
"Mas Aldo awas." Ucapku dengan nada tinggi.
Pyar...
Terdengar suara kaca mobil pecah. Boni pun bergegas keluar. Sedangkan mas Aldo langsung ku tarik keluar.
Nampak jelas,di pipinya berdarah karena terkena serpihan kaca mobil. Aku lalu mengajaknya masuk.
"Mas,kita ke puskesmas terdekat ya". Ucapku.
Mas Aldo yang masih syok,hanya menggelengkan kepala. Tak ingin terjadi infeksi,aku lalu mengambil p3k di dekat ruangan mas Aldo.
Aku bersihkan dulu dengan alkohol di pipinya. Dengan perlahan tapi pasti,serpihan itu sudah mulai tidak ada. Kini aku mengobatinya lukanya.
Sesekali mas Aldo meringis menahan perih di pipinya,seraya menggenggam tangannya. Dan memberi betadine dan juga memberi kain kaza dan plester.
Setelah selesai, aku lalu mengembalikan p3k itu ketempatnya.
"Mas minum dulu ya." Ucapku.
"Enggak usah ay, aku kerja dulu ya." Ucapnya seraya berlalu.
Aku hanya menganggukkan kepala. Tak berselang lama Boni datang dengan pak polisi.
"Maaf bos,pak polisi mau bertemu dengan anda." Ucapnya.
Mas Aldo lalu mempersilahkan dan lalu menjelaskan secara fakta.
Aku nampak terdiam dan memperhatikan mereka.
__ADS_1
Setelah kesaksian mereka selesai,pak polisi itu menatapku dengan tajam. Lalu menggelengkan kepalanya. Entah apa yang bapak itu fikirkan.
Tak mau ambil pusing,aku nampak cuek saja. Sedangkan mas Aldo nampak begitu menahan kesal setelah mengantar pak polisi tadi keluar.
Melihat itu, aku langsung mendekatinya dan duduk di pangkuannya. Mas Aldo hanya diam dan juga tidak merasa terganggu.
"Mas ajari aku menjadi sekretaris dong." Ucapku.
"Buat apa ay ?" Tanyanya lembut.
"Ya belajar saja mas,kamu kan tahu aku hanya lulusan rendah." Ucapku lirih.
Mendengar perkataanku,mas Aldo menghembuskan nafasnya pelan dan menghentikan pekerjaannya.
Lalu meletakkan kepalanya di punggungku dan berkata.
"Ta,aku akan latih kamu,tapi bukan sebagai sekretaris." Ucapnya.
"Sebagai bos." Ucap mas Aldo.
"Terlalu tinggi mas buat aku." Ucapku seraya membalikkan badanku ke arahnya.
"Ya sudah,tidak usah jadi sekretaris. Cukup menjadi istriku dan ibu untuk anak-anakku." Ucapnya.
"Tapi aku juga butuh ilmu mas." Ucapku.
"Nanti mas ajarin setelah ini." Ucapnya.
"Beneran mas ?" Tanyaku.
__ADS_1
"Iya sayang." Ucapnya.
"Asik belajar." Ucapku bagai anak kecil.
Melihatku demikian,mas Aldo tertawa renyah. Dan berucap dalam hati, bahagiamu cukup sederhana Ta. Tidak seperti yang lain. minta emas dan berlian,kamu cukup belajar sudah bahagia.
Terima kasih TUHAN, KAU jadikan dia istriku.
Kembali mas Aldo mulai bekerja lagi,sedangkan aku tertidur di pangkuannya. Mas Aldo nampak belum tahu,aku sudah tertidur.
Jika bukan Boni yang memberi tahu, mas Aldo masih mengira aku terjaga.
"Bos,maaf nona muda tidak di tidurkan di kamar saja bos ?" Tanyanya.
Mas Aldo lalu menghentikan kerjaannya sejenak,dan melihat ke arahku.
"Sebentar aku pindahkan istriku dulu." Ucapnya.
"Baik bos." Ucap Boni.
Sesampainya di kamar,aku ditidurkan secara pelan. Tak lupa, mas Aldo melepas sepatu dan menyelimuti tubuhku.
Tidur yang nyenyak sayang. Ucapnya seraya men**** b**** dan keningku.
Nampak mas Aldo menutup pintu kamarnya dengan pelan,lalu kembali di kursinya.
"Gimana Bon ?" Tanya mas Aldo.
"Ini bos,laporan yang perlu anda tanda tangani dan ini identitas orang yang meneror anak-anak semalam. Ucapnya.
__ADS_1
Mas Aldo langsung membaca laporan kerja para karyawan terlebih dahulu, lalu menandatanganinya dan pindah ke identitas orang yang menerornya semalam.