Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Ancaman Galang


__ADS_3

Nara melewati Arga yang sedang berdiri di dekat pintu. Tapi Arga mencekal tangan istrinya.


"Lepas mas, aku ngantuk!" ucap Nara sambil melepaskan pegangan tangan Arga.


Nara berlalu ke kamar, dia tidak menghiraukan Arga yang mengikutinya. Setelah sampai di kamar, Nara langsung berbaring membelakangi Arga. Arga pun naik ke ranjang, dia tau istrinya belum terlelap. Lalu dia memeluk Nara dari belakang. Nara terdiam dan mengabaikan Arga, namun air matanya mengalir.


"Maafin mas sayang! Maaf udah nyakitin kamu. Mas cuma gak mau kehilangan kamu, mas cemburu saat kamu bertemu dengan masa lalu kamu. Mas takut, mas sangat takut dia mengambil kamu dari mas. Jangan tinggalin mas Sayang, jangan tinggalin mas lagi!" lirih Arga.


Arga semakin mengeratkan pelukannya dan mengecup tengkuk Nara. Nara terdiam dan mencerna ucapan suaminya, akhirnya dia tau jika diamnya sang suami karena cemburu. Kenapa dia tidak sadar, dari dulu Arga selalu cemburu dengan Rega.


"Jangan diemin mas. Mas mohon maafin mas Bun. Mas sayang sama kamu, mas Cinta sama kamu, makanya mas sangat takut kehilangan kamu."


Nara membalikkan tubuhnya menghadap Arga. Arga tersenyum lalu mengecup kening Nara.


"Maafin mas ya!" mohonnya sambil mengusap jejak air mata.


Nara memeluk Arga. "Aku juga mencintai kamu mas, sangat mencintai kamu. Jangan tinggalin aku dan Argan. Aku hanya punya kamu dan Argan. Kalian adalah belahan jiwaku, aku gak mau kehilangan kalian!" Isak Nara.


Arga mengeratkan pelukannya dan mengusap punggung Nara.


"Iya sayang. Kita akan selalu bersama-sama. Kita akan bahagia bersama sampai maut memisahkan kita. Aku mencintaimu Renara, sangat mencintai kamu! Kamu dan putra kita adalah harta paling berharga buat mas,"


Nara melepaskan pelukannya dan menatap suaminya. "Aku juga mas, aku sangat mencintaimu. Kamu adalah orang yang sudah menyembuhkan lukaku. Makasih kamu sudah hadir dalam kehidupanku dan memberikan Argan untuk penyemangat hidupku!"


Arga menempelkan keningnya dengan kening Nara. Lalu mencium bibir istrinya, yang awalnya lembut malah semakin agresif dan semakin menuntut. Akhirnya mereka menikmati malam indah penuh kenikmatan.


***


Nana sedang fokus dengan layar laptopnya. Tak lama ponselnya berdering, dia kira dari Rega tapi ternyata nomer tidak di kenal. Karena penasaran Nana pun menekan tombol hijau.


"Hallo ini dengan siapa?"


"Hallo sayang, cantiknya aku. Apa kabarmu? Aku rindu sayang!" jawab seseorang di sebrang.


Nana mendengus kesal. Dia langsung memutuskan sambungan telepon dan langsung memblokir nomer itu.


Dadanya naik turun menahan emosi. Dia sangat kesal karena Galang terus mengganggunya. Sudah beberapa hari dia tenang karena pria itu tidak menggangunya dan sekarang dia mulai mengganggu lagi.


Ting!

__ADS_1


Sebuah pesan masuk dari nomer baru. Nana membukanya dan membulatkan matanya saat membaca pesan itu.


"****! Gila!!" teriak Nana emosi.


Nana kembali membaca pesan itu untuk memastikan dia tidak salah baca.


[Sayang, kamu tidak akan bisa lepas dari aku. Kamu tidak akan bisa lari dari aku. Kamu cuma milik aku sayang. Tidak ada yang bisa memiliki kamu selain aku. Aku gak bakal biarin kamu bersama pria itu. REGA SEBASTIAN!!"]


Nana meremas ponselnya. "Itu artinya dia sudah tau keberadaan ku. Sial! Awas kau Galang!!"


Ting!


Tak lama kembali pesan masuk namun bukan chat, tapi sebuah foto. Nana segera mendownloadnya.


Mata Nana kembali terbelalak melihat apa yang di kirim Galang. Nana frustasi melihat Galang mendekati Rere, dia sedang di sekolah Rere dan mereka berfoto bersama meski terlihat senang.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Semoga Galang tidak macam-macam sama mas Rega dan Rere!" gumam Nana khawatir.


Dada Nana terasa sesak dan terasa ada yang menghantam dadanya. Dia takut Galang melukai orang-orang yang dia sayangi.


Ting!


Nana langsung membuka, Galang kembali mengirim Foto dan kini foto rumah Arga, ada caption di bawahnya.


Nana memijit pelipisnya, dia benar-benar stres menghadapi orang stres itu. Nana langsung menghubungi nomer itu, terhubung dan langsung di angkat.


"Halo cantik! Bahagianya aku kamu menghubungi aku duluan sayang!" ucap Galang di sebrang telpon.


"Berisik! Apa mau Lo, breng*ek!! Jangan ganggu keluarga gue!!" teriak Nana kesal.


"Aku cuma mau kamu, cuma kamu bidadari ku. Nana Maulida jadilah istriku."


Nana menahan emosi yang semakin naik ke ubun-ubun, ingin sekali dia menghajar pria gila itu.


"Gue gak Sudi jadi istri Lo. Jangan harap!!" pekik Nana semakin kesal.


"Tapi kamu tidak akan bisa lari cantik! Lihat saja!"


Tut.. Tut.. Tut..

__ADS_1


Telpon di matikan oleh Galang dan itu semakin Nana kesal dan emosi. Dia menggebrak meja untuk melampiaskan emosinya.


"Kenapa Lo gak mati aja Lang. Sia*an!!"


Nana semakin frustasi menghadapi Galang. Pria itu benar-benar sudah hilang akal.


Tok! Tok! Tok!


Nana menghela nafas untuk meredam emosinya saat mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk!"


Seseorang membuka pintu ternyata Rafi. Dada Nana masih terasa sesak, tapi dia berusaha menetralkannya.


"Permisi Bu!"


Nana menoleh dan tersenyum. Tapi tatapan Rafi menyelidik.


"Ibu sakit?!"


Nana menggeleng cepat. "Gak Raf, aku gak apa-apa. Cuma sedikit pusing tapi udah mendingan kok. Ada apa Raf?"


"Ini ada beberapa berkas yang harus ibu periksa dan tandatangani."


Nana mengangguk dan mengambil berkas itu. Rafi terus memperhatikan Nana yang terlihat gelisah. Meski dia sudah berusaha melupakan Nana dengan mencari wanita lain. Tapi dia selalu khawatir jika melihat Nana sakit.


"Ada apa lagi Raf?" tanya Nana melihat Rafi malah terdiam mematung.


"Ibu yakin tidak apa-apa? Tadi saya denger ibu teriak-teriak!" ujar Rafi.


Nana tersenyum tipis. "Tadi aku lagi main game, terus kesel karena kalah terus. Maaf ya ganggu kamu!" balas Nana sambil nyengir.


Rafi hanya mengangguk. Tapi dia yakin ada sesuatu yang di sembunyikan Nana. Tapi dia tidak ingin ikut campur apa lagi masalah pribadi, dia juga tidak ingin perasaannya semakin besar.


"Ya sudah kalo begitu saya pamit ya Bu!" Nana mengangguk.


Nana kembali fokus ke berkas, tapi sesekali dia memijit pelipisnya dan itu tak luput dari pandangan Rafi. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


"Semoga kamu baik-baik aja Na!" batin Rafi.

__ADS_1


bersambung..


Maaf ya aku jarang update. Tapi Insyaallah ceritanya sampe tamat kok. Tetap ikuti ceritanya ya!


__ADS_2