Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Rega Sebastian


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


"Papi, ayo aku pengen ketemu onty papi.." rengek gadis kecil itu sambil menarik-narik lengan sang ayah.


"Iya sayang tapi papi gak tau, di mana onty tinggal nak!" Jawab sang ayah.


"Kasian papi onty teluka, gala-gala nolongin aku!" Ucap gadis kecil itu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Iya, tapi papi gak tau rumah onty di mana sayang!" Ucap pria itu sambil mengusap pipi gadis kecil itu.


"Huaaaaa.. pengen ketemu onty!!" Tangis gadis kecil itu pun pecah, kala sang ayah tidak menuruti kemauannya.


"Kasian onty papi huhuhuhu..!" gadis kecil itu meraung-raung, sambil memukul-mukul pundak sang ayah.


Pria itu pusing menghadapi putrinya. Bagaimana dia mencari orang yang sudah menyelamatkan anaknya itu. Dia sendiri tidak tau seperti apa orangnya.


"Oke, oke, not cry princess. Kita cari onty oke, tapi setelah papi mengajar oke!" Ucapnya berusaha menenangkan putrinya sambil mengusap air mata gadis kecil itu.


Tangis gadis kecil itu sedikit mereda tapi masih tersedu-sedu.


"Papi janji?" Tanyanya sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Pria itu menghela nafas.


"Janji, tapi jangan nangis lagi oke?"


"Iya papi, aku gak nangis. Ini cuma pedes!" kilahnya dengan raut menggemaskan sambil mengusap air matanya sendiri. Pria itu tersenyum melihat tingkah lucu putrinya.


"Good girl. Not cry oke, papi tidak suka itu!" Gadis itu mengangguk cepat.


"Ya sudah sekarang Rere sarapan sama ncus, terus berangkat sekolah," ucap pria itu sambil mengecup pipi chubby sang putri.


Gadis kecil itu turun dari gendongan sang ayah.


"Papi, don't Foget oke. Kita ketemu onty nanti!" Gadis itu mengingatkan sang ayah, sebelum ayahnya berangkat. Belum apa-apa dia sudah menagih janji.


"Iya sayang. Papi berangkat oke. Baik-baik sama ncus, nanti Oma ke sini!" Balas pria itu sambil mengecup kening gadis itu.


"Mbak, jaga Rere baik-baik ya. Saya gak mau kejadian seperti kemarin terulang lagi!" Ucap pria itu pada si pengasuh.


"Iya tuan!" Jawab si pengasuh.


"Dadaaah.. papi.." gadis itu melambaikan tangannya pada sang ayah yang akan masuk ke dalam mobil, pria itu pun membalas lambaian tangan sang putri. Setelah itu dia masuk ke mobil dan melajukan mobilnya.


Dia menghembuskan nafas berat, bagaimana dia menepati janji pada sang putri untuk bertemu orang yang sudah menyelamatkan anaknya itu.

__ADS_1


Lagi-lagi dia menghembuskan nafas berat. Matanya beralih pada sebuah foto yang terletak di dashboard mobil, dia tersenyum pada foto itu.


"Sayang, putri kita sudah besar. Dia cantik dan pintar seperti kamu!" Ucapnya pada foto seorang wanita yang sudah pergi meninggalkannya saat melahirkan putrinya itu.


Sampai saat ini, pria itu belum juga mencari pengganti istrinya yang sudah meninggal. Dia belum ingin menikah lagi. Selain masih mencintai istrinya dia juga tidak ingin sembarangan mencari ibu buat Rere anaknya.


Rega Sebastian, duda anak satu seorang dosen di universitas ternama di kotanya. Masih setia menduda, padahal kedua orang tuanya sering menjodohkan dia dengan anak teman-temannya. Tapi tak ada satupun yang dia terima karena masih betah sendiri dan juga belum ada yang bisa menggantikan posisi istrinya di hatinya.


Dia belum bisa menemukan wanita yang sama seperti istrinya, yang baik, dewasa dan pengertian seperti Angel istrinya.


Tak lama dia sampai di kampus. Rega langsung memarkirkan mobilnya di parkiran. Dia bergegas keluar dan menuju ruangannya.


Tapi saat dia berjalan menuju ruangannya, tiba-tiba seseorang menabraknya, Rega langsung menangkap tubuh gadis itu yang terpental dan hampir terjatuh karena menabraknya.


Mata gadis itu membulat dan mulutnya menganga karena syok menabrak pria pujaannya dan juga tidak menyangka pria itu memeluk tubuhnya meski semua itu karena ketidaksengajaan.


"Lain kali jangan lari-lari di dalam kampus. Ini bukan tempat untuk bermain!" Ucap Rega tegas sambil melepaskan pelukannya.


"Maaf pak, saya gak sengaja!" Ucap gadis itu sambil menunduk.


"Jangan di ulang lagi!" Gadis itu mengangguk.


Rega pun meninggalkan gadis itu dan melanjutkan langkahnya menuju ruangannya. Sedangkan gadis itu menghentakkan kakinya kakinya kesal karena bersikap konyol di depan pria pujaannya.


"Pak Rega!" Keluhnya sambil menatap kepergian dosen itu dengan tatapan sendu.


Rega memang sangat populer di kampusnya. Para mahasiswi terus memuja dan mengagumi seorang Rega, dia di juluki hot daddy oleh mahasiswi di sana, termasuk gadis yang menabraknya tadi Nana Maulida.


***


Pak Derry sedang memerintah karyawannya untuk mengatur dekor agar sesuai pesanan pelanggan.


Acaranya nanti malam, siang ini mereka sudah siap-siap untuk mempersiapkan semuanya.


"Huhhh.." Tika menghela nafas lelah.


"Kenapa?" tanya Nara. Tika menyenderkan kepalanya di pundak Nara.


"Capek Ra," jawabnya.


"Bobo sana!"


"Pengennya!"


"Bobo noh di kolong meja!"


"Hishh, nyebelin!" Tika mendelik tajam. Sedangkan Nara terkekeh.


"Siapa ya Ra cewek yang beruntung itu? Mau di lamar di tempat sebagus dan seromantis ini? Argh, gue pengen Ra di lamar kayak gini. Sayangnya pacar gue cuma ojol, dia mana mampu buat bikin beginian," keluh Tika penuh harap.

__ADS_1


Nara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Bersyukur aja tik, yang penting kamu bahagia sama dia. Kemewahan tidak menjamin kebahagiaan tik, inget yang penting kamu dan Rico saling mencintai dan menerima satu sama lain," ucap Nara.


Tika mengangkat kepalanya dari pundak Nara, lalu dia mengangguk.


"Iya Ra, gue bahagia banget sama Rico. Dia baik, pengertian, sayang sama gue dan gak banyak nuntut!"


"Nah gitu dong, bersyukur apa yang kita punya saat ini bisa jadi apa yang kita punya adalah sesuatu yang di harapkan orang lain. Jangan pernah iri sama milik orang lain, karena belum tentu apa yang kita lihat baik, baik juga buat kita!" Tika menoleh dan tersenyum mendengar ucapan Nara.


"Huhh, sok bijak lo!"


"Yeee.. di bilangin!" cibir Nara. Mereka pun tertawa bersama.


Setelah cukup istirahat, mereka kembali berkutat lagi dengan pekerjaan. Hingga malam tiba, para karyawan Resto pun sudah berganti pakaian untuk menyambut dua insan yang akan melakukan lamaran itu.


"Gue udah rapi belum nih?" tanya Tika sambil membenahi baju dan rambutnya.


"Udah!" balas Nara singkat.


Semuanya sudah berkumpul di ruang utama. Lampu resto di buat temaram agar terlihat semakin romantis. Terlihat seorang wanita yang sedang di tutup matanya oleh kain hitam. Dia berjalan di bantu temannya dan si pria yang ingin melamar sudah bersiap berdiri untuk menyambut calon istrinya itu.


"Kita mau kemana sih?" tanya si wanita pada kedua temannya yang sedang memapahnya.


"Udah ikutin aja. Ada kejutan buat lo!" jawab temannya.


Setelah sampai di depan si pria, penutup mata wanita itu di buka. Alunan musik romantis pun terdengar di lantunkan.


Wanita itu terlihat tercengang, dia sampai menutup mulutnya karena kaget atau mungkin juga syok. Dia melihat sekeliling, lalu menatap ke arah pria di depannya, pria itu menghampiri si wanita dan berlutut di depan si wanita sambil memegang sebuah cincin sambil berkata.


"Will you marry me?"


Tika yang melihat itu menangis terharu, dia berharap dirinya dan Rico yang ada di sana. Nara menggelengkan kepalanya melihat Tika. Nara kembali menatap dua insan yang sedang di mabuk asmara itu. Tiba-tiba dia ingat Arga, dia sendiri membayangkan dirinya dan Arga di sana. Tapi dia segera menepis pikiran itu dan tersenyum.


Seperkian detik belum ada jawaban dari si wanita, dia mematung menatap pria di hadapannya yang sedang berjongkok mengharapkan balasan darinya. Sepertinya wanita itu masih syok sampai speechless seperti itu.


Tak lama bibirnya bergerak untuk mengucapkan sesuatu.


"Maaf, aku gak bisa terima kamu!"


Duarrr...


Bak tersambar petir, bukan hanya untuk si pria, tapi untuk orang-orang yang ada di sana, semuanya kaget. Tidak ada yang menyangka wanita itu akan menolak si pria, melihat pria itu terlihat sempurna, tampan, mapan dan sepertinya baik, tapi di tolak mentah-mentah.


Wanita itu pun bergegas pergi keluar dari Resto. Nara dan yang lainnya saling berpandangan. Tika pun merasa sedih melihat pria itu di tolak lamarannya.


"Kasian banget Ra!" Nara mengangguk. Pria itu tertunduk lesu, terlihat raut wajah yang begitu sedih dan kecewa.


Tiba-tiba pria itu beranjak lalu dia berjalan menghampiri entah Nara atau Tika atau siapa, karena pria itu berjalan ke arah mereka.

__ADS_1


Dan tiba-tiba..


Bersambung..


__ADS_2