Ketemu Lagi

Ketemu Lagi
Part 47


__ADS_3

"Ish kenapa aku jadi tidak ngantuk ? Tanyaku dalam hati.


...^^^Aku rubah posisi, namun masih saja tidak bisa tidur. Akhirnya aku memutuskan pindah di sofa, takut nanti mas Aldo kebangun karena gerakan tubuhku. Setelah membaringkan tubuhku disana, aku lalu mencoba memejamkan mata. ^^^...


Namun, baru akan terpejam sayup-sayup terdengar suara lu*nut. Aku menggelengkan kepala seraya mengucapkan istighfar berulang kali. Lalu beranjak pindah lagi ke tempat tidur, baru mau terpejam lagi-lagi ada gangguan.


Mungkin ini kali ya,rasanya pertama masuk di hotel. Ada saja suara kaya gitu. Ucapku lirih. Ku coba pejamkan mata dan menutup telinga dengan bantal. Namun urung aku lakukan, karena di cegah oleh mas Aldo.


"Mas, ka-kamu belum tidur ?" Tanyaku.


"Shht, diamlah." Ucapnya seraya memelukku tubuhku dari belakang. Dan tanpa ku tahu, dia sedang menahan syahw*dnya.


Deg..


"Belum tidur juga kamu ?" Tanyanya.


"Belum mas." Ucapku.


Mendengar hal itu mas Aldo langsung beranjak bangun dan membawaku keluar sejenak.


"Kalau di dalam tidak bisa tidur, disini saja dulu." Ucapnya.


Dalam hati aku bangga dengannya, dari pernikahanku yang sudah kandas, aku mendapatkan lelaki yang sabar dan tidak pemaksa dan juga tidak mau meminta haknya, jika aku enggak mau dengan menolak halus.


Dulu aku mengira tidak akan ada lagi yang mau denganku, karena ucapan mantan suamiku, namun aku salah, masih ada yang mau menerimaku dan membimbingku.


Padahal dia tahu, aku manusia yang penuh dosa. Namun dia masih menerimaku. Mungkin inilah jawaban dari setiap doaku di sepertiga malam. Ucapku dalam hati.


"Gimana ay,sudah enakan ?" Tanyanya.


"Alhamdulillah sudah mendingan mas." Ucapku.


"Ya sudah yuk masuk lagi. Angin malam enggak baik untuk kesehatan." Ucapnya.


"Gendong." Ucapku.


"Baiklah." Ucapnya seraya membopongku.


"Makasih." Ucapnya.


"Shht, tak perlu, bagi aku asal ada kamu di sini, aku sudah bahagia." Ucapnya.


Sesampai di kamar, mas Aldo menidurkanku dengan pelan dan hati-hati. Setelah itu barulah dia ikut tidur.


Tepat jam dua dini hari, aku terbangun lagi. Ku lihat wajah suamiku, nampak tertidur pulas. Berulang-ulang kali, aku perhatikan dia sangat nyenyak tertidur. Sedang asik - asiknya memandang, sayup-sayup terdengar suara gaduh dari kamar sebelah.


"Ngapain tidur disini ?" Tanya seseorang di sana.


"Aku enggak mau pulang." Ucap yang ditanya.


Dan terdengar, pintu di tutup keras.


Doar...


Mendengar hal itu, semua orang yang di sana dan petugas keamanan pun berlari. Begitu juga dengan kami, kami langsung keluar.


Saat melihat kami keluar, mereka menatapku dengan tajam. Aku yang sudah tahu, langsung paham dan hendak masuk lagi. Lebih baik mencegah daripada mengobati, lebih baik menghindari orang yang julid, daripada harus menanggapi.


...Namun langkahku terhenti,karena mas Aldo menggenggam erat tanganku. Seraya tersenyum kepadaku. ...


"Gung tolong aku, aku ingin pisah darinya." Ucapnya tiba-tiba.


Sementara mas Aldo langsung mendekati aku dan berkata.


"Maaf Ris, aku sudah menikah. Dan maaf aku tidak bisa membantumu." Ucapnya.


Sementara para tamu disana, langsung masuk ke kamar masing-masing. Begitupun dengan kami, namun langkah kami terhenti ketika perempuan itu menghadang kami.


Kesal,aku pun langsung berkata.


"Mas,aku capek. Aku-." Ucapku terhenti karena mas Aldo mendorong tubuh temannya dengan keras.

__ADS_1


"Risa, maaf tapi aku lebih mengutamakan keselamatan istriku." Ucapnya seraya berlalu.


"hik's kamu tega Gung." Ucapnya.


"Mendengar itu, aku langsung berbalik badan dan berniat tulus membantunya. Ayo, aku bantu." Ucapku lembut.


"Cu*h tak sudi." Ucapnya seraya beranjak berdiri.


Melihat demikian mas Aldo langsung hendak menampar, namun aku cegah.


"Jangan kotori tanganmu, hanya untuk membalas lukaku." Ucapku.


"Tapi ay." Ucapnya.


"Sudah yuk." Ucapku seraya tersenyum.


Sesampai di kamar, aku lalu mengunci pintu. Tak ingin memikirkan masalah itu, kami lalu sholat malam dan mengaji. Tepat jam 3.30 pagi, kami mandi dan tidur. Namun, karena tidak bisa tidur juga, kami pun nonton tv.


Entah kenapa,yang kita lihat malah adegan romantis. Dan sedang melakukan k*s. Melihat itu, aku langsung merubah posisiku, dari yang tadinya duduk, kini merebahkan tubuhku. Sedangkan mas Aldo langsung mematikan tvnya, dan memelukku.


"Ngantuk ay ?" Tanyanya.


Aku terdiam, karena harum di nafasnya begitu wangi. Berbeda dengan aku, yang tampak biasa.


"Ay, kamu sakit ?" Tanyanya khawatir.


"Shtt enggak, aku enggak sakit. Tapi nafasmu wangi mas." Ucapku jujur.


"Hehe makasih sayang." Ucapnya.


"Iya." Ucapku.


Kami pun saling pandang dan terdiam, lalu kami pun melakukan ritual lagi,aku enggak mau suamiku tersiksa. Setengah jam, kami sudah selesai dan kami pun langsung wudhu lalu tidur sejenak.


Tepat pagi hari, kami bangun lalu sholat dan mengaji. Selesai itu, kami lalu keluar dan rencananya mau ke bengkel terdekat dulu.


Sesampai di resepsionis,aku langsung mengambil kunci yang di bawa suamiku. Dan lalu menyerahkan kuncinya itu, tak lupa juga mengucapkan terima kasih.


"Kenapa by ?" Tanyaku.


"Galak juga." Ucapnya seraya tertawa.


"Ish, aneh." Ucapku.


"Aneh tapi suka kan ?" Tanyanya.


"Iya, tapi sayang sudah expayet." Ucapku.


"Haha, expayet tapi juga menikmati." Ucapnya.


Mendengar itu, aku ikut tertawa dan menggelengkan kepala.


Kami pun lalu meninggalkan hotel, tepat di pertigaan mas Aldo berhenti.


"Kenapa by ?" Tanyaku.


"Lapar ay." Ucapnya.


"Astaqfirulloh, maaf by tadi-." Ucapku terhenti.


"Enggak apa-apa ay, disini ada warung." Ucapnya seraya turun.


Aku pun lalu menyusulnya. Dan menggandeng lengannya. Sesampai di warung, kami pun langsung memesan makanan.


Tak berselang lama minuman kami datang.


"Kenapa ay ?" Tanyanya.


"Minumanku kok asin ya by." Ucapku.


Mendengar itu, mas Aldo langsung mencicipinya.

__ADS_1


"Mbak." Panggil suamiku.


"Iya mas." Ucapnya.


"Tolong ganti minuman istri saya, rasanya asin." Ucapnya kesal.


"Ba-baik mas." Ucapnya.


"Ay kamu minum punyaku saja." Ucapnya.


"Enggak usah mas, di mobil ada aqua." Ucapku.


Tak berselang lama makanan dan minuman kami datang. Dan tak lupa juga, mbak itu meminta maaf kepada kami.


Kami pun memaafkan.


Selesai makan, kami lalu beranjak pergi. Sesampai di mobil, entah kenapa aku merasa pusing.


"Kenapa ay ?" Tanyanya.


"Pusing mas." Ucapku.


Mendengar itu mas Aldo menarik tanganku dan aku pun berada di pangkuannya. Menolak pun, sudah pasti tidak bisa, akhirnya aku hanya menurut saja.


Sedangkan mas Aldo memijit kepalaku pelan. Dan bertanya dengan Rasti. Rasti pun menjelaskan, itu tidak apa-apa. Mungkin efek perjalanan jauh dan kurang tidur juga ngaruh. Ucapnya.


Mendengar hal itu mas Aldo nampak lega, dia lalu memelukku walaupun dengan posisi menyetir. Sesampai di rumah, rumah nampak sepi. Mungkin anak-anak masih sekolah.


Melihat ruangan rumah nampak bersih dan rapi, kami pun melangkah ke kamar. Saat membaringkan tubuhku, mas Aldo mengganti bajunya dengan baju biasa. Selesai itu, dia langsung menghampiri aku.


"ALLAH Akbar, ay kamu kenapa ?" Tanyanya seraya meneteskan air mata.


"Aku kenapa mas ?" Tanyaku.


"Diam dulu ay." Ucapnya seraya mengirim pesan kepada Rasti.


Tak berselang lama Rasti datang, dia lalu memeriksaku.


"Dia kecapean Gung." Ucapnya seraya tersenyum.


"Tapi kenapa masih mimisan ?" Tanyanya.


"Iya itu karna dia kecapean." Ucapnya.


"Beneran enggak bahaya kan ?" Tanyanya.


"Insyaa ALLAH. Asal jangan terlalu capek dan istirahat cukup." Ucapnya.


Setelah mengucapkan itu, Rasti pun langsung pamit. Setelah kepergian Rasti, mas Aldo menghampiri aku.


"Ay, jangan terlalu capek dan stres." Ucapnya.


"Insyaa ALLAH mas." Ucapku.


"Mas enggak kerja ?" Tanyaku.


"Kerja, tapi di rumah saja. Nunggu istriku." Ucapnya seraya tersenyum.


"Hmm. Makasih mas." Ucapku.


"Sama-sama ay." Ucapnya seraya memelukku dan mengajakku tidur.


Satu jam kemudian, aku terlelap dalam pelukannya. Cantik, beruntung aku masih bisa memiliki kamu. Walau aku tahu, kesalahan kamu sangat fatal, namun cintaku padamu Insyaa ALLAH tak akan pudar. Ucapnya lirih seraya tersenyum.


Ternyata begini ya rasanya memiliki kamu Ta. Ucapnya lagi.


Melihatku tertidur nyenyak dia pun lalu menyusulku ke dunia mimpi. Hingga tepat jam 12 siang, mas Aldo terbangun. Sementara aku masih terlelap.


Dia lalu menatapku sendu,dan mengecek denyut nadiku. Alhamdulillah. Ucapnya setelah mengecek denyut nadiku.


Dia lalu keluar kamar, dan melihat anak-anak kami sudah pulang.

__ADS_1


__ADS_2