
Akhirnya mereka sampai di depan rumah Arga. Rega menekan klakson mobilnya agar satpam membukakan pintu. Tak lama terdengar suara langkah kaki berlari, satpam keluar dan saat melihat Nana dia langsung membukakan gerbang.
"Ini rumah aunty?" tanya Rere.
"Bukan sayang, ini rumah kakak aunty!" jawab Nana.
"Ayo masuk!" ajak Nana setelah keluar dari mobil.
Nana menggandeng tangan Rere masuk ke rumah. Nana menekan bel beberapa kali, tak lama bi Inah membukakan pintu dan dia terlihat senang melihat Nana.
"Ya ampun non Nana. Akhirnya pulang, semua orang di sini mencemaskan non Nana!" ujar si bibi.
Nana tersenyum lalu mengajak Rega dan Rere masuk. "Iya bi, maaf udah bikin khawatir orang rumah!" ucap Nana menjawab ucapan bi Inah.
"Ya udah kalian duduk aja dulu. Bibi ambilin minum ya, sekalian panggil Non Nara!"
Nana mengangguk. Lalu dia menatap Rere yang duduk di sampingnya, Rere menoleh dan tersenyum.
"Kenapa dada aku aneh ya!" ucap Rere tiba-tiba.
Nana dan Rega saling berpandangan. "Aneh gimana sayang?" tanya Nana bingung.
"Gak tau aunty. Di sini dada aku aneh, coba deh aunty pegang!" ucapnya sambil membusungkan dadanya.
Nana dan Rega kembali saling berpandangan bingung. Lalu Nana pun memegang dada Rere. Nana merasakan jantung Rere berdetak lebih kencang dari normalnya, dia juga merasa aneh padahal Rere tidak habis berlari. Apa Rere sakit jantung? pikir Nana.
"Nana!" panggil seseorang dan semua orang menoleh. Seseorang yang tak lain adalah Nara langsung menghampiri Nana dan memeluknya.
"Ya ampun kamu kemana aja? Aku khawatir banget tau, kamu gak apa-apa kan? Kamu gak terluka kan?" tanya Nara khawatir.
Dia belum sadar keberadaan dua orang yang di bawa Nana.
__ADS_1
"Kamu bawel banget deh, kayak emak-emak!" ledek Nana.
Nara tertawa dan melepaskan pelukannya. "Jangan ngeledek Na, aku memang sudah emak-emak!" jawab Nara tertawa di ikuti Nana.
"Mami!" tiba-tiba suara gadis itu menghentikan tawa Nara dan Nana.
Nara menoleh. Matanya membulat melihat gadis kecil itu, meski gadis itu sudah bertambah usia, tapi wajahnya tidak berubah hanya ada perubahan sedikit dan dia semakin besar.
Nara masih mematung, apakah dia sedang berhalusinasi atau bermimpi gadis kecil di masa lalunya ada di hadapannya. Kini Nara menoleh ke arah kiri, ke arah pria di masa lalunya.
Pria itu terdiam mematung menatap wanita itu. Entah apa yang sedang di pikirkannya? Dia juga tidak menyangka bertemu lagi dengan wanita masa lalunya.
Tiba-tiba Rere beranjak dan memeluk Nara. Tangisnya pecah melihat kembali wanita yang dia anggap ibunya.
"Mami.. aku kangen mami.. huhuhuhu.. kenapa mami pergi tinggalin aku.. hiks.. hiks.."
Nara membalas pelukan gadis itu, dia mengusap lembut kepala Rere. Air mata pun tak luput dari Nara mengalir deras membasahi pipinya.
Dia memeluk erat gadis itu, dia juga sangat merindukan gadis kecil itu. Dua tahun yang lalu dia terpaksa meninggalkan gadis kecil itu karena terpaksa.
"Kenapa mami pergi tinggalin aku huhuhu? Kenapa mami?!"
Nara tak bisa berkata apa-apa. Dia tidak tau harus jawab apa? Dia bingung.
"Aku selalu suruh papi cari mami. Tapi papi selalu marah!" ucap gadis itu mengadu.
Pandangan Nara beralih ke Rega. Rega pun menatap Nara dengan tatapan sendu. Di sini yang terlihat bingung adalah Nana. Dia bingung apa yang terjadi? Kenapa Rere memanggil Nara mami? Nana benar-benar bingung dan tidak mengerti.
"Mami!" gumam Nana bingung.
Tiba-tiba dia ingat percakapannya dengan Rere di mobil, dia berusaha mencerna ucapan Rere di mobil dan kejadian di depan matanya.
__ADS_1
Nana menghela nafas panjang. Dia masih bingung ada hubungan apa di antara mereka bertiga? Nana menatap Rega yang terdiam membisu sambil menatap Nara yang sedang memeluk Rere.
"Apa mereka punya hubungan?!"
Nana masih sibuk dengan pikirannya, entahlah ada sesuatu yang sakit di dalam dadanya melihat Rere memanggil Nara mami.
"Ada apa di antara mereka?"
Pikiran negatif menyerang otak Nana. Segala praduga hinggap dalam kepalanya. Nana menatap Rere dan Nara yang masih berpelukan, mereka seperti sedang melepas rindu. Mereka seperti dua orang yang sudah lama tidak bertemu. Gadis kecil itu sudah tidak menangis lagi dia malah terlihat bermanja pada Nara.
Nana memalingkan wajahnya, entahlah tapi hatinya terasa sakit. Nana beranjak dan pamit pada mereka dia tidak sanggup melihat itu semua. Ada rasa cemburu saat melihat Rere sangat dekat dengan Nara.
Melihat Nana beranjak, Rega pun ikut beranjak. Dia mengejar Nana yang akan masuk ke kamarnya. Rega berhasil mencekal lengan Nana.
"Lepas pak, aku mau ke kamar!" ucap Nana dengan nada ketus.
Rega tak melepaskan tangannya. Dia malah menarik Nana ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.
Nana terdiam dan memalingkan wajahnya ke arah lain, entahlah dia enggan menatap Rega. Padahal baru saja dia merasakan bahagia karena cintanya terbalas, tapi dalam sekejap hatinya merasakan sakit dan kecewa karena dia yakin ada sesuatu antara Rega dan Nara.
Rega tak mengatakan apapun, dia menarik tubuh Nana ke dalam pelukannya.
"Jangan salah paham! Mas akan jelasin semuanya." ucap Rega.
Nana hanya terdiam dalam pelukan Rega. Air matanya mengalir. Entahlah perasaannya saat ini tidak karuan, dia merasakan sakit dan cemburu.
Nana melepaskan pelukannya dan menatap tajam Rega.
"Apa kamu punya hubungan dengan Nara?!"
bersambung..
__ADS_1