
Awal pertemuan Nana dan Galang adalah saat pertemuan kerjasama mereka. Saat itu Nana masih memegang perusahaan yang di Bandung.
Awal pertemuan Galang sudah jatuh cinta pada Nana. Awalnya pria itu terlihat dingin dan cuek. Dan Nana pun pernah mengagumi dan menaruh hati pada seorang Galang Prasetya, CEO dari PT Angkasa Putra.
Namun seiring berjalannya waktu Nana mengetahui rahasia yang di sembunyikan Galang. Ternyata pria itu sudah beristri dan memiliki dua orang putra kembar.
Dan perusahaan yang di kelola Galang, ternyata perusahaan milik istrinya. Dan saat itu pula, kekaguman Nana pudar seketika justru dia kesal jika Galang mendekatinya. Dan semakin Nana menjauh, semakin agresif pula Galang mengejar. Di situlah awal mula Nana membenci Galang yang tidak tau diri, sudah punya istri dan anak, perusahaan pun punya istri. Tapi banyak tingkah mengejar wanita lain.
Apa dia tidak takut jika Istrinya tau, perusahaan akan di ambil alih dan akan di depak.
Tapi itulah Galang, dia selalu punya rencana licik untuk mendapatkan apa yang dia inginkan termasuk memperistri Nana.
Saat ini pun Galang sedang merencanakan sesuatu untuk mendapatkan Nana.
"Lihat aja sayang, kamu pasti akan jadi milikku. Galang Prasetya tidak akan pernah gagal!" gumamnya sambil menyeringai menatap wajah cantik Nana di ponselnya.
Nana melangkah lesu meninggalkan kantor. Ancaman Galang benar-benar membuat kepalanya terasa mau pecah. Semoga Galang tidak melukai orang-orang yang di sayanginya, karena Nana tau Galang itu orang yang nekad.
Nana menuju lobi, dia melihat mobil seseorang sudah menunggunya. Nana mempercepat langkah dan menghampiri mobil itu.
"Mas jemput aku!" ujarnya sambil membuka pintu mobil Rega.
Rega tersenyum dan mengecup kening Nana. Wajah Nana memerah dengan perlakuan manis Rega.
"Iya sayang. Masa mas biarin calon istri mas pulang sendiri!" ujarnya.
Nana tersenyum manis. Dia begitu bahagia dengan perlakuan Rega padanya, dia menyesal sempat ragu dengan perasaan pria itu.
Rega melajukan mobilnya menuju rumah Arga. Sepanjang perjalanan Rega menggenggam tangan Nana. Membuat hati Nana berbunga-bunga.
Beberapa detik mereka terdiam. Nana menoleh menatap pria yang sangat di cintainya itu.
"Mas!"
__ADS_1
"Iya sayang!" Rega menoleh sebentar dan tersenyum.
Entahlah Nana merasa aneh, sikap Rega memang sangat manis tapi kenapa tiba-tiba perasaannya tidak enak.
"Apa mas yakin mau nikah sama aku?!"
Nana merasa takut kehilangan Rega, dia masih ingat ancaman Galang padanya. Apa lagi Galang tau pria yang di cintainya adalah Rega. Dia takut Galang melukai Rega.
Tiba-tiba mobil Rega berhenti di pinggir jalan yang agak sepi. Rega menoleh dan menarik Nana ke dalam pelukannya.
"Justru mas yang harus tanya seperti itu Na. Apa kamu yakin nikah sama mas? Mas duda beranak satu sedangkan kamu seorang gadis cantik, cerdas dan masih perawan. Apa kamu tidak malu menikah dengan mas?!"
Nana meregangkan pelukannya sedikit. Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa senti.
"Aku yakin mas. Aku sangat yakin, karena aku mencintai kamu dan aku juga sayang sama Rere!"
Rega tersenyum lalu mengusap kepala Nana. Dia memegang tengkuk Nana dan menariknya. Ciuman hangat dia berikan pada gadis cantik itu. Tangan Nana beralih ke leher Rega dan membalas ciuman itu.
Nana melepaskan tautan bibirnya dan menatap Rega sambil mengusap pipinya. Rega tersenyum dan mengecup kening Nana.
"Iya mas!"
Rega kembali melajukan mobilnya. Sedangkan Nana sedang sibuk dengan perasaan bahagianya. Dia memalingkan wajah ke arah samping namun tak sengaja netranya menatap sebuah mobil di belakang mobil Rega. Nana tau mobil itu mengikutinya, karena saat mobil Rega jalan beberapa meter meninggalkan kantornya Nana melihat mobil itu di belakangnya. Sudah sejauh ini mobil itu mengikutinya, Nana yakin dia sedang di buntuti dan Nana yakin Galang adalah dalangnya.
"Kenapa sayang?" tanya Rega tiba-tiba sambil mengusap kepala Nana.
"Gak apa-apa mas!"
Nana berusaha tenang dan tidak ingin membuat Rega cemas dan khawatir. Nana terus memperhatikan mobil itu.
"Ya Tuhan lindungi orang-orang yang aku sayang!"
Rega kembali menggenggam tangan Nana lalu mengecupnya. Nana tersenyum, Rega menoleh tapi Nana merasa heran entah kenapa wajah Rega terlihat sendu dan binar matanya meredup.
__ADS_1
"Mas sangat mencintai kamu Na, percayalah!"
Ucapan Rega terasa aneh di dengar Nana. Nana tau dan percaya Cintanya Rega.
"Iya mas aku percaya! Aku juga mencintai kamu!"
Rega kembali mengecup tangan Nana. Entah kenapa perasaan Nana semakin gelisah dan tidak enak. Dia kembali menatap kaca spion luar, mobil itu sudah tidak kini hanya sebuah motor di belakangnya.
Nana bernafas lega. "Kalo kamu ngantuk, tidur aja Sayang nanti mas bangunin kalo udah sampe!"
"Aku belum ngantuk mas." Rega tersenyum dan mengusak rambut Nana.
Tiba-tiba mobil Rega oleng, Rega menekan rem namun tidak bisa karena Rem nya blong. Rega panik begitu juga Nana.
"Kenapa mas?"
"Rem nya blong sayang!"
"Astaghfirullah!"
Nana dan Rega benar-benar panik. Dari arah depan ada mobil box yang sedang melaju, demi menghindari kecelakaan beruntun. Rega membanting setir hingga menabrak pembatas jembatan. Sontak mobil mereka terjun ke bawah jurang.
Mobil box berhenti, sang supir dan temannya bergegas menghampiri jembatan dan menatap mobil di bawah.
"Ya Allah semoga mereka selamat!" ucap sang supir dan temannya panik.
Supir segera menelpon polisi untuk mengabari kecelakaan itu dan temannya menelpon ambulance. Untung saja jurang itu tidak terlalu dalam masih bisa di jangkau oleh pandangan.
Seseorang menatap dari kejauhan. Lalu menelpon seseorang.
"Berhasil bos!"
"Lanjutkan rencana berikutnya!"
__ADS_1
"Siap bos!"
Bersambung..