
...Dan membawa serta Haris, nampak jelas dia menahan kesakitan teramat karena aku tendang tadi. Tubuhku terasa gemetar dan lemas. Simbok yang melihatku langsung memelukku erat....
"Nyonya maafin simbok,simbok enggak tahu nyonya dalam bahaya." Ucapnya.
"Ini bukan salah simbok, namun ini salahku." Ucapnya seraya meminta simbok untuk keluar.
Sepeninggal simbok, dia memandangku lalu membawaku ke tempat tidur. Sedangkan anak-anak dibawa simbok.
"Ay." Panggil suamiku lirih.
..."Hmm." Ucapku....
"Maaf, aku terlambat." Ucapnya.
^^^Aku tak bisa berkata-kata hanya air mata dan pelukan yang bisa aku buat nyaman sekarang. Dia pun langsung membalas pelukanku lalu menggenggam tanganku.^^^
"Kita sholat yuk." Ajak suamiku seraya menutup tubuhku dengan jilbab.
..."Mas, apa kamu tidak jijik melihatku ?" Tanyaku seraya menahan tangis....
..."Aku enggak jijik sama kamu, karena kamu segalanya untukku." Ucapnya lalu membopongku dan membawaku ke kamar mandi. ...
Selesai wudhu, kami melakukan sholat dan ngaji bersama.
"Kita ke kantor polisi dulu ya." Ajak suamiku.
..."Iya." Ucapku....
^^^Sesampai di sana, aku diajak turun. Selama di sana, mas Aldo menggenggam erat tanganku dan mengelus lembut punggungku. Agar aku bisa menjelaskan secara detail kejadian tadi. ^^^
Selesai menceritakan kronologinya kami lalu ke rumah sakit.
"Lho mas, siapa yang sakit ?" Tanyaku lembut.
..."Ay, kita ketemu psikiater lagi ya, aku enggak mau kamu jadi trauma lagi seperti yang lalu." Ucapnya seraya mengelus lembut rambutku....
"Baiklah." Ucapku lirih.
"Yuk." Ucapnya.
"Selamat siang bapak, ada yang bisa kami bantu ?" Tanya resepsionis.
"Dokter Rasti ada ?" Tanya suamiku.
"Ada bapak, silahkan ke ruangannya." Ucapnya ramah.
Sesampai di ruangannya, kami pun langsung berpelukan dan suamiku langsung mengatakan kejadian tadi.
^^^"Astagfirullah, jadi dia lagi yang berbuat ?" Tanyanya dengan lirih.^^^
"Iya Ras." Ucapnya.
"Kebetulan dokter psikologi belum pulang, ayo aku antar." Ucapnya seraya mengelus lembut rambutku.
Sesampai di ruangannya, Rasti menceritakan kronologinya dari awal hingga terjadi lagi. Membuat sang dokter, menatapku iba. Dan memanggil aku.
Selesai di periksa, dokter itu menyarankan.
"Sebaiknya jangan ditinggal sendirian, dan awasi terus, namun jangan sampai ketahuan. Buat dia nyaman dan happy." Ucapnya.
"Tapi kenapa sekarang dia biasa saja ya dok ?" Tanya suamiku.
"Karena dia tidak ingin membuat anda khawatir. Dan dia juga takut, saat kejadian anda marahi." Ucapnya.
Deg...
__ADS_1
"Saya tahu, karena saya sudah 10 tahun memeriksa pasien pak Agung." Ucapnya yang seolah tahu, apa yang dibenak Agung.
"Iya dok, kalau begitu saya ucapkan terima kasih." Ucapnya.
"Sama-sama pak. Ingat pak, harus sabar dan jangan membentaknya." Ucapnya lembut.
"Insyaa ALLAH pak." Ucap suamiku.
"Ta, gimana sekarang? " Tanya Rasti.
"Alhamdulillah baik Ras." Ucapku lirih.
"Udah jangan diingat lagi." Ucapnya seraya mengelus lembut punggungku.
"Hmm." Jawabku.
"Gimana Rafa ?" Tanyanya.
..."Dia sehat kok, alhamdulillah tidurnya juga nyenyak." Ucapku seraya tersenyum....
"Alhamdulillah." Ucapnya.
Saat sedang asik ngobrol, mas Aldo memanggilku.
"Ay." Panggil suamiku.
Aku menolehnya dan tersenyum kepadanya.
"Ras, thanks ya." Ucapnya.
"Sama-sama, kalau ada apa-apa jangan lupa kasih kabar." Ucapnya.
"Ya." Ucap suamiku seraya pamit.
"Kasian Rafa mas, kalau ditinggal lama." Ucapku lirih.
"Cuma sebentar kok sayang." Ucapnya.
"Ya sudah." Ucapku.
..."Aku kerja dalam dulu ya." Ucapnya....
"Iya." Ucapku lirih.
^^^15 menit kemudian mas Aldo keluar, dan memijit keningnya. Kasihan kamu mas, di usiamu sekarang, kamu harus menanggung beban berat. Ucapku lirih seraya meneteskanair mata.^^^
"Ay, kamu kenapa ?" Tanyanya seraya menghapus air mataku.
"Maaf mas, kalau aku jadi beban kamu." Ucapku.
Tanpa menjawab ucapanku, dia lalu menutup pintu mobil dan menutup kaca mobil. Lalu memelukku erat.
"Kamu bukan bebanku, tapi kamu anugerahku." Ucapnya seraya menenangkan aku.
Setelah terlihat tenang, mas Aldo langsung ganti topik kerjaan.
"Ay, aku antar kamu pulang dulu ya. Habis itu aku kembali lagi." Ucapnya.
"Iya mas." Ucapku.
Sesampai di rumah, aku tidak langsung turun. Aku melihat dia begitu kelelahan, dan banyak pikiran.
"Sudah sampai sayang, turunlah." Ucapnya seraya mengelus lembut pipiku.
"Iya." Ucapku seraya takzim dan memintanya untuk berhati-hati.
__ADS_1
"Iya ay." Ucapnya seraya menatapku dengan tatapan teduh.
Sepeninggal aku, mas Aldo langsung ke kantor. Sesampai di sana dia lalu miteeng, dan menandatangani surat kerja sama.
Tak terasa malam pun tiba, aku yang masih terjaga pun keluar kamar, jam 10 malam, kenapa dia belum pulang ?" Tanyaku dalam hati.
Aku pun ke dapur dan mengambil air minum. Selesai minum, aku lalu duduk di ruang tamu. Sambil membaca buku, hingga buku itu selesai ku baca, suamiku belum juga pulang. Membuat aku tambah khawatir.
...Sementara di sini, di kantornya mas Aldo sedang menyelesaikan pekerjaan dan tak lupa juga memperhatikan aku lewat cctv yang sudah tersambung di gawainya. ...
Sabar sayang, sebentar lagi aku pulang. Ucapnya seraya tersenyum.
^^^Alhamdulillah selesai. Ucapnya seraya merapikan meja dan bergegas pulang. ^^^
Tepat jam 12 malam, suamiku pulang.
"Baru pulang tuan ?" Tanya Pak Yovi.
"Iya pak, lembur." Ucapnya jujur.
Mas Aldo lalu masuk dan tersenyum melihatku tertidur di kursi. Kasian kamu ay, nungguin aku sampai tertidur di sini. Ucapnya lirih.
Dia lalu memindahkan aku ke kamar, selesai itu dia beranjak mandi.
...Terdengar suara tangisan Rafa, membuatku langsung terjaga. Lah aku sudah di dalam ? Tanyaku lirih. Tanpa pikir panjang aku lalu menggendong Rafa, dan memberikan asi. ...
^^^Setelah terlepas, aku lalu menidurkan Rafa di tempat tidurnya. Mendengar kamar mandi ada suara air mengalir, aku langsung mengambilkan air minum untuk suamiku dan baju tidurnya. ^^^
Dan menunggu dia di sofa. Ceklek, terdengar suara pintu dibuka. Aku langsung menatapnya dan tersenyum ke arahnya. Pun dengan dirinya.
"Kebangun ?" Tanyanya seraya mendekati aku.
"Iya, Rafa menangis." Ucapku lirih.
"Hmm." Jawabnya seraya minum teh hangat buatanku.
..."Lembur mas ?" Tanyaku....
"Iya." Ucapnya seraya menatapku.
"Besok masih lembur lagi ?" Tanyaku lagi.
"Insyaa ALLAH enggak." Ucapnya.
"Aamiin." Ucapku.
"Kenapa ?" Tanyanya.
"Aku takut sendiri di kamar." Ucapku jujur.
"Ya sudah, sekarang ada aku yuk tidur." Ucapnya.
"Iya." Ucapku.
^^^Kami langsung merebahkan tubuh di kasur, tak lupa berdoa dan tidur. Tepat jam 2 malam, Rafa menangis lagi, aku lalu bangun dan memberikannya minum. Setelah itu ku masukkan lagi dia ke tempat tidurnya. ^^^
Aku lalu memeluk erat suamiku.
"Shht, tenanglah aku di sini." Ucapnya paraw.
"Makasih." Ucapku.
"Hmm." Ucapnya.
Jam 3 Rafa kembali bangun, aku lalu memandikan dia dan mulai ibadah lagi. Ardi dan Icha pun sudah mandi dan bersiap sekolah lagi. Sementara suamiku masih di dunia mimpinya.
__ADS_1