Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Kebohongan dan Pengkhianatan


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Selamat Membaca


***


Nara sedang membuat teh untuk dirinya, tapi dia malah melamun saat sedang mengaduk teh.


Dia masih kepikiran dengan wanita yang dia tabrak di rumah sakit. Dada Nara terasa sesak dan bergemuruh.


"Kenapa aku harus bertemu dengan dia lagi?" gumamnya.


Nara menghembuskan nafas kasar. Pikirannya melambung ke masa lalu yang menyakitkan.


"Kalo tante Hesti ada di sini, itu artinya ayah juga ada di sini!" gumamnya lagi.


"Tapi sepertinya Tante Hesti tidak mengenaliku?!"


Sebenci apapun dia pada ayahnya, sebenarnya ada rasa rindu yang menggelayut di hatinya. Seburuk apapun ayahnya dia tetaplah ayahnya. Tapi luka yang di torehkan ayahnya terlalu dalam, hingga Nara menutup pintu maaf untuk ayahnya.


Saat sedang asyik melamun, tiba-tiba ada tangan melingkar di perutnya dan juga hembusan nafas menerpa lehernya karena saat ini Nara sedang menggelung rambutnya ke atas. Seketika Nara tersadar dari lamunannya, dia langsung menoleh ke samping dan melihat pria yang sedang memeluknya.


Nara terdiam, dia masih enggan bertemu dengan Arga. Hatinya belum siap, dia berusaha melepaskan tangan Arga tapi Arga menahannya.


"Mas kangen sama kamu sayang, biarin kayak gini," ucap Arga sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara.


Nara menghela nafas panjang. Dia membiarkan sejenak suaminya untuk memeluknya, karena sebenarnya dia pun merindukannya.


"Jangan diemin mas lagi sayang, sudah cukup mas gak mau di hukum lagi. Mas gak sanggup, maafin mas sayang!" lirih Arga, sambil mengecup leher Nara.


Nara melepaskan pelukan Arga. Lalu dia berbalik menghadap Arga. Nara menatap Arga dingin. Lalu dia berjalan meninggalkan Arga.


"Sayang, mas mohon jangan hukum mas lagi. Apa belum cukup hukuman mas, udah seminggu lebih kamu diemin mas. Mas kangen sama kamu Nara!" ucap Arga mengikuti langkah Nara ke depan.


Nara terdiam dan tidak memperdulikan Arga. Dia duduk di sofa dan meminum tehnya.


"Sayang!" Arga memeluk Nara dari samping.


"Maafin mas sayang, mas mohon!" lirih Arga, sambil menatap Nara dari samping. Nara menoleh dan menatap Arga.


Cup..


Arga mengecup bibir Nara. "Mas kangen banget sama kamu sayang, jangan diemin mas lagi!" ucap Arga dengan mata yang berkaca-kaca.


Nara memalingkan wajahnya.


"Sayang!" Arga kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Nara.


Nara menghela nafas, sebenarnya dia juga tidak tega mendiamkan suaminya terus. Dia juga merindukan Arga, tapi rasa kecewanya masih ada membuat dia sulit untuk memaafkan suaminya.

__ADS_1


Tiba-tiba tubuh Arga bergetar, Nara kaget dan langsung menatap Arga. Dia tidak menyangka jika suaminya menangis.


"Cengeng!" Celetuk Nara.


Arga mendongak saat mendengar suara istrinya, Nara menatap Arga yang sedang meneteskan air matanya.


"Jangan nangis jelek tau! Masa cowok nangis! Cengeng!" Ketus Nara.


Arga tersenyum akhirnya istrinya mau berbicara lagi dengannya. Arga langsung memeluk erat tubuh istrinya.


"Mas kangen banget suara kamu sayang!" ucap Arga senang.


Nara tersenyum lalu mengusap kepala Arga yang sedang bersender di pundaknya.


"Kamu maafin mas kan?" Nara mengangguk.


Dia tidak bisa lagi mendiamkan suaminya, dia tidak tega melihat suaminya tersiksa seperti itu.


Arga langsung menarik kepala Nara dan mencium bibir istrinya. Dia benar-benar merindukan lembutnya bibir ranum istrinya.


Akhirnya mereka tuntaskan kerinduan mereka lewat ciuman hangat yang bergairah.


Tanpa mereka sadari ada mata yang sedang menatap mereka. Nana tersenyum, dia senang akhirnya mereka sudah baikan lagi. Nana yang ingin masuk pun kembali keluar dan tidak ingin mengganggu mereka.


"Gimana ya rasanya ciuman?" gumam Nana. Dia terkekeh dengan pertanyaannya sendiri dan merasa konyol. Tiba-tiba saja dia membayangkan Rega.


"Astaga otakku! Kenapa pak Rega terus yang muncul di kepala. Memang pesona duda anak satu itu benar-benar tidak bisa di ragukan lagi hihihi..!" celotehnya sambil terkikik sendiri.


"Sayangnya pak Rega susah banget di deketinnya. Apa aku cuma bisa mencintainya dari jauh? huhh.."


Nana terus berceloteh sendiri sepanjang jalan. Dia berniat akan ke warung depan untuk membeli sesuatu. Nana memang pernah pacaran tapi belum pernah berciuman. Jadi bibirnya masih suci, pikir dia.


Setelah cukup puas melepas rindu sampai tidak sadar Nara duduk di pangkuan Arga. Mereka menghentikan ciuman panas itu.


Nara menempelkan keningnya dengan kening Arga.


"Sayang mas pengen, boleh gak?" tanya Arga.


Nara yang mengerti apa yang di inginkan suaminya langsung menunduk sambil *******-***** tangannya.


"Masih sakit ya?" tanya Arga.


Nara menggeleng lalu menatap Arga. "Aku masih takut mas," lirih Nara.


Hati Arga terasa sakit, dia melihat jelas ketakutan di mata istrinya. Arga langsung merengkuh Nara ke dalam pelukannya.


"Jangan dulu ya mas aku takut!" Isak Nara.


Hati Arga semakin terasa sakit melihat istrinya trauma dengan perlakuannya.


"Maafin mas sayang. Maaf mas udah nyakitin kamu!" ucap Arga.

__ADS_1


Nara melepaskan pelukannya dan menatap Arga. Nara mengusap wajah Arga lalu mengecup bibir suaminya.


"Aku udah maafin kamu mas. Tapi aku minta maaf aku belum siap untuk melakukan itu, aku masih takut!" ucap Nara sambil menunduk.


"Iya sayang mas akan tunggu sampai kamu siap. Makasih ya kamu udah mau maafin mas!" Nara mengangguk.


"Kesalahanmu masih bisa aku maafkan mas. Tapi ada satu kesalahan yang jika kamu melakukannya aku tidak akan pernah memaafkan kamu," ucap Nara.


Arga menatap lekat mata Nara. Dia jadi khawatir dengan ucapan Nara seperti itu, entah kenapa perasaannya tidak enak.


"Apa?" tanya Arga penasaran.


"Kebohongan dan pengkhianatan!"


Deg!


Mendengar ucapan Nara tubuh Arga seketika menegang. Bagaimana jika Nara tau tentang Hana, itu berarti Nara akan membencinya.


Nara memeluk tubuh Arga, sedangkan Arga sedang kalut dengan pikirannya.


Tiba-tiba perkataan Nana terngiang di kepalanya agar dia cepat menyelesaikan urusannya dengan Hana. Tapi dia tidak mungkin menceraikan Hana sekarang, dia harus menunggu Hana sembuh dulu baru dia bisa tenang menceraikannya.


"Apa yang harus saya lakukan? Saya harap Nara tidak akan pernah tau soal ini!" batin Arga.


"Mas kapan kita pulang ke Apartemen?" tanya Nara masih dalam pelukan Arga.


Lagi-lagi ucapan Nara membuat jantung Arga berdetak tidak karuan. Tubuhnya semakin menegang, karena tidak mungkin dia mengajak istrinya pulang.


Merasa tak ada jawaban dari suaminya, Nara melepaskan pelukannya dan menatap Arga yang sedang membeku.


"Sayang!" Arga masih larut dalam pikirannya dan menghiraukan panggilan Nara.


Nara menatap Arga. "Mas gak apa-apa?" tanya Nara.


"Mas!" panggil Nara karena suaminya tidak meresponnya sama sekali. Nara menepuk pipi Arga seketika lamunannya buyar.


"I-iya sayang ada apa?" tanya Arga sambil menatap Nara.


"Mas gak apa-apa?" Arga menggeleng dan tersenyum.


"Ayo kita pulang mas!" ajak Nara.


"Gak bisa sayang!"


"Kenapa?" tanya Nara bingung. Padahal sebelumnya Arga selalu mengajaknya pulang.


"Em.. itu sayang apartemen kita sedang di renovasi, kemarin air di sana tidak ngalir jadi untuk beberapa hari ini kita tinggal di sini gak apa-apa kan?" bohong Arga.


Nara mengangguk dan tersenyum. "Gak apa-apa mas, aku juga seneng tinggal di sini!" Balas Nara. Arga tersenyum dan mengecup bibir Nara.


"Maafin mas sayang, mas udah bohong sama kamu."

__ADS_1


Bersambung..


...Jangan lupa tinggalkan jejak ya para reader tersayang, Like dan komennya. Vote dan giftnya juga 😊😊...


__ADS_2