Kisah Cinta Renara

Kisah Cinta Renara
Pertemuan kembali 3


__ADS_3

Kisah Cinta Renara


By Un Kurniasih


Warning!! ada adegan untuk yang sudah menikah ya!! 🤭


***


Nara terbangun, dia celingak-celinguk mencari keberadaan putranya yang tiba-tiba tidak ada di sampingnya.


"Argan!" panggilnya.


Nara beranjak, dia mengucek matanya pelan lalu dia keluar kamar. Tiba-tiba dia mendengar suara tawa seseorang di luar. Nara mendekat dia terkejut saat melihat ada Arga sedang bersama pak Harun dan Bu Mimin. Argan sedang dalam pangkuan neneknya. Mereka sedang bersenda gurau di atas ranjang yang terbuat dari bambu.


Arga berusaha dekat dengan putranya, meski Argan masih menatap bingung pria itu. Nara menatap kedua pria yang di sayanginya itu. Nara bingung apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia kembali dengan Arga? Sebenarnya hatinya masih sakit dengan kebohongan yang di lakukan suaminya itu, dia juga masih belum bisa memaafkan kesalahan suaminya.


"Neng!" panggil bu Mimin saat melihat Nara berdiri di ambang pintu.


"Iya Bu!"


"Ngapain berdiri di situ. Sini kita ngobrol!" ucap Bu Mimin.


Nara ragu untuk mendekati mereka. "A Fahmi kemana Bu?" tanya Nara mengalihkan kegugupannya.


Arga terus curi-curi pandang pada Nara. "Fahmi lagi ke desa sebelah ada urusan!" Nara mengangguk.


"Sayang kita mandi yuk!" ajak Nara pada Argan.


"Au nda, au mama ne! (Gak mau bunda mau sama nenek!)"


"Iya adek mandi dulu ya, nanti main lagi sama nenek!" ucap Nara sambil mengambil Argan dari Bu Mimin.


"Bu, pak aku mandiin Argan dulu ya!" ucapnya dia tidak memperdulikan Arga sama sekali.


"Bu, pak tolong bantu saya. Agar saya dan istri saya bersatu lagi!" ucap Arga pada Bu Mimin dan pak Harun setelah Nara masuk kedalam.


"Insya Allah, jika kami bisa. Kami akan membantu pak Arga!" ucap pak Harun.


Pak Harun pun tidak menyangka jika suami Nara adalah bos perusahaan tekstil yang di dirikan di desanya itu.


"Makasih Bu, pak!" jawab Arga.


"Saya boleh menemui Nara di dalam?" tanya Arga.


"Oh silahkan pak Arga, anda suaminya tidak apa-apa jika ingin menemui Nara!" jawab pak Harun.


Arga mengangguk dan tersenyum. Arga bertekad akan membawa Nara pulang. Sudah tiga hari dia tinggal di desa itu, dia tetap akan disana sampai dia benar-benar bisa membawa Nara pulang.


Arga menghampiri Nara yang sedang memandikan anaknya. Meski Nara mengelak Argan bukan anaknya, tapi Arga sangat yakin Argan itu putranya, bahkan wajahnya hampir semua copyan dari dirinya. Dan dia pun sudah menanyakan itu pada pak Harun dan bu Mimin, mereka sudah menceritakan semuanya pada Arga. Dari awal Nara datang bersama Fahmi ke rumahnya dan cerita Nara tentang kehidupannya.


Selesai memandikan Argan, Nara beranjak dia kaget saat melihat Arga yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.


"Ngapain kamu kesini? Sana keluar!" ucap Nara ketus.

__ADS_1


Tapi tak membuat Arga menjauh darinya, dia terus mengekor Nara sampai Nara masuk kamar. Nara merasa jengah dengan sikap pria itu, dia sudah berusaha mengabaikannya tapi pria itu pantang menyerah.


Arga terus memperhatikan wanitanya yang sedang mengurus putra kecilnya.


"Nda!"


"Iya sayang!"


"Iyah ana? (Ayah dimana?)"


"Ayah lagi keluar sayang!" jawab Nara sambil memakaikan minyak telon di tubuh Argan.


"Iyah gi? (Ayah pergi?)" Nara mengangguk dan tersenyum. Bocah kecil itu kembali memainkan botol minyak telon, kadang dia menggigitnya.


Melihat percakapan Anak dan ibu itu membuat Arga geram, karena dia tau siapa yang di maksud ayah oleh putranya itu. Sedih sekali rasanya pria lain malah di anggap ayah oleh putranya. Sedangkan dirinya di anggap orang lain. Terlebih lagi Nara terus mengacuhkannya, Arga menghembuskan nafasnya, dia berusaha untuk bersabar. Dia akan terus berusaha untuk mendapatkan hati wanitanya lagi.


Setelah selesai memakaikan baju pada Argan, Nara mengajaknya keluar tapi Arga menahannya.


"Apa sih mas?! Lepas, jangan macam-macam ya, atau aku teriak!" ucap Nara. Arga tersenyum.


"Teriak aja sayang, mas kangen dengan teriakan kamu!" bisik Arga di dekat telinga Nara, membuat tubuh Nara meremang mendengar bisikan Arga.


Nara berdecih kesal, dia berjalan meninggalkan Arga, tapi Arga menahannya dengan memeluk Nara dari belakang.


"Mas lepas, ada Argan!"


"Om papas nda! (Om lepas bunda!)" ucap Argan sambil memukul wajah Arga. Arga meringis karena putranya memukulnya.


Membuat Nara semakin kesal. "Apa-apaan sih kamu! Lepasin!" pekik Nara.


"Pasin! (Lepasin!)" Lagi-lagi Argan memukul wajah Arga.


Arga melepaskan pelukannya, lalu dia mengambil Argan dari gendongan Nara dan membawanya keluar. Tak lama dia kembali tapi tidak membawa Argan.


"Loh Argan mana mas?" tanya Nara bingung.


"Sudah mas titipin sama Bu Mimin dan pak Harun!" Mata Nara membulat.


"Kamu apa-apaan sih?" kesal Nara.


Saat dia akan pergi Arga menahannya. Dia menarik Nara ke dalam kamar, meski Nara terus berontak tapi Arga tidak melepaskan pelukannya, dia mengunci pintu kamar. Dia sudah meminta Bu Mimin dan pak Harun untuk memberinya waktu berdua sama Nara. Makanya dia menitipkan Argan pada mereka.


"Mas rindu sama kamu sayang! Jangan siksa mas lagi!" lirih Arga sambil mengeratkan pelukannya.


"Lepas mas, jangan kayak gini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi!" ucap Nara sambil memukul-mukul punggung Arga.


Arga melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Nara, dia langsung mencium bibir ranum istrinya yang sudah sangat dia rindukan.


Dia melumatt dan menyesap bibir Nara yang sudah jadi candunya. Dia tidak perduli Nara yang terus berontak. Pada akhirnya wanita itu menyerah dan tidak berontak lagi. Dia pasrah dan menikmati ciuman bergairah suaminya.


Arga tersenyum saat Nara mulai menikmati ciumannya. Tangannya tak tinggal diam, dia masuk ke dalam kaos Nara dan meremaas benda kenyal yang sangat dia rindukan itu.


Nara melenguh saat tangan Arga meremaas gunung kembarnya.

__ADS_1


"Eungh.. mas!" lenguh Nara.


Arga membuka kaos yang melekat di tubuh istrinya. Nara terdiam dan tidak menolak, sungguh dia kesal pada dirinya sendiri, meski otaknya menolak tapi tubuhnya tidak bisa menolak sentuhan Arga.


Arga menggendong Nara dan membawanya ke singgasana. Dia mengungkung tubuh Nara di bawah tubuh kekarnya.


Arga menciumi wajah Nara. "Mas kangen banget sama kamu sayang!"


Nara terdiam sambil menatap Arga, pikirannya semakin kacau, gagal sudah pertahanannya untuk melupakan pria itu.


"Mas!" Iirih Nara.


"Ssstt.." Arga menaruh jari telunjuknya di bibir Nara.


"Mas mohon sayang, pulanglah bersama mas. Maaf atas semua kesalahan mas. Mas gak mau kehilangan kamu lagi, sudah cukup hukuman yang kamu berikan pada mas!" ucap Arga sambil mengusap lembut pipi Nara.


Arga kembali memangut bibir Istrinya, kali ini Nara membalasnya. Tak bisa di pungkiri dia juga begitu merindukan suaminya dan sentuhan suaminya.


Kecupan itu beralih ke leher dan dada Nara sambil menggigit kecil memberi tanda kepemilikan. Arga melepaskan pengait bra istrinya dan melempar bra itu ke sembarang arah hingga terpampang dua benda bulat, bahkan saat ini semakin bulat dan besar, dia menikmati dua benda kenyal itu dengan rakus. Hingga suara-suara lenguhan sang istri membuat gairah Arga semakin meluap.


Setelah puas dengan kedua gunung kembar istrinya, kecupan Arga beralih ke perut. Dia menelusuri setiap inci tubuh istrinya tanpa terkecuali, hingga meninggalkan jejak kepemilikan di mana-mana.


Setelah puas menjelajahi tubuh candu sang istri, kini mulutnya tiba di lubang surgawi yang memabukkan itu, Arga membuka lebar kaki Nara. Arga bermain-main dengan lidahnya dan menyesap surgawinya yang sudah basah.


"Ahh.. mas.. ahh.. " suara-suara desah*an itu lolos begitu saja dari mulut Nara.


Setelah puas menikmati milik istrinya. Arga membuka baju dan celananya yang dia kenakan. Nara memalingkan wajahnya saat melihat pusaka sang suami sudah berdiri kokoh dan siap mengoyak miliknya, dia benar-benar malu karena menikmati sentuhan suaminya.


Setelah menanggalkan seluruh pakaiannya, Arga menatap wajah cantik istrinya.


"Percayalah sayang. Mas sangat mencintai kamu, melebihi apapun!" ucap Arga.


Nara masih memalingkan wajahnya dari Arga. Arga kembali menciumi leher dan dada Nara. Setelah puas, dia langsung memasukkan miliknya pada milik istrinya.


Dengan sekali hentakan, miliknya sudah terbenam dalam milik sang istri. Arga mendiamkan sejenak miliknya. Setelah itu dia mulai menggoyangkan pinggulnya dengan ritme perlahan. Nara yang sudah di selimuti kabut gairah sudah tidak tahan, apa lagi ini pertama kalinya setelah dua tahun lebih tidak pernah di sentuh.


Dia begitu menikmati permainan suaminya, hingga suara lenguhan dan desahann terdengar indah di telinga Arga. Arga memacu tubuhnya semakin cepat, dia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Dia pastikan Nara akan kembali ke dalam pelukannya.


Arga masih memacu tubuhnya di atas tubuh istrinya. Hingga istrinya sudah mendapatkan pelepasan untuk ke sekian kalinya.


"Aahh.. sayang.. ahh..!" Arga mulai meracau saat gerakan tubuhnya semakin cepat dan memberinya kenikmatan yang tiada tara, tubuh istrinya itu benar-benar candu untuknya. Apa lagi sudah lama dia tidak menyentuh istrinya.


"Aaargh.." Arga terkulai lemas setelah mendapatkan pelepasannya. Dia kembali menanam benih di rahim Istrinya dan dia berharap benih itu segera tumbuh.


Arga memeluk tubuh istrinya yang sudah di penuhi peluh. Dia mencium kening Nara.


"Terima kasih sayang!"


Nara membalikkan tubuhnya membelakangi Arga. Arga memeluk tubuh polos istrinya dari belakang. Air mata Nara mengalir, entah kenapa dia merasa bersalah pada Fahmi, pria itu yang selama ini menjaganya dan putranya dengan baik, tapi dia malah menyakitinya.


"Maafin aku a. Aku masih mencintai suamiku, maaf aku gak bisa membalas perasaan kamu!" batin Nara.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2