Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Kasmaran


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Pagi ini Nara terlihat bersemangat, wajahnya terlihat cerah secerah mentari pagi menyinari bumi. Dia tersenyum sendiri menatap dirinya di cermin, sambil sesekali membenahi penampilannya.


Hari ini dia ingin terlihat cantik di depan Arga, dia sedikit memoles wajahnya dengan makeup. Padahal sebelumnya dia tidak pernah melakukan ini. Bahkan dia pun tidak punya peralatan makeup, sekarang dia memakai makeup milik Nana.


Nara berkali-kali menatap cermin untuk memastikan penampilannya tidak aneh ataupun berantakan.


"Huh.. kenapa aku jadi kayak gini? Apa seperti ini orang yang sedang jatuh cinta?" gumamnya sambil terus membenahi rambutnya.


Tiba-tiba dia tersenyum. "Apa iya aku jatuh cinta sama dia?" gumamnya sambil tersenyum dan tersipu sendiri.


Dia pun bersiap untuk berangkat. Tapi lagi-lagi dia melihat cermin dan memastikan penampilannya tidak aneh.


"Duh, kenapa aku jadi grogi sih?"


Tok! Tok! Tok!


"Assalamualaikum.."


"Duh, itu pasti mas Arga," gadis itu panik dan heboh sendiri dia terus membenahi rambutnya dan juga bajunya agar terlihat rapi.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu itu terdengar lagi. Nara pun bergegas ke depan. Sebelum menarik knop pintu Nara menarik nafas untuk menetralkan jantungnya yang berdegup kencang.


"Waalaikumsalam.." balas Nara.


Pria itu tersenyum manis saat melihat Nara dan membuat gadis itu semakin gugup dan juga grogi.


"Udah siap?" Nara mengangguk.


"Aku ambil tas dulu!" Arga mengangguk.


Nara kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil tas, tapi lagi-lagi dia menghadap cermin dan memastikan penampilannya untuk ke sekian kalinya.


"Fiuuh.." gadis itu menghela nafas panjang. "Huhh.. ternyata jatuh Cinta benar-benar merepotkan." gumamnya.


Dia segera menghampiri Arga yang masih menunggu di depan pintu. Setelah mengunci pintu, mereka berjalan beriringan menuju mobil. Tiba-tiba Arga menggenggam tangan Nara, membuat Nara semakin gugup dan juga tegang.


Arga tersenyum saat merasakan tangan Nara dingin, dia tau gadis itu sedang gugup. Seperti biasa dia membukakan pintu mobil untuk Nara.


Sepanjang perjalanan Nara terdiam sambil menunduk. Entah kenapa dia merasakan jantung yang berdetak berkali lipat.


Arga melirik Nara. "Kenapa sayang? Kok diem aja!" Nara terkesiap saat Arga memanggilnya sayang.


Arga tersenyum lalu mengusap kepala Nara. "Gak usah gugup bersikap biasa aja!" ucap Arga lalu dia menggenggam tangan Nara. Nara terdiam, perasaannya membuncah bahagia.


"Ternyata begini rasanya jatuh cinta!" gumamnya dalam hati.


Tak terasa mobil sudah sampai di Madhava Resto. Saking sibuk dengan pikirannya Nara tidak sadar sudah sampai di tempat tujuan. Sebelum turun Arga mengecup tangan Nara yang sedang dia genggam.

__ADS_1


"Sayang, nanti malam saya gak bisa jemput kamu, karena saya harus ke Bandung. Ada pekerjaan yang harus di selesaikan di sana. Sekalian jemput Nana, kamu gak apa-apa kan pulang sendiri?" Nara mengangguk.


"Gak apa-apa mas, kamu hati-hati di jalan ya. Cepat bawa pulang Nana aku udah kangen sama dia," Arga mengangguk dan tersenyum.


"Kamu hati-hati ya, kalo bisa minta anter temen kamu kalo mau pulang. Takutnya nanti di ganggu preman lagi!" Vara mengangguk.


Lalu Arga mendekat dan mencium kening Nara. Arga ingin mencium bibir Nara, tapi dia urungkan dan itu membuat Nara merasa heran. Padahal dia sudah menunggunya. Nara memalingkan wajahnya karena pasti wajahnya memerah karena dia kira Arga akan mencium bibirnya.


"Kenapa kok mukanya merah?" tanya Arga. Nara menggeleng, dia benar-benar malu karena mengharapkan Arga mencium bibirnya.


Tiba-tiba Arga kembali mendekati wajah Nara. Dia mengusap bibir Nara dengan jempolnya, lalu dia menjepit dagu Nara dengan satu tangannya.


Cup..


Arga mengecup bibir Nara. "Kamu nungguin itu?" tanya Arga menggoda. Nara menggeleng cepat dan menunduk.


"Aku masuk dulu mas, kamu hati-hati di jalan ya!"


Nara langsung bergegas keluar, dia sudah tidak tahan menahan malu. Arga terkekeh melihat wajah merona gadis itu.


"Lucu!" gumamnya.


Lalu dia kembali menghadap kemudi dan memasang seatbelt. Tapi dia tidak langsung menjalankan mobilnya, dia bersender di kursi dan memejamkan matanya sesaat, lalu dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap menikah dengan Nara. Karena aku benar-benar mencintai dia," ucapnya tersenyum. Lalu dia pun melajukan mobilnya meninggalkan area resto.


***


Nana baru saja selesai merapikan pakaian yang akan dia bawa ke Jakarta, serta oleh-oleh yang dia bawa untuk Nara dan teman-temannya di kampus.


Tak lama ibu Rina menghampirinya. "Pulang sama siapa na?" tanya ibu Rina.


"Padahal mama, pengen kamu tinggal di Bandung aja. Kenapa sih tetep kekeuh tinggal di sana?"


Nana menghela nafas dan menghentikan aktivitasnya, lalu duduk di samping mamanya.


"Mah, aku kan kuliah di sana, masa iya bolak-balik Bandung-Jakarta cuma mau kuliah. Lagian aku di sana sekalian nemenin Nara. Aku juga betah di sana!" balas Nana.


"Kamu tuh ya, orang lain di perduliin tapi mama sendiri enggak!"


"Ish, mama ngomong apa sih? Mama kan ada Niki yang nemenin, lagian kan aku selalu pulang untuk jenguk mama dan yang lainnya," Balas Nana.


"Iya, iya mama becanda sayang. Lain kali ajak Nara main ke sini, udah lama loh mama gak ketemu dia!" Nana mengangguk.


"Dia sibuk kerja mah, kalo cuti dia habiskan buat istirahat," jawab Nana.


Ibu Rini mengangguk lalu beranjak. "Ya sudah, cepetan beres-beresnya terus kita makan," ucap bu Rina lalu meninggalkan kamar Nana.


"Siap mam," balas Nana.


Nana tersenyum. Sebenarnya alasan dia betah di Jakarta bukan hanya karena Nara saja, tapi karena dosennya juga. Pria duda beranak satu, entah kenapa Nana begitu menyukai pria itu.


"Pak Rega, udah gak sabar pengen ketemu kamu!" gumamnya senang.


Dia pun beranjak dan bergabung dengan yang lainnya untuk makan malam. Ternyata Arga sudah ada di sana.


***

__ADS_1


Siang ini Nara di minta pak Derry di suruh mengantar pesanan pelanggan. Karena yang biasa mengantar pesanan ada yang tidak masuk dan yang lainnya juga sedang mengantar pesanan.


Dengan menggunakan motornya, Nara berangkat menuju alamat yang sudah di berikan pak Derry.


"Semangat Nara!!" serunya menyemangati diri sendiri. Semenjak dia mengenal Arga, hari-harinya terasa lebih berwarna. Meski semalam Arga tidak menjemputnya karena ada di Bandung tapi dia terus menghubunginya, bahkan mereka video call-an.


Semalam entah sampai jam berapa mereka melakukan panggilan Video, mereka seperti ABG yang sedang kasmaran.


Nara tersenyum sendiri, kala mengingat kejadian semalam. Dia tidak menyangka dengan sisi lain dari Arga, yang terlihat cool tapi ternyata dia juga romantis dan pintar gombal.


Nara berkali-kali di buat blushing sama Arga karena gombalannya.


Tak terasa dia sampai di rumah pelanggan, sebuah rumah minimalis berlantai dua. Nara turun dan segera mengetuk pintu rumah itu, tak lama seseorang membuka pintu dan ternyata si pelanggan.


Setelah urusan dengan pelanggan selesai, Nara bersiap akan kembali ke resto. Tapi tak sengaja dia mendengar suara teriakan anak kecil. Nara celingak-celinguk mencari di mana suara itu. Lalu dia melihat dua orang pria ingin menculik seorang anak kecil. Nara langsung menghampirinya.


"Lepasin anak itu atau saya lapor polisi!" pekik Nara.


"Minggir atau lo mati!" balas salah satu penjahat itu sambil menodongkan pisaunya.


Anak kecil itu terlihat ketakutan dan juga menangis, mulutnya terus di bekap oleh penculik satunya.


"Saya gak takut!!" balas Nara menantang.


Penculik itu mengarahkan pisaunya ke arah Nara, tapi dia bisa menghindar dan dia langsung menendang penculik itu dengan kencang hingga dia tersungkur.


"Tolong... tolong.. ada penculik.." teriak Nara berusaha meminta pertolongan.


Tapi penculik itu malah mendorong Nara hingga dia jatuh dan keningnya membentur tembok.


Penculik itu ingin membawa anak kecil itu, tapi Nara berusaha menahannya.


"Lepasin anak itu!" Penculik itu berusaha mendorong Nara. Tapi Nara berusaha bertahan.


"Tolong.. tolong... ada penculik.." teriak Nara.


Tak lama beberapa orang menghampiri Nara dan para penculik itu pun langsung kabur.


"Non Rere!" teriak Seorang wanita.


"Non gak apa-apa?" tanya si wanita sepertinya dia pengasuh. Gadis kecil itu menggeleng tapi dia masih terlihat ketakutan.


"Makasih ya pak, sudah bantu saya!" ucap Nara pada para warga yang datang. Mereka mengangguk.


"Mbak, lain kali jangan tinggalin anaknya sendirian!" ucap salah seorang bapak.


"Iya pak!" jawab pengasuh itu. Lalu mereka pun pamit pergi.


"Onty, telima kasih udah tolong aku?" ucap gadis kecil itu pada Nara. Nara tersenyum dan berjongkok.


"Lain kali hati-hati ya sayang!" gadis kecil itu mengangguk.


"Kepala onty, bedalah!" ucap gadis itu. Nara memegangi dahinya, dia sedikit meringis karena dahinya membiru.


"Gak apa-apa sayang, nanti juga sembuh kok. Lain kali adek hati-hati ya," gadis itu mengangguk.


"Mbak lain kali jagain yang bener ya!" ucap Nara pada pengasuh itu.

__ADS_1


"Iya mbak, terima kasih sudah nolongin non Rere?" Nara mengangguk lalu pamit.


Bersambung..


__ADS_2