucapku seraya menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya.


Malu juga, karena merayu begitu. Tapi tak apalah sama suami sendiri. Ucapku dalam hati.


Alhamdulillah usahaku berhasil membuat mas Aldo tertawa lagi, walau hanya sebentar. Namun aku yakin, akan bisa mengobati rasa khawatirnya.


Jari-jariku mulai bermain di lehernya. Hingga membuat mas Aldo kegelian. Dia lalu menghentikan gerakan tanganku. Melihat itu, aku tersenyum.

__ADS_1


"By, kenapa leher kita beda ya ? Tanyaku.


"Beda gimana ?" Tanyanya.


"Ya beda, tulang leher kamu kelihatan, sementara aku enggak." Ucapku.


"Iya kan dari pabriknya sudah di stel begini." Ucapnya.


"Ish hubby mah gitu orangnya." Ucapku kesel.


"Cie marah." Ucapnya.


Saat ingin menjawab, tiba-tiba pandanganku buram dan aku mencoba memejamkan mata sejenak.


Tak hanya pandanganku, namun kepalaku berdenyut sakit. Dan hidungku tiba-tiba berair. Karena mata terpejam, aku mengira hanya flu.


Tapi aku terkejut,terdengar suara mas Aldo panik dan menangis lagi.


"Ay, jangan pergi dulu ay." Ucapnya.


Dia berlari mengambil tisu, dan berlari keluar lagi memetik daun sirih. Untuk menghentikan darah mimisanku.


"Ay plis ay, bawa aku pergi juga. Aku tak sanggup jika tanpamu." Ucapnya lagi.


"Shtt, mas aku mohon jangan bilang begitu, aku hanya pusing dan mimisan." Ucapku menenangkan.


"Ay kamu daritadi masih terjaga ?" Tanyanya.


"Iya hubbyku yang tampan." Ucapnya seraya tersenyum.


Cup


Cup


Cup


"Aku sayang kamu istriku." Ucapnya yang masih terus men**umku.


"Makasih hubby, aku boleh tidur enggak ? Tanyaku dengan mata masih terpejam.


"Boleh sayang,tidurlah dan bangunlah segera. Jangan buat aku ketakutan lagi sayang." Ucapnya seraya memelukku.


1 jam berlalu, anak-anak sudah berangkat sekolah setengah jam yang lalu. Sementara mas Aldo sedang bekerja di ruang kerjanya, namun tidak di kantor. Hanya di rumah, sambil menunggu aku bangun.


Setelah dua jam, mas Aldo langsung keluar melihatku.


"Ay, sarapan dulu ya." Ucapnya.


Aku masih terlelap, dan tetap tidur di posisi yang sama. Mas Aldo mengernyitkan keningnya,lalu menggoyangkan tubuhku pelan.Namun tak ada reaksi, dia lalu menyentuh tanganku dan memeriksa denyut nadiku.


Alhamdulillah,tapi kenapa belum bangun juga ? Ucap dan Tanyanya dalam hati.


Mas Aldo terdiam di dekatku, dengan mata berkaca-kaca. Dia terus melafaskan doa untukku. Dan membacakan ayat suci alquran.


Namun sayup-sayup terdengar suara bel dari luar. Gegas mas Aldo beranjak dan melangkah ke depan.


"Assalamualaikum bos." Ucapnya.


"Waalaikumsalam Bon, masuklah. Ucap suamiku dengan mata merah,dan bengkak.


Si bos kenapa jadi kusut begini ya, selama ini dia sangatlah tampan dan jaga penampilan. Walaupun sudah berumur,namun kenapa sejak nona sakit,malah jadi kusut begini ? Tanyanya dalam hati.


"Duduklah, jangan hanya mematung di sini." Ucapnya yang membuat Boni tersadar dari lamunannya.


"Eh ya bos maaf." Ucapnya.


"Ada apa ?" Tanya suamiku.


"Ini bos berkas ini membutuhkan tanda tangan bos." Ucapnya.


"Oh, baiklah." Ucapnya.


Mas Aldo menelitinya dan alhamdulillah semuanya tepat. Dia lalu membubuhkan tanda tangan di sana. Setelah semua selesai, Boni beranjak pergi.


Melihat Boni sudah pergi jauh, mas Aldo mengunci pintu gerbang dan melangkah masuk lagi. Dia akan Vc dengan Rasti, menanyakan tentang kondisiku.


Tak lama sambungan Vc terhubung.


"Halo Gung, ada apa ?" Tanyanya.


"Halo Ras, coba liat kondisi istriku Ras sudah 2 jam belum bangun." Ucapnya serak.

__ADS_1


"Ok, tunggu sebentar aku akan kesana." Ucapnya. Dia lalu memutuskan sambungan telfonnya.


Tak berselang lama, Rasti datang. Dia lalu berlari ke kamar kami, dan segera memeriksaku.


"Gung,apa pagi ini istrimu mimisan dan mengeluh kepalanya sakit ?" Tanyanya.


"Iya." Ucapnya.


"Ayo bawa ke RS." Ucapnya lalu melangkah lebih dulu. Sementara mas Aldo langsung mengangkat tubuhku dan tak berhenti berdoa.


Sesampai di RS, Rasti langsung meminta mas Aldo ke UGD. Mas Aldo hanya menurutinya, tak lama, Rasti meminta suamiku keluar dulu.


Mas Aldo langsung keluar, dia duduk di kursi tunggu sambil mengirimkan pesan ke keluarga besar kami dan anak-anak.


Mereka syok dan langsung mendatangi RS, namun karena sedang covid, pengunjung pun dibatasi. Mereka sempat kecewa, namun itu juga untuk kebaikan mereka. Disini hanya ada keluarga inti. Bapak, mas Aldo dan ketiga iparku.


Sementara anak-anak dilarang ikut, Ardi dan Icha hanya berdoa. Semoga di beri mukjizat kesembuhan untukku.


Kini Rasti sedang fokus merawatku, yang sejak seminggu juga sadar. Dita, lihatlah suamimu dia jadi kusut, kurus, dan matanya selalu sembab. Bangunlah Ta, mereka masih butuh kamu. Ucapnya lirih.


Dan tanpa sadar, Rasti menangis. Dia tak menyangka, teman satu sekolahnya menjadi sangat rapuh karena keadaan istrinya.


Sementara mas Aldo, terlelap di sampingku. Dengan menaruh tangan kananku di wajahnya, berharap aku segera sadar. Sedangkan bapak, menemani anak-anak kami di rumah.


Lain halnya dengan kak Randra dan mbak Devi, mereka mendatangi panti asuhan, panti jompo, dan orang-orang yang pernah tersakiti oleh ucapanku. Sedangkan Kevin, sibuk dengan kantor pusat dan cabang mas Aldo. Boni pun demikian. Selain sibuk di kantor, dia juga mengamati gerak-gerik yang pernah meneror kami. Tak hanya itu saja, Felix pun tetap harus di waspadai, meskipun dia sudah membayar apa yang ia ambil.


Tapi sekarang turun jabatan, yang awalnya bendahara kini menjadi karyawan biasa. Menyesal, mungkin itu yang ia rasakan. Namun sesalnya tiada guna, nasi sudah jadi bubur, menyesal seperti apapun tak dapat mengembalikan jabatannya yang dulu.


Karna itulah, kantor mas Aldo semakin maju, ada yang menyeleweng langsung di sidang dan turun jabatan.


Kembali ke RS, setelah memeriksaku Rasti diam-diam mengambil gambar kami. Dan di simpan di galeri hpnya buat kenangan.


Walau sudah menikah, suaminya selalu percaya Rasti bisa menjaga diri. Begitupun sebaliknya sang suami, juga menjaga hatinya.


Cepat sadar ya Ta, kami menunggumu. Ucapnya seraya meninggalkan kami.


Sepeninggal Rasti, tanganku bergerak dan mataku perlahan terbuka. Sementara mas Aldo nampak terkejut dengan pergerakan tanganku.


"Sayang ka-kamu sudah sadar." Ucapnya. Dia lalu men**umi seluruh wajahku. Lalu menekan tombol merah, Rasti pun langsung ke ruanganku. Dia tersenyum lebar, Alhamdulillah ya ALLAH. Ucapnya dalam hati.


Rasti lalu memeriksaku, dan alhamdulillah semuanya baik. Walau ada Rasti, mas Aldo tak merasa risih dilihat dia memelukku seraya menc**mku.


"Udah kali Gung, ciumnya, nanti istrimu muntah." Ucapnya.


Mas Aldo terdiam dan lalu berhenti menc**miku. Dia lalu bertanya tentang kondisiku.


"Alhamdulillah sudah baik, tapi sel kankernya sudah menyatu di sel otaknya." Ucapnya lirih.


Deg...


Tubuh mas Aldo hampir jatuh, jika tidak ada dinding di sampingnya.


"Berapa lama dia bisa hidup ?" Tanyanya parah.


"Paling lama sebulan." Ucapnya.


Mendengar itu mas Aldo langsung jatuh pingsan. Rasti pun langsung meminta perawat datang ke ruanganku. Sementara aku yang melihat mas Aldo di angkat petugas medis, hanya terdiam.


Rasti yang peka dengan kami, langsung mendekati aku. Tidak apa-apa, dia hanya kurang makan,minum dan tidur." Ucapnya.


Walau ragu, aku hanya menganggukan kepala. Sepeninggal mereka, aku menangis dalam diam dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengannya. Laki-laki yang mau menerimaku apa adanya, laki-laki yang sabar dalam membimbing aku dan laki-laki yang istimewa untuk kami.


TUHAN, saat kematian hamba mendekat nanti, lancarkanlah semuanya dan bukakan keikhlasan hati suami dan keluarga hamba saat hamba sudah tidak ada lagi di sisinya. Aamiin. Ucapku lirih.


Lagi-lagi pandanganku kabur, dan terasa sakit di kepala. Aku meringis kesakitan di kesendirianku. Seraya istiqfar, memohon ampunan dari sang maha Pencipta.


Aku menjerit kesakitan, hingga mas Aldo yang baru sadar dan makan sedikit,langsung berlari menghampiri ruanganku. Dan di susul Rasti.


"Ay." Panggilnya." Lalu memelukku dan berdoa dalam hati.


Sementara Rasti langsung memberiku suntikan lewat infus, peredasakit di kepalaku.


Tak lama aku tenang dan memegang wajah suamiku.


"Titip anak-anak, tolong jaga mereka." Ucapku paraw.


Mendengar hal itu, mas Aldo enggan menjawab. Dia lalu men**um b*birku pelan dan tanpa peduli dengan Rasti, yang masih mematung di sana.


Melihat itu, Rasti keluar pelan-pelan. Dan mas Aldo semakin memperdalamnya. Aku terbuai dengan ciu***nya, Dan kami pun langsung menyudahinya.


"Bawa aku bersamamu." Ucapnya Lalu membaringkan tubuhku di kasur, dia pun juga ikut.

__ADS_1


__ADS_2