
"Iya, selain itu Kevin juga disiplin waktu dan tanggung jawab." Ucapnya.
"Iya mas, moga saja Arum bisa berubah." Ucapku lirih.
"Aamiin." Ucapnya seraya memelukku.
Kami pun terlelap di kamar, dengan posisi saling miring ke kanan. Tepat jam 12 siang, kami terbangun.
"Siang ay." Ucapnya yang kini sudah memakai peci dan sajadahnya. Yang baru pulang dari masjid.
"Siang by." Ucapku seraya bangun dari tempat tidur dan lalu takzim.
"Ni, sudah aku pesenin makanan." Ucapnya seraya menenteng plastik.
"Tapi kan Arum sudah masak mas." Ucapku lirih.
"Aku lagi pengen beli ini ay." Ucapnya.
"Ya sudah, yuk makan." Ucapku seraya tersenyum.
"Ok." Ucapnya.
Kami pun akhirnya makan di teras depan kamar, saling suap-suapan dan dengan diiringi mp3 mas Aldo yang dj setia menanti.
Tiada cerita luka
Selama kita bersama
Denganmu aku bahagia
Tak pernah ku rasa kecewa
Seindah pelangi senja
Asmara berbunga cinta
..."Nikmat juga ya ay." Ucapnya setelah selesai makan...
"Alhamdulillah by." Ucapku seraya mengupas buah.
...^^^Dia menatapku seraya menirukan lagu mp3nya. Rindu aku rindu mengharap cinta kenanglah saat berjumpa. Ucapnya. ^^^...
Aku yang mendengar itu, hanya menghembuskan nafas pelan dan tersenyum lalu berkata.
"Ada tontonan gratis, cuma sayang suaranya fals." Ucapku seraya tertawa kecil.
"Mas Aldo hanya memandangku dan mendekati aku perlahan. Tapi kamu terhiburkan ?" Tanyanya.
__ADS_1
"Hmm." Ucapku seraya menyuapinya, namun malah salah masuk. Bukan di mulut, tapi di pipinya. Membuat aku dan mas Aldo tertawa renyah.
Aku lalu mengelapnya dengan tisu, dan menyuapinya kembali. Setelah selesai barulah aku makan buah sendiri.
"Aa," Ucapnya.
"Lagi ?" Tanyaku.
"Iya." Ucapnya.
"Aku pun menyuapinya lagi, hingga habis. Setelah selesai barulah aku keluar kamar dan menaruh sendok dan piring kami di wastafel. Arum kamu makan apa ?" Tanyaku.
"Makan yang tadi saya masak bu. " Ucapnya.
"Oh.' Ucapku.
^^^Aku lalu keluar dapur, dan bergegas menutup jendela kamar anak-anak. Setelah selesai, barulah aku keluar dan melihat tv. Sementara mas Aldo, nampak terdiam di teras kamar. Pak Lukman yang tak sengaja melihat mas Aldo melamun, langsung menghampiri dan menyapanya. ^^^
"Siang tuan." Ucapnya ramah.
"Siang pak." Ucap suamiku.
"Maaf tuan, saya mau sedikit cerita apakah tuan ada waktu ?" Tanyanya lirih seraya melihat kanan dan kiri.
"Iya pak silahka." Ucapnya.
Deg.
Mendengar hal itu mas Aldo hanya menganggukan kepala dan kini mulai faham, kenapa baju-bajuku banyak yang berwarna kekuningan.
"Makasih ya pak infonya." Ucap suamiku.
"Sama-sama tuan." Ucapnya seraya berpamitan kembali kerja.
Sepeninggal pak Lukman, mas Aldo langsung beranjak berdiri dan memutar musiknya lagi. Seraya mengecek bajuku.
Besok akan ku berhentikan dia, tapi dengan alasan apa ? Tanyanya dalam hati.
Sementara aku yang awalnya nonton tv,kini keluar di teras tengah. Aku melihat jambu tetangga yang nampak menggoda. Dan beruntungnya sang pemilik sedang memetiknya.
"Siang buk, lagi panen ya buk." Ucapku.
"Eh si eneng, ya neng. Sedang panen. Neng mau ?" Tanyanya.
"Boleh buk ?" Tapi maaf ini dijual atau enggak ya, kalau dijual biar saya beli." Ucapku tulus.
"Ini khusus tetangga neng, buat sedekah." Ucapnya Seraya memberikan jambunya padaku.
__ADS_1
"Makasih ya bu." Ucapku.
"Sama-sama neng." Ucapnya.
"Ya sudah dulu ya neng, mau bagi-bagi dulu." Ucapnya.
"Iya buk." Ucapku.
Sepeninggal ibu itu, aku lalu mencuci buah itu dan menaruhnya di tempat buah. Dan membuat rujak, saat asik bikin bumbu rujak aku melihat Arum sedang mencuci. Bukannya sudah di kasih tahu ya, kalau nyuci baiknya pagi. Ucapku lirih.
Aku lalu menghampirinya dan menegurnya.
"Arum, kok jam segini baru cuci ?" Tanyaku.
"Iya buk, tadi saya sedang nyetrika." Ucapnya.
Belum sempat aku bertanya, Arum langsung berkata.
"Saya disini yang bayar bukan anda buk, tapi pak Agung. Lagipula kamu juga aji mumpung saja dapet Agung. Hasil dari ngrebut suami orang. Lagaknya sok suci." Ucapnya.
Mendengar penjelasan itu aku syok dan lagi-lagi aku hanya memejamkan mata. Bak tersambar petir, air mata yang ku tahan kini bercucuran lagi. Takut diketahui suamiku, aku lalu melanjutkan membuat rujak.
...Selesai membuat rujak, aku lalu membagi menjadi tiga, satu untuk kami, satu untuk Arum dan satu lagi untuk pak satpam. ...
Setelah selesai membagi, aku lalu ke kamar dan ku lihat mas Aldo tengah tiduran di sana.
"Hubby, mau rujak enggak ?" Tanyaku menahan tangis.
"Boleh ay." Ucapnya.
"Dapat darimana ?" Tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab, namun langsung ke kamar mandi. Melihat aku demikian, mas Aldo langsung menghampiri aku dan memelukku.
"Kamu kenapa ?" Tanyanya.
Ditanya demikian aku makin sesenggukan, awalnya tak ingin membuat dia khawatir. Namun, nyatanya malah sebaliknya.
^^^Melihatku lama tak ada jawaban, dia lalu mengajakku makan rujak dulu. Setelah habis dan aku sedikit tenang, aku pun menceritakan semuanya kepada suamiku. Mendengar penjelasanku mas Aldo langsung mengajakku pergi keluar rumah. Saat asik dengan anak tetangga, mas Aldo langsung menghubungi Kak Devi. ^^^
Dia menceritakan semuanya, dan minta tolong, dicarikan art yang baik dan jelas. Kak Devi pun menyanggupi. Setelah sudah terdengar azan maghrib kami langsung pamit pulang.
Sesampai di rumah, mas Aldo langsung mengajakku ke masjid. Hingga tepat jam 7 malam, kami baru keluar masjid.
"Mas, kita mau kemana ?" Tanyaku.
"Mengajak kamu ke tempat kemarin." Ucapnya seraya menggenggam tanganku.
__ADS_1