Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Mami Untuk Rere


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Hari ini Rega berniat akan menginap di rumah mamanya bersama Rere. Sebenarnya Rere terus menanyakan Nara, tapi karena Rega tidak ingin Rere terus-terusan bergantung sama Nara, dia mencoba mengalihkan pikiran Rere tentang Nara.


Rega tidak ingin Rere terus berharap pada Nara. Dia harus menjauhkan Rere dengan Nara, dan dia harus membuat Rere melupakan Nara. Itu semua demi kebaikannya, karena tidak mungkin dia terus berharap pada Nara.


Andai saja Nara belum menikah, mungkin tidak masalah dia mendekatkan anaknya dengan Nara tapi Rega tidak ingin kesalah pahaman itu terjadi lagi.


"Mbak, udah siap belum?" teriak Rega dari lantai bawah.


"Iya tuan, sudah!" Sahut Wiwi pengasuh Rere dari lantai atas.


Tak lama Wiwi dan Rere turun. Rere terlihat antusias.


"Papi kita mau ke lumah mami?" tanya Rere saat berada di gendongan Rega.


"Bukan sayang, kita mau ke rumah Oma!" jawab Rega. Rere sebal dan mengerucutkan bibirnya.


"No papi, kita ke lumah mami!"


"Rere harus dengerin papi, Rere harus lupain onty Nara!" ucap Rega menjelaskan.


"No onty papi, tapi mami.." pekik gadis kecil itu tak terima.


"Dia mami aku!!" teriaknya marah di depan wajah Rega.


"Papi gak pernah ajarin Rere buat teriak-teriak sama orang tua ya. Gak boleh kayak gitu gak sopan!" ucap Rega tegas, membuat gadis kecil itu memajukan bibir bawahnya pertanda akan menangis.


"Don't cry ok, papi gak suka. Rere gak boleh cengeng." Rega berkata dengan tegas membuat Rere mengira Rega sedang memarahinya.


"Huwaaaa... Mamiii.." Tangis gadis kecil itu pecah.


Rega menggelengkan kepalanya pusing. Dia segera membawa Rere ke mobilnya di ikuti Wiwi.


Sepanjang perjalanan gadis kecil itu terus menangis dan memanggil-manggil Nara. Rega frustasi dengan putrinya itu.


"Mami huhuhuhu.. mami Nala.."


"Stop Rere don't cry, papi gak suka ya Rere nakal!" Sentak Rega.


"Huwaaaa.." gadis kecil itu semakin menangis kencang. Wiwi berusaha menenangkan Rere tapi tak berhasil.


Rega mengusap wajahnya kasar. Dia benar-benar frustasi memikirkan putrinya.


Setelah cukup berfikir beberapa hari ini. Rega berniat akan mencari ibu buat Rere, ya dia akan menikah. Dia sudah memikirkan ini dengan matang, dia tidak ingin Rere tumbuh tanpa sosok ibu. Dia sadar Rere butuh sosok ibu, selain itu agar Rere juga bisa melupakan Nara, jadi dia akan mencari ibu buat Rere.


Saat ini dia tidak boleh egois, dia harus memikirkan masa depan Rere. Untuk saat ini dia harus mengesampingkan perasaan dan egonya.


"Maafin papi ya sayang!" batin Rega sendu.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka sampai di rumah pak Dito. Rere sudah terlelap di mobil setelah menangis, mungkin kelelahan.


Rega segera menggendong Rere dan membawanya ke kamar.


"Mbak temenin Rere ya!" ucap Rega pada Wiwi.


"Iya tuan!"


Rega keluar lalu duduk di sofa, dia memijit pelipisnya. Dia akan berbicara serius dengan ibunya.


"Rere mana ga?" tanya bu Ingrid saat melihat Rega terduduk lesu di sofa.


"Tidur mah," jawab Rega.


"Kamu gak ke kampus?" Rega menggeleng.


"Ada apa? Ada masalah?" tanya bu Ingrid melihat raut wajah putranya yang kusut.


"Aku mau nikah mah!"


"Maksud kamu? Mau nikah sama siapa?" tanya Bu Ingrid bingung tiba-tiba putranya ingin menikah.


"Gak tau," jawab Rega.


Bu Ingrid semakin mengernyit heran. "Ada apa sebenarnya sih ga?"


"Aku pengen cari ibu buat Rere mah, aku sadar Rere butuh sosok ibu. Jadi aku berniat akan menikah dan mencari ibu buat Rere tapi aku belum tau siapa calonnya. Aku bisa minta tolong sama mama buat cariin, yang pasti dia harus menyayangi Rere seperti anaknya sendiri." Tutur Rega panjang lebar.


"Seperti Nara!" gumam Rega pelan, tapi tetap terdengar oleh bu Ingrid.


Bu Ingrid menghela nafas. "Aku pengen Rere melupakan Nara mah, aku gak mau Rere terus bergantung dan berharap pada Nara. Jadi aku pengen nikah biar Rere punya sosok ibu dan tidak terus-terusan panggil Nara mami," jelas Rega.


"Kamu serius?" Rega mengangguk.


"Yang terpenting sekarang kebahagiaan Rere mah!" jawab Rega.


"Tapi kalo seandainya Rere maunya sama Nara, gimana?" Rega menatap mamanya.


"Maksud mama apa sih? Jangan berharap yang tidak mungkin mah, Nara sudah menikah!"


"Ya mama tau itu, tapi kamu tau sendiri gimana kedekatan Rere dan Nara," Rega menghela nafas berat.


"Aku gak tau mah!" jawab Rega lesu. Karena sebenarnya dia pun berharap Nara yang menjadi mami buat Rere.


***


Di tempat lain Arga sedang frustasi mengetahui Hana hamil. Dia mondar-mandir di dekat brankar Hana, menunggu Hana sadar karena wanita itu masih tidak sadarkan diri.


"Bisa-bisanya dia hamil!" gumam Arga frustasi.


Dia ingat saat dia pulang dari Bandung bersama Hana, dua hari mereka di Jakarta mereka melakukannya. Itu pun karena ulah Hana yang menjebak Arga, dia menaruh obat perangsang pada minuman Arga dan akhirnya Arga menyalurkannya pada Hana. Tapi Arga tidak menyangka jika Hana akan langsung hamil secepat itu.


Dulu saat mereka masih harmonis, Hana menunda punya momongan dengan alasan belum siap padahal Arga ingin cepat punya anak. Meski Arga sudah memintanya berkali-kali tapi Hana tetap memaksa memasang spiral.


Tapi sekarang Hana sengaja menjebak Arga agar dia tidak jadi menceraikannya. Saat Arga bilang akan tetap menceraikannya, Hana mencari cara agar bisa menggagalkan rencana Arga. Dan akhirnya dia buat rencana itu dan ternyata berhasil, dia hamil dan dia yakin Arga tidak akan menceraikannya.

__ADS_1


Arga benar-benar sangat frustasi, itu artinya dia tidak bisa menceraikan Hana dalam waktu dekat, dia harus menunggu Hana melahirkan dulu.


"Kenapa jadi begini?" geram Arga frustasi.


"Mas!" panggil Hana yang sudah sadarkan diri.


Arga menoleh dan menatap Hana datar.


"Kenapa aku ada di sini mas? Aku kenapa?" tanya Hana bingung.


"Kamu hamil!" jawab Arga datar. Hana membulatkan matanya.


"Mas serius?"


Arga terdiam dia tidak tau harus bahagia atau tidak. Karena yang dia harapkan sekarang adalah anak dari Nara bukan Hana wanita yang sudah tidak dia cintai. Tapi takdir berkata lain.


"Aku seneng banget mas. Akhirnya keinginan kamu untuk memiliki anak terwujud. Aku memang melepas spiral itu karena aku sudah siap punya anak mas. Dan akhirnya doa kita terkabul," ucap Hana bahagia.


Arga masih mematung. Sedangkan Hana terlihat bahagia karena rencananya berhasil untuk menjebak Arga.


"Tidak sia-sia aku menjebak mas Arga, Tuhan benar-benar memihakku!" batin Hana senang.


Hana menatap Arga yang sedang terdiam, dia tau suaminya itu sedang stres.


"Dan aku akan pastikan pelakor itu enyah dari hidup mas Arga. Tunggu aja tanggal mainnya jal*ng. Kau akan mendapatkan balasannya karena sudah berani merebut suamiku." batin Hana geram.


Setelah kondisi Hana membaik, mereka kembali pulang. Sepanjang perjalanan Arga hanya terdiam tapi Hana terus tersenyum sumringah sambil mengelus perutnya.


"Anak kita laki-laki atau perempuan ya mas?" tanya Hana. Tapi pria itu tak bergeming sama sekali, dia fokus pada jalanan di depannya.


Hana menghela nafas. Dia yakin perlahan dia akan mendapatkan hati suaminya lagi. Apa lagi sekarang udah ada anak diperutnya.


***


Nara menunggu Arga yang belum pulang sampai larut malam, telpon pun tidak bisa di hubungi.


"Kamu kemana mas? Kenapa gak hubungi aku!" gumam Nara cemas.


Nara mondar-mandir di ruang tamu. "Non Nara kok belum tidur?" tanya bi Inah yang kebetulan lewat ruang tamu.


"Nunggu mas Arga bi, dia belum pulang!" Jawab Nara sendu.


"Bibi temenin ya!" Nara menggeleng.


"Bibi istirahat aja, bibi pasti capek seharian bekerja. Bibi istirahat aja ya!"


"Benar gak apa-apa non bibi tinggal?" tanya bi Inah karena dia memang sudah sangat mengantuk.


Nara mengangguk. "Iya gak apa-apa bi, makasih ya bi!"


"Ya udah bibi tidur duluan ya non!" Nara mengangguk.


Nara menatap jam di dinding, sudah jam sebelas malam lewat dia sangat mengkhawatirkan suaminya.


Nara duduk di sofa menunggu Arga hingga akhirnya dia terlelap di sana.

__ADS_1


bersambung..


__ADS_2